Rindu Alexa

Rindu Alexa
Pertemuan Tak di sangka


__ADS_3

Dari jauh Dinda menatap lelaki yang sudah bersiap untuk berangkat dengan menggunakan motor trillnya. Shakti memilih menggunakan motor saja, agar lebih mudah untuk sampai di tempat Tante Gendis.


Lelaki dengan ransel di punggung itu melajukan motornya menuju tempat yang datarannya lebih tinggi dengan medan yang cukup menantang.


Baru beberapa menit motornya menanjak. Dia merasakan ponselnya yang berada di dalam jaket bergetar. Dengan sangat terpaksa Shakti berhenti di pinggir jalan dan mengambil benda pipih yang terselip di dalam jaketnya.


"Nomer baru." gumam Shakti saat melihat layar ponselnya.


Dengan mengernyitkan keningnya, Shakti mengusap layar ponselnya.


"Hallo... "


"Ini Agam." jawab suara yang ada di sebrang.


"Ada apa?" tanya Shakti terdengar acuh.


"Aku ingin penjelasanmu tentang masa laluku." Agam memang ingin menemui Shakti di kantornya, sehingga saat bertemu Bimo yang menjelaskan tentang jadwal bosnya. Akhirnya Agam meminta nomer ponsel Shakti.


"Kamu yang punya masa lalu kenapa juga aku yang harus repot menjelaskan masa lalumu." kalimat angkuh itu terdengar jelas oleh Agam. Tapi, dia memang butuh penjelasan dari Shakti.


"Please, jelaskan padaku apa yang kamu tahu tentang Laras." desak Agam yang rasanya tidak sabar ingin mendengarkan cerita tentang cinta masa lalunya.


"Aku tidak tahu tentang gadis itu sekarang, aku juga tidak tahu namanya. Tapi, dia pergi dari kota dalam keadaan hamil." kalimat Shakti membuat Agam seperti tersambar petir. Iya, dia memang pernah melakukan itu dengan Laras.


"Halo, kamu masih di sana?" tanya Shakti saat tidak mendengar apapun dari sebrang. Tentu saja Agam langsung terbungkam dengan pernyataan lelaki itu. Ponselnya nyaris terjatuh karena seluruh tenaganya seperti lolos dari tubuhnya.


"Iya... " jawab Agam terdengar lemah, tangannya juga sempat menyeka sudut matanya yang basah.


"Kamu tanya saja sama temanku Rama yang ada di kepolisian itu, atau untuk lebih jelasnya tanyakan saja pada mamamu." Shakti langsung menutup panggilannya, dia rasanya terlalu membuang waktu jika untuk mengurusi Agam. Dia sendiri secara detailnya tidak tahu tentang gadis di masa lalunya. Dia menyelediki latar belakang Agam karena dia merasa Agam adalah salah satu rival yang cukup berbahaya untuk merebut Alexa.


Lelaki itu kembali berpacu dengan adrenalinnya membawa motor trill miliknya untuk terus berjalan menanjak. Semakin tinggi jalan semakin terjal bahkan dia mulai meninggalkan jalan berasal.


"Jalannya benar nggak ya?" Shakti sedikit ragu saat memasuki kawasan pepohonan yang mirip dengan hutan. Dia sendiri hanya mengikuti arah jalan yang terus berjalan menanjak.


Hingga matahari teriknya terasa cukup menyengat, meski dengan udara yang cukup dingin menyentuh kulit. Shakti mulai menghentikan motornya, tidak ada signal di ponselnya, terpaksa dia harus mengkira kira sendiri jalan untuk menuju tujuannya.

__ADS_1


Setelah meregangkan otot punggungnya yang sudah mulai lelah, Shakti kembali melajukan motornya dengan nekad.


Lamat lamat, terlihat sebuah pemukiman penduduk yang dia yakini itu kampung Tante gendis, semakin mendekati kampung itu dia mulai mengingat kawasan terpencil yang pernah sekali dia singgahi.


Shakti mulai tersenyum saat melihat rumah besar dengan bentuk sederhana dan halaman luas. Dia yakin itu rumah Tante Gendis, masih rumah yang sama hanya tanaman di halamannya yang sedikit berbeda.


Tanpa ragu dia membelokkan motornya. Tentu saja semua mata tertuju padanya termasuk bocah kecil yang sedang membuntuti ibunya yang saat ini sedang membersihkan ruang depan yang mirip pendopo.


"Ya Allah, Shakti..." terlihat Bu Seno begitu girang menyambut kedatangan keponakannya. Dengan langkah tergesa Bu Seno menghampiri Shakti yang masih ada di halaman. Beliau tidak menyangka jika keponakannya sampai di rumahnya.


"Keponakan Tante." Bu Seno terus saja menatap Shakti dari atas sampai bawah. Seolah, beliau tidak percaya jika yang datang Shakti.


"Tante Gendis apa kabar?" Shakti langsung memeluk adik ibunya itu. Jarak dan kesibukan membuat mereka sulit untuk bersua.


Bu Seno yang punya nama asli Gendis Rahayu itu adalah adik dari Mama Gayatri. Mereka tidak punya seorang putra. Om Seno dulu adalah seorang ilmuwan, peneliti beberapa jenis hewan berjenis serangga. Mereka memutuskan untuk tinggal di tempat itu karena sudah merasa nyaman.


