Rindu Alexa

Rindu Alexa
Gagal Move On


__ADS_3

Lelaki itu terus saja memperhatikan meja di mana Alexa dan Agam duduk. Mereka memang dekat tapi, dia yakin hubungan mereka belum terlalu jauh. Dan dia tidak aman membiarkan mereka semakin dekat.


Alexa hanya milikku.


Ke-akuannya pun telah tersulut diantara rasa cemburu. Sudah pernah dia mencoba melepaskan gadis terkesan sudah melupakannya. Tapi, dia tidak bisa sepenuhnya. Bayangan dan rindu itu masih tetap untuk Alexa. Gadis yang berbeda dari gadis lain yang pernah dia temui.


Agam yang meminta izin ke toilet membuat Shakti berdiri dan berjalan mendekat ditempat Alexa berada.


"Kenapa kamu membohongi diri sendiri?" Suara bariton yang tiba tiba berada di dekatnya membuat Alexa terkaget. Gadis itu mendongak, menatap mata tajam yang seolah ingin menikamnya itu.


"Apa maksudmu, Mas?" tanya Alexa berpura pura tidak tahu. Dia sedikit gugup. Dia tidak menyangka bertemu kembali dengan Shakti di tempat ini.


"Dengar, Ay. Kamu tidak akan bisa menghapusku dalam hatimu. Sekuat apapun kamu berusaha." Shakti tersenyum sinis seolah menertawakan kebersamaan Alexa bersama laki laki lain.


"Kamu bukan Allah yang bisa mengatur perasaan manusia, Mas." Alexa semakin tidak suka dengan gaya arogan lelaki di depannya. Entah apapun yang dia rasa, dia tidak ingin orang memainkan perasaannya.


"Tapi, aku bisa membaca perasaanmu dari matamu itu." lanjut Shakti sambil tertawa sumbang. Dia memang sudah mengelola perasannya mendatangi gadis yang kini terlihat gugup.


"Aku...dan hanya aku. Arjuna Shakti Arashya satu satunya lelaki yang akan ada di hatimu!" ucapnya penuh percaya diri. Ujung jarinya menembak ke arah Alexa dengan tawa sinis yang terdengar menyebalkan bagi gadis yang saat ini hanya menatapnya.


Alexa tidak menjawab, dia hanya tertegun menatap punggung bidang itu menghilang keluar resto.


"Hae... Lexa." panggil Agam saat melihat Alexa melamun.


"Eh iya, Dok." jawab Alexa sambil tergagap. Dia masih berusaha menetralkan perasaannya saat di depan Dokter Agam.


Alexa tidak ingin Shakti terlalu mempengaruhi perasaannya. Dia berusaha bersikap biasa saja menghabiskan waktu yang sudah di janjikan Agam pada Hans untuk memulangkan Alexa sebelum jam sembilan malam.


Waktu yang cukup singkat bagi Agam. Tapi, bagaimana pun dia sudah sangat senang bisa dinner bersama gadis pujaan hatinya.


###


Di sebuah Club malam, Shakti hanya terdiam dengan sebatang rokok yang tidak ada hentinya menyala. Dentuman musik yang memekakkan telinga itu pun terasa tak terdengar dikala pikirannya sibuk memikirkan kemungkinan yang akan terjadi pada Agam dan Alexa.


"Shiiiittt... " umpatnya dengan tiba tiba membuat Arka dan Ringgo menoleh. Keduanya kemudian langsung bertukar pandang merasa heran. Dengan Shakti yang tiba tiba mengumpat.

__ADS_1


"Aku nggak akan membiarkan Dokter itu mengambilnya." Shakti mengusap wajahnya dengan kasar. Arka dan Ringgo baru menyadari jika sahabatnya mengajaknya ke club karena otaknya kembali tidak waras.


"Ganteng, boleh bergabung?" tanya seorang gadis yang berpenampilan sangat sexy. Bahkan tubuhnya yang menonjol sana sini dengan balutan gaun yang terbuka membuat Ringgo harus menelan ludahnya dengan kasar.


Tapi gadis itu langsung memilih duduk di dekat Shakti. Tidak diragukan lagi, pesona Shakti memang tidak bisa dipungkiri lagi meski dari pandangan pertama.


"Ughh ... ganteng, kita dansa yuk!" rayu perempuan dengan lipstik menyala itu yang saat ini mengusap dada bidang lelaki yang belum juga bergeming itu.


Shakti malah memilih untuk mengambil gelas minumannya dan meneguknya sekali. Sedangkan, Arka dan dan Ringgo masih menatap penasaran reaksi sahabatnya. Kali, ini keduanya tidak bisa memprediksi apa yang akan dilakukan Shakti.


"Lupakan sejenak semua masalah yang ada dan kita bisa bersenang senang malam ini." bisik perempuan itu tepat di telinga Shakti.


"Aku akan memuaskanmu... "


"Minggir! " sela Shakti dengan mendorong tubuh perempuan itu hingga terbentur kepala sofa. Saat ini dia sudah berdiri, tanpa berkomentar lagi, lelaki yang sudah terlihat emosi itu pun berjalan meninggalkan mejanya. Shakti berjalan keluar membuat kedua temannya itu mengejarnya.


"Kamu yang bawa mobil!" ucap Shakti dengan melempar kunci ke arah Arka saat berada di parkiran. Dia paling percaya dengan Arka jika soal urusan mengemudi mobil.


