Rindu Alexa

Rindu Alexa
Terkilir


__ADS_3

Di dalam sebuah kamar Alexa melihat kalender. Tinggal dua bulan lagi dia bisa mendapatkan gelar dokter seperti yang dia cita-citakan. Itu Artinya dia bisa memperbolehkan Shakti untuk melamarnya.


Selain itu, ada rasa bahagia yang membuncah dalam hatinya setelah dia bertemu Shakti tadi sore. Lelaki yang selalu menyelinapkan rasa bahagia di rongga- rongga hatinya itu ingin segera menikahinya.


"Aku ingin menikah denganmu, Ay, secepatnya." Kalimat Shakti selalu terngiang dalam hati dan pikiran Alexa.


Kenapa dia sangat merindukan Shakti. Senyum tipis diantara wajah tegasnya itu membuat Alexa selalu ingin melihatnya, apalagi tatapan tajam yang seolah melumpuhkan sendi dan syarafnya sungguh Alexa dibuat benar benar jatuh cinta. Cinta pertama dan pengalaman pertama untuknya.


Tangan kecil itu mengulur mengambil ponsel yang tergeletak tidak jauh dari posisinya. Alexa mengusap layar benda pipih itu dan wajah ganteng itu tersenyum padanya. Iya, dia memang menyimpan foto Shakti dalam ponselnya.


"Aku merindukanmu, Mas." Ucap Alexa sambil memeluk ponselnya.


"Tok tok tok... Kak." suara Hanum dari luar kamarnya membuyarkan lamunan Alexa tentang dirinya dan Shakti.


"Masuk, Num." sahut Alexa kemudian bangkit dan duduk di pinggir tempat tidur.


Hanum membuka pintu kamar Alexa. Gadis mungil dengan mata bulat itu berjalan menghampirinya dengan membawa beberapa lembar kertas.


"Ada apa, Num?" tanya Alexa sambil menepuk tempat di sebelah duduknya agar adiknya itu duduk di sampingnya.


"Cuma minta tolong, untuk promosi kedai ice cream baru." ujar Hanum dengan menyerahkan beberapa lembar brosur promosi.


"Bagaimana kuliahmu? Takutnya kamu keenakan nyari duit." ujar Alexa.


"Ya, gantian jaganya, Kak. Mau bagaimana lagi, Mama nggak mau beliin Hanum mobil."


"Mama pilih kasih. Kak Ale yang paling disayang Mama." lanjut Hanum dengan wajah cemberut.


"Sayang, dengarkan Kakak. Tidak ada orang tua yang pilih kasih. Hanya cara mereka menunjukkannyalah yang berbeda." Alexa mencoba memberi pengertian pada adik kesayangannya itu.


"Tapi kenyataannya, kan, Kak? Kakak boleh melakukan banyak hal, bahkan Kak Ale dibelikan mobil Mama dengan cuma cuma. Aku?" Alexa tersenyum, adiknya itu memang sangat pencemburu. Iya, persis seperi papanya.


"Sayang, adiknya kakak yang paling cantik." Alexa menatap dengan senyum. Sungguh dia sangat menyayangi Hanum lebih lebih dari apapun.


"Dengarkan, Kakak! Mama sangat menyayangimu, mungkin karena begitu sangat menyayangimu hingga Mama tidak sadar caranya Mama menyayangimu tidak sesuai dengan keinginanmu. Bahkan, jika harus memilih diantara ketiga anaknya Mama pasti tidak akan bisa." ujar Alexa dengan menggengam tangan adiknya. Hanum terdiam meresapi kata kata kakaknya.


"Mama manusia biasa, Num. Yang adilnya tak sesempurna Allah." Iya, Alexa bisa mengerti perasaan Hanum. Tapi, dia ingin adiknya bisa mengerti setiap orang tua, punya cara yang berbeda untuk menyayangi putra putrinya.


"Kakak, Maafkan Hanum! Hanum hanya bisa berfikir buruk saja pada Mama dan Kak Ale." Hanum memeluk Alexa, dia memang selalu cemburu dengan kakaknya yang selalu mendapatkan pujian dari mamanya. Mendapatkan sesuatu yang sebenarnya Hanum inginkan.


"Tapi, ini bagaimana? Kami sudah telanjur membuat usaha ini." Hanum menunjukkan segepok lembaran brosur kedainya.


"Kak Ale tidak melarangmu, kan? Kakak hanya minta kamu jangan lupa kuliah, belajar, karena orang menuntut Ilmu seperti apa yang diharapkan Mama. Menuntut Ilmu tidak hanya mencari gelar, tapi pahalanya juga utama. Jadi bersungguh sungguhlah, agar mendapatkan ilmu yang bermanfaat untuk dirimu dan orang lain." jelas Alexa.


