
"Sehat ya Kak Ale dan debay. " ucap Hanum setelah memeluk Kakaknya dan mengelus perut Alexa yang sudah terlihat membuncit.
"Kamu juga! Jangan bandel, nurut sama suami." pesan Alexa saat kembali mendekap tubuh adik kesayangannya. Dia masih saja menganggap Hanum adik manjanya.
Hans dan Zoya yang melihat rona bahagia di wajah kedua putrinya pun begitu terharu. Baginya, kebahagiaan putra dan putrinya adalah kesempurnaan dalam hidup keduanya.
Setelah Salat Magrib bersama dan makan malam bersama. Kedua pasang suami istri itu memutuskan untuk pulang ke rumah dan apartemen mereka.
"Ada yang siap unboxing, nih." bisik Shakti sambil menyenggol lengan Arkha saat mereka berjalan menuju arah parkiran.
Hanum yang sempat mendengar Kakak iparnya menggoda suaminya pun semakin salah tingkah.
"Mas, ayo kita pulang! Mama Gayatry pasti sudah tidak sabar menunggu kita." ajak Alexa dengan segera menarik tangan suaminya agar sikap usilnya tidak semakin menjadi. Bukan rahasia lagi dalam keluarga hubungan pernikahan yang tidak sehat selama ini yang dijalani Hanum dan Arkha.
Kedua pasangan itu pun akhirnya meninggalkan rumah yang menjadi saksi mereka dibesarkan.
###
Dalam perjalanan pulang, Hanum lebih sering menatap wajah dewasa lelaki di sebelahnya. Beberapa hari ini dia tidak bertemu dengan Arkha hingga membuatnya menyadari jika wajah tampan itu sudah dipenuhi dengan bulu bulu halus yang terlihat semakin ketara di sekitar rahangnya.
"Kenapa?" tanya Arkha saat menyadari tatapan Hanum yang begitu intens ke arahnya. Sesekali dia membalas tatapan Hanum sambil memperhatikan jalan di depannya.
"Sudah berapa lama tidak membersihkan bulu itu." tanya Hanum tanpa mengalihkan tatapannya dari lelaki di sebelahnya.
"Sejak kamu pergi dari rumah, aku nggak sempet mikirin itu." jawab Arkha sambil memperhatikan jalanan yang sedikit lenggang tapi terlihat suram karena gerimis yang mengiringi perjalanan mereka pulang.
" Kak... " kalimat Hanum terjeda saat notifikasi pesan di ponsel Arkha terdengar.
__ADS_1
Arkha pun meraih ponselnya dan membaca pesan masuk. Wajah itu terlihat begitu serius hingga sejurus kemudian tatapannya beralih pada Hanum yang masih setia memperhatikannya.
"Rania, di rumah sakit." Dengan ragu Arkha memberitahu isi pesan yang baru saja di terimanya.
"Apa yang terjadi?" selidik Hanum. Jika boleh jujur mendengarnya Hanum tidaklah senang. Kenapa juga harus memberi tahu suaminya.
"Katanya habis kecelakaan. Sementara, teman yang membawanya ke rumah sakit harus balik karena salah satu keluarganya ada yang meninggal." jelas Arkha dengan memelankan laju kendaraannya.
"Bolehkah aku menjenguknya sebentar?" tanya Arkha. Dia hanya ingin tahu keadaan gadis yang berasal dari kota yang sama dengannya. Bukan tanpa alasan, dia hanya ingin memastikan keadaan Rania saja.
"Terserah Kak Arkha saja!" jawab Hanum. Jika boleh jujur, Hanum rasanya enggan berhubungan dengan gadis itu. Tapi, dia juga tidak ingin egois saat melihat raut cemas di wajah Arkha.
"Terima kasih, sayang!" ujar Arkha dengan meraih tangan Hanum dan menggenggamnya.
Mobil yang mereka kendarai iki melaju menuju rumah sakit tempat Rania dirawat. Masih dalam rintik gerimis Arkha membawa Hanum memasuki lorong di mana ruangan Rania di rawat. Dia tidak perlu bertanya dahulu karena sebelumnya teman Rania sudah memberikan informasi keberadaan ruangan gadis yang tadi siang sempat dikecewakannya itu.
"Hae.. Hanum, kan? " sapa seorang gadis berjilbab saat mereka berada di depan pintu ruangan Rania.
"Baik." jawab Hanum masih dengan senyum tipisnya.
