
Tubuhnya terasa lemas, dadanya terasa sesak. Hanya kedua matanya yang berhasil meloloskan butiran air yang tidak bisa dia tahan lagi. Alexa tidak bisa lagi menggambarkan rasa sedihnya itu. Buruk. Dia hanya merasa dirinya sangat buruk karena sudah menjadi alasan hancurnya hubungan perempuan lain.
Setelah mengusap kedua kelopak matanya yang lembab, Alexa mengerjapkan mata. Helaan nafas berat terdengar seperti menggambarkan dirinya yang putus asa.
Begitulah sebuah permasalahan, tidak ada yang langsung bisa selesai dengan sekejap mata karena semua butuh proses dan kadang juga memang berimbas dengan banyak hal.
Alexa kembali mengusap wajahnya, mencoba menguatkan hati. Dia sudah bersiap mengahadapi segala konsekuensi yang memang menjadi segala imbas dari hal yang pernah dilakukannya.
"Ya Allah, hanya Engkau yang bisa menjangkau isi hatiku dan segala niatku. Sungguh dalam hatiku tidak ada niat untuk merebut milik orang lain. Dan mungkin saat inilah aku harus mengabaikan apa pendapat orang lain terhadapku." Alexa bermonolog dengan dirinya sendiri. Gadis itu menyesap minuman yang sudah di pesannya sebelum kemudian meninggalkan kafe.
Adakalanya kita memang harus mendengarkan apa kata orang lain jika semua bisa mengingatkan kita untuk menjadi lebih baik, tapi terkadang juga harus mengabaikan mereka jika hanya sekedar menilai atau sekedar menghakimi.
###
Zoya melihat Hans bersama dengan seorang perempuan duduk di kedai kopi milik Hanum, mereka terlihat berbicara tanpa sedikit pun menoleh ke arahnya yang sudah mondar mandir hanya untuk memperhatikan keduanya yang terlihat sumringah.
"Kamu sendirian, Ra?" tanya Zoya saat melihat Dira di meja kasir sendirian.
"Iya, Tan. Hanum kuliah dan Kirey sakit." jawab Dira.
"Loh, Kirey sakit apa? Terus, kenapa nggak ditutup saja kedainya?" lanjut Zoya yang sedang melirik dua orang yang asyik mengobrol bahkan wanita cantik itu terlihat tertawa lepas.
"Typus katanya. Ini kan, masih sore, Tan." jawab Dira merasa aneh dengan pertanyaan Zoya. Karena biasanya juga kedai akan tutup pada jam sembilan dan saat ini masih jam tiga sore.
"Tante lihat, kamu sering di sini. Apa mama sama papamu tidak, protes?" pertanyaan itu sebenarnya sudah lama ingin Zoya tanyakan pada Dira tapi baru mendapatkan kesempatan kali ini. Dira hanya terdiam dan itu membuat Zoya mengernyitkan dahi merasa heran.
"Kenapa, Sayang?" tanya Zoya mendekati Dira yang malah memainkan pensilnya. Zoya mengelus pundak gadis yang tidak masih terdiam
"Males di rumah, Papa sama Mama jarang pulang. Nanti kalau pulang pasti mereka bertengkar." jawab Dira dengan wajah yang terlihat sedih. Tidak pernah terfikir oleh Zoya gadis di depannya itu ternyata punya masalah yang cukup berat.
"Sabar ya! Setiap orang pasti punya ujian masing-masing. Allah menganggapmu gadis yang kuat." Zoya memeluk Dira dan itu malah membuat Dira menangis.
"Kadang aku iri dengan Hanum. Dia punya segalanya, punya orang tua yang menyayanginya punya saudara yang juga care, Tan." Zoya bisa melihat kesedihan dalam hati sahabat putrinya. Biar bagaimanapun dia pernah belajar Psikologi dimana keluarga yang tidak sehat akan berdampak buruk pada anak.
"Sayang, anggap saja kami keluarga keduamu. Kamu bisa berbagi dengan kami." Zoya memeluk Dira penuh iba. Awalnya dia yang mengkhawatirkan, jika Dira dekat dengan Hanum. Tapi setelah mendengar latar belakang gadis itu, Zoya mulai bisa mengerti kenapa gadis itu terlihat liar.
"Terima kasih, Tan." Dira menatap Zoya dengan mata berkaca kaca. Dia memang sering memperhatikan Zoya sebaga sosok yang penuh kasih sayang. Tapi, Dira terlalu sungkan untuk bisa membiasakan diri.
"Tapi, doakan Papa dan Mama agar bisa mendapatkan jalan yang terbaik. Doa anak Sholehah adalah harapan dan kekuatan orang tua." Zoya tersenyum dengan mengelus rambut pirang gadis berlesung pipit itu. Dira hanya mengangguk. Hatinya terasa hangat saat merasakan kasih sayang dan perhatian sosok di sampingnya.
