
Setelah jamaah Salat Isya, semua berkumpul di meja makan, tapi tidak dengan Alexa. Gadis itu langsung masuk kamar setelah salat berjamaah.
"Mas, aku mau lihat Kak Ale, nggak apa, kan, aku tinggal?" tanya Zoya yang sudah bersiap membawakan makan malam untuk putrinya. Dia meminta izin Hans, karena setiap makan Hans sudah terbiasa ditunggui Zoya.
"Iya, coba lihat Ale, Zoy!" Hans juga sebenarnya mencemaskan putrinya yang terlihat murung dengan mata bengkak saat mereka bertemu setelah Salat berjamaah.
Zoya membawa makan malam untuk Alexa. Dia berharap putrinya bisa bercerita dengan apa yang sudah terjadi.
"Tok... tok... , Kak Ale." panggil Zoya.
Sesaat kemudian pintu terbuka, gadis dengan rambut hitam dan lurus sepunggung itu berdiri di balik pintu kamar yang terbuka.
"Masuk, Ma." jawab Alexa dengan mengambil alih apa yang sudah dibawa oleh mamanya.
Wanita mungil dengan senyum lembut itu pun duduk di sofa yang ada di kamar putrinya. Zoya mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan, kemudian tertuju pada satu titik fokus yaitu Alexa yang kini juga duduk di dekatnya.
"Kenapa nggak turun makan, Kak? Papa khawatir dengan Kak Ale." ucap Zoya mengawali perbincangannya. Alexa hanya menunduk, kali ini dia tidak bisa bercerita apapun pada mamanya. Sungguh, dia merasa sangat malu atas kejadian tadi siang.
"Kak... " panggilan Zoya, menyadarkan Alexa. Zoya melihat ada sebuah kesedihan yang terpancar pada sorot mata satu putrinya.
"Aku belum lapar, Ma." jawab Alexa dengan wajah lesu.
"Ada apa? Coba cerita ke Mama." bujuk Zoya.
"Ma, Ale belum bisa cerita sekarang. Maafkan Ale!" ucap Ale dengan meluruhkan bahunya. Tatapannya penuh permohonan, untuk masalah ini gadis itu kesulitan untuk bercerita.
"Baiklah, Mama mengerti. Jika, Kak Ale butuh teman bercerita datang saja ke Mama Insyallah Mama akan menjadi pendengar putri Mama yang cantik ini." ucap Zoya dengan menggenggam tangan mungil putrinya. Dia menatap kembali mata yang sipit putrinya yang semakin terlihat membengkak. Tapi, dia harus bisa mengerti jika Alexa masih ingin sendiri.
###
Sambil menunggu dosen datang, Hanum membuka ponselnya. Gadis berkerudung dengan gerak energik itu terlihat menyipitkan mata setelah membaca berita terbaru yang beredar di jejaring sosial.
"Bugh... " Seketika tangannya menggebrak meja dia segera berdiri meninggalkan kelas. Padahal ini awal dia melalui beberapa kelas perkuliahan.
"Num, mau kemana?" teriak salah satu teman satu kelasnya saat melihat Hanum berjalan tergesa meninggalkan ruangan yang hampir lebih dengan mahasiswa.
Wajahnya terlihat menyimpan sejuta amarah dan rasa tidak percaya. Beberapa kali dia berusaha menghubungi ponsel kakaknya dan masih belum juga tersambung.
Hatinya bergemuruh hebat, saat melihat foto Alexa berciuman dengan seorang lelaki yang cukup dikenal publik karena kesuksesan bisnisnya.
"Keterlaluan kamu, Kak. Bagaimana Papa dan Mama jika melihatnya." gerutu Hanum dengan menunggu taxi yang kini menghampirinya. Dia begitu marah dengan Alexa, tapi kemudian dia yakin itu ulah lelaki itu.
__ADS_1
Gadis itu segera masuk ke dalam taxi. Dia mencoba kembali menelpon kakaknya tapi masih saja tidak terhubung. Sambil memutar-mutar ponsel ditangannya, Hanum berfikir keras apa yang harus dia lakukan.
"Bi, Kak Ale ada?" Kali ini Hanum langsung menelpon rumah.
