
"Hanum tidak Salat Subuh, Zoy?" tanya Hans saat mereka selesai berjamaah.
"Kenapa dengan Hanum, Pa?" tanya Aleks yang belum tahu apapun tentang masalah semalam. Dia hanya curiga karena semalam saat dia pulang, rumah sudah sepi.
"Ada masalah kecil, Leks. Biar Mama nanti yang cerita!" sungguh Hans tidak kuasa menceritakan semuanya.
Mereka mengakhiri salat berjamaah dengan kegiatan seperti biasanya. Hanum memang tidak terlihat membuat Zoya semakin cemas. Tapi, Zoya berfikir putrinya butuh waktu untuk sendiri.
Aleks kembali ke kamarnya. Sedangkan, Zoya dan Hans akan kembali berbincang di teras samping setelah membuat teh hangat dan secangkir kopi.
"Pak Hans, ada tamu mencari Pak Hans namanya Mas Arkha." ucap Asisten rumah tangga menghampiri Zoya dan Hans yang baru saja mendudukkan bobotnya di kursi.
"Arkha?" gumam Hans kemudian melirik jam yang menggantung di dinding teras. Pukul enam pagi, tapi lelaki itu sudah tiba di rumahnya.
"Zoy, panggilkan Hanum. Kita akan selesaikan bersama." titah Hans sebelum dia menemui Arkha yang sudah duduk di ruang tamu.
Hans tidak menyangka jika lelaki itu benar benar datang. Iya, itu artinya urusannya akan semakin jelas.
"Selamat pagi, Om." ucap Arkha dengan berdiri menyapa Hans yang baru sampai di depannya.
"Pagi." jawab Hans kedua lelaki itu kemudian duduk saling berhadapan.
"Saya datang untuk menjelaskan kejadian semalam, Om." Arkha mulai pembicaraan dengan hati- hati.
"Saya bertemu Hanum di jalan. Saat itu dia seperti punya masalah... " kalimatnya menggantung dia ragu untuk mengatakan sebenarnya karena khawatir Hanum yang akan di salahkan papanya.
"Lalu...?" tanya Hans terdengar sinis. Tapi Arkha terlihat masih terdiam dengan beberapa pertimbangan. Dia tidak ingin salah bicara.
"Apa Hanum yang mengajakmu ke hotel?" sarkas Hans karena tidak mungkin Hanum seperti itu.
"Bukan, saya yang sengaja membawa Hanum ke hotel. Saat itu Hanum sangat gelisah dia terus... " Arkha tidak tega menceritakan jika Hanum terus memeluknya. Dia yakin tidak hanya Hanum yang bermasalah jika dia bicara apa adanya, tapi lelaki paruh baya itu juga akan terpukul.
"Kamu mengajaknya untuk melakukan hal buruk!?" sela Hans, dia rasanya tidak tahan mendengar cerita yang buruk dari lelaki di depannya.
__ADS_1
"Kami tidak melakukan hal sejauh itu. Sungguh kami tidak sampai melakukan itu."
"Nikahin Hanum...!"
"Mas... Mas Hans... " Zoya terus memanggil Hans dengan terus berlari ke arahnya.
"Hanum-Hanum tidak mau membuka pintu kamarnya. Di- dia tidak ada jawaban dari dalam..." ucap Zoya dengan tergagap. Dia takut terjadi sesuatu pada putrinya.
Hans langsung berlari menuju kamar Hanum diikuti Arkha. Arkha juga tak kalah panik mendengarnya. Dia tahu kondisi Hanum sangat buruk dan tertekan.
Terlihat Aleks, berusaha menggedor pintu kamar kembarannya. Dia pun tidak sabar dan berusaha mendobrak pintu bercat putih itu.
Setelah pintu terbuka Hans langsung menerobos masuk. Terlihat Hanum tidak sadarkan diri, tubuhnya tergolek lemah dengan wajah pucat pasi.
"Hanum... " lirih Zoya, berlahan tubuh Zoya jatuh merosot. Hingga dengan sigap Aleks menopang tubuh mamanya.
"Urus Mama, Leks. Papa akan bawa Hanum ke klinik!" ucap Hans dengan menggendong tubuh putrinya diikuti Arkha. Hans terlihat khawatir, hal buruk terjadi pada Hanum.
"Pakai mobilku di depan, Om." ucap Arkha langsung diiyakan Hans. Lelaki itu mempercepat langkahnya menuju mobil yang terparkir di depan.
Setelah melakukan beberapa pemeriksaan. Seorang dokter menemui dua lelaki yang sedari tadi menunggu hasil pemeriksaan.
"Pasien kondisinya lemah, dia juga mengalami dehidrasi. Jadi saya menyarankan untuk di rawat hingga kondisinya stabil." ujar dokter sebelum meninggalkan Hans dan Arkha. Kemudian disusul perawat memindahkan Hanum di ruang rawat inap.