"Pak Bos, baru jam sepuluh lo! Masih terlalu sore untuk balik dari club." ucap Ringgo yang merasa baru saja duduk langsung diajak pulang.


"Dari pada aku membuat keributan." ucap Shakti yang merasa emosinya terus meledak ledak di dadanya. Dan tidak seorang pun yang bisa untuk meredakannya.


"****, diamkan mulut kotormu itu." Sahut Arka masih dengan pandangan ke depan memperhatikan ramainya jalan yang sedang dilaluinya. Arka tahu sebebas apapun pergaulan Shakti, tapi dia yakin Shakti belum pernah bermalam dengan perempuan manapun. Meskipun begitu dia cukup berhati hati dengan perempuan.


Shakti hanya terdiam. kemudian dia menyalakan audio mobil yang terdengar suara lembut milik Shanom mengalun indah



Hening


Di dalam mobil itu semua terdiam. Arka dan Ringgo merasakan semuanya tidak masuk akal jika Shakti hingga segitunya membawa Alexa dalam hidupnya. Ini pertama kalinya lelaki itu dibuat wadak oleh hatinya sendiri.


Mobil Jaguar itu memasuki gerbang yang terbuka otomatis. Shakti memilih pulang ke rumah. Dia merasa sudah beberapa hari mengabaikan mamanya karena kesibukannya dengan pekerjaannya untuk mengelabui perasaannya.


"Kamu bawa saja mobilku ke baseman apartemen. Besok aku akan menggunakan mobil yang lain." ucap Shakti sebelum keluar dari mobil. Arka pun mengerti itu artinya dia akan langsung pulang ke apartemen. Arka dan Shakti memang satu apartemen, apartemen keduanya hanya berada di lantai yang berbeda.

__ADS_1


###


"Shadaqallahul adzim... " Alexa menutup dan mencium mushaf Al-quran yang baru saja dia baca seperti biasa, setelah Salat Subuh berjama'ah. Kebiasaan itu tidak pernah berubah meski waktu yang di milikinya semakin sempit karena kesibukan tugas kampus dan rumah sakit.


"Tok... tok.. tok... "


"Kak... " panggil Zoya dari balik pintu kamarnya. Alexa yang baru saja menaruh Al-qur'annya di rak pun menoleh dan dan tersenyum.


"Masuk, Ma." ucap Alexa kemudian menghampiri mamanya.


"Semalam bagaimana dinnernya?" tanya Zoya saat mengawali obrolannya. Sepulang makan malam dia melihat Alexa malah termenung di gazebo yang ada di dekat kolam renang.


"Baik, Ma." jawab Alexa masih dengan mengulas senyum ke arah mamanya. Mereka pun berjalan menuju balkon kamar Alexa.


"Kak Ale, masih memikirkan Shakti?" tanya Zoya dengan menggenggam tangan putrinya.


"Nggak kok, Ma. Alexa sudah melupakannya." jawab Alexa yang masih berjuang untuk mewujudkan apa yang baru saja dia katakan. Zoya pun tersenyum dengan mengusap pundak kecil putrinya. Zoya begitu mengenal Alexa, dia bisa membaca apa yang di rasakan Alexa saat ini.


"Mama sangat mengenalmu, Kak. Kamu tidak bisa membohongi Mama. Tapi, apapun itu Mama tetap mendukung kamu." Kalimat Zoya membuat Alexa memeluk mamanya. Matanya mengerjap menahan air mata. Bukan air mata kesedihan tapi rasa haru dan sayang pada wanita yang sudah menyayanginya begitu tulus dari dulu hingga sekarang. Baginya tidak ada lagi kalimat yang tepat untuk mengucapkan rasa terima kasihnya.


"Dulu, Mama juga pernah jatuh cinta pada lelaki lain sebelum bertemu Papa. Mama pikir Mama tidak bisa melupakannya. Tapi, ternyata Papa membuat Mama melupakannya." Zoya mulai mengurai cerita masa lalu. Dia hanya ingin putrinya tahu jika Allah bisa membolak balikkan rasa.


"Cie Mama... " goda Alexa dengan tersenyum.


"Husshh... itu rahasia cinta Zoya. Jangan mengungkitnya, Papa bisa ngambek." lirih Zoya dengan mengatupkan jari telunjuknya di bibir.


"Jangan khawatirkan Ale, Ma. Ale tidak akan menutup diri, hanya saja Ale butuh waktu. Semua akan berjalan dengan baik. Entah siapa jodoh Ale. Ale sudah berserah diri pada Allah." jawab Ale dengan menunjukkan pada Zoya jika semua akan dia lalui dengan semestinya.


Pagi ini Zoya memang sengaja mencari kesempatan untuk bisa bicara pada Alexa. Alexa sedikit tertutup, hingga dia tidak bisa sembarangan menanyai putrinya.


Hal tersulit adalah menjadi orang tua. Tidak ada pendidikan khusus untuk memerankan bagian itu. Terkadang orang tua memang harus bisa menjelma menjadi figur teladan, menjadi seorang pemimpin yang disegani dan terkadang menjadi teman untuk bisa berbagi.


Bersambung...


Hae geng... sering telat up ya gaes. Maaf.. aunty author lagi nyiapin dorprise buat yang ngasih vote n hadiah ya. Kenang kenangan dari Rindu Alexa.

__ADS_1


Nanti Tgl 1 maret kita bisa umumkan yang beruntung ya...


Jumat Nanti baru bisa up foto barangnya yang dijadikan doorprise karena ini limited edition dan hand made ya gaes...


__ADS_2