
Alexa bergegas mengambil alat tes kehamilan. Hari ini dia memang berniat untuk melakukan tes urine. Sudah lima hari dia telat menstruasi berharap sudah ada kehidupan baru untuknya dan Shakti.
Dengan perasaan cemas karena takut kecewa, wanita itu menunggu reaksi kerja alat tes kehamilan.
"Ya Allah... " Di depan toilet dia langsung membekap mulutnya sendiri. Alexa hampir berteriak saking girangnya saat melihat garis dua. Ada rasa bahagia yang membuncah sehingga dia sulit mengendalikan rasa bahagianya.
Alexa mencoba menghela nafas panjang agar hatinya yang sedari tadi berdebar karena rasa bahagia agar bisa sedikit tenang.
"Ay, kamu nggak apa apa, kan?" tanya Shakti dengan mengetuk pintu kamar mandi dari luar. Dia merasa Alexa terlalu lama di dalam kamar mandi.
"Aku baik baik saja, Mas." teriak Alexa. Tapi tidak membuat lelaki itu beranjak dari depan kamar mandi.
"Aku kebelet!" kalimat Shakti membuat Alexa langsung memasukkan test kehamilan ke dalam laci. Dia memang tidak berniat mengatakan pada Shakti terlebih dahulu. Alexa ingin berita bahagia ini menjadi surprise saat ulang tahunnya nanti.
"Katanya kebelet, Mas?" tanya Alexa saat melihat Shakti yang hanya terdiam dan mematung.
"Kebelet pengen cium kamu! Cup..." Shakti melayangkan ciumannya di pipi Alexa membuat wanita itu memutar bola matanya.
"Lagian ngapain kamu di dalam kamar mandi lama banget, aku jadi khawatir." jawab Shakti membuat Alexa tersenyum.
"Benarkah?" jari mungil itu mencolek pinggang suaminya kemudian berjalan menuju lemari pakaian, hal itu membuat Shakti menggeleng. Entah sejak kapan istrinya jadi se- ganjen itu?
" Aku pergi sendiri apa diantar Mas Shakti?" tanya Alexa yang sudah akan bersiap untuk pergi ke rumah sakit.
"Biar aku yang antar!" gumam Shakti dia masih merasa aneh dengan banyak perubahan pada diri istrinya.
Selama di perjalanan menuju rumah sakit, Alexa memang lebih banyak tersenyum karena rasa bahagianya.
"Drt.. drt... drt... " ponsel milik Shakti berbunyi. Lelaki itu mengambil ponselnya dari dalam saku kemeja.
Clarissa.
Sejenak dia melirik Alexa. Tidak mungkin, dia mengangkat telepon dari clarisa saat bersama Alexa.
"Siapa, Mas? Kenapa tidak diangkat?" tanya Alexa saat melihat Shakti memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku.
__ADS_1
"Dari Bimo, sebentar lagi aku juga sampai kantor. Lagian ini di jalan bahaya, kan?" jawab Shakti terpaksa berbohong, dia tidak ingin lagi ribut dengan Alexa hanya karena salah faham.
Mobil mereka sudah sampai di parkiran rumah sakit.
"Terima kasih." ucap Alexa mencium punggung tangan suaminya dan mengecup pipi Shakti sebelum keluar mobil. Lelaki itu masih merasa heran saja atas sikap Alexa yang tidak biasanya. Biasanya dia yang mencium istrinya. Tapi ini sebaliknya.
Setelah Alexa berjalan menuju gedung yang sudah cukup ramai. Shakti kembali mengeluarkan ponselnya ternyata Clarissa mengirim sebuah pesan setelah dia tidak menjawab panggilannya.
Bisakah kita bertemu saat makan siang? Aku butuh bantuanmu!
Pesan dari Clarissa membuat Shakti berfikir jika dia sudah banyak berbohong dengan istrinya. Tapi, dia juga tidak tega menolak Clarisa saat meminta bantuannya. Rasa bersalah karena dirinya yang menjadikan Clarisa kehilangan semuanya membuat Shakti tidak tega untuk menolaknya.
Baiklah, kita bertemu di restoran biasanya
Balas Shakti. Lelaki itu kemudian melajukan mobilnya kembali menuju ke kantornya.
###
"Hanum... " panggil Zoya saat melihat Hanum hampir duduk di meja makan bersama lainnya termasuk Arkha. Mereka baru saja keluar dari kamar setelah menyiapkan barang yang akan Hanum bawa ke apartemen untuk tinggal bersama Arkha.
