
"Plak... Jahat!" pekik Alexa setelah menampar lelaki di depannya. Dia begitu marah dan kecewa atas apa yang barus aja dilakukan Shakti.
Alexa berlari meninggalkan lelaki yang baru tersadar dengan apa yang sudah dilakukannya. Tangis Alexa tidak bisa ditahan lagi, meski itu mengundang perhatian banyak orang yang melihatnya termasuk Dokter Agam yang sejak tadi menunggunya.
"Lexa, ada apa?" tanya Agam yang ingin menghentikan langkah Alexa, tapi gadis itu hanya menggeleng dan kembali berlari kecil sambil mengusap air matanya. Alexa keluar dan meninggalkan gedung bertingkat itu.
"Alexa...!" panggil Shakti setelah tersadar, dia langsung mengejar Alexa yang sudah terlihat menjauh.
Agam menghentikan langkah Shakti dengan menarik lengannya. Dokter ganteng itu pun, semakin penasaran dengan apa yang dilakukan rivalnya hingga membuat Alexa menangis.
"Kau apakan, Alexa?" hardik Agam dengan penuh amarah.
"Bukan urusanmu!" jawab Shakti bermaksud meninggalkan Agam, tapi dokter ganteng itu langsung menarik lengan lelaki yang berusaha mempertahankan keseimbangannya karena hentakan tangan Agam.
"Sialan..."
"Bughhh..." umpat Shakti dengan melayangkan pukulan tepat di rahang Dokter Agam.
Perkelahian pun terjadi. Agam membalas pukulan Shakti dengan memukul perut rata lelaki yang lebih tinggi dari dirinya itu. Situasi ricuh terjadi karena ulah dua lelaki yang sedang dilanda emosi. Dan itu membuat beberapa orang dan security datang melerai. Orang-orang pun menjauhkan dua manusia yang saling ingin menyakiti itu di tempat yang berbeda.
Mengingat Alexa, Shakti langsung berlari mengejar gadis yang sudah dibuatnya menangis. Lelaki yang sudut bibirnya berdarah itu berlari keluar gedung dengan pandangan mengedar ke segala arah. Dia benar benar merasa bersalah.
Shakti melihat Alexa berdiri di pinggir jalan dengan mengusap air mata. Sebuah mobil taxi berjalan berlahan ke arah Alexa dan itu langsung membuat Shakti berlari mendekati gadis itu.
"Ay, Please forgiveme!" Shakti menahan tangan Alexa saat akan membuka pintu mobil yang kini berhenti di dekatnya.
"Apa lagi? Apa kamu belum cukup melukai perasaan dan harga diriku?" teriak Alexa dengan terisak. Bisa terlihat sebuah kemarahan dan kesedihan di ceruk mata yang masih berair di depannya. Rasa sedih dan marah yang melebur dalam sebuah emosi.
__ADS_1
"Aku mohon jangan sakiti aku lagi!" Alexa melipat kedua tangan di depan dada. Suaranya terdengar parau dengan tatapan mengiba, bahkan isakannya kini terdengar lebih jelas dari kalimat yang dia lontarkan.
Shakti hanya menatap nanar gadis yang perasaanya sudah teluka olehnya. Rasa bersalah yang begitu kuat membuat Shakti hanya mematung. Dia tidak tahu lagi bagaimana menahan gadis yang dia cintai itu. Cinta dengan cara yang kurang tepat.
"Aku tahu, kesalahanku terlalu sulit untuk di maafkan. Tapi karena mencintaimu, aku bisa segila ini, Ay." gumam Shakti irih dengan menatap mobil yang membawa Alexa semakin menjauh darinya. Hatinya berdenyut nyeri saat mengingat tatapan mengiba Alexa.
Kali ini Shakti merasa putus asa. Dia menyandarkan tubuhnya di antara pohon palm yang tertata rapi di pinggir jalan. Rasa bersalah dan putus asa membuat dadanya berdesir nyeri. Dia merasa terlalu buruk untuk kembali menemui gadis itu.
"Aaarrghhh.... " pekik Shakti sekeras mungkin dengan memegang tengkuk dengan kedua tangannya. Wajah mengiba dan air mata Alexa mampu melukai perasaan lelaki itu. Hatinya merasa sakit saat melihat gadis yang dia cintai terluka karenanya.