"Iya Mbak Hanum, tadi Mbak Ale sudah mau berangkat. Tapi, tiba tiba balik lagi dan berlari ke kamar dengan menangis." jelas Mbak Atun dengan suara bergetar.
"Pasti ulah lelaki itu." gumam Hanum penuh emosi, dia percaya kakaknya tidak akan mempermalukan dirinya sendiri.
"Kantor pusat Arashya Group, Pak." ucap Hanum pada sopir taxi. Kali ini, dia memilih mendatangi Shakti untuk mempertanggung jawabkan semuanya.
"Ayo, Pak. Cepetan!" desak Hanum agar sopir taxi menambah laju kecepatan.
Mobil taxi yang ditumpangi Hanum itu pun membelok di halaman parkir sebuah gedung bertingkat yang cukup megah. Bangunan yang menjulang tinggi membentuk identitasnya jika itu adalah perusahan yang cukup besar.
Hanum segera keluar mobil, gadis itu berlari kecil menuju meja resepsionis untuk menanyakan ruangan pemilik gedung dan perusahaan Arhasya Group.
"Boleh tahu di mana ruangan Bapak Shakti." tanya Hanum dengan terlihat panik.
"Sudah ada janji?"
"Belum, tapi ada hal penting yang akan saya bicarakan." ucap Hanum bertambah kesal jika harus berbelit belit seperti ini.
"Tidak bisa, Mbak. Harus mengatur janji dulu jika ingin bertemu Bapak Shakti." jelas resepsionis terlihat tegang melihat emosi di wajah Hanum.
"Ada Apa ini?" tanya Arka menghampiri keributan. Arka mendahului langkah Shakti untuk mengetahui penyebab terjadinya keributan. Arka, Ringgo dan Shakti baru saja datang setelah melakukan meeting di kantor cabang dengan beberapa pemegang saham.
Hanum menoleh asal suara berat itu. Langsung, saja gadis itu berjalan menghampiri lelaki yang menjadi tujuan kedatangannya ke sini.
"Brengsek!" Hanum mendorong tubuh tinggi yang tidak bergeming sama sekali. Shakti menatap bingung gadis yang dia ketahui adik Alexa.
"Eh, eh... sabar!" Ringgo mencoba menengahi, tapi dengan gesit Hanum mengejar Shakti untuk meninjunya. Meskipun kepalan tangan Hanum sempat mengenai dadanya, tapi Shakti hanya memundurkan langkahnya. Dia cenderung lebih ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi. Beberapa security yang datang mendekati mereka mendapat isyarat tangan dari orang nomer satu di perusahan itu untuk tidak ikut campur.
"Bajingan kamu!" tapi gerakan Hanum yang frontal membuat Arka mengunci tubuh gadis berkerudung biru itu.
"Kamu jahat, kamu Iblis." umpatan demi umpatan dari mulut Hanum mengalir begitu saja untuk Shakti.
Arka memeluk Hanum dari belakang mencoba mengendalikan gerak gesit gadis mungil itu. Meskipun begitu Hanum masih menendangkan kakinya ke udara bertujuan untuk bisa menendang lelaki yang sebenernya sudah cukup jauh untuk digapai.
"Kendalikan dirimu!" ucap Arka yang mulai kewalahan menahan tubuh gadis yang sedang mengamuk tak karuan. Arka membawa Hanum keluar. Wajah putih itu berubah menjadi merah padam karena rasa marah yang menggebu gebu.
"Lepaskan, jangan nyari keuntungan!" Ancam Hanum dengan mengarahkan telunjuknya ke wajah Arka. Arka melepaskan lengannya dari tubuh gadis mungil itu. Meskipun begitu, emosi Hanum masih berasa meluap di ubun ubun.
__ADS_1
"Tenang... semua bisa dibicarakan dengan baik baik." ujar Arka yang masih belum tahu maksud gadis itu. Tapi, Hanum masih clingak clinguk mencari targetnya yang kini berjalan masuk ke dalam.
"Eit... " Arka menangkap tubuh gadis yang gerakannya begitu licin itu. Hanum mencoba kembali menerobos masuk, tapi lelaki matang itu berhasil menahannya.