"Kamu belajar menyiapkan minuman buat suamimu." ucap Zoya mulai mengajari Hanum cara melayani seorang suami.
"Mama, kenapa harus Hanum?" desah Hanum dengan rasa malas.
"Hanum, semua ini akan menjadi ladang pahalamu, sayang." jelas Zoya sedikit memaksa putrinya.
"Jangan membuat malu Mama di depan mertuamu nanti, sayang. Dikira Mama tidak pernah mengajarimu." lanjut Zoya membuat putrinya mengerucutkan bibir jika sudah berceramah.
Tanpa menjawab lagi Hanum membuatkan kopi untuk Arkha. Dia hanya menebak kebanyakan lelaki menyukai kopi termasuk Arkha karena Hanum tidak tahu kebiasaan Arkha.
"Terima kasih." ucap Arkha saat Hanum meletakkan secangkir kopi di depannya. Lelaki itu kemudian melirik ke arah istrinya yang kembali membantu Mama Zoya.
Setelah sarapan dan berpamitan kedua pengantin baru itu pun berangkat menuju apartemen Arkha. Hari ini lelaki itu pun masih mengambil cuti.
Range Rover itu meluncur dengan tenang hingga mereka sampai di sebuah gedung yang menjulang sangat tinggi.
__ADS_1
Di dalam lift Arkha menggenggam tangan Hanum, membuat gadis itu mendongak ke arahnya. Lelaki yang saat ini tersenyum itu pun menarik jari jari mungil itu untuk berjalan menuju apartemennya.
"Aku hanya punya apartemen untuk sementara kita tinggal." ucap Arkha saat mereka masuk ke dalam.
"Tapi kamarnya kenapa cuma satu?" sambut Hanum masih dengan mengedarkan pandangannya meneliti setiap detail sudut ruangan.
"Kita satu kamar saja. Seperti tadi malam tidak akan terjadi apapun." ucap Arkha dengan enteng kemudian menarik tangan Hanum untuk melihat kamarnya.
"Tidak, aku akan tidur di sofa saja!" elak Hanum.
"Hanum apa yang akan dikatakan Papa Mertua nanti, jika tahu kamu tidur di sofa?" eram Arkha, dia yakin meskipun mereka satu ranjang tapi dia tidak akan melakukan hal apapun pada gadis itu.
"Papa juga tidak tahu!"
Perdebatan mereka terhenti kala suara ponsel Arkha terus berdering. Ternyata Rania.
"Hallo, Ran." jawab Arkha membuat Hanum menoleh, dia bisa melihat wajah bahagia Arkha saat menerima telpon dari gadis itu.
"... "
"Baiklah akan Abang usahakan. Nanti Abang carikan devisi yang masih ada lowongan di kantor Abang." jawab Arkha masih menyungging senyum saat berbicara dengan gadis itu.
" ... "
"Abang akan membantu sebisanya. " Arkha pun menutup kembali panggilannya. Dia kemudian melirik Hanum yang terlihat cuek dengan ponsel, di tangannya.
"Rania, kakak tingkatmu sedang mencari pekerjaan." ucap Arkha saat menghampiri Hanum dan kemudian duduk di depan gadis yang tak menjawabnya.
"Sebaiknya pernikahan kita dirahasiakan dulu..."
"Baiklah, kita akan berjalan seperti biasanya." sela Hanum sebelum Arkha melanjutkan kalimatnya.
"Kak Arkha masih bisa meneruskan hidup dan menentukan pilihan hati Kak Arkha." tegas Hanum masih berpura- pura menatap layar ponselnya. Sedangkan Arkha hanya mendesah kesal dan meninggalkan Hanum keluar dari kamar.
Hanum kemudian menatap suara pintu yang dibanting cukup keras. Hatinya juga tidak baik baik saja, saat melihat hubungan Arkha dan Rania. Dia tahu diri untuk membebaskan Arkha, Hanum menyadari jika Arkha terpaksa menikahi dirinya. Tapi, dia tidak akan mengemis cinta pada orang yang sudah menjatuhkan hatinya pada orang lain meski saat ini dia terikat pernikahan.
__ADS_1
Di dalam dapur Arkha mengaduk secangkir kopi yang baru saja dia buat. Dia masih merasa kesal dengan Hanum yang selalu bicara seenaknya. Arkha tahu Hanum memang punya watak dan keras dan dominan. Tapi, bukan seenaknya saja mengatur sebuah hubungan menurut versinya.