
"Apa sih hebatnya wanita itu?" tanya Dinda pada pantulan dirinya di cermin. Dia menatap lekat wajahnya. Membandingkan wajah Alexa dengan wajahnya. Bahkan, dia bertanya pada dirinya sendiri, sebenarnya apa yang membuat Shakti memilih wanita itu.
Sebuah derap langkah yang terdengar, membuat Dinda menoleh. Dia melihat Alexa masuk ke dalam dapur. Alexa memang ingin sekali membuat puding sebelum Shakti pulang.
Dinda hanya menatap Alexa dengan tatapan penuh selidik. Dalam batin gadis itu, Alexa hanya wanita biasa. Tampilannya saja sangat sederhana tidak seperti wanita berkelas yang punya gaya glamour dan modis. Yang Dinda tahu, hanya ponsel Alexa saja bermerk buah apel itu pun di belikan Shakti. Cincin cuma satu, jam tangan juga biasa saja, apalagi bajunya modelnya biasa saja. Hanya saja Dinda tidak tahu dua benda itu (jam dan cincin) salah satunya berharga ratusan juta.
"Kenapa, Din?" tanya Alexa yang merasa di perhatikan gadis itu dari ujung kaki sampai ujung kepala.
"Nggak ada. Hanya ingin tahu, apa yang Mas Shakti sukai dari kamu?"
"Mungkin, aku lebih tahu diri dan punya sedikit kesopanan." sindir Alexa, dia merasa pertanyaan gadis itu jauh dari kata sopan.
Dinda hanya tertawa cemeh mendengar jawaban Alexa. Shakti adalah seorang executive muda, dia juga pernah melihat foto lelaki itu bersama wanita yang tampilannya lebih modern, bahkan bisa dibilang sekelas artis.
"Pacar Mas Shakti yang dulu keren." Alexa menghentikan gerakan tangannya. Dia kemudian menoleh ke arah gadis yang berjarak hampir dua meter dari arahnya.
"Dari mana kamu tahu?" tanya Alexa.
"Pernah lihat saja, Gaya rambutnya semua terlihat keren." ucap Dinda. Dia terlihat senang saat melihat wajah Alexa yang sudah memerah. Dinda yakin saat ini Alexa terlihat menyimpan rasa marah. Terlihat juga saat dia menghela nafas mencoba untuk menetralkan kembali perasaannya.
"Kamu umur berapa?" tanya Alexa terlihat begitu geram. Dia merasa Dinda punya sisi yang kurang bagus untuk gadis yang masih sangat muda.
"Sembilan belas, kenapa?"
"Seharusnya kamu masih perlu banyak belajar, agar tidak terlalu mencampuri urusan orang lain." kalimat menohok Alexa membuat Dinda melangkah pergi keluar dengan rasa kesal.
Dengan wajah cemberut Dinda keluar bermaksud akan merawat taman bunganya.
"Ada apa, Din?" tanya Shakti yang baru saja datang.
"Aku diusir Mbak Alexa, aku mau masak buat makan malam. Katanya dia mau buat puding. Nggak nyangka saja, Mas. Dia kalau bicara kasar." lapor Dinda membuat Shakti sedikit terheran. Dia hampir tidak percaya jika Alexa seperti itu.
"Nggak usah masak untuk makan malam."
__ADS_1
"Aku akan keluar dengan Alexa." lanjut Shakti.
Lelaki itu kemudian masuk ke dalam kamar. Sebenarnya ada sebuah kendala dipabrik baru tentang beberapa investor yang membatalkan kerja sama.
Setelah mendinginkan puding nya, Alexa masuk ke dalam kamar. Dia tidak menyangka suaminya sudah datang.
Wanita itu berjalan mendekati Shakti yang sedang mengacak rambutnya dengan handuk. Shakti baru saja selesai. Tanpa bicara apapun, Alexa mengambil punggung tangan suaminya untuk salim.
"Kamu kenapa, Ay?" tanya Shakti saat melihat istrinya terlihat murung.
"Bisa ambilkan kaosku?!" pintar Shakti membuat Alexa langsung beranjak dan menyerahkan kaos pada lelaki yang masih telanjang dada itu.
"Kamu kenapa, Ay?" Shakti menahan tangan istrinya.
