Rindu Alexa

Rindu Alexa
Bertahan Dengan Pendapat Masing- Masing


__ADS_3

Perutnya sudah terasa lapar setelah melatih ototnya dan dilanjut dengan menyegarkan kembali tubuhnya di dalam kamar mandi.


Arkha keluar kamar dengan langkah panjang. Dia akan menanyai Hanum tentang makan malam yang diinginkannya.


"Num, Kamu mau mak... " seketika langkahnya terhenti saat melihat Hanum meletakkan kepalanya di sofa dengan mata terpejam. Laptopnya masih menyala dengan beberapa lembar buku yang terbuka.


Dengan pelan dia melanjutkan langkahnya mendekati Hanum. Menutup buku yang terbuka kemudian menge-save tugas istrinya sebelum dia mematikan laptop.


Pandangannya tertarik untuk memperhatikan wajah cantik itu sejenak. Wajah yang beberapa hari ini seolah tergambar di pelupuk matanya saat dia berada jauh dari gadis di depannya itu.


Tidak hanya itu, bahkan dia sudah mulai terbiasa akan keberadaan Hanum dalam kehidupannya. Awalnya, Arkha memang hanya ingin menyelamatkan harga diri gadis yang sama sekali tidak bersalah. Tapi, dia sendiri hanyut dalam hubungan yang dianggapnya semu.


Arkha mulai menggendong tubuh mungil istrinya, bermaksud membawanya masuk ke dalam kamar. Tapi baru beberapa langkah, Hanum mengerjapkan mata menatap sosok yang kini menggendongnya.


"Kak, aku bisa jalan sendiri." lirih Hanum yang ingin diturunkan dari gendongan lelaki yang kini menghentikan langkah dan menatap mata bulat cantiknya.


"Kamu bangun?" tanya Arkha.


"Turunkan aku, Kak." lanjut Hanum membuat arkha menurunkan tubuh mungil Hanum.


"Kamu belum makan malam, kamu ingin makan apa?" tanya Arkha saat Hanum sudah berdiri di dekatnya.


"Aku tidak lapar, aku hanya ingin istirahat saja." jawab Hanum berniat berjalan menuju kamarnya.


"Bagaimana jika kita keluar cari bakso bakar?" pertanyaan Arkha membuat Hanum menghentikan langkahnya. Mendengar bakso bakar, membuat gadis itu tertarik, seperti diiming-imingi segepok uang.


"Serius?" tanya Hanum dengan wajah berbinar. Dia hanya meyakinkan pertanyaan Arkha karena malam ini sudah pukul sepuluh malam. Arkha pun mengangguk mengiyakan.

__ADS_1


"Aku ambil jaket dan jilbab." pamit Hanum mengambil jaket dan jilbabnya. Gadis itu memang jarang sekali berdandan maksimal jika hanya untuk jalan jalan.


Arkha mengeratkan genggaman tangan Hanum di perutnya, hingga gadis yang kini jantungnya terasa maraton itu pun memeluk tubuh tegapnya dari belakang.


Arkha melajukan motornya menelusuri jalanan yang mulai sepi itu pun tersenyum tipis. Dia merasa seperti seorang remaja yang baru saja melakukan kencan pertamanya.


Keduanya memang menyelami perasaan masing-masing di sepanjang perjalanan. Tidak ada yang bisa ceritakan untuk perasaan yang sedang mereka rasakan saat ini, hingga motor itu berhenti pada sebuah gerobak yang di dekatnya ada sebuah meja dan gelaran tikar.


"Kita sudah sampai, Num." ucap Arkha membuat Hanum langsung turun dari motor. Setelah menstandarkan motornya Arkha membantu Hanum membukakan helmnya. Dia sengaja menggunakan motor agar tidak terlalu ribet saat melewati gang kecil menuju bakso bakar yang lumayan terkenal di kawasan Kota.


"Dua porsi, Pak." ucap Arkha kemudian merangkul tubuh kecil di sebelahnya untuk mencari tempat duduk lesehan.


"Kak Arkha dari mana tahu tempat ini? Ini tongkrongannya anak muda, lo." ujar Hanum tidak terlintas jika kalimatnya akan membuat lelaki yang duduk di depannya itu pun melengos kesal.


"Aku tidak terlalu tua untuk mendatangi tempat ini, Hanum." jawab Arkha sedikit kesal. Tapi malah membuat Hanum tersenyum geli. Sumpah demi apapun dia tidak bermaksud menyinggung ke arah perbedaan usia mereka. Meskipun umur mereka terpaut 12 tahun tapi Arkha tetaplah lelaki yang menarik, tubuhnya atletis dan wajah sederhana yang cukup tampan untuk dinikmati dan yang pastinya tampilannya yang terlihat selalu segar membuatnya selalu menarik bagi kaum hawa.


"Tidak juga, tergantung individunya... " Arkha menjeda kalimatnya saat penjual bakso membawa pesanannya.


