Rindu Alexa

Rindu Alexa
Di Tempat Baru


__ADS_3

Di saat malam sudah larut, Shakti memaksa pulang karena telepon Bi Jum yang mengabarkan Mama Gayatri sedang tidak enak badan sejak siang tadi.


Dini hari, Shakti melajukan mobilnya menuju rumah. Suasana jalan yang cukup lenggang hanya membutuhkan beberapa menit untuk sampai di rumah dengan halaman yang cukup luas itu.


Satu masalah belum selesai, kini di tambah lagi kesehatan Mama Gayatri yang menjadi alasan kecemasan Shakti. Saat ini hidup seolah memojokkan dirinya.


Dengan langkah tergesa, lelaki yang sama sekali belum mengistirahatkan diri itu pun masuk ke rumah dan langsung menuju ke kamar Mama Gayatri.


"Nyonya, baru saja tidur Mas Shakti." ucap Bi Jum saat Shakti masuk ke dalam kamar, Wanita setengah baya itu bermaksud keluar saat melihat kedatangan tuannya.


"Tadi gimana ceritanya?" tanya Shakti menghentikan langkah Bi Jum.


"Tadi siang, Nyonya Gayatri mengelu Badannya merasa lemas. Kemudian saat saya panggilkan dokter keluarga. Kata dokter tekanan darah dan gula darahnya naik." jelas Bi Jum.


"Mungkin, mendengar berita Mas Shakti dan Mbak Alexa." lanjut wanita paruh baya itu dengan hati hati.


"Ohhh... ya sudah, biar aku saja yang nemenin Mama." sahut Shakti yang sudah mengira karena berita tersebut. Jejak digital memang sulit dihapus total. Lelaki itu mulai berfikir jika tidak ada jalan lain kecuali memanipulasi semuanya.


Setelah Bi Jum keluar, Shakti mendekat ke arah wanita nomer satu dalam hidupnya. Ditatapnya wajah pucat dan keriput itu dengan seksama.


"Maafkan Shakti, Ma. Shakti tidak bisa memberi banyak waktu untuk Mama." gumamnya dalam hati. Dia tahu, mamanya hanya butuh waktu dan perhatian dari dirinya tapi keterbatasan waktu membuatnya harus selalu mengabaikan mamanya.


###


"Nama Tante siapa?" tanya bocah kecil berusia tiga tahunan itu mendekati Alexa yang sedang duduk di pinggir tempat tidur yang terbuat dari mayu dengan alas tikar. Bocah itu terus menatap wajah Alexa dengan teliti.

__ADS_1


"Tante Salma." ucap Alexa yang merubah panggilannya dengan Salma. berawal dari kebingungannya. Kini, dia bertekad untuk tinggal di desa yang cukup asing.


Subuh, mereka( Alexa, Laras dan Dewa) baru sampai di sebuah perkampungan kecil yang sangat terpencil di sebuah lereng gunung.


"Eh sudah selesai Salat Subuh, Mbak?" tanya Wanita muda yang cukup cantik itu dengan membawa segelas teh hangat. Perempuan muda dengan kecantikan alami dan tampilan sederhana itu bernama Larasati. Alexa dan Laras bertemu di sebuah truk yang membawa mereka untuk sampai di kampung kecil ini. Tidak ada alat transportasi lain untuk mengangkut apapun itu dari kampung menuju kota atau sebaliknya.


"Sudah, Mbak." jawab Alexa dengan menggandeng bocah yang bernama Dewa mendekat ke arah Laras yang duduk di meja yang ada di tengah ruangan dengan penerangan lampu semprong.


"Silahkan diminum, mumpung masih hangat. setengah enam nanti, saya harus di tempat Bu Seno untuk bersih bersih." ucap Laras. Dia bekerja di rumah Bu Seno, karena kebaikan hati Bu Seno dia juga dibuatkan rumah kecil di sebelah rumah paling besar di kampung itu. Rumah yang saat ini dia tempati dengan putranya Dewa.


"Mbak Laras tinggal sendiri?" tanya Alexa yang sejak sampai di rumah itu tidak melihat siapapun kecuali Laras dan Dewa.


"Kata Ibu, Ayah tugas di kota." sela bocah kecil itu dengan begitu anthusias. Bisa terlihat oleh Alexa rasa rindu bocah itu akan sosok ayah yang dia banggakan.


"Dewa, menyela orang dewasa bicara namanya tidak sopan, Sayang." timpal Laras menasehati putranya.


