
"Kak Ale, apa kabar?" tanya Zoya dari seberang. Wanita itu sengaja menelpon Alexa karena memang sudah merindukan putrinya.
"Baik, Ma. Weekend, insyallah Ale akan berkunjung. Mama dan Papa apa kabar?" tanya Alexa saat saat mereka masih melakukan panggilan.
"Mama dan Papa baik- baik saja. Beneran ya, Mama tunggu kedatangan Kak Ale." jawab Zoya. Melepas sulungnya bersama suaminya ternyata selalu membuatnya selalu merindukan Alexa.
Mereka saling melepas rindu lewat ponsel hingga akhirnya Shakti keluar dari kamar mandi. Alexa melirik suaminya yang hanya melilitkan handuk sebatas pinggang, dia belum sempat menyiapkan baju ganti hingga menunggu Zoya menutup panggilannya.
"Siapa, Ay?" tanya Shakti saat Alexa meletakkan ponselnya sembarang di atas tempat tidur.
"Mama Zoya, Mas." jawab Alexa yang berjalan untuk mengambilkan baju suaminya itu pun berhenti.
Alexa bergegas kembali menghampiri ponselnya. Nomer tidak di kenal membuat Alexa sedikit ragu untuk mengangkatnya.
"Halo, Assalamu'alaikum... " ucap Alexa mengusap layar ponselnya.
".... "
"Ya Allah Dimas, apa kabar, Dim?" tanya Alexa sambil tersenyum.
Dimas, teman Alexa semasa masih duduk di bangku TK yang dulu selalu menggangunya itu tiba tiba menghubungi dirinya.
"Ehem... ehem... " Shakti berdehem saat melihat istrinya menyebut nama lelaki lain dengan wajah sumringah.
Alexa pun menoleh ke arah suaminya. Dia bisa mengerti jika Shakti terlihat tidak suka saat dia menerima telpon dari teman lamanya. Dengan cara halus, Alexa akhirnya mengakhiri panggilan Dimas, yang berakhir dengan ucapan selamat Dimas atas pernikahan Alexa dan berharap bisa bertemu lagi dengannya.
"Maaf, tadi teman lama, Mas." ucap Alexa kemudian mengambil baju tidur untuk suaminya dan menyerahkannya.
"Mantan?" tanya Shakti saat mendekati istrinya. Lelaki itu menahan tubuh istrinya dengan tatapan mengintimidasi saat mengambil kaos yang ada di tangan istrinya.
"Bukan, Mas. Cuma teman saat TK. Tapi, dulu dia yang paling sering gangguin aku, seperti musuh gitu." jelas Alexa tentang hubungannya dengan Dimas.
"Jangan- jangan dia gangguin, karena suka sama kamu?" sambil mengenakan bajunya Shakti masih saja mengintimidasi istrinya.
"Ya Allah, Mas. Kita masih kecil lo, mana ada cinta-cintaan. Lagian setelah SD kita mulai berbeda sekolah dan tidak lagi berkomunikasi." Alexa memeluk lelaki yang kini berdiri di depannya. Dia hanya merasa tidak perlu meributkan prasangka suaminya.
"Jangan bertemu dengannya tanpa sepengetahuanku!" ucap Shakti dengan begitu posesive saat membalas pelukan istrinya. Alexa hanya mengangguk.
"Boleh kah, aku kembali bekerja di rumah sakit?" tanya Alexa, tangannya mulai mengelus rahang suaminya yang berbulu tipis. Dia terus saja mencoba untuk membujuk Shakti dengan cara yang menjadi kelemahan suaminya.
"Apa yang kamu cari, Ay? Apa aku tidak bisa mencukupi semua kebutuhan dan keinginannya?" tanya Shakti saat membalas tatapan istrinya yang penuh dengan permohonan.
"Bukan itu, Mas. Aku hanya ingin mengaktualisasikan diri saja." ucap Alexa, wanita yang tahu bagaimana cara membujuk suaminya itu pun berjinjit mencium bibir suaminya dan dibalas oleh Shakti dengan *******.
"Baiklah, asal kamu bisa membagi waktu dengan rumah." Kali ini Shakti terbuai dengan sentuhan istrinya. Dia pun tak bisa mengelak pesona Alexa yang terus saja melancarkan sentuhan lembut di tubuhnya. Bahkan, kini Shakti mulai mendominasi pergulatan penuh gairah untuk melewati malam ini.
__ADS_1
###
Shakti menghampiri Alexa di sebuah butik yang sudah dipercaya keluarga Shakti, setiap kali mereka akan menghadiri sebuah pesta.
Lelaki yang sudah rapi dengan kemeja batik lengan panjang itu pun menatap kagum istrinya yang terlihat sangat cantik dengan balutan dress warna lilac dan make up tipis yang mempertajam kecantikannya.
"Mas, bagaimana?" tanya Alexa saat melihat suaminya yang hanya mematung menatapnya tak berkedip.
"Cocok." jawaban simple Shakti membuat Alexa sedikit kecewa.
"Kamu cantik banget, Ay." lanjutnya kemudian membuat Alexa tersipu.
"Kalian terlihat sangat serasi. Satunya ganteng satunya cantik." sahut Tantri owner butik.
"Terima kasih, Tan. Bolehkah aku membawa bidadariku sekarang?" tanya Shakti dengan senyum simpul yang di sematkan di sudut bibirnya.
Mereka pun akhirnya meluncur ke sebuah Hotel yang menjadi miliknya. Hotel yang diurus oleh Ringgo, dan memang sering di gunakan WO untuk sebuah acara.
Shakti menghentikan mobilnya di sebuah baseman khusus. Bukan Baseman untuk tamu undangan atau tamu hotel.