"Kak Arkha masuk saja, nanti aku menyusul!" ucap Hanum kemudian saat Arkha masih menunggunya di depan pintu ruangan Rania.
"Maaf kamu siapa?" Hanum pun melanjutkan rasa penasarannya.
"Pasti lupa! Aku Tita teman SMU yang duduk di belakangmu, yang dulu pakai kacamata tebal dengan rambut dikepang dua." jelas Tita dengan detail.
"MasyaAllah kamu tambah cantik dengan hijab ini." ujar hanum kemudian memeluk temannya.
__ADS_1
Mereka menghabiskan sedikit waktu untuk saling menyapa dan bertukar nomer ponsel. Setelah itu Tita pun meninggalkan Hanum yang sesaat kemudian memutuskan menyusul Arkha.
Knop pintu diputarnya dengan pelan berharap tidak mengganggu Rania. Tapi, langkahnya terhenti seketika dengan tatapan tajam menghujam ke dua orang yang sedang ada di dalamnya.
Hanum hanya terdiam dengan rahang mengatup menahan emosi saat melihat gadis pucat itu memeluk tubuh tegap suaminya saat Arkha membantu Rania menaiki bed.
"Sayang... aku hanya membantu Rania habis dari kamar kecil." jelas Arkha saat menyadari keberadaan istrinya yang tengah berdiri mematung.
"Maaf, Num. Aku kehilangan keseimbangan karena kakiku masih sakit." lanjut Rania dengan wajah polosnya. Kecelakaan tadi siang membuat dia mengalami cedera di bagian kaki.
"Tidak masalah." jawab Hanum singkat. Gadis itu berusaha menutupi letupan emosi di hatinya. Dia tidak ingin terlalu arogan menanggapi perasaannya yang terasa... entah.
Terdengar Arkha membujuk Rania yang enggan makan dan menasehati gadis itu agar menjaga kesehatan agar tidak kehilangan fokus. Sesekali Hanum melirik binar bahagia di wajah Rania. Senyum tipis pun tidak surut dari bibirnya. Rasanya, Hanum semakin kesulitan menahan rasa marahnya ketika merasa terabai dengan sudut ruangan rawat inap itu.
"Jika Kak Arkha masih ingin di sini, sebaiknya aku pesan taxi saja!" suara Hanum menghentikan obrolan mereka. Keduanya menoleh ke arah gadis yang sudah memegang ponselnya dan siap memesan taxi.
"Tunggu sebentar, Sayang. Sebentar lagi Anita sampai untuk menemani Rania malam ini." Arkha memang meminta salah satu stafnya untuk menemani Rania yang jauh dari keluarga.
Keadaan kembali membisu. Panggilan ' Sayang ' yang dilontarkan Arkha pada istrinya membuat Rania kembali menelan rasa kecewa. Apa memang semanis itu hubungan mereka? Yang dia tahu pernikahan mereka hanya sebuah tuntutan.
Dalam kebisuan Rania mencuri pandang ke arah Hanum. Dia seolah mengulik kembali sosok gadis cuek dan arogan di matanya itu. Tidak mungkin rasanya Arkha menyukai gadis seperti Hanum. Dia tahu betul jika Arkha menyukai gadis lembut dan dewasa.
"Selamat malam. Maaf, terlambat!" terdengar suara dari arah pintu membuat ketiga orang yang membisu dengan pikirannya masih masing itu menoleh.
Anita sudah berdiri dengan senyum kaku. Sementara, Hanum langsung bangkit dari duduknya dan bersiap untuk pulang. Hanum dan Arkha pun berpamitan untuk pulang.
Saat keluar dari ruangan Rania, Arkha meraih jemari istrinya tapi ditepisnya. Lelaki yang sudah tahu jika Hanum marah pun hanya menghela nafas panjang, kemudian merangkul pundak mungil istrinya menuju parkiran.
__ADS_1
Perjalanan pulang mereka masih dengan atmosfir yang dingin dan sunyi. Hanya sebuah lantunan musik dari audio mobil yang terdengar mengalun begitu syahdu. Sesekali Arkha menoleh ke arah istrinya yang sudah membuang pandangan ke luar jendela. Dia tidak menyangka jika Hanum akan semarah ini, padahal dia bermaksud mengajak Hanum agar tidak terjadi kesalah fahaman diantara mereka.
NB: Session dua ya, hanya beberapa part saja untuk session duanya