
Panggilan Mama Gayatri membuat Shakti segera membuka pintu kamarnya. Wanita sepuh itu pun mengernyitkan dahi kala menemukan putranya berpenampilan rapi sepagi iki.
"Ada tamu, Shak." ucap Nyonya Gayatri.
"Baiklah, Shakti pergi dulu, Ma!" ucap Shakti dengan kemudian memeluk mamanya dan berlalu dengan berlari kecil.
Terlihat Rama sudah duduk menunggu. Ketika sudah sulit untuk menemukan Alexa, Shakti pun meminta Rama untuk membantunya. Hanya butuh dua, tiga hari Rama berhasil melacak keberadaan Alexa.
"Dia berada di klinik bersalin. Dia sempat mengalami pendarahan." jelas Rama yang sudah mengulik semua informasi tentang keadaan Alexa.
"Bagaimana keadaannya sekarang?" Shakti terlihat gusar saat akan mendengar keadaan istri dan calon bayinya. Rasa cemas semakin menderanya.
"Menurut keterangan dokter, kondisinya jauh lebih baik." ujar Rama.
"Aki ingin segera bertemu dengannya." Shakti tidak sabar ingin bertemu Alexa. Dia harus bisa menjelaskan kesalahan fahaman antara dia dan istrinya. Dengan langkah panjang Shakti menghampiri mobilnya di susul oleh Rama yang akan ikut bersamanya, kini keduanya masuk ke dalam mobil yang melesak meninggalkan halaman rumah mewah yang cukup rindang.
Sementara itu, Hans datang ke klinik dan masuk ke dalam ruangan dengan membawa sarapan yang sudah diinginkan oleh putrinya. Iya, soto betawi yang kini menjadi yang dia mau.
"Al, mau sarapan sekarang?" tanya Hans menghampiri Alexa yang sudah duduk di bersandar di bed.
"Nanti saja, Pa."
"Pa, Ale ingin bercerai." ucap Alexa membuat Hans menghentikan gerakannya dan menatap putrinya yang tengah menengadah ke arahnya.
Sakit. Ada rasa sakit yang menjalar dalam hati lelaki itu saat kalimat cerai terucap dari bibir putrinya. Dia baru menyadari jika pernikahan putrinya tidak sebahagia yang dia harapkan.
"Apa kamu sudah memikirkannya dengan benar?" tanya Hans dengan meletakkan bobotnya di pinggiran bed tempat Ale duduk.
__ADS_1
"Aku sudah memikirkannya, Pa. Aku tidak bisa memaafkan Mas Shakti. Dia sudah mengkhianati Ale, Pa... " kalimat Alexa terputus dengan isak tangisnya. Masih terasa sakit saat mengingat terakhir dia bertemu dengan suaminya dengan keadaan yang menjijikan, seketika itu pula dia langsung melihat bayangan suaminya yang berselingkuh.
"Al, Jangan gegabah memutuskan bercerai... "
"Apa Papa tidak mau membantuku?" sela Alexa merasa tidak mendapat dukungan dari papanya. Alexa menatap tajam ke arah Hans dan itu semakin membuat Hans lebih hati hati bersikap dengan sikap sensitif putrinya.
"Bukan seperti itu, Papa akan selalu mendukung keputusanmu. Tapi, bercerai juga tidak mudah jika pihak Shakti menolak." Hans merasakan hatinya terasa nyeri saat membayangkan putrinya menjadi seorang janda. Tidak rasanya dia tidak mampu menghadapi semuanya.
Tapi, dia juga tidak ingin gegabah, bakal ada kehidupan yang menginginkan keduanya bersama yaitu calon cucunya. Hans juga belum mengetahui kebenaran tentang perselingkuhan Shakti karena belum bercerita dengan rincinya.
"Al, dari mana kamu tahu jika Shakti selingkuh?" selidik Hans. Dia sendiri yang akan membunuh bajingan itu seperti itu kebenarannya.
"Aku melihat isi pesan di ponsel Mas Shakti, Pa. Dan alexa menemukannya dalam kondisi menjijikkan... " Alexa tidak kuat menjelaskannya. Mendengar cerita Alexa dan melihat putrinya terus menangis rahang has mengeras, tangannya mengepal kuat merasakan ledakan emosi yang masih dia tahan.
"Tok... tok... tok..."
Alexa dan Hans terkejut saat melihat kehadiran Shakti yang tiba- tiba. Di susul seseorang berperawakan tinggi kekar di belakangnya.
