Rindu Alexa

Rindu Alexa
Bertemu Clarisa


__ADS_3

"Maafkan aku! Aku percaya kamu tidak akan bertindak sejahat itu." Arkha menggenggam tangan Hanum membuat gadis yang mengerucutkan bibirnya itu menarik tangannya dan beranjak membereskan piring kotor.


"Num... " panggil Arkha.


"Berhenti membual!" ketus Hanum. Matanya sudah terasa memanas. Tapi, masih ditahan agar tidak menumpahkan air mata, Hanum merasa usahanya untuk mengimbangi peran suaminya pun menjadi sia- sia. Masih saja dia tidak bisa merebut hati Arkha.


"Hanum... jangan salah faham dulu!" Arkha berusaha membuntut di belakang Hanum hingga gadis itu meletakkan piring dan memutar badannya. Wajahnya mendongak menatap tajam sosok di depannya dengan emosi yang siap dia ledakkan.


"Salah Faham? Apa karena aku selalu kamu anggap anak kecil, hingga selalu saja kamu permainkan perasaanku?" mendengar kata ' kamu' dari Hanum hatinya terasa mencelos.


"Aku tahu semuanya, aku juga mengerti jika kamu mencintai Rania dan hanya mengharapkan Rania untuk menjadi istrimu. Meskipun aku tahu semuanya, tapi aku tetap berusaha memperjuangkan hubungan ini, berusaha menjadi wanita yang layak menjadi istrimu. Tapi, apa hasilnya? Kamu selalu menyakiti perasaanku."Kalimat Hanum mengalir begitu saja. Hanum tidak lagi bisa menahan air matanya. Arkha yang melihatnya hanya bisa mematung, menatap sorot mata kesedihan dan kecewa yang terpancar di sana. Dia tidak menyangka jika sikapnya selama ini sudah terlalu menyakiti istrinya.


Sejenak Hanum terdiam, dia menarik nafas yang begitu dalam untuk mengurai rasa sesak yang ada dalam dadanya.


"Hanum bukan sep... "


"Sebaiknya kita selesaikan pernikahan konyol ini." Hanum menyela kalimat Arkha. Suaranya begitu lirih, tapi tatapannya begitu tajam. Saat Arkha akan meraih tangannya, bergegas Hanum langsung menariknya.


"Keputusanku sudah bulat. Terima kasih sudah pernah menyelamatkanku." Hanum meninggalkan Arkha yang kini hanya bisa menatapnya. Entah kenapa hatinya begitu nyeri mendengar semua penuturan Hanum. Tidak hanya ekspresinya tapi semua penuturannya memberi jarak di antara mereka.


"Hanum, tidak akan ada perpisahan. Kita akan belajar menerima hubungan ini, melengkapi satu sama lain." ujar Arkha saat berada di depan Hanum yang sudah duduk di tepi tempat tidur.


"Sementara kita akan menyelami perasaan dan meluruskan niat masing-masing untuk pernikahan ini." Mendengar kalimat Hanum Arkha hanya termangu, lidahnya terasa kelu. Dia tidak menyangka Hanum berbicara seperti itu. Kalimatnya begitu tegas dan menohok hatinya.


"Jangan pikirkan Papa. Karena kita yang menjalaninya. Aku akan mengaturnya agar Papa bisa mengerti." lanjut Hanum, gadis yang mulai belajar dewasa itu adalah tipe orang yang berusaha berfikir terbuka dan realistis.


Arkha hanya bisa mendudukkan tubuhnya di sofa dengan lemah. Manik matanya tidak lepas dari gadis di depannya. Dia begitu menyesal karena terlambat mempertegas perasaannya hingga selalu melukai perasaan istrinya meskipun terkadang itu tidak dia sengaja.


Mereka terdiam cukup lama hingga akhirnya, Arkha memutuskan untuk membersihkan diri menuju kamar mandi.


