Rindu Alexa

Rindu Alexa
Terasingkan


__ADS_3

Arka menghentikan mobilnya tepat di depan gerbang rumah mewah bernuansa putih. Hanum langsung turun menemui security. Pintu gerbang rumah yang biasa terbuka otomatis kini masih tertutup rapat saat mobil Arka bersiap masuk ke dalam halaman.


"Pak, kenapa gerbangnya ditutup?" tanya Hanum pada security yang berjaga.


"Itu- Mbak Hanum, kata Bapak jika bukan orang rumah tidak diperbolehkan masuk." jawab Pak Andi dengan membuka pintu kecil yang berdekatan dengan pos.


"Papa ada di rumah berarti?" tanya Hanum dengan menoleh ke arah mobil yang baru saja datang, mobil dokter Agam kini berhenti beriringan dengan mobil Arka.


"Pak Hans dan Mas Aleks membawa Bu Zoya ke rumah sakit. Kondisi Ibu drop." jawab security. Melihat Hanum yang berbicara lama dengan security membuat Arka keluar mobil bersamaan dengan Dokter Agam menghampiri Hanum dan security.


"Alexanya, ada?" tanya Agam, begitu mendengar berita tentang Alexa, dia langsung datang ke sini karena ponsel Alexa tidak bisa dihubungi sama sekali.


"Mbak Ale-nya ada, tapi tidak bisa ditemui oleh siapapun untuk saat ini." jawab security membuat Agam terlihat kecewa.


"Kak Agam lebih baik jangan sekarang menemui Kak Ale." pinta Hanum saat melihat ekspresi kecewa Dokter Agam.


"Baiklah, tapi tolong nanti kasih kabar tentang keadaan Alexa." ucap Agam kemudian kembali ke mobil setelah melihat Hanum mengangguk setuju.


Arka sempat memperhatikan Dokter Agam. Dari gelagat Dokter Agam, Arka tahu jika lelaki yang saat itu menghilang dengan mobilnya itu juga menyukai Alexa.


Cukup lama Hanum terdiam. Dia bingung memilih masuk ke dalam menemui kakaknya atau langsung ke rumah sakit. Dia juga mencemaskan keadaan mamanya.


"Mama dibawa ke rumah sakit mana, Pak?" tanya Hanum.


"Di rumah sakit Mitra Keluarga." jawaban Pak Andi langsung membuat Hanum menoleh ke arah Arka.


"Ayo, antarkan aku!" permintaan yang lebih cenderung pada perintah membuat Arka hanya mengernyitkan kedua alisnya.


"Ayo...!" Hanum langsung menarik lengan Arka menuju mobil. Lelaki itu merasa heran saja, karena bocah itu berlakukan seenaknya. Arka memang melihat Hanum sebagai sosok yang Smart. Untuk itu, dia tidak heran jika bocah itu punya ego yang juga tinggi.

__ADS_1


"Bagaimana dengan kakakmu?" tanya Arka saat mereka berada kembali di dalam mobil. Hanum terdiam sejenak.


"Setidaknya di dalam rumah Kak Ale aman. Tapi, Mama? Aku juga mencemaskan keadaannya." jawab Hanum.


Arka bisa mengerti, dia langsung melajukan mobilnya menuju rumah sakit. Tidak ada pembicaraan lagi diantara mereka hingga mobil pajero sport itu membelok ke halaman rumah sakit.


"Kamu mau ikut? Kamu tidak takut Papa?" tanya Hanum saat melihat Arka membuka kunci p mobil.


Arga menatap Hanum. Dia juga menggelengkan kepala sambil berdecak heran.


"Kamu berjilbab, kamu juga dari keluarga terhormat bisa nggak sih bicara sedikit santun." keluh Arka sejak tadi dia mencoba memahami bocah di sebelahnya. Hanum Malah menautkan kedua alisnya. Dia tidak mengerti apa yang dimaksud lelaki di sampingnya.


"Maksudnya? Mau ceramah?" bantah Hanum yang memang tidak sudah didekte.


"Bukan mau ceramah. Panggil Kak, Mas atau Abang kek. Bukan kamu- kamu. Kedengarannya tidak sopan." Arka mencoba berbicara pada gadis disebelahnya, dia merasa punya adik perempuan seusia Hanum. Dia berharap, saat adiknya kurang benar ada yang menasehatinya.


"Jadi ikut, masuk?" tanya Hanum.


"Tentu. Takut kamu kluyuran kemana-mana." Mendengar jawaban Arka Hanum hanya memutar bola matanya. Dia langsung berjalan di mana Zoya dirawat. Dia sedikit lega, Aleks sudah mengabarkan jika Zoya sudah siuman.


