Rindu Alexa

Rindu Alexa
Kabar Buruk


__ADS_3

Berlahan Arkha membuka matanya. Senyum tipis terbit di bibir lelaki yang saat ini menikmati wajah cantik yang masih terlelap di sebelahnya. Setelah mereguknya indahnya malam pertama dari kesekian malam, saat ini hatinya diliputi rasa bahagia yang tak bisa di gambarnya.


Arkha memilih bangkit tanpa membangunkan Hanum yang masih tertidur pulas setelah dia membuatnya lelah semalam.


"Manis juga si..." gumamnya masih dengan senyum yang tak pernah pudar dari wajahnya ketika mengamati semburat kecantikan istrinya.


Arkha pun memutuskan masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Dia begitu merasa bahagia mengingat sudah memiliki gadis bar- bar itu sepenuhnya.


Hanya mengenakan handuk yang melilit di tubuhnya, Arkha berjalan keluar kamar mandi dengan rambut basahnya untuk membangunkan Hanum.


"Sayang... " panggil Arkha dengan meletakkan telapak tangannya di pipi Hanum.


Mata bulat itu seketika terbuka, karena merasa kaget ketika tangan dingin Arkha bersentuhan dengan kulitnya.


"Kak Arkha... " keluh Hanum dengan senyum malu-malu saat mendapati tatapan arkha yang terus menggoda.


"Bangun, Num! Nanti telat Salat Subuhnya." ujar Arkha masih menunggui Hanum yang sedang memulihkan segenap kesadarannya.


"Kenapa malah terdiam?" tanya Arkha saat melihat Hanum masih mematung dengan kedua tangan masih menahan selimut sampai ke leher.


"Kak Arkha keluar dulu!" gumamnya lirih dengan tatapan memohon.


"Astaga Hanum. Aku sudah melihat setiap inci tubuhmu. Kenapa harus malu." jawab Arkha berusaha menarik selimut Hanum yang masih ditahan dengan kedua tangannya.


Merasa gemas dengan Hanum, Arkha langsung mengangkat tubuh istrinya," Aaaahhh, Kak Arkha, selimutnya..." teriak Hanum tak mengira Arkha akan melakukannya.


"Nanti di laundry semua. Termasuk itu!" Arkha menunjuk dengan dagunya seprei yang sudah terkena noda darah.


Arkha mengangkat Hanum ke kamar mandi. Segera, Hanum memaksa Arkha keluar sebelum kejadian semalam terulang lagi. Rasa malu kini benar-benar melanda Hanum.


Setelah Salat Subuh, Hanum memutuskan untuk kembali rebahan. Tubuhnya terasa lelah sekali, sedangkan Arkha memilih untuk melanjutkan aktifitasnya di ruang kerja karena banyak sekali laporan yang harus dia selesaikan setelah Shakti pulang dari luar kota.


Sinar mentari yang kemerahan pun sudah berganti dengan pagi yang cerah. Arkha segera mengakhiri aktifitasnya. Apartemen yang terasa sunyi membuatnya mencari keberadaan istrinya di dalam kamar.

__ADS_1


"Sayang, kamu sakit?" tanya Arkha saat melihat Hanum terlihat dengan ponsel di tangannya.


"Aku tidak apa- apa. Hanya sedikit lelah saja." jawab Hanum dengan meletakkan ponselnya saat Arkha duduk di sebelahnya.


"Kamu mau sarapan apa? Biar Kak Arkha yang pesan. Atau kita sarapan di luar sekalian aku mengantarmu ke kampus." tawar Arkha karena sudah mengetahui jadwal kuliah Hanum.


"Aku akan memasak saja." Terbiasa sarapan masakan rumah yang sudah menjadi tradisi di keluar Zoya. Hanum pun mau tidak mau beranjak dari tempat tidur.


Dering ponsel yang berbunyi membuat Arkha menghentikan langkahnya mengikuti Hanum keluar kamar.


"Kalau kamu lagi nggak mood memasak kita sarapan di luar saja." teriak Arkha saat dia akan menerima panggilan dari adiknya.