"Ngapain kamu ke sini?" sergah Alexa dengan begitu lantang, meski masih dengan suara serak dan wajah lembab.
"Ay, aku akan menjelaskan semuanya. Apa yang kamu pikir itu tidak benar." ucap Shakti dengan melangkah mendekati Alexa. Tapi Alexa hanya menghujamkan tatapan tajamnya pada Shakti.
"Aku memang tidak berpengalaman sepertimu, aku juga kekanak- kanakan seperti katamu. Tapi aku tidak bodoh untuk mengartikan apa yang sudah aku lihat! Pergilah... " suara lembut terdengar begitu tajam ditelinga Shakti, membuat rasa gundah yang menguasai perasaannya.
"Pergilah! Aku bilang pergi... " Pekik Alexa mulai terlihat gusar dengan isak tangis yang tidak bisa di bendung lagi.
Seketika Shakti mematung, tidak pernah dia melihat Alexa bersikap sekeras itu.
__ADS_1
"Tapi, Ay... Aku perlu meluruskan semuanya." Shakti masih ngotot untuk bisa menjelaskan semuanya.
"Meluruskan kebohonganmu dengan kebohongan baru? Sudah berapa banyak kamu membohongiku?" Lanjut Alexa dengan emosi yang meluap- luap.
"Kita akan selesaikan di pengadilan saja! Jadi pergilah!" ujar Alexa kemudian menyandarkan tubuhnya di bed yang sudah diatur sandarannya.
"Keluarlah dulu! Jangan membuat Ale tertekan lagi karena itu bisa berbahaya untuk kandungannya. " Hans mendekat ke arah Shakti saat melihat putrinya terlihat frustasi.
Hans menarik tangan Shakti dan membawanya keluar. Melihat situasi yang semakin memburuk dia pun meminta Shakti menunggunya dan dia akan menenangkan putrinya yang terlihat sangat tertekan.
"Al, kamu harus bisa mengendalikan diri. Kasian calon bayimu jika kamu seperti ini." ucap Hans mengingatkan Alexa. Alexa pun langsung mengelus perutnya, baru menyadari ada nyawa yang harus dia pikirkan.
"Al, Papa tahu kamu sangat marah. Tapi, tidak ada salahnya mendengar penjelasan darinya agar kamu lebih yakin dengan keputusanmu. Jika Shakti berbohong pasti kamu bisa menemukan titik kejanggalan dari ucapannya. Papa yakin kamu cukup pintar untuk menilainya." Alexa masih terdiam, meskipun dia meresapi apa yang sudah dikatakan oleh papanya. Sementara, Hans juga belum bisa menentukan sikap karena dia belum bisa menyimpulkan masalah apa yang melanda anak dan menantunya.
"Papa akan keluar sebentar. Kamu harus tenang ya!" Hans mencium kening Alexa kemudian berjalan mencari Shakti yang dia minta untuk menunggunya di taman.
"Ada apa sebenarnya? Aku belum pernah melihat putriku semarah ini?" Kalimat Hans membuat Shakti menoleh pada sosok yang kini sedang duduk di sebelahnya. Hans sebenarnya ingin menghajar menantunya karena sudah membuat putrinya menangis. Tapi, dia juga tidak ingin bertindak gegabah.
"Alexa salah faham! Dia mengira aku sudah mengkhianatinya. Tapi itu salah... aku tidak pernah sedikitpun berniat seperti itu." ucap Shakti lelaki itu tidak tahu lagi apa yang mesti dia lakukan.
"Alexa ingin bercerai." Kalimat Hans membuat Shakti tercengang dengan mata membola. Dia begitu kaget jika Alexa berfikir untuk berpisah.
"Tidak, Pa. Aku tidak akan menceraikannya." tegas Shakti membuat Hans tersenyum sinis.
"Aku dengan Clarisa tidak melakukan apapun, gadis itu menjebakku siang itu sehingga terjadi ke salah pahaman seperti ini." jelas Shakti membuat Hans masih menunggu alibi lain yang membuatnya percaya jika Shakti berkata jujur.
"Bagaimana cara kamu menjelaskan pada Ale tentang semua itu. Aku saja tidak percaya dengan penjelasanmu, apalagi jika berhubungan dengan mantan kekasihmu?" sambut Hans, dengan berusaha mendapatkan akal sehat.
__ADS_1