Tidak ada percakapan setelah itu, mereka bermain dengan pikiran masing masing di ruang yang berbeda. Hanum memilih untuk tetap di kamar, sementara Arkha memilih duduk di balkon. Lelaki yang saat ini benar benar dibuat gusar oleh keputusan Hanum pun belum bisa mengatakan sesuatu. Dia sudah mengenal bagaimana menanggapi emosi Hanum hingga dia memilih membiarkan emosi Hanum sedikit mereda.


###

__ADS_1


Mobil mewah itu masuk ke dalam, halaman rumah model lama itu. Seorang wanita berumur dengan gaya elegan pun keluar dari mobilnya.


"Assalamualaikum... "


Mendengar seseorang mengucap salam, Alexa pun bergegas membukakan pintu. Seketika dia terhenyak kaget kala melihat mama mertuanya sudah berdiri dengan senyum mengembang di bibirnya.


"Mama... " Lirih Alexa masih dengan meredam rasa terkejutnya. Dia sedikit canggung karena selama ini dia tidak sudah membohongi mama mertuanya jika tinggal di rumah Mama Zoya selama trisemester pertama.


"Bagaimana kabarmu sayang?" tanya Gayatri saat mereka saling berpelukan.


"Lexa baik, Ma." jawab Alexa lirih, dia begitu sungkan saat wanita yang lembut itu masih menampilkan senyum tulus meski dirinya sudah membohonginya.


"Ayo masuk, Ma." ajak Alexa mereka langsung berjalan masuk ke area meja makan untuk meletakkan oleh oleh yang dibawakan Mama mertuanya.


"Maafkan Lexa, Ma. Tidak jujur jika Alexa tinggal di rumah Oma." ucap Alexa mengikis rasa bersalahnya. Sedangkan, Bi Romlah menyiapkan teh hangat untuk tamu.


"Mama mengerti, sayang. Hanya saja Mama sangat khawatir dengan keadaanmu dan calon cucu Mam." Wanita anggun itu tersenyum. Mama Gayatri memang sangat perhatian.


Sebuah derap langkah membuat kedua wanita itu menoleh. Terlihat Shakti berjalan masuk ke dalam mencari mamanya. Dia tidak menyangka jika akhirnya mamanya sampai ke sini, dia juga berharap mamanya tidak akan tahu kasus dirinya dengan Clarisa.


"Mama kenapa tidak memberi tahu Shakti jika Mama datang?" ujar Shakti mendekati Mama Gayatri dan istrinya.


"Kebanyakan alasan jika harus memberitahu kamu dulu." jawab Mama Gayatri. Beliau tahu jika ada yang sedang tidak beres dengan hubungan mereka.


"Shak, kamu nanti mengantar Lexa periksa kandungan, kan?" Gayatri hanya ingin meyakinkan jika Shakti juga ikut berperan sebagai suami siaga.


"Berhubung Mama ada di sini Alexa memutuskan menunda untuk periksa, Ma. Besok saja, kan, Mas?" Alexa langsung menyela dia ingin pergi bersama Shakti.


"Kalian tidak sedang bermasalah, kan? Kalau hanya karena Mama, Mama bisa langsung balik, Mama hanya ingin kalian memastikan keadaan calon cucu Mama."


"Tidak kok, Ma. Kita baik baik saja. Iya, kan, Ay!" Shakti mendekat merengkuh bahu mungil wanita yang masih duduk di sebelahnya. Alexa hanya tersenyum, membalas senyum Mama Gayatri. Kesempatan buat Shakti untuk sedikit menyalurkan rasa rindunya meski dia tahu itu tanpa kerelaan istrinya.


"Mama, lega mendengar kalian baik baik saja. Oh ya Shak, jika Alexa ingin tinggal di rumah sendiri. Kamu bisa membelikan rumah untuk Alexa. Mama tidak apa apa sendiri, asal kalian bahagia." ucap Mama Gayatri panjang lebar. Dia berasumsi jika Alexa ingin mengurus keluarga kecilnya sendiri.

