
Alexa langsung berdiri saat Shakti mendekatinya. Tatapannya menghujam ke arah lelaki yang pernah membuatnya kecewa, padahal dadanya berdebar saat jarak mereka hanya dipisahkan beberapa meter dari jarak sebelumnya.
"Ay, aku merindukanmu." ulang Shakti berusaha menarik lengan kecil istrinya, rasanya dia tidak tahan untuk melepas rasa rindunya. Tapi dengan cepat Alexa menarik lengannya bersamaan dengan langkah kakinya yang berlahan mundur.
Di dalam kamar yang cukup lembab itu, hanya ada dia dan Shakti hingga membuat Alexa merasa rikuh. Ini salah, batinnya seolah terus menggema dalam hatinya.
"Kenapa, Ay?" Shakti belum menyadari jika Alexa belum tahu jika gadis di depannya belum mengetahui apapun tentang hubungan mereka yang sebenarnya.
"Keluarlah dari kamarku!" ucap Alexa dengan lantang, meski jantungnya berpacu lebih cepat dan aliran darahnya pun seolah berhenti mengalir. Alexa merasakan rasa cemas yang begitu hebat.
"Aku tidak ingin lagi terjadi fitnah. Tidak baik kita berada dalam satu ruangan tertutup." lanjut Alexa sudah merasa panas dingin saat Shakti terus berjalan mendekat hingga tubuh mungil itu berhenti dan menempel pada dinding yang terbuat dari anyaman bambu.
"Kamu istriku, Ay." Shakti langsung menyambar tangan dingin Alexa. Bahkan, dia menggenggamnya begitu erat membuat Alexa melayangkan tatapan tajamnya pada lelaki di depannya karena tidak mampu lagi memberontak.
"Kebohongan apalagi semua ini?" teriak Alexa dengan perasaan yang bercampur aduk, lebih tepatnya shock.
"Hidupmu penuh kebohongan, dan karena semua kobohonganmu, aku disebut pelakor, karena dirimu semua menghujatku." Alexa mulai menangis selama ini dia merasakan hantaman hidup yang begitu hebat.
"Bahkan Papa.... Karena dirimu Papa marah besar padaku dan itu pertama kalinya Papa memukulku." teriak Alexa dengan tangisnya yang sudah tidak bisa dikendalikan. Wajah putih itu sudah basah karena air mata.
Shakti hanya tertegun, kali ini tidak hanya Alexa yang terkaget. Shakti tidak menyangka jika semua yang menimpa Alexa lebih dari yang dia pikirkan selama ini.
"Pergi!" Suara Alexa semakin meninggi diiringi tangisnya yang histeris saat Shakti tak bergeming dari tempatnya. Kakinya terasa lemah menopang tubuhnya membuat Alexa berlahan melengser dan berjongkok di sudut kamar. Rasanya dia ingin mengeluarkan semua rasa yang cukup menyesakkan dalam hatinya selama ini.
"Ay- sekali ini saja, dengar aku!" shakti pun ikut berjongkok di depan Alexa membuat Alexa yang ingin menghindar pun hanya bisa menyandar pada dinding kamar sempit. Sementara, Alexa tidak bisa lagi berbicara, hanya isakan tangis yang membuat mata sipitnya tidak bisa terbuka lebar.
__ADS_1
"Kamu istriku, Ay. Aku bisa membuktikannya." Shakti memeluk tubuh yang duduk meringkuk itu. Sementara Laras yang akan menghampiri Alexa yang berteriak pun berhenti, saat mendengar suara bariton itu berucap kalimat jika mereka berstatus suami istri.
Alexa memang tidak bisa lagi mengelak, dia merasa dekapan hangat itu begitu cukup menenangkan perasaannya. Shakti memeluk tubuh itu hingga getaran tubuh kecil itu mulai berangsur tenang.
"Kamu istriku yang sah. Aku bisa membuktikan semuanya padamu." Shakti terus saja meyakinkan Alexa akan hal itu.
Alexa mulai menguasai perasaannya hingga dia meregangkan tubuh yang pertama kali memberinya pelukan itu untuk menjauh.
"Bukti seperti apalagi yang ingin kamu tunjukkan padaku, Mas?" tanya Alexa masih dengan tatapan tidak percaya tapi, dia membiarkan Shakti mengusap air matanya.
"Ayo! kamu harus tau jika sudah banyak hal terjadi setelah kepergianmu." Shakti mencoba membantu Alexa berdiri. Kesempatan itu tidak di sia siakan lelaki itu untuk menjelaskan pada istrinya.
