
"Berapa lama kita akan tinggal di sini, Mas?" tanya Alexa saat mereka sudah masuk ke dalam kamar. Dia melangkah mendekati tempat tidur.
Alexa segera merebahkan tubuhnya di sebuah kasur berukuran king size. Perjalanan seperti yang baru saja mereka lakukan membuat seluruh badannya terasa remuk.
"Sampai pekerjaanku selesai, Ay!" jawab Shakti.
Lelaki itu berjalan mendekati istrinya, saat tangannya akan membuka ritsleting jaket yang di kenakan Alexa, secepat kilat Alexa menahan tangan suaminya.
"Di buka, dulu! Biar nyaman rebahannya."
"Kamu kira mau apa? Aku tau kamu lelah." ucap Shakti dengan seringai licik di sudut bibirnya.
Dengan lemah Alexa membiarkan suaminya membuka resleting jaketnya dan membantunya bangun untuk melepas jaket dan syal yang melingkar di lehernya. Dan kemudian ikut merebahkan tubuhnya di samping Alexa.
"Aku sudah rindu Mama dan Papa." Alexa merubah posisinya menghadap ke arah lelaki yang berbaring di dekatnya. Dia menatap wajah tampan yang hanya berjarak beberapa senti dari wajahnya.
"Kita tunggu batrai ponselnya penuh, kita akan melakukan panggilan." jari jari besar itu bermain di wajah cantik istrinya, lelaki itu memang menyukai setiap detail wajah ayu yang ada di depannya itu.
"Tok... tok.. tok.. "
"Sebentar...!" jawab Shakti kemudian bangkit untuk membuka pintu kamarnya.
"Ini teh hangatnya!" Dinda muncul dari balik pintu dengan membawa dua cangkir teh hangat di atas nampan.
"Taruh di meja saja, Din?" ucap Shakti membuat gadis itu masuk. Dinda juga sempat melirik Alexa yang sudah duduk di pinggir tempat tidur.
Lirikan yang begitu ketara, hingga membuat Alexa merasa tidak enak saat memergoki gadis itu meliriknya tajam.
"Oh ya, Din. Tolong siapkan kami makan ya!" pinta Shakti membuat Dinda sedikit terkaget. Gadis itu sebenarnya sedang memperhatikan Alexa.
"Hanya itu, Mas?" tanya Dinda, dia berfikir mungkinkan mereka akan tidur satu kamar?
"Iya itu saja, dulu." jawaban Shakti membuat Dinda keluar dari kamar tersebut dengan penuh pertanyaan. Iya, dia memang sudah menyukai lelaki tampan dengan perawakan yang gagah, membuat Shakti adalah sosok perfect di mata gadis belia sepertinya.
__ADS_1
Setelah menutup kembali pintu kamarnya, Shakti mendekati Alexa yang kini duduk tertegun.
"Mas Shakti sepertinya dekat gadis itu?" selidik Alexa membuat Shakti mengernyitkan kedua alisnya.
"Iya, kalian sepertinya dekat." tambah Alexa, entah kenapa tiba tiba hatinya terasa mengganjal saat mendapati lirikan tajam gadis yang lebih muda darinya.
"Dia itu masih kecil, Ay. Dia yang menggantikan bapaknya mengurus villa ini." sambung Shakti. Alexa tidak menjawab, wanita itu kemudian beranjak menuju balkon kamar villanya.
"Ay, jangan posesif. Lihatlah, dia masih remaja dan masih begitu polos!" bujuk Shakti dengan mengejar istrinya yang kini tengah berdiri menatap view dari atas balkon.
Alexa masih terdiam, mungkin benar juga apa yang di katakan suaminya. Dia terlalu posesif. Alexa pun menoleh, kala merasakan sebuah lengan besar kini bertaut memeluk dan melingkari kedua bahunya.
"Aku mencintaimu, Ay." ucapnya dengan membalikkan tubuh Alexa untuk menghadap ke arahnya. Tatapan tajam Shakti membuat Alexa dibuat salah tingkah, wanita itu pun tertunduk malu.
Iya lelaki itu pun mengecup bibir tipis yang selalu menjadi candu untuknya, ********** hingga membuat wanita itu terengah dan Shakti melepaskannya.
