
Setiba di rumah alexa langsung mencari Mama Gayatri. Dia ingin tahu perkembangan kesehatan sang mertua. Alexa masuk ke dalam kamar Mama Gayatri dan mendapatinya sudah tertidur. Dia berharap keadaan Mama Gayatri jauh lebih baik.
Dengan rasa lelah, Alexa berjalan menuju ke kamar. Dia kini melihat Shakti hanya duduk tertegun seolah memikirkan sesuatu.
"Mas, kenapa?" tanya Alexa setelah mendekati suaminya. Alexa memilih duduk di dekat suaminya.
"Aku tidak suka kamu dekat dengan Daniel. Dia bukan lelaki baik, dia sangat berbahaya." ujar Shakti dengan menatap cemas Alexa. Kemudian, merengkuh dan membawa tubuh mungil itu untuk berbaring.
"Nggak cemburu, kan?" goda Alexa dengan memeluk tubuh atletis itu dari samping.
"Ngapain cemburu? Toh, aku jauh lebih unggul dari dia." Shakti langsung memiringkan tubuhnya menghadap ke arah istrinya. Dia menatap wajah cantik dengan bibir mungil yang selalu menjadi candu baginya.
"Lagian, kamu sudah jadi milikku. Tidak ada yang bisa mengambilmu dariku." ucap Shakti dia mendaratkan kecupannya di bibir mungil itu.
Alexa tersenyum, menatap mata coklat suaminya. Lelaki tampan yang membuatnya merasa beruntung karena mendapatkan cintanya.
"Asal Mas Shakti tidak pernah mengkhianatiku! Tidak pernah bermain di belakangku, karena aku percaya padamu, Mas." jelas Alexa dengan membuka satu persatu kancing kemeja suaminya. Shakti tersenyum saat melihat istrinya yang menatapnya mendamba dan tangannya bergerak nakal.
"Jangan khawatir, Sayang! Aku tahu apa yang kamu inginkan." Lelaki itu kemudian bergerak sigap dan mengungkung Alexa disertai dengan cumbuan yang membuat Alexa terkikik geli. Meskipun tidak perlu dipancing, sebenarnya lelaki itu begitu sudah mendambakan istrinya. Shakti memang terampil untuk membuat istrinya mendesah.
"Pelan-pelan, Mas." pinta Alexa. Dia teringat calon bayi kecil yang masih dirahasiakan sampai minggu depan.
"Kamu membuatku sulit mengendalikan diri, Ay. Kamu semakin seksi." balas Shakti dengan gerak mengagumi setiap inci tubuh istrinya yang semakin berisi. Iya, Shakti memang lebih suka Alexa yang berisi seperti saat ini.
###
Hanum masih terdiam saat Arkha menghentikan mobilnya di sebuah rumah yang cukup bagus diantara deretan rumah lainnya.
Iya, kini Hanum dan Arkha pulang ke kota lelaki yang ingin memperkenalkan Hanum pada keluarganya. Kedekatan Arkha dengan sang Ibu membuat Arkha tidak bisa menyembunyikan apapun dari ibunya.
"Ayo kita turun!" titah Arkha yang masih heran saat melihat Hanum hanya tertegun.
"Aku takut karena kita menikah tanpa izin keluarga Kak Arkha." ucap Hanum dengan menolehkan sedikit wajahnya ke arah Arkha.
"Makanya kita kesini untuk memberitahu semuanya." Arkha langsung keluar dari pintu mobil dan berjalan memutar untuk membukakan pintu mobil Hanum.
__ADS_1
"Ayo, Hanum!" tatapan Arkha seolah menuntut Hanum untuk segera turun.
"Aku takut, Kak!" rengek Hanum saat Arkha menggengam tangan mungilnya menuju pintu utama.
"Kamu ini, galaknya setengah mati masak gini aja takut?!" cemooh Arkha membuat Hanum merengut. Dia bukannya takut, tapi dia hanya merasa gugup bertemu orang tua suaminya. Dia takut keluarga Arkha tidak bisa menerimanya.
"Ting... tong... ting... tong." Arkha memencet bel, kemudian dia melirik Hanum yang menggigit bibir bawahnya untuk menghilangkan cemas.
"Ceklek... " Seorang wanita sepuh kini membuka pintu rumah.
"Arkha... " Dengan wajah sumringah beliau memeluk putranya, beberapa bulan tidak bertemu Arkha membuat Arini merindukan putra kesayangannya.
"Siapa, Arkh?" tanya Arini sambil menatap Hanum dengan seksama.
"Dia istri Arkha, Buk." jawab Arkha yang kemudian menyurutkan senyum wanita berumur hampir enam puluh tahun. Hanum pun langsung salim pada Arini yang masih terlihat kaget. Arini memang tidak banyak memberikan reaksi.
Arini pun langsung masuk ke dalam. Wanita itu terlihat kecewa dengan keputusan putranya. Hanum yang melihat sikap Arini melingkarkan jari jarinya di lengan Arkha.
"Tidak apa apa." lirih Arkha dengan menggenggam jari jari mungil di lengannya.
"Kak, sepertinya Ibu Kak Arkha tidak menyukaiku." keluh Hanum saat mereka sampai di dalam kamar.
Hanum mendudukkan tubuhnya di tepi tempat tidur, membuat Arkha juga memilih duduk di sebelahnya.
