
Lelaki yang sedari tadi tidak bisa fokus dengan pekerjaannya pun beranjak menuju ke arah jendela. Dia berdiri dan menatap lekat suasana kota yang cukup ramai, berusaha menepis rasa gelisah yang sejak tadi menguasainya.
Hanum, ternyata gadis itu sangat berpengaruh dalam hidupnya. Kepergiaannya memilih untuk menyendiri membuat Arkha terombang ambing dalam rasa yang bercampur aduk. Rasa cemas dan sebuah rasa yang mungkin lebih patut dikatakan rindu. Baru sehari saja, dia sudah melihat berkali-kali ponselnya, menunggu Hanum menghubunginya atau dirinya sekedar bisa melihat story Hanum yang ternyata tidak ada yang baru.
"Tok... tok... tok... "
"Masuk." sahut Arkha saat mendengar suara ketokan dari luar. Tak sedikitpun lelaki itu bergeming dari tempatnya.
"Maaf, Pak. Ini laporan dari beberapa devisi yang harus segera diperiksa." ucap Rania dengan meletakkan beberapa map di meja Arkha.
"Letakkan di situ saja, Ran." jawab Arkha sambil menoleh menatap gadis dengan rok sepanjang di atas lutut itu.
"Ehm... ada yang ingin saya bicarakan dengan Bang Arkha saat jam istirahat nanti." ucap Rania sedikit ragu, tapi rasa dilema yang berkecamuk dalam hatinya sudah tidak bisa dia tahan lagi.
"Baiklah, kita bisa ketemu di Red Orchid kafe." jawab Arkha kemudian melangkah kembali menuju mejanya, dia memang harus menuntaskan pekerjaannya sebelum semua menumpuk.
Siang itu Rania sudah duduk dengan segelas jus yang ada di depannya. Jantungnya berdegup kencang saat melihat sosok bertubuh tinggi atletis berjalan ke arahnya. Arkha memang selalu terlihat menarik dengan perangai matang yang membuat tatapan wanita berasa nyaman.
"Sudah pesan makanan?" tanya Arkha saat lelaki itu menghenyakkan tubuhnya untuk duduk di depan Rania.
"Aku menunggu Bang Arkha." jawab Rania dengan menyimpulkan senyuman di sudut bibir tipisnya, kemudian disusul pelayan yang menyodorkan beberapa menu makanan yang akan dipesan.
Sejenak Arkha mengedarkan pandangannya memperhatikan beberapa meja yang sudah ditata sedemikian rupa. Seperti, ada sebuah acara yang akan berlangsung di tempat itu.
"Bang... " suara Rania menghentakkan kembali lamunan lelaki yang ada di depannya.
"Iya, Ran. Kamu mau bicara apa?" tanya Arkha teringat tujuan mereka makan siang bersama.
Kehadiran, beberapa orang yang mulai memenuhi cafe pun membuat suasana semakin ramai.
"Bang, sebenarnya ... " ucap Rania masih tertahan. Masih ada keraguan untuk menyatakan perasaannya, meskipun hatinya merasa lebih yakin jika Arkha memang sudah lama menaruh hati padanya. Apalagi, pernikahannya dengan Hanum hanya sebuah keterpaksaan karena keluarga Hanum yang sangat punya pengaruh.
"Ada apa, Ran?" desak Arkha saat mulai melihat mimik wajah Rania yang semakin bingung. Sejenak mereka terdiam menguatkan niatnya untuk menyampaikan perasaannya. Dia hanya meyakinkan perasaannya jika selama ini Arkha sangat menaruh perhatian padanya.
"Sudah lama aku menyukai Bang Arkha." Gadis itu membuat Arkha seketika mendongak menatap wajah cantik di depannya. Dengan menghentikan kunyahan di mulutnya Arkha terlihat kaget dengan pernyataan Rania.
"Aku tahu Bang Arkha sudah menikah. Tapi, aku sudah tidak bisa membendung perasaanku padamu, Bang. Bahkan, Aku rela jika harus menunggu Abang menyelesaikan semuanya." Rania terlihat salah tingkah menyampaikan unek- unek dalam perasaannya. Dia sadar tidak mudah berdiri diantara hubungan seseorang, tapi bukankah hubungan pernikahan mereka hanya untuk menutup aib. Rania juga tidak pernah menemukan sesuatu yang sesuatu yang sepesial dalam hubungan antara Hanum dan Arkha.