"Ayo masuk, Shak." Bu Seno menuntun keponakannya untuk masuk ke dalam pendopo.


"Kamu Bapakku?" tanya Dewa saat menghadang langkah Shakti. Seketika Shakti mengedarkan pandangan dari mana asalnya bocah yang memanggilnya 'Bapak'.


Shakti hampir tak percaya saat melihat wanita yang selama ini dia cari berdiri di tengah pintu dengan memegangi tirai kain yang menjadi penutupnya.


Alexa juga terhenyak kaget saat dia melihat Shakti, bahkan tatapan mata keduanya sempat tertaut untuk meyakinkan sosok yang mereka temui saat ini. Sungguh, dia tak menyangka jika Dewa memanggil Shakti dengan sebutan 'Bapak'.


Jantungnya serasa diremas, dengan rasa kecewa Alexa kembali berlari ke rumah laras. Bertemu lelaki itu rasanya dia seperti kehilangan detak jantung, apalagi panggilan ' Bapak' yang dilontarkan Dewa membuat aliran darahnya pun berdesir hebat. Di sana, di dalam dadanya ada rasa nyeri yang begitu hebat. Dia tidak menyangka jika laki laki yang selama ini Laras ceritakan adalah Shakti.


Alexa menangis, dadanya penuh sesak dengan rasa kecewa dan marah di dalamnya. Gadis itu meremas seprei dengan begitu kuat untuk melepaskan sedikit kemarahan dan rasa sedih yang mengejutkan perasaannya.


Sementara, Shakti masih bingung dengan semuanya. Dia yakin itu istri yang selama ini dia cari.


"Bapak." tapi suara Dewa yang mencairkan suasana tegang itu membuat Shakti menoleh ke arah bocah itu kemudian menggendongnya.


"Dewa, Om ini bukan bapak Dewa." ucap Laras sambil meletakkan nampan berisi teh hangatnya.


"Gadis yang tadi siapa namanya, Tante?" tanya Shakti memastikan jika itu adalah istrinya. Yang Shakti tahu Alexa tidak punya kembaran, dia yakin itu Alexa istrinya.

__ADS_1


"Dia Salma, teman baru Laras dari kota." jawab Bu Seno dengan semakin mendekati Shakti dan Laras.


Fix, Dia Alexa. Alexa Salma Aqilla , istri yang selama ini dia, otak Shakti kali ini bekerja cukup baik untuk meyakinkan identitas wanita itu. Lelaki itu tersenyum, dia menyentuh jantungnya yang rasanya berdebar kuat. Debaran yang selalu dia rasakan saat di dekat wanita yang dia cintai.


"Ibu, dia kan orang kota. Katanya, Bapak Dewa orang kota." Kalimat bocah itu membuat Shakti menoleh.


"Bapak Dewa bukan Om ini. Bapak Dewa masih di kota." jelas Laras membuat bocah itu kembali tertunduk lesu, ada rasa kecewa yang tidak bisa ditutupi bocah berumur tiga tahun itu. Dan Alexa, dia pasti sudah salah faham dengan kejadian kali ini.


"Shak, ayo minum tehnya dulu!" ajak Bu Seno yang tidak mengerti dengan apa yang sudah terjadi.


"Nanti saja, Tante." Sungguh Shakti tidak sabar ingin bertemu istrinya.


"Ayo sama ibu, Dewa!" pinta Laras saat anaknya memeluk lelaki asing dengan sangat erat. Hatinya terasa sedih saat melihat anaknya merindukan sosok bapak.


"Kita temui Tante tadi, yuk!" ajak Shakti dengan rasa rindu yang sudah menggebu. Semua mata tertuju ke arahnya.


"Nanti Shakti jelasin, Tante." ucap Shakti yang butuh waktu untuk menjelaskan semuanya.


"Tante Salma namanya." sela Dewa.


"Iya Tante Salma. Ayo kamu tunjukkan di mana Tante Salma." Bocah itu langsung turun dari gendongan Shakti. Dia langsung menarik Shakti masuk ke dalam rumah kecilnya.


Miris.


Shakti tidak menyangka jika Alexa tinggal di rumah sekecil itu dengan lantai yang masih tanah liat. Dewa terus saja menarik tangan Shakti menuju kamar yang hanya tertutup tirai kain.


"Tante Salma, Om Shakti mau ketemu?" Dewa menyibak tirai kamar. Terlihat Alexa duduk di pingggir tempat tidur itu segera menyeka air matanya.


"Ay, aku merindukanmu!" Shakti berjalan mendekati Alexa dengan tidak sabar, tapi justru Alexa menggeser tubuhnya menjauh membuat Shakti mengernyitkan keningnya.


"Dewa sama ibu dulu, ya! Nanti Om ajak jalan jalan dengan naik motor." bujuk Shakti yang tidak leluasa karena ada Dewa.


"Baik, Om." jawaban Dewa membuat Alexa menatap heran Dewa. Tadi Dewa memanggilnya 'Bapak' sekarang 'Om'? Pertanyaan itu mengiringi tatapan Alexa pada bocah yang keluar kamarnya. Tidak susah membujuk Dewa, bocah itu begitu penurut apalagi dengan ibunya.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2