
Weekend, Arkha menghabiskan malamnya dengan alat gym. Dia berusaha mengusir pikirannya tentang Hanum dan lelaki yang duduk satu meja dengan Hanum.
"Sialan...seharusnya aku tidak peduli. Itu bukan urusanku!" umpat Arkha dengan gumaman lirih.
Lelaki yang badannya sudah basah keringat itu dengan kesal menendang besi barbel sebelum keluar dari ruang gym- nya.
"Ting.. tong... ting... tong... " Mendengar seseorang memencet bel apartemennya, Arkha berjalan untuk membukakan pintu. Dia merasa tidak ada janji dengan siapapun membuatnya semakin penasaran.
Terlihat Shakti dan Ringgo sudah berdiri di depan pintu apartemennya dengan menatapnya heran.
"Kata, Delia kamu sakit? Masuk kantor cuma setengah hari saja." ucap Shakti saat melihat tubuh basah Arkha karena keringat sehabis olahraga.
"Paling, anunya yang sakit. Karena sudah mendambakan sentuhan perempuan." seloroh Ringgo sambil berjalan masuk. Arkha tidak melewatkan untuk memukul bahu temannya yang selalu bicara mesum untuk meledeknya.
"Aku kira lo, sakit." jawab Shakti dengan menjatuhkan diri untuk duduk di sofa.
"Aku hanya jenuh saja. Setelah rapat aku memilih pulang karena sudah tidak ada lagi jadwal penting." lanjut Arkha. Padahal, dia merasa moodnya sangat buruk hari ini. Entahlah, dia sendiri tidak mengerti.
"Bagaimana dengan Rania? Kalian sudah jadian?" tanya Shakti, dia merasa mungkin mood Arkha buruk karena hal itu.
"Belum si, tapi hubungan kami semakin dekat. Kita lebih sering ketemu." jelas Arkha, dia mulai menyalakan rokoknya.
"Sejak kapan kamu merokok?" Shakti memang paling jarang melihat Arkha merokok. Tapi, hari ini lelaki itu menyalakan rokok membuat Shakti bisa mengerti jika mood sahabatnya sedang tidak baik.
"Sejak saat ini." jawab Arkha singkat, kemudian mengambil cangkir kopi yang dibawakan Ringgo. Ringgo hanya melirik Arkha, dia mulai sadar Arkha terlihat bermasalah.
"Kenapa tidak melamar Rania saja. Hubungan kalian semakin dekat, kan?" lanjut Ringgo. Dia melihat Arkha mempunyai sebuah beban yang sulit untuk dia ceritakan.
"Rania hanya akan menikah jika sudah lulus. Aku bisa mengerti keputusannya. Dia malu dengan orang tuanya, jika belum lulus kuliah sudah nikah duluan." jelas Arkha yang bisa mengerti posisi Rania. Kedua orang tuanya yang notabene orang biasa bersusah payah menguliahkan putrinya di kota dengan sejuta harapan. Hal itu pula yang membuat Arkha mengagumi Rania. Gadis yang cukup pintar dan dewasa.
###
Sore itu setelah diantar Pak Hanif, Alexa segera masuk ke dalam rumah. Dia membawa beberapa makanan kesukaan Mama dan adiknya Hanum.
"Assalamu'alaikum, Ma." sapa Alexa kemudian mencium tangan Mamanya dan memeluknya sejenak.
"Waalaikum salam, Kak." balas Zoya. Dia senang sekali bisa melihat putrinya.
"Kakak, sudah izin sama Shakti jika ke rumah Mama?" selidik Zoya, saat mengikuti Alexa yang akan menaruh bawaannya ke meja belakang.
"Sudah, Ma. Bahkan, Mas Shakti nanti yang akan menjemput Alexa." jawab Alexa membuat Zoya tersenyum. Wanita itu selalu berharap rumah tangga putrinya selalu di berikan kebahagian.
"Hanum mana, Ma? Ale sudah kangen." tanya Alexa saat Zoya membuatkan jus jeruk untuk putrinya.
"Hanum di kamar. Bocah itu akhir akhir ini jadi aneh. Dia lebih banyak diam, tapi yang Mama sedih saat dia bilang, dia ingin melanjutkan kuliah ke luar negeri." jelas Zoya dengan membawa segelas jus jeruk untuk putrinya.
__ADS_1
"Nggak apa- apa juga, Ma. Percaya sama Hanum, dia sudah dewasa dan bisa menjaga diri." ucap Alexa mencoba memberi pengertian pada mamanya, untuk memberikan Hanum sebuah pilihan.
Terdengar suara derap langkah pelan menuruni anak tangga, membuat Alexa dan Zoya menoleh. Terlihat Hanum, masih mengenakan piyama dengan jilbab instan saat berjalan ke arah mereka.
"Kak Ale... " panggil Hanum dengan berlari kecil menghampiri kakaknya. Gadis itu tidak bisa menyembunyikan rasa rindunya pada kakaknya..
"Cantiknya adik Kak Ale, apa kabar?" Ale memeluk adiknya dia juga tak kalah kangen dengan adiknya yang super bawel.