"Mantanmu yang mana yang kamu ajak ke sini, Mas? Apa kalian menginap? Apa kalian hanya berdua?" Shakti merasa heran kenapa tiba tiba istrinya bertanya seperti itu.
"Tidak ada yang aku ajak ke sini?" jawab Shakti dia melempar kembali kaosnya ke atas tempat tidur.
"Sudah aku bilang jangan membahas masa lalu!" Shakti memeluk istrinya, dia tahu Alexa sedang cemburu dengan masa lalunya.
"Aku tidak pernah melakukan hubungan Se*s dengan mantanku." bisik Shakti. Mungkin karena itulah Tuhan memberikan wanita yang baik. Sejak dulu, dia memang menjaga satu hal itu, yaitu se*s bebas.
"Maafkan, aku. Kadang aku merasa cemburu karena aku sendiri tidak punya cerita masa lalu." jelas Alexa membuat Shakti berlahan membawa langkahnya dan Alexa mundur beberapa langkah hingga mereka terjatuh ke atas bed.
"Mas Shakti... " pekik Alexa saat tubuhnya terjatuh di bed.
"Hemmm...." Shakti sudah mengkungkung tubuh kecil Alexa.
"Aku sedang Mens... " ucap Alexa menghentikan gerak lelaki itu. Shakti langsung menggulingkan tubuhnya dan menghela nafas.
"Kenapa nggak bilang dari tadi, Ay." ucapnya dengan menatap langit langit kamarnya. Dan kemudian, dia memiringkan tubuhnya menghadap Alexa.
"Kamu tahu, kamu wanita pertama yang merasakan milikku." Shakti mengusap bibir tipis istrinya. Kemudian mengecupnya singkat bersamaan dia bangkit dari rebahan.
__ADS_1
"Nanti kita akan pergi. Ada pasar malam kata orang setempat." ucap Shakti dengan mengenakan kaosnya kembali.
"Mas, kapan kita pulang?" tanya Alexa dia sudah tidak betah jika berhadapan dengan Dinda.
"Oh ya, Papa Hans tadi telepon pas aku berada di pabrik, beliau memintaku cepat pulang. Tapi, aku masih menunggu Arkha sampai ke sini. Dia masih menangani kolega dari luar negeri." Alexa terlihat tidak bersemangat. Dia ingin secepatnya pergi dari tempat ini.
"Sabar ya! Pekerjaannya sedang banyak kendala, Ay." Kalimat terakhir membuat Alexa memaksakan untuk tersenyum. Dia tidak ingin menjadi beban suaminya.
###
Arkha mondar mandir tidak jelas di dalam ruangannya, dia tidak mengerti apa yang sedang dia pikirkan.
Berawal mengirim pesan pada Hanum dan hanya di read saja, hanya dicuekin bocah bar- bar itu saja membuatnya tidak fokus. Padahal dia harus menyelesaikan semua pekerjaannya karena Shakti sudah memintanya untuk meninjau kembali pabrik cabang.
Arkha kembali mengambil ponselnya. Dia mencoba melihat story orang-orang, biasanya Hanum tidak pernah absen untuk membuat story. Tapi yang erlihat Rania sedang berpose di ruang Bem bersama beberapa temannya.
Arkha berniat akan mengomentarinya, tapi gadis itu malah sudah mengirim pesan.
[Sudah makan, Bang? ] Rania
[Belum] Arkha
[Jangan telat makan. Nanti Bang Arkha sakit, lo! ] Rania
[Temani] Arkha
[Ok. Tapi, aku di kampus, Bang] Rania
[Aku jemput sekarang] Arkha.
Setelah bertukar pesan dengan Rania Arkha pun langsung mengambil kunci mobilnya. Arkha memang berniat mendekati gadis itu. Semua kriteria yang Arkha suka memang ada pada diri Rania. Gadis itu cantik, pintar, lembut dan perhatian. Selain itu mereka dari kota yang sama, Rania juga dari keluarga biasa, hingga Arkha merasa lebih pantas karena dia juga dari keluarga biasa. Bahkan, saat ini Arkha memang menjadi tulang punggung Ibu dan kedua adik perempuannya.
Dengan penuh semangat lelaki itu melajukan mobilnya menuju kampus Rania. Iya, hanya perbedaan umur yang jauh yang membuat Arkha harus meyakinkan kembali perasaan Rania padanya.
__ADS_1