Dia bisa melihat berapa cueknya Hanum pada lelaki yang menyandang status suaminya. Dan itu pula yang bisa membuat Rania yakin, jika hubungan suami istri tidak akan bertahan lama.
"Bukankah, Hanum juga menganggap pernikahan kalian hanya untuk menutupi aibnya saat kalian kepergok di hotel?" lanjut Rania. Gadis itu memang cerdas dan pandai sekali mengolah kata hingga membuat Arkha tersadar jika Hanum juga tidak serius dalam pernikahan ini, bisa saja gadis itu terpaksa menjalani semuanya. Hanum memang tidak pernah memperlihatkan ketertarikannya sama sekali dengannya.
__ADS_1
"Aku hanya ingin menyampaikan perasaanku pada Abang, aku juga bisa menunggu Bang Arkha." Melihat Arkha yang masih terdiam membuat Rania sedikit gusar. Dia sudah bertaruh harga diri untuk bisa memenangkan hati lelaki idamannya itu.
Sejenak Arkha menghela nafasnya yang terasa berat dia tidak mampu lagi berkata. Yang dikatakan Rania memang tidak semuanya salah, tapi dia juga tidak berniat mempermainkan sebuah pernikahan, apalagi beberapa waktu hidup bersama Hanum, dan membuatnya terbiasa dengan gadis itu.
"Aku tidak ingin mempermainkan pernikahanku, Ran. Apalagi, aku mulai mengenal Hanum yang sebenarnya. Dia layak dipertahankan." lirih Kalimat Arkha, dia sangat berhati-hati mengucapkan semuanya. Karena tidak ingin membuat Rania kecewa.
"Maafkan aku, Ran." ucap Arkha saat melihat mata gadis di depannya itu sudah berkaca- kaca. Kecewa dan malu itu yang dirasakan Rania.
"Tidak apa, Bang. Aku yang salah. Aku pikir selama ini Bang Arkha memberiku perhatian lebih itu karena punya rasa sayang. Tapi ternyata aku salah mengartikan kebaikan Abang." Sambil menitikkan air mata Rania tertawa sumbang. Dia begitu kecewa saat ini.
Arkha hanya bisa membungkam, dia juga merasa bersalah pada Rania, karena selama ini kenyataannya dia memang memberi Rania perhatian dan beberapa harapan. Apalagi, dia memang mengenal Rania sebagai gadis yang baik dan polos.
"Maafkan aku, Ran."
"Nggak apa, Bang. Aku yang terlalu ke-GR-an selama ini. Tidak seharusnya aku berfikir Abang menyukai aku yang hanya gadis biasa. Bukan anak orang kaya." lanjut Rania, kalimatnya semakin mendesak Arkha dengan rasa bersalah.
Lelaki itu mengulurkan tangannya, menggenggam tangan kecil gadis yang kini masih menangis, " Kamu gadis yang hebat. Aku yakin banyak lelaki yang lebih layak untuk bersamamu." lanjut Arkha. Sungguh, hatinya juga menderukan rasa yang entah apa itu namanya. Tidak tega, ingin sekali dia menenangkan Rania tapi dia juga tidak ingin bermain main dengan pernikahannya.
###
Setelah pulang dari klinik, Alexa meminta Shakti untuk mengantarkannya ke rumah Mama Zoya. Dia juga meminta untuk menginap semalam. Setelah itu, mereka baru akan kembali ke rumah Mama Gayatri.
"Kamu yakin tidak ingin punya rumah sendiri? Aku bisa memberikanmu rumah sesuatu dengan impianmu, Ay. Mama Gayatri pun juga mendukung, jika kita punya rumah sendiri." ucap Shakti saat mereka berada dalam perjalanan menuju rumah Mama Zoya. Shakti hanya ingin Alexa merasa benar- benar merasa nyaman.
"Tapi, kenapa kemarin minggat? Tidak memikirkan Mama?" ledek Shakti membuat Alexa mengerucutkan bibirnya.
"Aku kan, tidak sudi jika dikhianati." ketus Alexa membuat Shakti terkekeh, lelaki itu menggenggamkan tangan pada jari jari mungil istrinya dan membawanya untuk memberikan kecupan kecil.
"Bagaimana aku bisa mengkhianatimu, Ay, mendapatkanmu saja aku butuh perjuangan. Lagian wanita sepertimu limited edition, mana berani aku macam- macam." jelas Shakti, lelaki itu terus saja tersenyum, hari ini dia merasa sangat bahagia sekali.
