
"Ayo keluar, Mama sudah membuatkan kita makanan dan minuman untuk kita." bujuk Arkha saat melihat Hanum yang sedikit tenang.
"Tapi aku nggak lapar." elak Hanum yang sebenarnya malas berhadapan dengan mertuanya.
"Nggak enak sama Ibuk, Hanum. Ibuk sudah buatkan minuman. Masak kamu nggak menghargai Ibuk." bujuk Arkha, membuat Hanum dengan malas mengikuti suaminya.
Langkahnya terasa berat meski jari jari besar Arkha menggenggamnya begitu erat menuju meja makan. Hanum mengarahkan tatapannya pada wanita yang duduk di depan televisi yang berada tidak jauh dari meja makan.
"Mari makan, Buk." ucap Hanum masih berusaha menormalkan emosinya.
"Hmmm.... " jawabnya terdengar begitu singkat.
Mereka pun makan dalam keadaan tidak nyaman.
"Arkh, setelah makan cuci piring dan beresin meja karena hari ini Mbok Tini tidak datang ke rumah. Jangan manja dan hanya mau makan saja seperti anak bos saja." Kalimat Arini seperti sindiran. Hanum menghentikan kunyahannya dan meletakkan sendoknya sungguh selera makannya langsung menghilang. Gadis itu rasanya ingin menjejali mertuanya cabe biar sekalian bisa tahu rasanya mulut pedas.
"Iya nanti kita beresin, Buk." balas Arkha dengan mengusap punggung Hanum agar sedikit tenang. Tapi semua juga tahu jika Hanum bukan tipe orang yang bisa menyembunyikan lagi rasa kesalnya.
"Ayo, Kak Arkha suapian!" Arkha pun menyendokkan nasi yang berasal dari piring yang di dorong Hanum.
"Aku sudah tidak selera." desah Hanum begitu lirih agar ibu mertuanya tidak mendengar.
"Please kali ini sabar dulu, ya!" pinta Arkha dengan berbisik. Hanum melirik wajah memohon lelaki di sebelahnya. Dia bisa tahu posisi sulit suaminya.
"Aku makan sendiri!" gumam Hanum kembali mengambil sendoknya. Dia memang tidak ingin memperpanjang masalah lagi. Arkha bisa mengerti jika Hanum terlihat kesal karena sikap ibunya.
Setelah mereka selesai makan, Hanum pun membereskan meja makan dan membawa piring kotor ke belakang. Wajah Hanum yang terlihat cemberut dengan bibirnya yang terus manyun membuat Arkha tahu jika sudah marah.
Lelaki itu memilih berjalan mengikuti Hanum yang sedang berjalan menuju pantry.
"Kak Arkha bantuin ya?" ucap Arkha yang sudah berdiri di dekat Hanum. Arkha terus saja memperhatikan wajah cemberut istrinya.
"Nggak usah!" balas Hanum dengan ketus tapi Arkha merapatkan posisinya ke belakang tubuh hanum dan membilas piring yang sudah di gosok dengan sabun.
"Ini aku susah ger-rak... " kalimat Hanum menggantung. Saat merasakan bagian belakangnya bergesekkan dengan sesuatu yang aneh seperti ada sebuah tonjolan.
"Kenapa melotot begitu?" tanya Arkha seolah tidak merasa bersalah, padahal beberapa kali miliknya bergesekan dengan bamper Hanum membuat miliknya mengeras.
__ADS_1
"Kak Arkha, jangan seperti ini!" elak Hanum berusaha menutupi kegugupannya saat ini. Hanum merasa aliran darahnya berdesir lebih kuat dari biasanya. Ini pertama kalinya dia merasakan milik pria.
"Kalau seperti ini?" goda Arkha dengan mengelap tangan basahnya dan kemudian memeluk Hanum dari belakang.
Seketika Hanum terkesiap, tubuhnya merinding kala lelaki itu melingkarkan tangannya di perutnya, ditambah lagi rasa geli yang terasa mengganjal di belakangnya.
"Makanya jangan marah terus. Ibu itu orangnya sedikit kolot, jadi kamu harus bisa mengerti ya!" Pintar Arkha membuat Hanum terdiam. Gadis itu seperti dibungkam dengan rasa gugupnya hingga sulit menjawab kalimat Arkha.
"Minggir, Kak." Hanum mendorong tubuh Arkha setelah selesai mencuci piring. Saat akan melangkah Arkha menahannya.
"Num, Kak Arkha mohon sabar ya ngadepin Ibuk. Kita di sini cuma beberapa hari saja." qpinta Arkha
"Oh ya, nanti sare kak Arkha ajak jalan ada warung bakso enak di sini lo!" Arkha masih membujuk Hanum, dia tidak ingin terjadi keributan saat istrinya mengeluarkan taring karena ucapan pedas ibunya.
