
Shakti mulai persiapan untuk melakukan perjalan menuju sebuah lereng gunung. Semua tugas selanjutnya dia serahkan pada Arka. Perluasan pabrik di kota kecil akan memberikan beberapa keuntungan dari beberapa aspek.
“Serius, lo akan melakukan perjalanan sendiri?” tanya Arka, dia masih ragu jika shakti akan melakukan trip di pedalaman seorang diri.
“Tentu saja , Ark. Tanteku ada di daerah sana! Mekipun aku sedikit lupa jalannya, tapi aku yakin jika aku akan menemukannya.” jawab shakti. Terakhir Shakti ke sana saat lulus kuliah, pertama kali dia pulang dari luar negeri. Tapi, sejak memegang perusahaan dan fokus dengan pekerjaannya lelaki yang punya hobbi melakukan trip dan adventur itu tidak punya waktu lagi untuk hobbinya.
Arka hanya menunggui Shakti yang sedang mengepack barang barangnya yang akan dimasukkan ke dalam sebuah ransel besar. Kamera digital yang tidak pernah dia lupakan pun sudah dia siapkan di sebuah tas kecil. Kemudian dia tertegun mengingat Alexa, istri yang belum dia temukan hingga saat ini.
Seandainya saja Alexa bersamanya, dia pasti akan membawa istrinya untuk melihat tempat tempat yang tidak pernah dia temukan di kota.
“ Ay, sampai kapan aku harus bersabar untuk menemukanmu." gumam Shakti dalam hati. Dia seolah sudah putus asa dalam pencarian ini.
“Permisi...” suara lembut itu memecahkan kebisuan diantara mereka. Dinda masuk ke dalam kamar dengan luas maksimal milik si empunya villa.
“Masuk, Din!” ucap Arka saat melihat Dinda dengan dua gelas kopi yang masih mengepulkan asap itu. Gadis dengan rambut lurus yang menggantung dengan indah itu berjalan menuju meja di mana ada Shakti yang duduk di sana.
“Makan malamnya sudah siap, Mas! Maaf Bapak pulang terlebih dahulu karena ada arisan RT, Mas.” jelas dinda masih dengan tertunduk.
“Jadi malam ini saya yang akan membereskan villa.” lanjut Dinda saat meletakkan nampan di meja, matanya melirik sekilas Shakti yang tengah menatap ponselnya. Dinda memang sering kali mencuri pandang pada Shakti sejak pertama melihat lelaki di tempat ini.
“ Terima kasih, Din. Sebentar lagi kita akan makan malam.” ucap Arka, lelaki itu semakin curiga saat memergoki lirikan Dinda pada Shakti. Tapi yang diliriknya masih asyik dengan ponselnya.
__ADS_1
Dinda pun bergegas meninggalkan mereka, gadis itu ingin sekali bisa mengobrol lagi dengan Shakti. Sayang Arka tak pernah jauh dari sosok yang ingin dia dekati.
“Ayo kita makan. Besok habis Salat Subuh aku akan memulai perjalanan.” ajak Shakti yang sudah berdiri. Lelaki berhidung mancung dan berwajah ganteng itu berdiri dan meregangkan ototnya sebelum dia berjalan keluar ruang kamarnya yang dibuntuti Arka.
“Loh Din, kamu belum balik?” tanya Shakti saat sekelebat dia menangkap bayangan gadis itu.
“Sebentar lagi, ini masih menunggu Mas Shakti dan Mas Arka makan malam terlebih dahulu. Saya masih harus membereskan mejanya. “ Dini menghentikan langkahnya saat akan masuk ke dalam dapur.
“Kamu pulang saja sekarang. Besok datang lebih awal untuk membereskan semuanya!” ucap Shakti. Shakti berfikir jika Dinda seorang gadis, tidak pantas jika pulang terlalu larut.
“Ehmmm. Tapi Mas...” Dinda merasa tidak enak jika harus pulang dari Villa sebelum membereskan pekerjaan yang menjadi tugas bapaknya.
“Nggak apa, Din. Masih bisa besok.” sergah Arka dengan cepat. Pemikiran Shakti dengan Arka mungkin berbeda, meski mereka memberi reaksi yang sama. Tapi, Arka tidak perlu mengatakan apa yang dia rasa pada Shakti. Toh, besok Shakti akan pergi untuk melakukan trip.
