
Pagi- pagi sekali Alexa sudah menyiapkan sarapan untuk Mama Gayatri. Terlihat Shakti yang sudah menuruni tangga dengan hanya mengenakan celana pendek dan kaos rumahan.
"Itu sarapan untuk Mama?" tanya Shakti saat melihat persiapan Alexa. Lelaki itu mencium singkat pipi istrinya yang terlihat repot di dapur.
"Iya, Mama Gayatri sedang nggak enak badan. Rencananya aku juga mau jenguk Mama Zoya yang sempat drop juga." ucap Alexa sambil menyerahkan kopi hitam yang baru saja dia buat untuk suaminya.
"Nanti aku yang antar ke tempat Mama Zoya." ucap Shakti.
"Oh iya, soal si Arkha. Kalau menurutku si Arkha itu termasuk baik selama aku mengenalnya, setidaknya dia tanggung jawab dan ngemong. Tapi kalau urusan nikah mending di tanyain langsung sama yang bersangkutan. Soalnya itu juga masalah seumur hidup." ujar Shakti dengan menyesap kopinya.
"Masalahnya, Papa itu orangnya susah dibujuk, Mas. Apalagi jika sudah mengambil keputusan." ucap Alexa.
"Emang dasar Papa mertua itu emang super. Super Daddy, Superhero, Superman, super ... "
"Hus... biar bagaimana pun itu papaku, Mas. Beliau pasti menginginkan yang terbaik untuk putrinya." sela Alexa tidak terima papanya jadi bahan candaan.
"Maaf, aku kan becanda, Ay. Lagian Papa Hans itu susah orangnya, punya menantu kayak aku saja masih berat menerimanya." keluh Shakti membuat Alexa tersenyum, lelaki itu kemudian mengambil nampan yang berisi sarapan untuk Mama Gayatri.
"Kamu sudah balik, Shak?" tanya Gayatri saat melihat anak dan menantunya masuk ke dalam kamar.
"Semalam, Ma. Sudah kangen istri cantikku." jawab Shakti dengan melirik Alexa yang akan memeriksa Mama Gayatri.
"Lexa periksa Mama dulu, ya! " Alexa kemudian memeriksa Mama Gayatri. Wanita itu terlihat hanya menurut saja dengan menantunya.
"Untung sudah membaik, jika tidak Lexa minta Mama rawat inap di rumah sakit aja." ucap Alexa setelah memeriksa Mama Gayatri.
"Mama sudah nggak mau dirawat di rumah sakit." jawab Gayatri membuat Shakti tersenyum.
"Makanya Mama jaga pola makannya, ya. Jangan makan yang kolesterol tinggi terus dan harus banyak makan serat tinggi." jelas Alexa sambil terus menunggui Mama mertuanya yang sedang sarapan.
###
Mobil Jaguar metalik milik Shakti melaju membelah ramainya jalanan disaat pagi hari. Dengan kecepatan sedang, Shakti memasukkan mobilnya saat gerbang otomatis itu terbuka.
__ADS_1
Alexa pun turun dari mobil dan berjalan langsung menuju pintu samping yang diikuti Shakti. Alexa sudah hafal jika setiap pagi teras samping yang selalu menjadi idola keluarganya untuk menghabiskan secangkir minuman hangat.
"Assalamualaikum...." ucap Alexa saat mendapati papa dan mamanya di teras.
"Waalaikum salam." ucap Zoya dengan suara lemah.
"Mama katanya sakit?"
"Cuma sakit kepala saja, kemarin sudah periksa sekalian saat masih nungguin Hanum di klinik. Kalian duduk dulu, ada yang ingin Mama dan Papa ingin bicarakan." ucap Zoya.
Shakti dan Alexa pun duduk bersama. Padahal hari ini Shakti punya hanya rencana di kantor.
"Hanum dengan siapa, Ma?" tanya Alexa.
"Hanum ditungguin Alex. Hari ini rencananya pulang, tapi setelah jadwal periksa dokter." jelas Zoya.
"Besok, Hanum menikah. Jadi Papa harap kalian datang." sela Hans dengan tiba tiba.
"Mau tidak mau harus mau. Papa yang memaksa mereka." jelas Hans.
Shakti hanya mengangkat kedua alisnya, bisa ditebak papa mertuanya memang super power.
"Untung istriku kayak mamanya." gumam Shakti dalam hati, lelaki itu bermain dengan pikirannya sendiri.