"Oh ya, nanti kedainya ditutup lebih cepat. Kalian jenguk Kirey, ya!" titah Zoya.
"Kenapa dia?" tanya Aleks dengan menghentikan langkahnya di dekat Zoya dan Dira. Aleks tahu yang mereka bahas adalah Kirey. Setahunya, beberapa hari ini gadis manja itu tidak terlihat sama sekali baik di kampus atau di kedai.
"Sakit. Yuk jengukin, Leks! Nanti pasti cepat sembuh kalau dijengukin sama kamu." goda Dira, memang bukan rahasia lagi jika Kirey menyukai Aleks.
"Ogah, aku sibuk."
"Kak, Aleks..." panggil Zoya dengan menatap tajam putranya.
"Nanti anterin Hanum sama Dira ke tempat Kirey." Zoya langsung meminta Aleks saat putranya akan beranjak pergi.
__ADS_1
"Tapi, Ma... " protes Aleks tertahan
"Iya... ya... cuma nganterin." jawab Aleks dengan terpaksa.
"Nanti habis magrib kedai di tutup saja. Kalian langsung ke tempat Kirey agar baliknya tidak terlalu malam."
"Kalau begitu, Tante akan bersiap pulang terlebih dahulu, ya!" pamit Zoya sambil melirik dua orang yang masih asyik mengobrol di meja depan.
"Iya, Tan." jawab Dira.
Zoya mulai berkemas untuk pulang setelah berpamitan dengan Mbak Lita, orang kepercayaan Zoya untuk mengurus toko. Dia memang berniat pulang terlebih dahulu. Selain kesal dengan suaminya, dia juga merasa lelah.
Saat mengingat beberapa bahan makanan dan buah yang ada di rumah yang sudah menipis. Dia mengambil ponselnya untuk meminta Alexa berbelanja sepulang dari rumah sakit.
"Assalamu'alaikum, Kak." Zoya menelpon Alexa.
"Waalaikum salam, Ma. Ada apa?"
"Mama mau titip belanja. Bisa?" tanya Zoya yang memang tahu jika putrinya pulang sore.
"Iya, Mama catat saja yang mau dibeli."
"Baiklah kalau begitu. Terima kasih, Kak. Hati hati di jalan. Assalamu'alaikum." ucap Zoya saat mengakhiri panggilannya.
"Ehem ehem... " Suara deheman Hans membuat Zoya menoleh. Tapi, tidak memberi respon apapun, meski hanya sekedar menyapa.
"Kayaknya ada yang ngambek." ujar Hans dengan menghadang tubuh mungil istrinya dengan lengan kekarnya, saat Zoya akan melewatinya. Lelaki yang sejak tadi sudah melirik wajah masam istrinya itu pun menarik tubuh Zoya hingga tak berjarak dengannya.
"Kamu marah, kan?" tebak Hans dia tidak peduli apa yang di katakan Zoya.
"Enggak. Kenapa juga harus marah?" suara kecil itu terdengar ketus.
"Cemburu deh jika tidak marah." Hans menyentil hidung mungil istrinya.
"Nggak ada yang cemburu. Lagian kita sudah berumur, ngapain juga harus cemburu." jawab Zoya masih berusaha meronta dalam dekapan suaminya.
"Benarkah?" Hans malah menautkan kedua tangannya melingkar di bahu istrinya.
"Mas Hans, malu sama anak-anak jika seperti ini!" Zoya dibuat kesal karena ulah suaminya yang tidak tahu tempat dan umur.
"Kenapa, Dosa? Coba lihat mataku, katakan jika kamu tidak cemburu. Jika tidak, aku tidak akan melepaskanmu." tantang Hans membuat Zoya tidak ada pilihan lain. Dia tahu betul jika suaminya akan melakukan apa yang sudah dikatakannya.
Zoya mendongak, menatap mata yang sudah menunggu tatapannya. Rasa yang masih sama seperti belasan tahun yang lalu saat matanya tertaut pada mata tajam suaminya.
"Aku hanya kesal, Mas Hans begitu nyaman mengobrol dengan wanita itu. Dia juga cantik dan terlihat berkelas." lirih Zoya kemudian menunduk menatap dada bidang yang hanya berjarak beberapa senti dari wajah cantiknya.
"Tapi, tidak lebih cantik dari kamu, Zoy. Hanya kamu yang bisa membuatku merasa nyaman." Hans mencium kening istrinya.
"Dia teman kuliahku di Oxford. Baru datang ke indonesia. Lagian jika aku berniat macam macam, tidak mungkin aku membawanya ke sini." jelas Hans dengan menenggelamkan kepala istrinya di dada bidangnya.