"Lepaskan... hik hik hik... " pekik Hanum. Hatinya begitu kesal hingga dia memilih menangis dengan sekeras -kerasnya di depan gedung mewah itu setelah usahanya yang gagal. Dia juga merasa kehilangan banyak tenaga untuk melawan pria di depannya itu.
"Hik Hik Hik.... Dia jahat! Bagaimana dengan Kak Aleku." tangisnya meronta-ronta membuat Arka hanya menungguinya. Gadis itu sudah tidak peduli jika semua mata tengah memperhatikannya.
Arka memanggil security untuk mengambilkan minuman. Hanum masih menangis, bukan lagi dengan berdiri, gadis itu berjongkok di dekat pintu utama dan itu masih dengan meraung raung. Dia tidak bisa membayangkan jika orang akan mencemooh kakaknya.
"Bagaimana dengan Kak Aleku, dia pasti sangat malu." Hanya itu kalimat yang terucap di sela sela raungannya.
Bujuk Dia masuk, Ark. Sebenarnya, ada apa?
Arka membaca pesan dari Shakti. Dia mulai meminta Hanum untuk tenang dan meneguk air yang ada di botol.
"Dia laki laki bejat." umpat Hanum. Semua kata kata buruk keluar dari mulut gadis yang sudah dikuasai emosi.
"Jika kamu marah marah terus. Kamu tidak akan menyelesaikan masalah. Lebih baik, bicarakan di dalam." Hanum terdiam, dia menatap Arka yang kini juga berjongkok di depannya. Lelaki itu masih membujuk gadis yang sudah terlihat berantakan.
"Iya kita masuk, cari jalan keluar. Tapi dengan tenang." Mendengar kalimat Arka Hanum langsung berdiri. Dia menerima tawaran lelaki yang ada di depannya. Dengan jantung yang masih berdegup dengan kencang, Hanum membuntuti kemana Arka melangkah.
Sementara, di dalam ruangan Shakti masih merasa bingung dengan apa yang sedang terjadi. Saat dia masuk gedung semua karyaman menatapnya penuh selidik. Iya, tatapan yang tidak biasanya.
"Sebenarnya ada apa ya, Nggo? " gumam Shakti, dia merasa sejak tadi pagi dia tidak melakukan apapun. Bahkan, dia mengawali pekerjaannya dengan meeting di kantor cabang.
"Permisi." Arka memimpin Hanum untuk masuk, meski begitu dia masih waspada jika gadis itu mengamuk lagi. Tapi tidak, Hanum hanya menatap lelaki yang tengah duduk di kursi kebesarannya dengan sorot mata nyalang.
"Ada apa ya? Kenapa kamu marah marah?" tanya Shakti dengan balik menatap Hanum.
"Ada apa, ada apa. Kamu brengsek... " Hanum yang akan maju dengan frontal langsung ditahan paksa oleh Arka.
"Kamu keterlaluan, kasian kak Ale. Bagaimana dia akan menghadapi dunia." ucapan Hanum disusul dengan tangisnya lagi.
"Iya, apa yang terjadi, jika tidak bicara jelas, aku tidak mengerti." ucap Shakti masih dengan tenang.
Dengan buru-buru Hanum mengeluarkan ponselnya. Dia kembali membuka berita yang lagi viral hari ini.
"Kamu pura pura tidak tahu? Dasar pengecut." umpat Hanum dengan menyerahkan ponselnya pada Arka. Seketika Arka langsung melotot, wajahnya terlihat begitu serius.
"Lihat, Shak." Arka langsung menyerahkan ponsel Hanum pada Shakti. Lelaki itu langsung terhenyak kaget. Wajahnya terlihat merah padam dengan gejolak emosi yang seketika menghantamnya.
__ADS_1
"Bajingan!" umpat Shakti. Seketika itu pula lelaki itu langsung berdiri. Tubuhnya bergetar menahan amarahnya.
"Kumpulkan semua ahli IT. Take down semua berita dan lacak akunnya." titah Shakti membuat Ringgo dan Arka untuk bergegas menghidupkan ponselnya untuk melaksanakan perintah Shakti.