
Dengan malu malu Alexa kembali ke kursinya. Entah kenapa hatinya berdebar saat memergoki lelaki itu menatapnya. Tapi gadis bermata sipit itu berusaha menepis perasaan liarnya yang mulai bersemi di hati.
"Sayang, nanti pulangnya habis magrib, ya!" pinta Gayatri. Suaranya memecahkan keheningan di meja makan. Tentu saja dia tahu jika ada yang aneh dengan sikap dua anak muda di depannya itu. Lagi pula tidak biasanya Shakti pulang lebih awal.
"Insyallah Tante, tapi Alexa bilang dulu ke Mama. Takut Mama khawatir."
"Baiklah nanti video call saja, biar Tante yang bicara dengan mamanya Alexa." lanjut Gayatri. Mereka kemudian melanjutkan makan sore mereka. Hanya Shakti yang sejak tadi tidak mengeluarkan suara. Tapi, justru lelaki itu begitu memperhatikan dengan teliti gadis di depannya itu. Dia semakin penasaran dengan kehidupan Alexa yang terkesan tertutup dari pergaulan di luar.
Setelah makan bersama, Alexa menemani Gayatri duduk bersantai di halaman belakang. Rumah mewah itu memang di desain menyatu dengan alam. Halaman yang luas dengan banyak tumbuhan dan rumput membuat rumah terkesan jauh dari lingkungan sekitar.
Sedari tadi Alexa memainkan ponselnya. Dia sendiri dibuat bimbang, karena kedekatan yang terlalu berlebihan pada sosok Gayatri. Entahlah, pertemuan di rumah sakit seperti mengikatnya dengan sosok wanita yang saat ini sudah terlihat lebih bersemangat.
"Sayang, katanya mau telpon Mama kamu?" tanya Gayatri membuyarkan lamunan Alexa.
"Iya, Tante." Alexa seperti mati kudu di depan wanita paruh baya itu.
Saat Alexa memencet tombol beberapa nomer di layar ponselnya, Gayatri pun mendekat.
"Assalamulaikum." sapa wanita cantik yang saat ini terlihat di layar ponsel Alexa. Zoya terlihat masih di toko kue.
"Waalaikum salam, Mama." jawab Alexa saat melihat wajah Mamanya.
"Benar Mama kamu?" bisik Gayatri hampir tak terdengar saat melihat wajah Zoya. Dia seolah tak percaya jika Mama Alexa masih terlihat sangat muda. Sementara Alexa menjawab dengan anggukan.
"Selamat sore mamanya Dokter Alexa." Sapa Gayatri untuk pertama kali menyapa Zoya.
"Iya, selamat sore, Bu." jawab Zoya dengan irama suara yang terdengar begitu lembut.
"Begini Nyonya.... Ehm- Mama Alexa."
"Zoya, panggil saja saya Zoya." sela Zoya saat melihat Gayatri bingung untuk menyebut namanya.
"Oh ya Ibu Zoya, saya ingin bilang. Saya meminta Alexa untuk menemani saya sore ini. Saya juga meminta Alexa untuk pulang habis magrib saja. Apa diizinkan?" kalimat Gayatri masih terdengar sangat kaku. Tapi, dia memang ingin sekali Alexa untuk tinggal hingga magrib.
"Oh... kalau itu, saya terserah Kak Ale saja. Yang penting saya tahu keberadaan Kak Ale. Jadi jika suami saya bertanya saya bisa menjawabnya." jawab Zoya masih mengulas senyum dibibir mungilnya. Bagi Zoya Alexa sudah dewasa. Dia juga percaya pada putrinya yang tidak akan mengecewakannya.
Setelah mengakhiri percakapan mereka. Alexa mengajak Gayatri untuk masuk. Senja sudah terlihat memerah di ujung barat.
"Tante, ayo kita masuk. Nanti kita akan Salat magrib bersama."
"Baiklah, Tante juga mau mandi. Alexa mau mandi juga? Jika iya nanti Tante siapkan baju ganti." tawar Gayatri dia ingin sekali Alexa betah di rumah ini agar bisa menemaninya.
__ADS_1
"Terima kasih, Tante. Alexa mandi di rumah saja." elak Alexa. Dia merasa sungkan jika harus mandi di rumah ini.