"Kakak bangga padamu. Kamu bisa menciptakan lapangan kerja untuk yang membutuhkan." Alexa memang mengakui kecerdasan Hanum.


"Benarkah? Kak Ale bangga pada Hanum?" tanya Hanum untuk meyakinkan kalimat Alexa. Senyum yang tertahan sudah terlihat samar dari wajah Hanum seperti anak kecil Hanum suka sekali dipuji.


"Tentu saja, Sayang. Selain bangga, kakak juga sayang sama Hanum." Alexa mengelus lembut pipi adiknya. Bagi gadis bermata sipit itu, Hanum adalah anak yang cerdas hanya saja sifat manja dan childishnya menutup semuanya.

__ADS_1


Dengan wajah berbinar Hanum keluar dari kamar Alexa. Sementara Alexa menatap adik kesayangannya itu dengan bangga. Mungkin apa yang dilakukan Hanum bisa menjadi jalan rejeki orang lain.


###


Alexa begitu bersemangat, sore ini dia akan bertemu Helen. Sahabat kecilnya yang sudah berkecimpung di dunia entertainment yang namanya pun sudah melambung hingga ke penjuru dunia.


Dengan rasa bahagia, Alexa melajukan mobilnya dari rumah sakit dengan begitu tenang. Tapi hatinya tidak sabar untuk bertemu Hellen. Dia juga belum mengucapkan terima kasih secara langsung karena pernah memberi tahu keberadaan Hanum saat di club malam.


Di sebuah kafe tiga lelaki itu sedang duduk bersama untuk membicarakan banyak hal dengan menikmati secangkir kopi.


Pertemuan Shakti dengan kedua sahabatnya untuk membahas perkembangan hotel dan pabrik. Dua orang yang cukup diandalkan Shakti untuk menjadi wakilnya menangani secara langsung perkembangan ke dua usahanya itu.


"Untuk hotel dan resort, mulai dipersiapakan untuk liburan dan sewa Ballroom, Bulan ini banyak liburan dan pesta yang digelar. Jadi urusan kafe dan restonya mulai di bicarakan lagi, agar bisa memberi kenyamanan pada pengunjung." jelas Shakti pada Ringgo.


"Baik, Pak." jawab Ringgo yang sebenarnya itu bukan perintah pertama. Setiap menghadapi musim libur, Shakti memang mengingatkan dan memberi saran saran tertentu.


"Oh ya, untuk produksi. Jika eksport kita mendapat perkembangan secara pesat, kita bisa membuka cabang pabrik di kota kecil. Selain UMR yang rendah. Lahan di kota kecil lebih murah."


"Untuk akhir tahun nanti ada bonus sepesial seperti biasanya." Shakti memang selalu memberikan bonus sepesial pada dua sahabatnya.


"Kali ini kita dapat apa, Bos." sela Ringgo tidak sabar.


"Setelah mendapatkan laporan keuangan, baru aku akan memutuskannya." jawab Shakti saat mengakhiri pembicaraan serius mereka.


Mereka menyandarkan punggung di kursi hampir bersamaan seolah melepas semua ketegangan barusan.


"Aku ingin putus dengannya. Tapi mungkin butuh waktu sendiri dan bertemu langsung dengan Clarisa agar bisa menjelaskan semuanya dengan pelan.


"Apa?" Ringgo cukup tercengang dengan pernyataan Shakti. Bagi lelaki itu hanya Clarisa yang paling cocok untuk mendampingi executive muda seperti Shakti.


"Kamu yakin?" tanya Arka sedikit lebih kalem tapi penuh dengan selidik.


"Aku menyayangi Alexa. Aku juga merasa nyaman dengan gadis itu. Dan dia lebih perhatian pada Mama." jawab Shakti yang seperti sudah mempertimbangkan semuanya.


"Tapi, hubungan kalian sudah dua tahun. Dan itu waktu yang tidaklah singkat untuk saling mengenal." lanjut Arka kembai meyakinkan Shakti, dia tidak ingin Shakti terbuai dengan cinta sesaat.


"Jangan membuatku kembali bimbang, Ar!" ujar Shakti dengan memperhatikan sekelompok anak muda yang sedang berkumpul di salah satu meja.


"Kadang iya juga, si. Seberapa lama kita pacaran dengan seseorang tidak menjamin kita mengenalnya." sela ringgo membuat kedua temannya menoleh ke arahnya dengan menatap heran. Tidak biasanya, lelaki itu begitu serius.