Alexa menelusupkan wajahnya di dada bidang Shakti, membuat lelaki itu terkekeh dengan membalas pelukan wanita yang tenggelam dalam pelukannya. Shakti tahu jika istrinya sedang menyimpan rona malu di wajahnya.
"Sebaiknya kamu istirahat, Ay. Setengah jam lagi kita telpon Mama Zoya." Shakti langsung mengangkat tubuh mungil istrinya hingga membuat Alexa memekik kaget. Lelaki itu membawa masuk Alexa dan meletakkannya di atas tempat tidur.
Dinda memang cantik, bahkan penduduk setempat mengakui kecantikannya. Sering menjadi rebutan pemuda di tempatnya, membuat gadis itu ingin mendapatkan lelaki yang jauh lebih baik dari orang orang di kampungnya.
###
Setelah mereka beristirahat dan membersihkan diri, mereka akan menelpon Mama Zoya dan Mama Gayatri. Shakti menggandeng Alexa menuju ruang keluarga.
Dengan memeluk istrinya yang kini duduk di dekatnya, Shakti mengarahkan ponselnya ke arah Alexa setelah memencet nama Mama Zoya.
"Assalamu'alaikum... " ucap Zoya terlihat sedang berada di dalam kamar.
"Walaalaikum salam, Ma." jawab Alexa yang wajahnya kini ada di depan layar ponsel.
"Kak Ale..." panggil Zoya seolah tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Beberapa kali, dia mengerjapkan mata, seolah meyakinkan pandangannya jika saat ini dia melihat putri yang sudah dia rindukan.
__ADS_1
"Apa kabarmu, Kak? Mama dan Papa sudah kangen." ucap Zoya dengan mata berkaca kaca. Dia ingin menangis bahagia saat melihat putrinya dalam keadaan sehat dan baik baik saja.
"Ale kabarnya baik, Ma. Mama kelihatan kurus dan pucat." Alexa melihat mamanya terlihat sangat lesu.
"Papa mana, Ma?" lanjut Alexa.
"Papa masih di kantor. Oh ya ponselmu kenapa tidak bisa dihubungi, Kak?"
"Ponsel Ale hilang, Ma. Ceritanya panjang." jawab Alexa, dia masih memperhatikan wanita yang terlihat lebih kurus dari biasanya. Dia tidak kalah kangen pada mamanya.
"Kapan pulang, Kak. Kita semua sudah merindukan Kak Ale, apa lagi Papa." Zoya memberi signal jika Hans sudah sangat menunggu kedatangannya.
"Nunggu pekerjaan Shakti di sini selesai, Ma." Shakti mengarahkan layar ponselnya.
"Mungkin masih dua mingguan atau satu mingguan." lanjutnya.
Sudah hampir satu jam mereka saling bertukar kabar, hingga mereka memutuskan mengakhiri panggilan karena mendengar suara perut Alexa yang sudah protes.
"Mas, Mama kelihatan kurus banget." ucap Alexa saat suaminya meletakkan kembali ponselnya di atas meja.
"Sejak kamu pergi, Mama Zoya sering sakit. Mama mengkhawatirkan keadaanmu." jelas Shakti membuat rasa bersalah Alexa semakin besar pada mamanya. Wanita itu benar benar menyayanginya seperti putri kandungnya.
"Aku baru pergi mama seperti, bagaimana jika aku dipanggil Allah." lirih Alexa langsung membuat Shakti mengatupkan bibir tipis istrinya dengan jari telunjuk.
"Jangan katakan itu, Ay." ucap Shakti dengan menggelengkan kepalanya. Mendengar kalimat Alexa saja membuat lelaki itu takut.
"Kita akan menua bersama." Dia kembali memeluk Alexa dengan erat. Bahkan, dia tidak menyadari jika Dinda sudah berdiri di dekat mereka.
"Ehem... makanannya sudah siap, Mas." kalimat gadis itu membuat Shakti mengurai pelukannya pada istrinya.
"Iya kami akan ke sana! Oh ya, besok jika ada paket datang itu barang istri ku, Din." ucap Shakti, dia memang membelikan ponsel dan beberapa baju untuk Alexa via online.
Istri?
__ADS_1
Dinda terhenyak kaget, dia seperti tidak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan Shakti.