"Mas- Mas, aku ingin rujak di pertigaan depan itu!" ujar Alex dengan menunjuk pada sebuah penjual rujak.
Mobil mewah itu terparkir di dekat gerobak rujak. Shakti pun langsung keluar dari mobil di susul dengan Alexa yang tidak mau ketinggalan.
"Rujak satu bungkus, Pak!" ucap Shakti sambil memperhatikan kebersihan rujak yang akan dia beli.
"Kalau semuanya dibeli berapa, Pak?" suara lembut Alexa membuat Shakti dan penjual rujak menoleh, mencari jawaban maksud pertanyaan Alexa. Sedangkan, Shakti mulai curiga jangan-jangan kejadian bubur ayam akan kembali terjadi.
"Maksudnya, Neng?" tanya penjual rujak itu.
"Ay, jangan bil... "
__ADS_1
"Aku beli semuanya, Pak!" sela Alexa memotong kalimat Shakti.
"Tapi, Ay..."
"Berapa, Pak?" sela Alexa tidak peduli lagi dengan Shakti.
"Tiga ratus ribu, Neng." jawab penjual rujak itu dengan wajah sumringah. Itu artinya dagangnya habis untuk hari ini.
"Tapi, buat apa, Ay?" tanya Shakti bermaksud menolak keingin Alexa.
"Aku ngidam, Mas. Jika Mas Shakti keberatan aku akan membayarnya sendiri." jawab Alexa sedikit kecewa mendapati tanggapan suaminya.
"Aku saja yang bayar!" Shakti langsung mengeluarkan uang tiga lembar ratusan untuk diberikan pada si penjual rujak. Mata bapak penjual rujak itu terlihat berbinar, tangannya begitu bersemangat membungkus rujaknya.
"Terima kasih, Mas!" ucap Alexa sambil memeluk tubuh tegap di sebelahnya itu. Padahal dalam hati Shakti menggerutu, mana ada ngidam setiap beli sesuatu di suruh borong semuanya, seperti adi- adi saja.
"Aku bawa dua bungkus saja, Pak. Yang lainnya dibagikan untuk mau ya!" Alexa langsung membawa dua bungkus rujaknya dan mereka kembali ke dalam mobil.
Di dalam mobil Shakti melirik istrinya yang terus saja mengendus- endus bungkus rujaknya seolah tidak sabar untuk menyantapnya. Padahal, Shakti ada niat lain saat mereka sudah sampai di rumah Mama Zoya.
Shakti membelokkan mobilnya pada rumah dengan gerbang otomatis itu dan berhenti setelah gerbang kembali tertutup.
"Ay... "
"Hmmm... "
"Aku kangen banget." lanjut Shakti dengan menatap istrinya yang kini mengalihkan pandangan ke arahnya.
"Kita setiap hari masih ketemu kan, Mas." jawab Alexa masih tersenyum manis, matanya menatap mata yang kini terlihat sayu.
"Tapi, aku rindu, memelukmu, menciummu dan itu.... " Shakti sengaja menggantung kalimatnya. Alexa yang sudah faham pun kembali tersenyum. Dia juga sangat merindukan suaminya itu.
Berlahan Shakti mendekatkan wajahnya, mengikis jarak diantara wajahnya dengan wajah Alexa. Tatapannya kini hanya fokus pada bibir mungil nan ranum milik istrinya. Sedangkan, Alexa sendiri merasa dadanya kini berdebar hebat. Tatapan mata suaminya membuatnya semakin nervous apalagi wajah semakin berjarak tipis.
"Tin... tin... tin... tin... "
"****... " Shakti mengeram kesal, saat suara klakson mobil di belakang mobilnya berbunyi.
"Astaga, Papa Mertua benar benar mengganggu." Shakti menggerutu setelah melihat mobil Mercy hitam yang kini berada di belakangnya. Lelaki yang kini terlihat kesal itu kemudian memajukan mobilnya masuk ke dalam parkiran dan menata rapi mobilnya di sana. Sedangkan Alexa hanya membekap bibirnya yang ingin meledakkan tawa saat melihat ekspresi suaminya yang sangat kesal.
Bersambung...
__ADS_1
Dengan rasa bersalah karena luaaaammmaa gk up, hanya bisa memberi 🤗😘 untuk readers yang masih berkenan menunggu.