"Aku dari keluarga biasa Hanum. Selama kuliah juga biasa nongkrong di tempat seperti ini. Bahkan, aku merasa tidak percaya jika lawyer ternama memintaku menikahi putri kesayangannya." jelas Arkha dengan menatap begitu dalam gadis yang kini malah salah tingkah dengan sorot mata memuja.


Hanum kemudian menunduk, gadis itu sering tersipu saat berada di dekat arkha. Bagi Hanum apapun status pasangannya tidak masalah. Keluarganya tidak pernah mempermasalahkan status sosial, bagi keluarga Satrya Jagad, mereka lebih menghargai kerja keras seseorang.


Lagi pula Zoya selalu mengajarkan pada putra putrinya untuk selalu menerima dan bersyukur apapun pemberian Allah. Sedikit banyak yang diberikan oleh Allah adalah ujian bagi makhluk di dunia fana ini.


Mereka menikmati bakso bakar dengan tenang, sesekali pandangan mereka saling beradu membuat keduanya salah tingkah.


Arkha yang awalnya tidak menyukai bakso berlahan pun mulai menyesuaikan selera dengan pasangannya.

__ADS_1


###


"Papa harap kamu berfikir dengan matang sebelum memutuskan berpisah." ucap Hans kembali meyakinkan Alexa saat mereka berada dalam mobil menuju rumah peninggalan Oma Shanti.


Hans memang memilih rumah itu untuk Alexa yang sudah keras kepala untuk tidak pulang ke rumah suaminya atau orang tuanya. Hans memilih Alexa untuk tinggal di rumah Oma Shanti karena di sini masih ada asisten rumah tangga dan tukang kebun yang merangkap sopir yang bisa mengawasi keadaan Alexa. Hans memang tidak tega membiarkan Alexa tinggal sendiri di apartemen.


"Aku sudah memutuskannya, Pa." ucap Alexa seolah yakin dengan semua keputusannya.


"Kamu sudah memikirkan nasib calon bayimu yang lahir tanpa ayah? Tidak mudah menuntut perpisahan jika dari pihak Shakti menentangnya. Bahkan kamu tidak punya bukti kuat untuk menunjukkan perselingkuhan Shakti." jelas Hans. Dia sendiri masih abu abu dengan kasus putrinya.


"Apa sebaiknya selama kamu hamil, kamu mulai meyakinkan semuanya sedikit demi sedikit." Hans pikir, Wanita hamil memang bisa bercerai tapi masa iddah akan dimulai setelah melahirkan. Itu artinya sama saja jika perceraian itu bisa dilakukan setelah melahirkan. Lagian, dia tidak merasa khawatir karena Shakti bukan tipe lelaki yang bisa melakukan kekerasan pada perempuan , jadi dia tidak perlu mengkhawatirkan putrinya akan hal buruk yang membahayakan Alexa.


"Pa, Mas Shakti mengikuti kita." ujar Alex ayang baru menyadarinya. Padahal sejak dari rumah sakit Shakti sudah membuntut di belakang mobil mereka.


Hans hanya terdiam dengan membelokkan mobilnya ke rumah yang mempunyai kenangan masa kecilnya. Dia juga ingin tahu apa yang dilakukan Shakti.


Mobil Hans berhenti begitu juga mobil Shakti bergegas Alexa turun dari mobil dan menghampiri Shakti yang membuka pintu mobilnya.


"Ngapain kamu ke sini, Mas? Kita akan berpisah. Kamu tidak perlu lagi mengikutiku seperti itu." ucap Alexa dengan tatapan tajam yang dia tujukan pada lelaki yang kini berdiri hanya berhadapan dengannya.


"Sudah aku bilang, aku tidak akan berpisah. Aku akan selalu bersama kalian." tegas Shakti dengan jawab yang sama saat Alexa mulai berbicara perpisahan.


"Kamu egois, kamu selalu membohongiku dan berselingkuh dengan mantanmu. Sekarang kamu tidak membiarkan aku tenang?" sarkas Alexa diantara perdebatan mereka.


"Aku tidak selingkuh, Ay. Meskipun aku belum bisa membuktikannya padamu tapi jawabanku akan sama aku tidak berselingkuh. " Shakti masih pada jawab yang sama.


"Eh, kalian apa - apaan berdebat di sini. Selesaikan di dalam!" Suara Hans yang tegas membuat keduanya berhenti.

__ADS_1


Mereka berjalan masuk dengan beriringan. Sementara Hans, membiarkan anak menantunya membicarakan masalah mereka. Dia bisa mengerti jika masa masa di awal pernikahan banyak yang mengalami masalah, Hans sengaja tidak mau ikut campur, tapi dia tetap mengawasi keduanya. Dia tidak akan membiarkan putrinya menghadapi kesulitan dan ketidak adilan.


__ADS_2