"Bagaimana, Shak?" tanya Hans membuat Shakti tergagap. Iya, Shakti dengan Hans memang tidak jauh beda, hanya saja posisi Shakti yang harus mengalah pada papa mertuanya demi wanita cantik di sebelahnya.
"Shakti si, tidak masalah. Besok Shakti pasti datang bersama Alexa." jawab Shakti yang memang tidak punya andil dalam urusan ini. Dia memilih netral karena baginya Arkha tidaklah buruk.
Hans memang sudah mengambil keputusan. Sekeras apapun Alexa membantahnya tetap saja lelaki itu pada keputusannya. Apalagi Hans menganggap Arkha lelaki yang bertanggung jawab, cara dia mengantar Hanum sampai di rumah dan melindungi Hanum, Hans pikir lelaki dewasa itu mampu menjaga Hanum yang masih labil.
###
Arkha mengusap wajahnya dengan kasar. Kali ini dia sudah berpenampilan sangat rapi. Bahkan, lebih rapi dari hari hari biasanya. Hatinya begitu gelisah dengan pernikahan ini. Dia takut tidak bisa menjaga perasaan Hanum kelak karena hatinya belum bisa mencintai gadis itu.
__ADS_1
Ringgo terus saja melirik temannya dari spion. Dia melihat Arkha yang terlihat gusar. Entah gugup atau gelisah. Lelaki itu tidak bisa membaca situasi yang serba mendadak.
"Hari ini, lo menikah. Tapi, kenapa tidak terlihat bahagia?" tanya Ringgo membuyarkan lamunan Arkha.
"Lo tahu, kan, alasan gua menikah? Bagaimana jika suatu saat aku menyakiti bocah itu dan menjadi lelaki brengsek?" Arkha memang sudah menceritakan semuanya pada Ringgo.
"Apa lo berniat berbuat brengsek. Dicoba dululah! Hanum cantik, pintar, anaknya orang terpandang, meski sedikit bar bar dan arogan si tapi bukankah sifat asli perempuan itu lembut. Tinggal dipoles dikit pasti lo jatuh cinta." ucap Ringgo mendapat decihan Arkha.
"Tidak se-simple itu berurusan dengan bocah bar bar itu." sambut Arkha. Dia menyadari jika diantara dirinya dan Hanum tidak ada perasaan sama sekali apalagi Hanum gadis modern yang menganggap dirinya orang versi old.
Range Rover itu membelok di sebuah rumah megah yang pintunya sudah terbuka. Hanya ada Shakti dan Aleks yang keluar untuk menyambutnya.
"Selamat datang calon adik ipar." goda Shakti yang sudah lama tidak bertemu dengan Arkha. Dia juga belum tahu cerita versi Arkha.
"Semuanya sudah menunggu." sela Aleks dengan suara datar. Lelaki cool itu pun memimpin masuk ke dalam ruangan yang di dalamnya sudah ada beberapa orang dan penghulu.
Dari lantai dua, Alexa menuntun Hanum yang kini berjalan menuruni tangga. Wajah sembabnya sudah tertutup dengan makeup dengan sempurna. Bahkan, Hanum terlihat begitu cantik dengan balutan busana berwarna putih dengan taburan batu swarovski yang memberikan kesan mewah dan elegant.
Tidak Hanya Arkha yang kini menatap kagum kecantikan gadis remaja itu. Tapi semua mata yang tertuju pada Hanum dibuat kagum dengan kecantikan gadis itu.
Arkha menatapnya begitu teliti hingga dia bisa melihat semburat rasa sedih yang tersimpan di balik kecantikan yang terpancar itu. Dia tahu tidak hanya dia yang berat menjalani pernikahan ini tapi juga Hanum. Tapi bagi keduanya tidak ada pilihan lain.
"Kita bisa memulainya sekarang." ucap Hans membuat keadaan kembali normal.
Meski sempat sempat dilanda rasa gugup tapi lelaki itu begitu lancar mengucapkan ijab kabul yang kemudian disusul kata sah dari kedua saksi.
"Boleh dicium, Arkh!" goda Shakti mendapatkan lirikan Papa Hans dan Alexa.
"Jangan malu-malu!" lirih Ringgo membuat semuanya tersenyum.
Setelah mendapatkan bisikan dari Zoya. Hanum pun mencium tangan Arkha. Lelaki itu bisa merasakan betapa dinginnya tangan Hanum saat ini. Arkha pun akhirnya mendaratkan ciumannya di kening Hanum.
Keduanya terlihat canggung, sungguh ini seperti mimpi bagi Hanum dan Arkha.
__ADS_1