Gayatri masuk ke kamar. sementara itu Alexa mendudukkan tubuhnya di sofa yang cukup empuk untuk membuat nyaman tubuh lelahnya. Alexa, sebenarnya sangat lelah. Tapi, demi wanita yang mengharapkan kedatangannya membuat Alexa sedikit memaksakan diri.
Sejenak merasakan empuknya sofa membuat Alexa berlahan mengantuk. Gadis itu berlahan memejamkan mata, niatnya hanya sejenak tapi ternyata malah terlelap.
Shakti menuruni tangga, setelah mengeluarkan keringat di ruang gym. Dia bermaksud mencari air putih, tapi matanya tak sengaja mendapati gadis yang tertidur dengan terduduk di sofa yang ada di depan kamar mamanya.
Langkahnya mengayun mendekati Alexa yang sudah terlelap. Shakti bisa melihat wajah Alexa sangat lelah.
"Alexa... " panggil Shakti dengan sedikit menunduk.
"Alexa..." panggilan Shakti sekali lagi dengan lebih menundukkan tubuhnya.
"Al... "
"Astagfirullah... " Alexa terjingkat saat melihat wajah tegas itu hanya berjarak beberapa senti saja dari wajahnya. Seketika mereka terbungkam dengan mata saling tertaut.
"Ehm- Kalau mau istirahat di kamar." ucap Shakti saat mencoba menetralkan suasana, lelaki itu kembali berdiri tegak, kaos yang mencetak tubuhnya masih nampak basah membuatnya terlihat semakin seksi. Beberapa kali Alexa menggumamkan istigfar dalam hati saat pikirannya memuja pesona lelaki di depannya.
"Aku akan persiapan Salat Magrib. Mas Shakti, tidak salat?" tanya Alexa.
"Tidak." jawab Shakti dengan entengnya. Lelaki itu akan berbalik ke arah dapur.
"Peace... "
###
"Baiklah, saya sarankan untuk membuat desain khusus yang produksinya hanya untuk produk ekspor." Shakti memberi masukan pada Arka untuk perencanaan produk sepatu yang khusus untuk di ekspor keluar negeri.
"Baik, akan saya usahakan secepatnya agar bisa mendapatkan di desain terbaik untuk peluncuran produk selanjutnya." sahut Arka masih terlihat serius.
"Untuk hotel. Ringgo bisa membuat innovasi dalam restonya. Entah pelayanan atau menu yang bisa diadaptasi dari beberapa makanan daerah yang ada di Indonesia. Tapi, itu bisa di bicarakan dengan chef yang lebih ahli dan menguasai."
"Bagi saya, yang penting grafik perkembangan di pastikan naik." Shakti mengakhiri meeting khusus yang sifatnya sedikit santai karena tidak ada pemegang saham dan devisi penting lainnya yang hadir. Dia hanya ingin menyampaikan yang saat ini ada dipikirannya saja.
Mereka membereskan beberapa catatan dan laptop mereka. Shakti pun meregangkan tubuhnya yang sudah terasa sangat lelah.
"Bagaimana jika kita ngopi di tempat biasa." Shakti mengajak kedua temannya pergi ke kafe yang biasa menjadi tempat mereka berkumpul.
"Jika Pak Bos berkehendak, lantas hamba bisa apa?" jawab Ringgo yang paling biasa mencairkan suasana tegang diantara mereka. Ketiga lelaki itu pun beranjak meninggalkan ruangan Shakti, tempat mereka melakukan meeting sebelumnya.
__ADS_1
Dengan wajah datar tanpa ekspresi ketiga lelaki dengan tinggi hampir sama itu pun berjalan memasuki lift. Mungkin saat ini tampilan mereka sama seperti karyawan lainnya hanya saja brand baju yang dikenakan big bos itulah yang cukup untuk membedakan.
Shakti dengan cuek melipat kemeja panjangnya hingga ke siku. Tidak ada pembicaraan apapun saat mereka berjalan keluar menuju mobil yang terparkir di bagian khusus orang nomer satu. Hanya tatapan mata para karyawan lainnya yang mengiringi langkah mereka yang berlahan menghilang dari pandangan.
Audio mobil dinyalakan untuk membunuh keheningan di dalam mobil. Shakti menyandarkan tubuhnya di bangku sebelah kemudi, saat ini yang mengemudi adalah Arka. Sedangkan Ringggo hanya duduk di belakang sambil menikmati rasa kantuknya.