"Lihatlah gadis berambut panjang yang duduk di pojok itu begitu cantik!" lanjutnya membuat Shakti dan Arka kemudian berdecih dan ikut menoleh ke arah mata ringgo. Dasar playboy tengik. Mungkin kalimat itu yang terlontar dari kedua sahabatnya jika berniat untuk berkomentar.


"Arghhh.... "


"Braaangghh.... " suara pekikan dan sendok yang terjatuh diantara riuh suara anak muda yang keluar secara bersamaan itu membuat ketiga lelaki dan Helen menoleh.


"Ay, ... "


"Ale..."

__ADS_1


Shakti dan Helen langsung bergegas menghampiri Alexa yang sudah bertumpu di salah satu meja, disusul Arka dan Ringgo yang mengekori Shakti dari belakang.


"Ay, kamu kenapa?" Shakti membantu Alexa meraih kursi untuk duduk.


"Ale, kok bisa." Helen pun berhenti dan menatap Shakti yang sudah membantu Alexa untuk duduk. Lelaki itu kemudian berjongkok di bawah alexa.


Sementara, Ringgo dan Arka menatap heran kedekatan Shakti dengan gadis cantik berkerudung itu. Apalagi cara Shakti memperlakukan Alexa yang sedang meringis kesakitan, tidak biasanya Shakti melakukannya.


"Kakiku keseleo, Mas." jawab Alexa, tubuhnya terdorong salah satu gerombolan pengunjung kafe yang akan keluar membuat kakinya terkilir karena hells sepatunya tidak bisa mempertahankan keseimbangan tubuhnya.


Shakti melihat sekitar mata kaki Alexa yang sudah memerah, membuat lelaki itu membuka semua sepatu Alex.


"Kakimu terkilir, Ay." gumam Shakti dengan wajah cemas saat melihat ruam merah di sekitar mata kaki.


"Tolong kasih minyak kayu putih." ucap Helen dengan mengulurkan minyak kayu putih yang diberikan salah satu pegawai kafe yang kini berdiri diantara mereka.


"Kamu di meja sini saja!" titah Shakti membuat Alexa menatap Helen.


"Iya, aku akan pindah di sini." Helen pun ikut mengiyakan apa yang diucapkan Shkagi. Lelaki itu masih mengoles dan memijat pelan sekitar bagian yang terlihat memar.


"Apa kita ke rumah sakit?" tanya Shakti yang masih berjongkok dan mengalihkan pandangannya untuk menatap mata yang sipit Alexa.


"Tidak usah, Mas. Nanti biar sampai rumah diurut sama tukang urutnya Oma." jawab Alexa sambil tersenyum, meyakinkan Shakti jika dia baik baik saja.


"Nanti aku yang akan mengantarmu pulang, Oke?" ucap Shakti sambil mengusap kepala Alexa sebelum kembali ke mejanya yang semula.


Kali ini Shakti masih di kafe hanya untuk menunggu Alexa, dia membiarkan Alexa menyelesaikan tujuannya datang ke kafe.


"Apa dia, Shak?" tanya Arka yang curiga dengan sikap sahabatnya. Tidak biasanya Shakti sepeduli itu pada seseorang. Bahkan, Arka bisa melihat tatapan cemas Shakti terarah pada meja kedua gadis itu.


"Iya, dia calon dokter di rumah sakit, di mana Mama menanam saham di sana." jelas Shakti.


"Pantesan...aku sih tanpa mikir panjang, langsung aku bungkus ke KUA." sahut Ringgo sambil menyesap minumannya.


"Apaaan dibungkus? Emang nasi warteg." sahut Arka.


"Tanpa mikir lama, aku nikahin deh. Cantik banget, kelihatan lembut, pokoknya tipe aku banget." kalimat Ringgo membuat Shakti malayangkan tatapan tajam ke arah temannya. Dia tidak suka Ringgo memuji Alexa seperti itu.


"Nggak- nggak berani aku." lanjut Ringgo saat melihat wajah dingin Shakti.


"Maksudnya, jangan berfikir lama. Apapun halal dalam cinta dan perang." lanjut Ringgo langsung mendapat pukulan di bahunya dari Arka.


"Kalau bikin semboyan yang bener." protes Arka.


Saat kedua temannya saling beradu argumen. Shakti dan Alexa saling melempar tatapan. Keduanya saling menyimpan rindu.


Berlahan hubungan mereka mulai terbuka. Meski, keduanya masih berniat menutupinya. Shakti sendiri menutupinya karena belum putus dengan Clarisa dan Alexa sendiri karena belum mendapatkan gelar dokter. Tapi, perasaan keduanya tidak bisa ditutupi lagi.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2