"Hanum baik, Kak. Kapan Hanum dapat keponakan?" cerocos Hanum sambil membuka bungkusan yang ada di meja makan.
"Bakso... Hanum makan ya?" lanjut Hanum terlihat bersemangat saat melihat makanan favoritnya itu.
Hanum langsung mengambil mangkuk untuk menikmati baksonya. Alexa memang melihat Hanum sedikit berbeda, dia pikir mungkin adiknya sudah mulai berfikir dewasa.
"Bagaimana kuliahmu?" tanya Alexa dengan menatap Hanum yang terlihat begitu lahap.
"Lancar, bahkan aku mulai mengambil semester di atasku." jawab Hanum.
"Kedai?" lanjut Alexa yang semakin pemasaran dengan adiknya.
"Aku minta Mbak Lita mengurus semuanya. Jadi aku ke sana juga waktu tertentu saja, Kak." jawab Hanum, dia memang sudah tidak mempercayakan toko kue dan kedai pada Mbak Lita.
"Mobil?" pancing Alexa lagi. Zoya masih mencoba memahami interaksi kedua putrinya.
"Kenapa sih, aku seperti diintrogasi?" protes Hanum, membuat Alexa dan Zoya saling menatap. Gadis jutek itu , uniknya sebenarnya memang perasa.
"Nggak si, Kak Ale kan lama tidak tahu kabar tentang dirimu." lanjut Alexa, kemudian membiarkan Hanum menikmati makanan favoritnya itu.
###
Sudah pukul sembilan, Alexa kemudian masuk ke dalam kamar. Sebenarnya dia sudah menunggu kedatangan Shakti hingga rasanya dia berfikir, paling besok suaminya itu akan menjemputnya saat pulang.
Alexa mencari ponselnya yang sejak tadi hanya teronggok di atas tempat tidur. Dia benar benar menikmati waktunya bersama keluarganya. Apa lagi saat melihat senyum di wajah papanya saat mendengar dia sudah mulai kembali ke rumah sakit.
Bagi Hans, bukan karena putrinya mendapatkan pekerjaan, tapi itu karena menurutnya Alexa akan melalui hidupnya secara normal lagi.
Alexa mengernyitkan dahi, kala melihat beberapa panggilan dari Shakti. Tapi, lelaki itu juga tidak menulis pesan apapun.
"Sayang... " sapa Shakti saat membuka pintu kamar lama istrinya.
Alexa yang akan menulis pesan untuknya pun mengurungkan niat dan meletakkan kembali ponselnya.
"Kenapa lama? Habis dari mana saja? " cecar Alexa dengan beberapa pertanyaan. Tatapan penuh selidik dia layangkan untuk lelaki yang kini berjalan mendekat ke arahnya.
"Aku habis dari apartemen Arkha, kata sekretarisnya saat dia sakit. Aku kasian dia kan jomblo, Ay." ucap Shakti dengan mencium kening istrinya.
__ADS_1
"Sakita beneran? " tanya Alexa dengan cemas.
"Nggak, cuma sok jadi pesakitan, kayaknya jiwa jomblonya meronta ronta." jelas Shakti dengan membawa istrinya duduk di atas pangkuannya.
"Kenapa tidak menikah saja, Mas Arkha sudah cukup umur, baik, dan ganteng? " tanya Alexa dengan menyandarkan kepalanya di dada Shakti.
"Kenapa kamu malah memujinya? Gantengan aku lah dari pada si Arkha." sambut Shakti seolah tidak terima jika istrinya memuji lelaki lain.
"Iya, gantengan Mas Shakti." Alexa terkekeh dia hanya merasa geli dengan sikap suaminya.
"Ay, minggu depan aku akan ke Bali. Mengunjungi hotel yang ada di sana." Kalimat Shakti membuat Alexa menjauhkan kepalanya dan menatap mata indah sayu di depannya.
"Berapa lama? Terus sama siapa?" tanya Alexa dengan cemberut.
"Mungkin satu mingguan. Aku pergi sendirian, sebenarnya ingin mengajakmu tapi sepertinya kamu pasti menolaknya." lanjut Shakti. Dia memang tidak mau istrinya bekerja salah satunya saat seperti ini. Dia ingin sekali Alexa menemaninya setiap dia melakukan perjalanan bisnis.
"Aku nggak mungkin izin, aku baru saja mulai bekerja." lirih Alexa merasa bersalah.
"Aku tahu itu nanti, sebelum persiapan kasih aku bekal yang banyak ya!" Shakti langsung mencium bibir mungil istrinya. Dia tahu, dia pasti akan merindukan moment moment seperti ini nantinya.
Bersambung.
Untuk yang mendapatkan Doorprize tote bag adalah
Wiji Astutik
Lilik 2021
3 . Anis Solikhah
Silahkan mlipir ke group chat untuk mencantumkan alamat ya kak, atau bisa langsung inbok ke Facebook Kirana Putri.
Untuk pengirimannya nanti dimulai tanggal 5 ya kak.
__ADS_1