"Ehmm... bagaimana jika kalian sudah punya pacar tapi masih ada gadis yang menarik perhatian kalian?" Shakti mencoba membuka obrolan. Itu karena otaknya kini tidak bisa berhenti memikirkan gadis berkerudung yang mengambil sedikit kewarasannya. Tentu karena lelaki yang menatap lurus ke depan itu tidak bisa mengendalikan pikirannya.
"Wajarlah jika cowok nakal. Apalagi yang gantengnya kayak kita hahah
a." sahut Ringgo dengan bersemangat. Dia mulai tertarik dengan tema yang diajukan Shakti karena Ringgo yakin, lelaki itu tidak hanya sekedar bertanya.
"Serius kali, Bro! Jangan sampai ganteng ganteng jadi perjaka kasep." sindir Shakti karena diantara mereka yang statusnya jomblo cuma Ringgo, tapi teman tapi mesranya tak terhitung lagi. Ringgo hanya berdecih saat mendengar sindiran yang tidak enak dari mulut sahabat sekaligus bosnya itu.
"Kalau janur kuning belum melengkung masih milik bersama dan masih bisa memilih." sahut Arka yang membuat Shakti tertarik untuk mendengarnya.
"Wouhhh... tumbenan banget otak lo konslate." sahut Ringgo yang merasa heran dengan pertanyaan Arka yang kali ini pemikirannya tidak biasa.
"Bukannya konslate. Kadang masa-masa seperti ini masa penjajakan. Masa memilih yang terbaik diantara yang baik. Kecuali lo udah pernah apa-apain itu cewek, Baru... mau hamil atau nggak hamil, lo harus tanggung jawab sama perbuatan lo sendiri."
"Banyak kok cinta datang terlambat. Setelah kita punya pacar atau setelah tunangan." lanjut Arka. Dan memang ternyata memang terkadang cinta itu memilih jalan yang rumit.
"Jangan -jangan...!" sergah Ringgo dan Arka bersamaan dengan menoleh ke arah lelaki yang saat ini sedang mencerna apa yang di katakan temannya.
"Haaaisss... belok, Bro! Kita sudah sampai." Shakti mengingatkan Arka jika kafe yang mereka tuju sudah ada di depan mata.
Jaguar berwarna metalic itu membelok di depan kafe yang terlihat cukup ramai. Ketiga lelaki ganteng yang selalu menarik perhatian kaum hawa itu pun keluar dari mobil dan berjalan masuk ke dalam.
Shakti berjalan mengikuti kedua temannya mencari tempat yang paling nyaman untuk menghabiskan waktu.
Deg
Tak sengaja tatapan mereka kini beradu saat Shakti berjalan dan akan melewatinya. Alexa merasa denyut jantungnya berpacu lebih cepat dari biasanya, saat mata tajam Shakti tertuju padanya. "Lexa, kamu mau dimsum atau takoyaki?" tanya Dokter Agam membuat Alexa tergagap.
"Dim- Dimsum saja, Dok." Alexa kembali menatap menu yang sudah dipesan Dokter Agam. Kali ini memang Dokter Agam yang mentraktir mereka ramai-ramai.
Ada sebuah letupan yang seperti mendesak sisi emosi lelaki yang saat ini meletakkan tubuhnya di bangku yang dipunggungi Alexa. Tatapannya tidak beralih dari gadis yang dari belakang terlihat menundukkan kepala.
Spontan Shakti meraba dadanya, entah apa yang terjadi di dalamnya hingga detaknya berdegub tak biasa. Wajahnya pun terasa memanas seperti orang yang sedang tersulut emosi.
Shakti masih melirik tajam keberadaan Alexa. Dia seperti tak mendengar apa yang di bicarakan kedua temannya.
__ADS_1
"Kenapa aku tidak senang saat melihat lelaki itu menatap kagum Alexa? Bahkan, rasanya ingin aku hajar saja saat dia memberi perhatian lebih pada Alexa." gumamnya dalam hati, masih dengan melirik tajam Alexa. Shakti hanya bisa mengetatkan rahangnya yang sudah mengeras sejak tadi. Buruk, nuansa hatinya mendadak begitu buruk.
Bersambung