
Semua rencana dan niat Shakti gagal. Dia yang seharusnya berpetualang menuju puncak gunung pun tidak pernah terjadi.
Pertemuannya dengan Alexa membuatnya mengurungkan semua niatnya. Terlebih lagi, dia juga ingin mengabarkan pada mertuanya jika Alexa dalam keadaan baik baik saja.
Terdengar derit pintu kamar terbuka, terlihat sosok cantik itu masuk untuk berganti jilbab instan yang lebih simple.
"Mau kemana, Ay?" tanya Shakti membuat Alexa menoleh ke arah tempat duduk suaminya.
"Ehmm... mau keluar sebentar." jawab Alexa terlihat nampak ragu. Iya, dari kemarin Dewa menagih janjinya bermain di air terjun. Namun, jika Shakti ikut, Itu akan semakin membuat keadaan semakin ricuh saja.
"Kemana?" Shakti mulai curiga.
"Sebennnntar, saja." jawab Alexa tersenyum dan penuh penekanan, jika dirinya tidak akan lama. Shakti bangkit, dia menghampiri Alexa, yang terlihat kucing kucingan.
"Besok kita pulang, Ay." ucap Shakti saat berdiri di dekat istrinya. Dia ingin Alexa menjaga stamina untuk perjalan besok. Tapi, dia tidak ingin mengekang Alexa dalam hal apapun. Tapi, lelaki yang menatap lekat wajah istrinya masih penasaran kemana Alexa akan pergi.
Alexa terdiam. Entah kenapa hatinya merasakan sedikit berat mendengar kata 'Pulang' Iya, dia sudah terbiasa hidup di sini meskipun kondisinya sulit dan survive. Tapi, satu sisi yang lain, Alexa juga merindukan keluarganya.
"Kenapa?" tanya Shakti dengan merengkuh pinggang kecil istrinya hingga jarak mereka begitu dekat.
Alexa mendongakkan wajah, menatap lekat mata lelaki yang saat ini merengkuh tubuhnya. Masih dengan debaran yang sama, hanya saja rasa itu sudah mulai terbiasa kala bersentuhan dengan lelaki yang mengaku suaminya itu.
"Aku sudah menyayangi mereka, tapi aku juga merindukan keluargaku, Tante Gayatri dan teman temanku." gumam Alexa yang masih bisa terdengar oleh Shakti.
"Kita juga tidak mungkin di sini terus. Kamu istriku, dan aku punya banyak tanggung jawab di kota." Shakti kembali meyakinkan kembali posisi Alexa yang sekarang bukan single. Ada sebuah hubungan yang sudah mengikat keduanya.
"Iya aku tahu, namun aku juga harus memperjelas semuanya. Mana buku nikahnya? Mana maharku? Aku juga harus bertanya dengan saksi dan waliku?" Alexa mencecar Shakti dengan beberapa pertanyaan hingga membuat Shakti mengeram kesal. Matanya menatap lekat Alexa.
"Terkadang kamu itu memang menyebalkan ya, Ay!" geram Shakti membuat Alexa sedikit menciut. Berlahan Alexa mulai melepaskan pelukan lelaki tinggi badannya menenggelamkan tubuhnya.
"Mau kemana?" Shakti langsung mengangkat tubuh Alexa dan membawanya dalam gendongan menuju tempat tidur.
"Kamu itu memang harus dibuat mendesah agar bisa jinak, Ay." Shakti meletakkan Alexa di atas tempat tidur. Kedua kakinya ditekuk untuk mengunci kedua paha istrinya dengan secepat kilat dia melepas kaosnya.
"Aaarrhhh.... ampun, Mas." Alexa menutup wajahnya yang sudah memerah. Dia terus menerus terkikik geli saat berusaha melepaskan diri tapi selalu gagal.
"Aku nggak nakal lagi!" lanjut Alexa saat Shakti membuka dan membuang jilbabnya ke sembarang arah. Tangan kokoh itu mengangkat kedua tangan Alexa dan menahannya di atas kepala.
__ADS_1
Saat tubuh kecil itu bergerak gerak terus dengan suara terkikik menahan rasa geli, hal itu malah memantik hasrat lelaki itu untuk benar benar memasuki istrinya siang ini juga.
"Maaaas!" panggilan protes Alexa malah terdengar seperti ******* yang didengar Shakti.
Shakti mulai menciumi Alexa dengan rakus. Tidak hanya di bibir, tapi ciuman itu turun di leher.
"Aaahh... " Alexa benar benar mendesah saat ciuman itu turun di tulang selangkanya, mendapatkan gigitan kecil hingga meninggalkan bekas merah membuat sensasi tersendiri bagi Alexa.
"Dor.... dor.... dor... "
"Tante Salma." panggil Dewa dengan terus menggedor pintu kamar hingga membuat keduanya berjingkat kaget.
"Shiit.... " umpat Shakti kemudian bangun dari posisi mengungkung istrinya.
"Iya, sayang. Tunggu sebentar!" jawab Alexa agar membuat Dewa tenang. Dengan memasang kembali kancing bajunya, Alexa kelimpungan mencari jilbab yang sempat dilempar Shakti.