Di dalam mobil yang melaju dengan tenang menuju rumah kediaman lawyer ternama itu, ada seorang gadis yang menangis sesenggukan. Rasa penyesalan yang begitu dalam membuat Alexa kesulitan menghentikan tangisnya. Malu, merasa tidak punya harga diri saat seseorang sudah berani menyentuhnya.
"Mbak, bisakah berhenti menangis? Hati saya jadi ikut ngilu." ucap sopir taxi itu tidak tega mendengar isakan gadis yang duduk di jok belakang.
Kalimat sopir itu seperti menyadarkannya. Dia berusaha mengendalikan diri. Alexa menarik nafas panjang, beberapa kali dia mengusap bibirnya dengan sangat marah.
Dengan langkah tergesa, alexa masuk ke dalam rumah. Zoya yang melihat putrinya masuk ke dalam rumah tanpa mengucapkan salam pun merasa heran. Zoya juga memergoki Alexa sesekali menyeka air matanya.
Zoya meletakkan kembali mangkuk sup iganya di meja makan mulai mengikuti putrinya yang sudah menaiki tangga dengan berlari kecil.
Rasa cemas mulai menghantuinya, dia merasa ada yang tidak beres. Putrinya yang sudah meminta izin jika akan melakukan foto dan berkumpul bersama temannya itu ternyata malah pulang lebih awal dengan menangis.
Zoya melirik jam yang menggantung di dinding yang ada di depan tangga. Pukul 14.30 Wib saat Zoya melihat jam yang menggantung di dinding.
"Kak Ale!" panggil Zoya lirih tapi tidak ada jawaban membuat Zoya bertambah bingung. Dia hanya mondar mandir di depan pintu kamar putrinya.
"Ada apa, Zoy?" tanya Hans yang baru saja keluar dari ruang kerjanya dan melihat istrinya yang nampak kebingungan.
__ADS_1
"Kak Ale, Mas. Sepertinya dia menangis." jawab Zoya dengan mendongakkan wajah menatap mata tajam suaminya. Hans hanya mengernyitkan kedua alisnya seolah memikirkan sesuatu.
"Biarkan dia sendiri, dulu! Nanti malam jika belum keluar, kita akan memanggilnya." ucap Hans dengan merangkul bahu kecil istrinya dan membawa pergi Zoya untuk menjauh dari kamar Alexa.
###
Sore itu, Shakti baru saja sampai di depan rumahnya dengan wajah penuh lebam, rambutnya terlihat acak acakan. Setelah turun dari mobil Shakti segera masuk ke dalam rumah dengan langkah lunglai. Hari ini emosinya cukup menguras semua tenaga dan semangatnya.
Dengan kasar, Shakti menjatuhkan tubuhnya di sofa. Kali ini dia tidak tahu lagi apa yang harus dia lakukan untuk memperbaiki hubungannya dengan Alexa.
"Shak sudah pulang? Mama sudah menyiapkan cincin keluarga besar kita." Gayatri berjalan mendekati putranya. Tapi, langkahnya terhenti mendadak, saat melihat wajah dan tampilan putranya yang lebam dan berantakan.
"Shak..." gumam Gayatri dengan menatap bingung putranya. Shakti yang sudah menyandarkan kepalanya itu pun hanya melirik mamanya. Mulutnya enggan mengucapkan sepatah kata pun.
Gayatri pun segera mengambil duduk di sebelah Shakti. Tatapannya tidak lepas dari wajah tampan puteranya yang tidak seperti biasa.
"Kita batal melamar Alexa, Ma." lirih Shakti dengan menatap langit langit ruang tengahnya.
"Kenapa? Ada apa dengan wajahmu?" tanya Gayatri setelah memperhatikan wajah Shakti dengan teliti.
"Aku melakukan kesalahan fatal, Ma. Mungkin Alexa tidak pernah memaafkanku." gumam Shakti masih terdengar jelas oleh Gayatri.
"Kenapa? Ada apa?" desak Gayatri yang sangat ingin tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi. Dia, merasa sedikit kecewa dengan kalimat putranya.
"Shakti akan beristirahat dulu, Ma. Hari ini Shakti merasa lelah sekali." ucap Shakti kemudian beranjak pergi menuju kamarnya.
Gayatri masih tertegun, meskipun rasa kecewa menelisik hatinya. tapi dia lebih penasaran dengan apa yang sudah terjadi.
__ADS_1