Hanum berjalan tergesa diiringi Arka dari belakang. Gadis itu, ingin segera bertemu mamanya.


"Kak Aleks, bagaimana keadaan Mama?" tanya Hanum saat bertemu Aleks yang duduk di luar ruangan Zoya.


"Sudah sadar, tapi masih kelihatan Shock. Masuk saja!" suruh Aleks. Masih diikuti Arka, Hanum masuk ke dalam ruangan.


"Mama...!" panggil Hanum kemudian menghambur memeluk Zoya. Hans yang sedari tadi duduk di sebelah istrinya pun berdiri. Dia menatap lelaki yang datang bersama bungsunya.


"Kenalkan saya Arka. Saya mengantarkan putri Bapak." ucap Arka dengan menjabat tangan Hans. Arka sengaja tidak memberi tahu hubungannya dengan Shakti, takut akan memperkeruh keadaan. Arka melihat Zoya yang masih menangis.

__ADS_1


"Silahkan duduk!" ucap Hans dengan singkat, lelaki yang sudah matang itu tidak ingin bicara apapun. Dia masih marah pada Alexa. Bagaimana cara dia menjawab pada dunia tentang foto putrinya yang tidak pantas.


"Kenapa Mama sampai seperti ini?" tanya Hanum. Tapi, Zoya tidak menjawab. Soroti matanya melihat lelaki yang kini tertegun dengan kilatan mata yang masih menyimpan amarah. Hanum bisa mengerti, jika semua pasti tentang berita kakaknya.


"Kaka Arka, aku akan pulang bersama Papa atau Kak Aleks." ucap Hanum pada Arka. Lelaki itu pun sudah faham dan segera berpamitan untuk segera pulang.


###


Di rumah, Alexa masih menangis di dalam kamar, selama hidupnya baru kali ini dia merasa terpuruk. Rasa bersalah dengan keluarganya membuatnya perasaannya semakin tertekan.


Dia menengadahkan wajah berharap air matanya akan berhenti. Tapi tidak, apalagi saat mengingat papanya tidak memperbolehkan dirinya memeriksa kondisi mamanya saat pingsan.


"Jangan menyentuh Zoya!" kalimat yang sempat di tujukan padanya saat mendekat ke arah mamanya.


Sore sudah berganti petang, terdengar suara mobil berhenti di halaman rumahnya, Alexa segera berjalan ke balkon untuk melihat siapa yang datang. Ternyata papanya datang sendirian, dia begitu mencemaskan Zoya. Dengan setengah dari keberaniannya, gadis itu keluar kamar dan mencari keberadaan papanya.


"Pa, bagaimana keadaan Mama?" tanya Alexa saat melihat papanya akan membuka pintu kamar. Hans hanya meliriknya tajam dan kemudian kembali masuk ke dalam kamar.


Alexa hanya tertunduk kecewa, dia begitu mencemaskan Zoya, tapi sepertinya kehadiran dirinya malah akan memperburuk keadaan. Gadis itu merasa bersalah dengan keluarganya.


Hanya beberapa menit Hans sudah keluar lagi, dengan membawa beberapa tas. Dia juga cuma melirik Alexa yang menatap iba dirinya.


"Maafkan Ale, Pa! " ucap Alexa saat tatapan tajam papanya tertuju padanya yang berdiri di samping pilar rumah mewah itu.


Hans yang tidak menjawabnya dan hanya berlalu meninggalkan putrinya yang yang menatapnya penuh dengan permohonan. Mendapatkan perlakuan dingin papanya, Alexa merasakan hatinya terasa nyeri. Dia tahu, kesalahannya begitu besar, tapi semua bukan karena keinginannya. Gadis itu hanya memejamkan matanya kembali berair.


Hans kembali ke rumah sakit setelah membawa beberapa barang yang dibutuhkan Zoya. Berlahan, dia melajukan mobilnya keluar dari rumah mewah miliknya. Tapi, saat dia akan meninggalkan rumah, Shakti datang dengan mobilnya yang akan membelok ke halaman. Mercy Hitam itu keluar dan mobil jaguar milik Shakti membelok dan berhenti di depan gerbang.


Shakti keluar dari mobil, berharap tidak ada yang mengenali dirinya. " Bisa bertemu dengan Pak Hans satria jagad?" tanya Shakti dengan membawa sesuatu yang akan dia tunjukkan pada Hans.

__ADS_1


__ADS_2