"Iya Mbak. Aku sedikit tenang." jawab Alexa, Dia memang merasa sedikit tenang di tempat asing yang jauh dari ramainya dunia yang sedang membahas tentang dirinya.


"Saya akan ke rumah Bu Seno, Nanti jam delapan baru pulang membawa sarapan. sementara cuma ada singkong rebus untuk mengganjal perut." ucap Laras berpamitan dan akan menggandeng Dewa untuk pergi bersamanya.


"Ibu, Dewa di rumah sama Tante Salma ya!" sahut Dewa menolak, bocah lelaki itu memang terlihat lebih dewasa dari usianya. Bahkan, perangainya cukup santun.


"Dewa, biar aku yang jaga, Mbak." sahut Alexa.


"Oh ya, terima kasih sudah memberi tempat untukku." ucap Alexa penuh dengan ketulusan. Dia tidak menyangka akan bertemu dengan orang baik yang baru dikenalnya.

__ADS_1


"Terima kasih Salma, titip Dewa. Mbak pergi dulu!" Wanita yang terlihat penuh dengan kelembutan itu pergi meninggalkan Alexa dan Dewa.


"Dewa nggak kangen ayah?" Sebenarnya pertanyaan itu Alexa tujukan untuk dirinya sendiri. Jauh dari keluarga adalah hal terberat bagi Alexa. Dulu, mama zoya dan papa Hans pernah meributkan jika dirinya akan di masuk pondok pesantren. Tapi, Mama Zoya sangat menentangnya.


Flashback


"Bukannya aku tidak ingin punya anak hafalan alqur'an, Mas. Tapi, semua ilmu Allah bisa menjadi ilmu yang bermanfaat untuk agama dan menjadi ladang pahala." ucap Mama Zoya dengan wajah tegang kala itu meributkan pendidikan lanjutan Alexa setelah lulu SD-It.


"Tapi, seorang penghafal al-qur'an punya tempat yang istimewa di mata Allah,Zoy." Hans mulai ngotot dengan keinginannya. Selain bisa menghafal Al-Qur'an, putrinya bisa bergaulan bebas yang cukup membuat khawatir orang tua saat ini.


"Aku tahu, Mas. Tapi, mempunyai Akhlak sesuai apa yang dianjurkan Al-qur'an itu juga mulia. Kak Ale ingin jadi dokter. Dia bisa membantu orang, Mas." Zoya terduduk lemah, dia tidak tahu cara lagi untuk membujuk Hans. Dia juga menyadari dirinya egois hanya karena takut berpisah dengan putrinya yang baru lulus Sekolah Dasar, dia harus mencari banyak argumen. Entah dia merasa Ale terlalu kecil untuk bisa mengurus diri sendiri.


"Ahli fisika saja bisa membuat teleskop untuk menentukan hilal, kapan masuk bulan puasa, itu juga buka ilmu agama, tapi tetap ilmu Allah. Semua tergantung orangnya bagaimana menggunakan ilmunya agar bisa menjadi istimewa di mata Allah." gerutu Zoya lirih, dia sudah enggan menjelaskan apapun pada Hans. Matanya sudah mengembun, dia lelah berdebat. Hal itu membuat Hans terbungkam dan mendekati istrinya dan mengelus bahu kecil itu.


"Mama... " Ale berlari memeluk mamanya. Bocah itu sudah menguping dibalik pintu sejak tadi.


"Mama, Ale akan jadi dokter yang berguna untuk banyak orang! Seperti yang diinginkan Mamanya. Papa juga akan bangga dengan Ale." Bocah itu memeluk mamanya. Sejak kecil Ale memang bercita cita menjadi seorang dokter.


Melihat Itu semua, Hans menyerah, dia memang tidak bisa memaksakan apapun kepada anak dan istrinya.


Flash On


"Tante Salma menangis." kalimat Dewa menyadarkan Alexa dari lamunan tentang mamanya. Entah, bagaimana kondisi Mama Zoya setelah tahu dia pergi, Alexa masih mengkhawatirkan mamanya hingga saat ini.


"Nggak Kok, sayang." ucap Alexa. Padahal dia memang merasa sedih sudah meninggalkan dan mengecewakan keluarganya. Dia belum bisa menjadi apa yang di inginkan mama dan papanya. Dan yang paling menyakitkan untuknya, dia sudah mempermalukan mamanya.

__ADS_1


Bersambung...


Duh yang sudah kangen bang Dika( My Husband My hero) Cowok kaku, sinis dan bucin.... sampai di kirim kopi thanks u... Bang Dika memang bikin baper emak emak 😂😂😂😂


__ADS_2