__ADS_1


###


Setelah Mama Gayatri pulang, akhirnya Shakti dan Alexa pun memutuskan untuk pergi ke klinik dokter Siska. Mereka berangkat bersama karena desakan Mama Gayatri.


Di dalam perjalanan mereka masih saja terdiam. Alexa hanya menatap keluar jendela , sedangkan Shakti sesekali memindai pandangannya dari jalanan yang ada di depan kemudian ke arah istrinya.


Sungguh, lelaki itu sudah merindukan sosok Alexa yang dulu. Dia sendiri belum bisa menemukan cara untuk meyakinkan istrinya jika dia tidak pernah berselingkuh.


"Berapa kali kalian menghabiskan waktu bersama?" tanya Alexa tanpa melihat Shakti.


Dia masih penasaran sejauh mana hubungan Shakti dengan mantannya.


"Maksudnya?" Shakti tidak mau gegabah menjawab istrinya.


"Clarisa seksi, aku tahu tidak ada seorang lelaki manapun yang bisa menolak pesonanya. Dari ujung rambut sampai ujung kaki dia selalu memulai memancarkan aura yang bisa mengundang hasrat lelaki." Alexa semakin mempertajam arti pertanyaannya.


"Aku tidak pernah melakukan jauh, Ay. Aku tidak pernah bercinta dengannya. Hanya denganmu, Ay, aku melakukannya memberi cinta sepenuhnya." Shakti meraih tangan mungil istrinya. Senyumnya mengembang ketika tidak ada penolakan, mesti Alexa masih tidak ingin menatapnya.


Tak terasa mereka sudah sampai klinik milik Dokter Siska. Dengan rasa bahagia yang membuncah Shakti membukakan pintu mobil untuk istrinya. Bagaimana tidak bahagia, usaha meyakinkan Alexa mulai mendapat respon yang baik.


Shakti terus saja menggenggam tangan istrinya menuju ruangan pemeriksaan. Dia juga tidak sabar ingin melihat perkembangan bayinya. Sungguh, dia merasa hidupnya kembali berbinar. Hanya tinggal beberapa langkah keduanya sampai di depan ruangan Dokter Siska, mereka dikejutkan dengan Clarisa yang keluar sendirian dari ruangan dokter obgyn itu.


Seketika , Alexa menghentikan langkahnya. Dia sungguh terhenyak kaget melihat sosok yang baru saja mereka bicarakan. Begitupun Shskti, dia tidak menyangka bertemu Clarisa.


Alexa meminta tatapannya, dari Clarisa kemudian ke arah suaminya. Bahkan, dia juga sempet melihat ke arah perut Clarisa yang sedikit membuncit, membuat perasaan Alexa semakin tidak karuan. Penuh rasa penasaran dan cemas.


"Apa kabar, Shak?" sapa Clarisa memecahkan kebisuan diantara ketiganya. Tapi, Shakti hanya terdiam, dia kembali menatap Alexa.


"Aku sebenernya ingin bicara denganmu.Tapi, ternyata kamu tidak bisa dihubungi." lanjut Clarisa membuat wajah Alexa memerah. Belum juga menetralkan perasaannya. Perasaan yang cukup ngilu kembali menyapanya.


"Ibu Alexa Shalma Aqilla." panggil Asisten Dokter Siska, yang artinya gilirannya masuk untuk diperiksa.


Alexa langsung berjalan masuk, diikuti Shakti. Seandainya ada yang bisa membaca perasaannya Shakti saat ini, lelaki yang memperhatikan istrinya itu pun begitu kacau. Dengan wajah Alexa yang murah dan memerah dia tahu Alexa sedang menahan kemarahannya. Oh Tuhan kenapa jalanku selalu dipersulit? keluh Shakti dalam hati. Dia sudah tidak lagi fokus pada pemeriksaan istrinya.

__ADS_1


__ADS_2