"Iya... " Hanum langsung berjalan menuju kamarnya dengan begitu saja. Dia pun sempat melihat ibu mertuanya yang masih asyik menonton televisi.
Hanum masih merasa kesal setelah masuk kamar, rasanya dia ingin sekali terlelap untuk bisa menghilangkan emosinya saat ini.
"Num... " terlihat Arkha masuk kamar dan menutup kembali pintu kamarnya.
"Hanum, jangan seperti itu dong. Ibu juga perlu di dekati. Ngobrol sebentarlah sekedar basa basi biar ibu mengenalmu." bujuk Arkha saat duduk di samping Hanum.
"Aku tidak bisa basa basi. Dari dulu aku seperti ini! Sudahlah, jangan bahas itu lagi. Aku lelah setelah perjalanan jauh." ucap Hanum kemudian merebahkan diri di ranjang.
Arkha pun menyusul berbaring di sebelah Hanum lelaki itu melipat tangannya sebagai bantalan. Sedangkan Hanum memunggunginya.
"Ting ... " ada sebuah pesan dari ponsel Arkha.
Bang Arkha dimana? Aku datang ke apartemen ternyata kosong.
Arkha membaca pesan dari Rania. Dia pun kemudian membalasnya.
Abang pulang kampung sebentar. Ada apa Ran?
Balas Arkha, lelaki itu juga sempat melirik Hanum yang masih tenang memunggunginya.
Kenapa nggak mengajar Ran, Bang. Oh ya, kapan Ran masukin lamaran?
__ADS_1
Arkha tidak membalas pesan Rania. Nanti malam saja dia berniat menelpon gadis yang dua kagumi. Tapi, saat melirik kembali Hanum, dia merasa ada yang aneh dengan hatinya.
Marahkah Hanum saat dia dekat dengan Rania? Tapi bukankah pernikahan ini hanya keterpaksaan belaka?
Arkha terdiam diam menatap langit kamarnya. Setiap kali ada Rania, dia kembali memikirkan hubungan yang membuatnya meragu. Dia terpaksa dan Hanum juga. Bahkan, dia merasa Hanum pun tidak pernah tertarik padanya sama sekali.
###
Alexa meminta Pak Hanif meninggalkannya, dia bilang akan pulang bersama Shakti saja. Sopir keluarga Shakti itu pun menuruti permintaan putri menantu kesayangan rumah itu.
Dengan menyematkan senyum di bibirnya, Alexa berjalan menuju lift khusus untuk sampai di ruangan Shakti.
Dia begitu bersemangat ingin bertemu Shakti untuk makan siang bersama, seperti yang sudah dia idam-idamkan dari kemarin.
Alexa masih menyinggung senyum saat keluar lift dan berjalan menuju ke ruangan Shakti. Beberapa orang yang bertemu dengannya pun menunduk hormat dengan rasa simpatik karena keramahan istri bosnya.
"Assalamu'alaikum Mas Bimo." sapa Alexa menghampiri meja Bimo yang ada di depan ruangan Shakti.
"Waalaikum salam Mbak Alexa, mau ketemu Pak Shakti?" tanya Bimo dengan sedikit canggung.
"Ada kan Mas Shaktinya?" Alexa tersenyum lebar saat bertanya pada Bimo.
"Hmm... Maaf, Pak Shaktinya sedang ada acara di luar." Sungguh Bimo merasa tidak enak pada Alexa, apalagi saat melihat senyum serut di wajah oriental itu. Bimo bisa melihat ada rasa kecewa terpancar dari wajah Alexa.
"Kira- kira, bertemu klien atau rapat ya, Mas?" desak Alexa dia begitu penasaran karena Bimo yang biasa mengikuti Shakti saat bertemu klien atau rapat kini masih duduk di kursinya.
"Sepertinya ada urusan pribadi, Mbak." jawab Bimo sedikit ragu. Dia melihat Alexa sangat kecewa mendengarnya.
"Mbak Alexa sebaiknya menunggu di dalam,. Mungkin sebentar lagi Pak Shakti akan kembali karena beliau keluar kantor sudah sejak tadi." Kalimat Bimo seperti tidak terdengar Alexa. Wanita itu terlihat sedang tertegun dan berfikir.
"Ini untuk Mas Bimo saja. Saya masih ada urusan." Alexa membawa kotak makan yang dia bawa dari rumah. Entah kenapa, kali ini dia merasa sangat kecewa, padahal hanya karena gagal makan siang bersama suaminya.
"Tapi... "
"Nggak apa apa ini untuk Mas Bimo." sela Alexa saat Bimo akan menolaknya karena tidak enak.
"Saya permisi dulu." Melihat wajah murung Alexa, Bimo tidak lagi bisa bereaksi. Dia merasa serba salah pada wanita yang selalu menyapanya dengan ramah setiap kali bertemu.
__ADS_1