"Ibu hanya terkejut saja, karena baru mengetahui pernikahan kita." ujar Arkha memastikan Hanum jika semua akan baik baik saja. Hanum pun meyandarkan kepalanya pada lengan suaminya. Dia merasa buruk, kesan pertama dari pertemuan antara mertua dan menantu.
"Arkha... minuman hangat dan makanannya sudah siap." panggil Arini setelah menyiapkan semuanya.
"Ayo kita keluar, Num." ajak Arkha.
"Aku mau mandi dulu, Kak. Udah lengket semua ini badan."
"Baiklah, Kak Arkha tunggu di meja makan." Arkha pun meninggalkan Hanum. Lelaki itu akan mencoba bicara pada ibunya selagi Hanum membersihkan diri.
Di kota kecil ini air terasa lebih dingin. Hanum keluar dari kamar mandi dengan wajah segar. Gadis itu hanya mengenakan piyama panjang dan menyisir rambutnya sebelum dia mengenakan jilbab instan.
__ADS_1
Hampir setelah jam Hanum berada di kamar mandi untuk menghilangkan rasa lelah selama perjalanan.
Hanum bergegas berjalan menyusul Arkha, tapi saat berada di dekat pintu yang sudah sedikit terbuka Hanum menghentikan langkahnya.
"Kamu tidak menghargai Ibu. Lagian kenapa kamu menikahinya dengan mendadak? Apa dia menjebakmu? Apa gadis itu tahu, jika kamu mempunyai posisi penting di perusahaan yang cukup ternama?" cecar Arini dengan nada geram. Wanita itu tidak bisa menyembunyikan rasa kecewanya.
"Bukan, Bu. Lagian Hanum itu adik iparnya Shakti." jelas Arkha berusaha menjelaskan posisi Hanum.
"Iya kakaknya menggaet bosmu, adiknya menjebakmu. Sempurna sudah." Arini sudah berburuk sangka karena pernikahan mereka yang tiba tiba dan Hanum yang masih terlalu muda.
Hanum yang tidak sengaja mendengarnya membuat hatinya memanas, dia mengepalkan tangannya menahan emosi. Jika bukan karena beliau mama mertuanya barang kali dia sudah membalas wanita itu dengan umpatan.
"Bukan seperti itu, Bu. Keluarga Hanum keluar terhormat, mereka orang orang yang baik." Arkha berusaha meyakinkan ibunya.
"Kamu saja yang sudah terhasut. Ibu sebenarnya menyukai Rania, dia terlihat lembut, polos dan sederhana. Dia juga pengertian dan perhatian sangat berbeda dengan istrimu yang seperti anak kota, tidak tahu sopan santun dengan orang tua." omel Arini terbawa emosi, dia memang sudah kecewa, sejak dulu dia memang menggadang-gadang Rania yang akan menjadi menantunya.
Di dalam kamar, Hanum merasa matanya memanas, dadanya terasa sesak. Ternyata hubungan Arkha dan Rania memang sudah dekat bahkan Rania sudah bisa mengambil hati ibu mertuanya.
"Bu, jangan bicara seperti itu. Biar bagaimapun Hanum sudah menjadi istri Arkha." Arkha berusaha mengerti ibunya yang sudah sangat kecewa.
"Katakan, kamu mencintai Rania, kan?" Pertanyaan Arini membuat Arkha terbungkam Dia sendiri tidak mengerti dengan perasaannya.
"Tidak ada yang salah dengan ucapan ibu. Dan gadis kecil itu pasti sudah menjebakmu." desak Arini membuat Arkha enggan untuk menjawab lagi. Jika sudah seperti ini ibunya tetap pada kesimpulannya sendiri.
Hanum kembali melangkah dan menjatuhkan diri di atas tempat tidur. Hatinya merasa nyeri, dia tidak mungkin mencari keributan. Dia terus saja menangis, rasa sakit yang tersimpan malah bertahan lama di dalam dadanya. Dia merasa apa yang tidak katakan Ibu mertuanya tidaklah semua salah. Secara tidak langsung dia yang membawa Arkha terjebak dari situasi yang buruk ini.
Arkha kembali masuk ke dalam kamar karena Hanum yang tidak kunjung keluar kamar. Kedua alisnya tertaut saat melihat Hanum terisak. Dengan sangat pelan dia menutup kembali pintu kamarnya dan berjalan mendekati istrinya.
"Num, kamu kenapa?" tanya Arkha dengan menyentuh bahu yang masih bergetar itu. Hanum tidak menjawab. Dia hanya menyingkirkan tangan Arkha yang berbaring di belakangnya.
"Hanum cerita sama Kak Arkha, ada apa sebenarnya?" Arkha masih berusaha membujuk Hanum. Tangan besar Arkha bahkan memaksa untuk membalik tubuh Hanum ada menghadapnya.
"Kamu kenapa, hem?" Arkha mengusap air mata Hanum dan menatap lekat wajah istrinya.
"Kamu kenapa? Lihat Kak Arkha!" Hanum menengadahkan wajahnya menatap Arkha dengan mata lembab.
__ADS_1
"Aku kangen Mama dan Papa." bohongnya membuat Arkha tertawa. Lelaki itu kemudian menenggelamkan istrinya dalam dada bergelombangnya. "Kelakuan kamu saja yang sangar, giliran kangen Mama pakai acara nangis." gumam Arkha kemudian mencium puncak kepala Hanum. Lelaki itu berharap Hanum merasa lebih baik.