"Kenapa tidak mengenalkanku padanya?"
__ADS_1
"Aku hanya ingin melihatmu cemburu." ucap Hans dengan meregangkan pelukannya menatap mata bulat yang begitu cantik baginya.
"Ayo kita pulang, Mas. Aku sudah sangat lelah." ajak Zoya yang sudah menenteng tasnya.
"Sampai rumah istirahat. Nanti malam kita buat adiknya Hanum."
"Ya Allah...ingat umur, Mas. Jangan sembarang bicara, malu sama anak anak." Zoya mencubit kecil perut suaminya. Mereka pun meninggalkan toko dan berjalan bersama.
####
Alexa sudah bersiap pulang. Pukul empat sore, saat gadis itu menoleh ke arah jam yang menggantung di ruangnya. Alexa pun langsung mengalungkan tasnya di bahu kirinya sebelum melangkah keluar ruangan.
"Eh, Dokter Agam." sapa Alexa saat bertemu Agam di depan ruangannya.
"Sudah mau pulang?" tanya Agam saat melihat Alexa membawa tasnya.
"Iya, Dok. Tapi, mau mampir belanja dulu." jawab Alexa kembali melangkah beriringan dengan Dokter Agam.
"Sayang ya, padahal aku visit sampai malam. Dan besok aku libur. Susah sekali bertemu denganmu apalagi ngajak dinner ya." Agam mulai meng-kode untuk mengajak dinner Alexa.
"Bisa, Dok. Jika ada waktu luang nanti kita bisa dinner ramai ramai." jawab Alexa sambil tersenyum ke arah lelaki di sampingnya.
"Aku duluan, Dok." ucap Alexa saat sudah berada di depan bagian administrasi.
"Hati- hati. Jangan ngebut, ya!" Pesan Agam pada gadis yang kini berjalan keluar gedung rumah sakit menuju parkiran.
Alexa membelokkan mobilnya di tempat parkir yang ada di depan mall. Setelah keluar mobil, dia bergegas masuk. Waktu yang sudah cukup sore membuatnya mempercepat langkahnya. Pikirannya hanya ingin secepatnya sampai rumah. Dengan mencari ponselnya di dalam tas untuk membaca titipan mamanya, dia terus saja menggerakkan kakinya maju meski tatapannya tertuju pada isi tas.
"Arrgghhh... "pekik Alexa tersentak kaget saat menabrak tubuh tinggi atletis yang saat ini menahan tubuhnya yang limbung.
"Maaf-maaf!" ucap Alexa dengan membenarkan posisi berdiri tanpa melihat siapa yang sudah ditabraknya.
"Mmm... maaf." lirih Alexa dengan terbata saat melihat Shakti sudah menatapnya dingin. Lelaki itu berdiri tegak dengan tangan masuk ke dalam saku celana.
"Kalau jalan lihat jalan bukan lihat yang lainnnya!" suara baritonnya terdengar datar tapi penuh penekanan. Wajahnya pun tidak lagi bisa tersenyum. Mereka terlihat seperti orang asing yang belum pernah saling mengenal.
"Maaf, aku tidak sengaja!" lirih Alexa kemudian meninggalkan lelaki itu. Gadis yang berusaha bersikap biasa saja itu pun diam diam masih merasakan hatinya bergetar saat menatap irish mata coklat lelaki yang pernah menjadi bagian dari hidupnya. Lelaki yang masih membuat hatinya berdesir saat berdekatan dengannya.
Shakti memang membiarkan Alexa pergi begitu saja tanpa mengucapkan sepatah kata pun, tapi sungguh ada rindu yang masih tertuju pada gadis yang kini berjalan menjauh darinya.
"Aku hanya ingin melupakanmu meski untuk saat ini aku belum berhasil." lirih Shakti sambil menatap ke mana gadis mungil itu menghilang.
Bukan tidak disengaja. Shakti memang sengaja memposisikan diri di depan Alexa yang mencari ponselnya di dalam tas.
Sudah dua minggu tidak bertemu dengan Alexa membuatnya merindukan gadis yang sudah tidak bisa dia harapkan lagi.
Awalnya dia sudah menyiapkan banyak alasan untuk mendatangi rumah sakit hanya untuk bisa melihat Alexa, tapi saat mobil Yaris putih itu keluar dari halaman dia memilih membuntutinya dari belakang. Sejak tadi dia hanya menguntit di belakang Alexa.
"Dengarkan, Ay. Aku memang belum bisa membujukmu. Tapi, bukan berarti aku akan membiarkanmu pergi begitu saja dariku." Shakti sudah bertekad tidak akan ada lelaki manapun yang bisa mendekati gadis yang sudah membawa semua rasanya.
Bersambung
__ADS_1