Dengan membukakan pintu mobil untuk istrinya, Shakti terus mengapit tubuh mungil yang berjalan bersamanya.
"Mas, undangannya banyak banget ya? Tapi, hotelnya juga bagus, seperti sengaja di desain untuk acara juga." jawab Alexa saat mereka mulai berjalan ke arah Ballroom.
"Ini hotel Mas Shakti? " tanya Alexa.
"Kamu baru tahu, Ay. Makanya buat apa kamu kerja jika aku bisa mencukupi semua kebutuhanmu?"
"Tapi, Mas Shakti sudah berjanji untuk mengizinkanku bekerja." Alexa kembali meyakinkan Shakti dengan keputusan yang kemarin sudah dia ambil.
"Iya-ya... " jawab Shakti.
Mereka memasuki Ballroom hotel dan di sambut banyak mata yang menyadari kehadiran keduanya.
Alexa mengeratkan pelukannya pada lengan kekar suaminya saat merasa banyak mata menatap penuh selidik ke arahnya. Dia semakin mengeratkan pelukannya di lengan Shakti, membuat lelaki yang mengerti jika Alexa sedang gugup.
"Santai saja, Ay." lirih Shakti dengan mengelus lembut genggaman tangan istrinya di lengannya. Dia membawa Alexa untuk memberikan selamat pada pemilik pesta terlebih dahulu, sebelum mereka menyapa teman dan kolega Shakti yang juga hadir.
"Apa kabar, Shak?" seorang lelaki menepuk punggung lelaki yang mencari dua sahabatnya Ringgo dan Arkha.
"Aryo! Apa kabar?" Setengah terkaget Shakti menyapa balik teman lamanya.
"Tambah ganteng kamu, Shak?" puji Aryo dengan menatap Shakti dengan teliti.
"Bukannya dari dulu aku sudah ganteng, Yo. Oh ya, kenalkan ini istriku." ucap Shakti.
__ADS_1
"Aryo" ucap lelaki itu sambil mengulurkan tangannya untuk bersalaman.
"Alexa." sedangkan Alexa hanya menjawab dengan seulas senyum dan lipatan tangan di depan dadanya. Aryo pun sedikit salah tingkah.
"Istrimu sangat berbeda, Shak. Semua mantan pacarmu seksi, apalagi Clarisa bodynya sungguh aduhai bikin otak lelaki traveling." ucap Aryo dengan sedikit berbisik tapi masih terdengar oleh Alexa.
"Aku ke toilet dulu, Mas." ucap Alexa kemudian bergegas meninggalkan dua orang lelaki yang membuat wajah Alexa panas.
"Tadi aku lihat juga Clarisa datang sendiri. Duh, makin montok saja." timpal Aryo, tanpa melihat Shakti yang sudah mulai gelisah saat Alexa meninggalkannya.
"Selamat malam semuanya." Sapa Clarisa yang kini menghampiri dua lelaki yang pernah menjadi teman kuliahnya.
"Malam, Cla. Kamu makin seksi saja." sapa Aryo dengan menatap genit Clarisa.
"Terima kasih, Yo." jawab wanita yang berbalut gaun seksi dengan belahan dada renda. Bahkan, belahan gaun di pahanya yang cukup memamerkan paha putihnya membuatnya terlihat semakin seksi dan menawan.
"Bisakah kita bicara empat mata, Shak?" pinta Clarisa yang hanya jawab anggukan Shakti. Sejak tadi Shakti memang lebih banyak diam.
"Please, Yo. Beri kamu waktu berdua." pinta Clarisa.
"Oke oke... tapi jangan CLBK lo!"
"Dia sudah menikah, Cla." Aryo kembali mengingatkan Clarisa sebelum meninggalkan keduanya.
Di dalam toilet wanita, Alexa masih berusaha mendengarkan para wanita sedang bergosip saat membenarkan dandanan mereka.
"Cantik si, istrinya Shakti. Tapi, terlalu sederhana, bahkan dia seperti bukan istri CEO." ucap salah satu perempuan di sana.
"Iya aku rasa masih cocok dengan Clarisa. Clarisa lebih pintar bergaul dan lebih modis."
"Tapi, istrinya Shakti lebih santun menurutku, lo!" salah satu dari mereka menimpali.
"Tapi cowok kayak Shakti butuhnya, yang modis, cantik, gaul dan keren. Kalau kayak dokter muda itu cocoknya jadi istrinya ustad. Hahahhaa."
"Lelaki seperti Shakti memang butuh wanita yang bisa menyenangkan matanya, memberi kepuasaan untuk mengalihkan kejenuhannya mengurus semua kerjaanya."
Alexa menghela nafas panjang sebelum memutuskan keluar dari toilet. Semua wanita yang menggosipkannya pun seketika terdiam dan hanya menatap Alexa yang kini memilih mencuci tangannya.
Tidak ada seorang pun yang berani bersuara, mereka hanya menatap Alexa hingga wanita berkerudung itu keluar dari toilet.
Dengan dadanya yang sesak, Alexa mencoba mencari keberadaan suaminya. Dia berjalan ke arah di mana dia meninggalkan Shakti u tuk pergi ke toilet. Tapi, dia tidak juga menemukannya.
Alexa masih berusaha mencari Shakti, hingga wanita itu berjalan keluar Ballroom. Dia melihat Shakti dan Clarisa berdiri saling menatap. Dia tidak tahu entah apa yang sedang dibicarakan keduanya. Tapi, dadanya terasa sesak. Apalagi dia bisa melihat berapa dekatnya jarak diantara mereka.
Berlahan Alexa pun kembali masuk ke dalam dengan menyeka air matanya yang sempat menetes. Rasanya begitu nyeri di hatinya, jika bukan di tempat umum, dia pasti akan membiarkan dirinya menangis.
__ADS_1