"Apa aku gendong?" goda Shakti saat istrinya mulai menurut meski kini Alexa masih melayangkan tatapan tajam ke arahnya. Alexa berada pada titik yang sungguh merasa dilema.
"Baiklah-baiklah!" ucap Shakti berusaha mencairkan suasana. Shakti menarik lengan kecil Alexa tapi Alexa masih berusaha menolak. Bukan Shakti jika menerima begitu saja penolakan seperti yang sudah-sudah Shakti paling bisa memaksa Alexa.
" Tante Salma, kenapa menangis?" Dewa terlihat cemas. Bocah itu memang tidak bisa melihat orang terdekatnya merasa sedih.
"Tante Salma kangen Om ganteng." jawab Shakti kemudian menggendong Dewa. Mereka saat ini berada di ruang makan, Bu Seno masih menatap bingung keponakannya dengan gadis yang sering dia panggil Salma itu.
"Tante Salma kangen sama Om Kota?" Alexa terbungkam, dia bingung harus menjawab apalagi pertanyaan bocah itu. Sedangkan matanya tertuju pada liriknya Shakti dengan senyum tipis yang terbit dari sudut bibir tipisnya.
"Dewa kangen Bapak tidak nangis, Kok." lanjut Dewa saat tidak mendengar jawaban Alexa.
"Dewa kan jagoan, nggak boleh nangis, dong." Sahut Shakti.
__ADS_1
"Ayo kita makan dulu! Nanti kamu istirahat, biar nanti malam bisa cerita kabar Mbak Gayatri." ucap Bu Seno saat melihat Laras membawa makan siang ke meja.
"Dewa, turun! Kita makan, Sayang." ucap Laras membuat Dewa menghampiri ibunya. Saat ini Dewa ingin duduk sendiri di meja makan.
"Ayo kita makan, Sayang." ucap Shakti dengan menarik kursi untuk Alexa. Gadis itu hanya menatapnya tajam. Bagi Alexa Shakti terkesan berbelit belit.
"Dia istriku yang melarikan diri, Tan?" kalimat Shakti membuat semua yang mendengarnya menatap lelaki itu, sedangkan Alexa hanya bisa menatap lelaki di sampingnya dengan mulut menganga, dia tidak tahu lagi bagaimana mengatasi setiap tindakan yang diambil Shakti.
Shakti berjalan menghampiri ranselnya yang ada di ruang tengah untuk mengambil ponselnya. Shakti hanya menunjukkan sebuah video pernikahanan dirinya yang sempat direkam oleh Arka pada Tante Gendis. Laras pun yang juga penasaran pun sempat mengintip video yang sedang diputar tanpa suara. Dalam video juga ada surat nikah yang sengaja Arka Zoom pada bagian nama dan fotonya. Semua memang ide Arka, bagi Arka biar pernikahan tidak lazim Shakti akan akan tetap mempunyai dokumentasi yang abadi.
"Ayo-ayo kita makan!" ajak Bu Seno.
"Salma mulai Saat ini kamu di kamar yang sudah Laras siapkan untuk Shakti." ucap Bu Seno dengan duduk di kursi meja makan
"Tapi Bu... "
"Jadi istri nggak boleh jauh jauh dari suami." Alexa kembali menoleh kearah Shakti, dia tidak mengerti apa yang ditunjukkan pada Bu Seno hingga wanita anggun itu begitu percaya pada semua ucapannya. Sedangkan Laras hanya senyum-senyum menatap Alexa.
"Sayang, sabar ya! Nanti Mas Shakti tunjukkin semuanya." Shakti menunduk kemudian merangkul bahu kecil itu mencium puncak kepala yang berbalut jilbab.
Tapi dengan gesit Alexa mendorong pinggang Shakti untuk menjauh. Hingga membuat Shakti terkekeh karena dia tahu jika Alexa tidak akan bisa berbuat banyak di depan dua orang yang membuatnya segan.
"Salma, ama suami tidak boleh seperti itu!" sahut Bu Seno, saat melihat reaksi Alexa. Sedangkan Dewa masih asyik dengan makanan yang baru saja Laras sajikan di piringnya.
Mereka baru melakukan makan siang menjelang sore, itu karena drama antara Alexa dan Shakti yang sempat membuat Bu Seno dan Laras mencuri dengar dan itu pun yang membuat makan siang mereka tertunda.
__ADS_1
Bersambung....