"Aku akan menikahi Hanum." ucap Arkha saat mereka masih di depan ruangan Hanum. Hans pun mengangguk, dia hanya mencemaskan putri kesayangannya itu.
Beberapa saat setelah perawat keluar, Hanum mulai mengerjapkan mata. Dia masih berusaha memulihkan kesadarannya dengan meneliti ruangan yang saat ini dia tempati.
"Kamu sudah sadar, Num?" ucap Hans melihat putrinya menatapnya sayu. Hanum pun mengalihkan pandangannya pada sosok di sebelahnya kemudian mengedipkan mata dengan lemah. Tersenyum pun gadis itu terasa sulit. Melihat putrinya sudah siuman, Hans pun keluar ruangan untuk menanyakan kabar Zoya.
"Kamu jangan khawatir, Papamu tidak akan marah denganmu." ucap Arkha dengan tersenyum pada Hanum.
"Sebentar lagi Mama datang bersama Kak Ale dan Kak Aleks." Hans masuk ke dalam ruangan setelah mendapatkan kabar dari Aleks jika Zoya sudah sadar dan memaksa datang untuk menemui Hanum.
__ADS_1
Arkha pun keluar ruangan untuk mencari sarapan. Pikirannya pun semakin semprawut setelah keputusannya untuk menikahi Hanum.
Dia baru menyadari keputusannya yang spontan akan menikahi Hanum akan berpengaruh panjang untuk hidup dan masa depannya.
Bagaimana menjalani pernikahan tanpa perasaan cinta? Tapi sisi lain hatinya tidak tega membiarkan gadis itu menghadapi masalahnya sendiri.
Pikirannya terus berkecamuk hingga dia kembali masuk ke dalam ruangan Hanum.
"Silahkan sarapan dulu, Om." ucap Arkha dengan meletakkan sebuah kotak makanan di depan Hans. Dia pun langsung menghampiri Hanum dan mengatur bednya agar bisa duduk dengan nyaman.
"Sarapan dulu, ya!" ucap Arkha.
"Aku makan sendiri, Kak." ucap Hanum saat Arkha akan menyuapinya.
Arkha pun meletakkan meja kecil di depan Hanum. Dia membiarkan Hanum melakukan apa yang dia inginkan. Tapi, tangan mungil itu bergetar saat mengangkat sendok membuat Arkha mengambil alihnya kembali.
"Biar Kak Arkha yang menyuapimu!" ucap Arkha membuat Hanum melirik papanya yang sedang menikmati sarapan paginya di sofa.
Hans pun yang semula terus melirik tingkah dua anak muda itu pun mengalihkan pandangannya saat Hanum menoleh ke arahnya. Tidak hanya Arkha dan Hanum yang sedang berfikir dengan masalahnya. Tapi, Hans juga terus berfikir apa pernikahan putrinya sudah tepat? Di luar kasus memergoki mereka di hotel, dia melihat sikap Arkha yang terlihat begitu menyayangi putrinya meskipun dia tidak menemukan tatapan lelaki terhadap wanita dewasa.
Hans Pov
Dia putri kecilku. Tidak terasa di sudah menjadi seorang gadis remaja. Sulit aku menerima jika semua sudah berubah. Aku aku masih menyayanginya sebagai putri kecilku. Aku ingin selalu melindunginya, mendekapnya dalam kasih sayangku yang aku pikir sudah cukup.
Dan saat ini aku harus memaksanya menikah. Jika boleh jujur ini semua rasanya sangat sulit. Tapi semua demi kehormatannya, aku sendiri tidak tahu sampai sejauh mana hubungan mereka. Tapi menemukan keduanya di hotel membuatku tidak mau mengambil resiko hal itu akan terulang kembali hingga aku meminta lelaki itu untuk menikahi putri kesayanganku.
Beberapa kali aku melihatnya, dia begitu menyayangi Hanum meskipun itu bukan cinta sebagai wanita dewasa. Bukankah aku dulu seperti itu dengan Zoya? Dan kau juga tidak tahu kapan aku mencintai istriku itu.
Aku juga tidak ingin Hanum kuliah di luar negeri dan menikah dengan lelaki asing. Aku tidak ingin itu terjadi. Untuk alasan ini aku memang sangat egois karena aku tidak ingin jauh dari putriku.
Tapi aku percaya Perempuan baik akan bertemu lelaki yang baik.
Hans menghela nafas panjang setelah menyelesaikan sarapannya. Dia masih saja mempertimbangkan masa depan putrinya.
__ADS_1
"Om, aku pamit dulu hari ini ada pertemuan dengan kolega penting. Siang nanti aku akan ke sini lagi untuk menjenguk Hanum." pamit Arkha yang membuat Hans juga beranjak dari tempat duduknya lelaki itu mengantar Arkha hingga di depan ruangan Hanum.
"Setelah Hanum pulang dari rumah sakit secepatnya kalian harus menikah." ucap Hans yang hanya di jawab anggukan oleh Arkha.