Diantara suasana remang-remang, gadis itu tertegun sendiri di bawah pohon mangga yang ada di depan rumah kecil milik Laras. Samar-samar tangannya bergerak mengusap air matanya yang meleleh, dia sangat merindukan mamanya. Biasanya Mama Zoya akan melihatnya di kamar saat dia tidak ada keluar untuk berkumpul. Dan dilanjutkan dengan cerita yang berisi sedikit curhatan sambil mereka rebahan.
“Mama, Ale kangen Mama.” lirih Ale dengan bayangan Hanum yang selalu protes karena merasa semua lebih sayang dengan dirinya. Padahal, saat itu papa dengan jelas sangat memanjakan dirinya. Alexa memang sangat merindukan semuanya. Meskipun terakhir dia merasakan kemarahan papanya yang begitu hebat, tapi dia selalu merindukan papanya. Papanya adalah sosok yang selalu dia idolakan. Kerja kerasnya, ketegasannya dan bagaiman dia melindungi semua yang menjadi tanggung jawabnya.
“Apa kabarnya, Papa? Ale merindukan Papa. Semoga Papa selalu sehat dan bisa memaafkan Ale.” Alexa menatap langit dengan pendar bintang yang terlihat indah, tapi bukan untuk itu. Tapi dia menahan trangis karena rasa rindu yang terasa menyesak di dadanya.
Tidak hanya keluarganya yang dia rindukan, tapi rindu itu dia tujukan pada seseorang yang ingin dia lupakan, tapi bayangan saat bersama lelaki itu justru menyisakan rasa rindu yang menyiksa di sudut hatinya. Rasa yang ingin dia kikis dengan sebuah kebencian, tapi selalu gagal.
__ADS_1
Jika orang bilang firt love never mind, mungkin itulah yang saat ini dirasa Alexa. Sekeras apapun dia membenci Shakti , sekuat apapun dia mengingat perbuatannya hingga membuatnya terbuang seperti saat ini. Tapi tidak ada yang bisa membohongi diri sendiri. Dia masih memiliki rasa yang menggetarkan hatinya saat mengingat lelaki itu.
“Salma...” panggil Laras.
“Kamu sudah makan?” tanya Laras sambil berjalan mendekati Alexa diantara susana remang-remang.
“Aku masih merasa kenyang, Mbak. Tadi sama Dewa bikin bubur ayam.” Alexa memang menginginkan bubur ayam karena merindukan bubur ayam buatan Zama Zoya.
“Sepertinya kamu sudah menikmati mengajarkan anak anak baca tulis?’ tanya Laras.
“Iya Mbak, aku merasa hidupku jadi lebih berarti. Bisa membantu Mbah Pariyem saja sudah membuatku senang. Aku juga belajar mengenal pengobatan tradisional. Yang terkadang tidak masuk akal tapi... ya bisa sembuh.” Di tempat baru Alexa hanya mencoba menyesuaikan apa yang sudah berlaku. Dia tidak ingin terlalu sesumbar dengan ilmu yang sudah dipelajari selama itu tidak berakit fatal.
“Mbak, kenapa tidak mencari papanya Dewa? Kasihan dewa, di juga berhak merasakan kebahagian itu .” Alexa mencoba membujuk Laras. Tapi hanya terdengar helaan nafas laras yang terasa berat, dia kembali merasa hidupnya terasa bert saat memikirkan kebahagiaan putranya.
“Siapa tahu lelaki itu juga menginginkan Dewa. Biar bagaimanapun mereka ada hubungan darah.” lanjut Alexa.
“Tapi, bagi banyak orang, Dewa hanya anak haram. Hasil kenakalan kita di masa lalu.” lirih Laras seperti ada rasa bersalah terhadap putranya. Rasa itu bercampur dengan rasa yang terasa menyayat di hatinya.
Seandainya waktu bisa terulang kembali, dia tidak perlu bertemu dengan lelaki itu. Dia juga tidak harus sepolos itu , jika kasta tidak akan menghalangi perasaan mereka.
“Jangan memberikan sebutan itu pada anak yang terlahir suci. Yang salah itu hubungan Mba Laras dengan lelaki itu.” ucap Alexa yang tidak ingin siapapun menghakimi anak yang tidak berdosa.
__ADS_1
“Ayo masuk ke dalam. Ntar ada demit yang naksir kamu.” goda laras yang sebenarnya mengagumi kecantikan Alexa. Dia yakin alexa dari keluarga priyayi. Tutur katanya yang lembut, kulitnya yang halus dan sebuah jam tangan yang dia tahu saat di kota itu harganya cukup fantastis. Tapi, semahal apapun barang itu saat berada di tempat yang tidak tepat pasti tidak ada harganya.
Bersambung....