Saat Alexa merapikan tampilannya, Shakti hanya mengeram kesal dan kembali mengenakan kaosnya.
"Mau pergi dengan Dewa?"
"Iya, Mas." jawab Alexa membuat Shakti mengikutinya.
"Iya, ayo kita berangkat."
"Aku ikut!" sela Shakti yang sudah siap dengan kamera yang mengalung di lehernya.
"Hore Om Shakti ikut. Kita main air bareng." teriak Dewa dengan girang. Sedangkan, Alexa hanya mengerucutkan bibir. Semua di luar ekspektasinya.
Setelah berpamitan dengan Tante Gendis mereka bertiga mulai berjalan menuju air terjun. Beberapa kali Dewa menoleh kagum ke arah Shakti yang berjalan dibelakangnya. Alexa berjalan terlebih dahulu dengan menggandeng Dewa.
"Kenapa, Wa?" tanya Alexa saat melihat Dewa sering menoleh ke belakang.
"Om Shakti ganteng memakai kaca mata." ucap Dewa dengan polosnya.
"Anak kecil memang tidak pernah bohong." Sahut Shakti dengan menghentikan bidikannya pada sawah dan gerombolan semak semak pohon bambu di sepanjang aliran sungai yang ada di sisi kiri dan kanan jalan setapak yang mereka lalui.
"Mau om gendong, Wa?" tanya Shakti saat melihat keringat di pelipis bocah itu.
__ADS_1
Dewa langsung mengangguk cepat dan langsung bertengger di punggung Shakti. Mereka kembali berjalan. Kali ini, Alexa membiarkan Shakti menggenggam lengannya. Satu lengannya.
"Itu sawahnya Tante Gendis, Mbak Laras tadi diminta mengantar makanan ke sana sama Tante Gendis." Alexa mengarahkan satu telunjuknya ke arah segerombolan orang yang sedang memanen padi.
"Jauh juga jika belum terbiasa." ucap Shakti.
"Kadang aku iri dengan Mbak Laras, dia orang yang hebat dan kuat. Dia selalu menjalani hidupnya dengan ikhlas." lirih Alexa.
"Dia juga tulus. Dia selalu membantu orang lain tapi dia enggan merepotkan orang. Jika terkena omel Tante Gendis Mbak Laras hanya menanggapinya dengan senyum. Katanya dia senang jika Tante Gendis ngomel, dia merasa beliau sayang padanya." Melihat semburat kesedihan di wajah Alexa membuat Shakti memindahkan tangannya dengan merangkul bahu kecil istrinya.
Ada satu sisi dari diri Shakti yang membuat Alexa tidak bisa mengingkarinya. Suaminya itu adalah sosok yang pelindung meski terkadang sisi egois ingin memenangkan banyak hal yang dia inginkan.
Mereka melalui perjalanan menuju air terjun dengan banyak cerita tentang Laras. Alexa memang mengagumi wanita itu. Kegigihannya, kebaikannya dan ketulusannya semua terlihat istimewa dan spesial bagi Alexa.
Tuhan itu adil terkadang manusianya saja yang terlalu sempit untuk mengartikan keadilannya.
"Dewa turun, Om." pinta bocah itu langsung merosot dari gendongan Shakti saat melihat air terjun.
"Tunggu, Om! " Shakti mencegah Dewa berlari sendiri di bebatuan yang ada di bawah air terjun. Dengan membuka kaos dan menyisakan celana boxernya, Shakti menggendong Dewa di atas pundak bidangnya.
"Ayo, Ay!" Shakti menarik tangan Alexa untuk ikut.
"Nggak mau, Mas. Nanti basah." tolak Alexa. Tapi Shakti langsung menyeret Alexa untuk mengikutinya.
"Aku nggak tahan airnya dingin." Air di pegunungan dengan oksigen yang masih bersih memang terasa lebih dingin.
"Nggak apa apa, Tante!" bujuk Dewa dengan semangat.
Tapi Alexa tidak bisa mengelak. Dia akhirnya ikut bermain Air. Dewa terlihat begitu bersemangat. Terkadang dia tertawa girang di atas bahu Shakti.
Hanya beberapa saat saja mereka bermain, di bawah air. Alexa yang sudah mendekap tubuhnya karena kedinginan dan Dewa yang masih kecil membuat Shakti memilih untuk berhenti bermain di bawah air. Kini, mereka duduk Di bebatuan besar sambil mengeringkan badannya.
"Om, Shakti jangan pulang! Kita bisa bermain lagi." rengek Dewa membuat Shakti tertawa dengan mengelus tangan Dewa yang bergelayut di lehernya.
Sementara, satu tangan kokohnya merangkul tubuh menggigil Alexa yang betah bersandar di dadanya. Tubuh Shakti memang menyalurkan rasa hangat yang membuat nyaman istrinya.
"Sebentar lagi kita pulang! " ucap Shakti menunggu tubuh Alexa berhenti menggigil kedinginan.
__ADS_1
Mas Shakti