Hanum hanya menggeleng saja. Untung saja semalam Mama Zoya membawakan rendang dan sambal goreng kentang, jadi dia hanya perlu menghangatkan ya sebentar dan memasak nasi.


"Sayang..." panggilan Arkha menghentikan Hanum yang sedang menyiapkan makanan di meja makan. Hanum melihat Arkha berjalan dengan wajah serius. Bisa terlihat dengan jelas jika lelaki itu sedang cemas.


" Ada apa, Kak?"


" Ibu sakit."


"Kenapa tidak ingin mengajakku? Apa aku tidak pantas menjenguk mertuaku?" ketus Hanum dengan tatapan tajam ke arah Arkha. Tindakan Arkha membuatnya merasa tidak dianggap.


"Kamu mau ikut? Kamu tidak marah dengan Ibu?" Arkha tak menyangka jika Hanum mengatakan semuanya.


"Ayo cepat sarapan!"


Arkha merasa lega mendengar semuanya. Mereka pun mulai duduk untuk sarapan. Keduanya mulai menyuapkan sesendok demi sesendok nasi di piring dengan membicarakan rencana hari ini. Tidak ada Arkha yang banyak acara hari ini, tapi Hanum juga. Setelah dari kampus dia juga harus bertemu supplier kafe untuk membicarakan pengiriman bahan yang dibutuhkan kafe.


"Aku akan bersiap dari rumah Mama Zoya saja sekalian pamitan. Jadi pulang kantor Kak Arkha jemput aku di sana." ucap Hanum.


"Terima kasih, Num." Perasaan lega memenuhi hati Arkha. Dia sangat bersyukur mendapatkan istrinya yang sangat baik, meskipun awalnya terkesan begitu kaku dan bar- bar. Tapi, dibalik itu semua ternyata hatinya begitu lembut.


Mereka menyelasaik sarapan dengan cepat. Iya banyak jadwal yang harus mereka lalui hari ini.

__ADS_1


###


'Mas berangkat lebih awal agar bisa pulang cepat. Mas, tidak tega membangunkanmu, Ay.'


Alexa baru saja membaca pesan dari Shakti yang dikirim lewat WhatsApp. Pukul empat pagi, jam yang tertera saat pesan itu dikirim.


Shakti sengaja berangkat pagi sekali agar bisa menuntaskan semua pekerjaannya hari ini juga. Proyek yang ditangani oleh team baru atas rekomendasi bagian perencaan itu membuatnya ingin tau sejauh apa mereka mampu menangani pekerjaannya.


Beberapa kali Alexa mencoba menghubungi ponsel suaminya. Tapi tidak juga terhubung, bahkan pesan yang sempat dia tulis untuk Shakti pun belum juga terbaca.


"Apa sepagi ini Mas Shakti ada pertemuan penting?" gumam Alexa saat melihat jam di ponselnya menunjukkan pukul 07. 00 WIB.


Alexa pun memutuskan untuk turun ke bawah untuk membantu menyiapkan sarapan. Dia juga merasa sudah sangat lapar.


"Selamat pagi, Sayang." sapa Mama Gayatri saat melihat Alexa menuruni tangga.


Wanita kulitnya sudah terlihat keriput itu, nampak begitu segar dengan baju training dan keringat yang membasahi keningnya.


"Wah terlihat segar sekali, Ma." balas Alexa melihat mertuanya terlihat sangat bugar.


"Mama habis olahraga di taman samping. Mama Harus sehat, Lexa. Mama masih ingin bermain dengan cucu Mama." sambut Mama Gayatri dengan wajah berbinar. Alexa begitu senang saat melihat Mama mertuanya sangat bersemangat menyambut kelahiran bayi yang ada dalam kandungannya.


"Dengar apa kata Oma, Dek! Semua orang menyambutmu dengan bahagia. Sehat selalu ya, Nak." lirih Alexa dengan senyum menghias di wajahnya. Gayatri pun ikut tersenyum mendengarkan gumaman sangat menantu.


"Oh ya, katanya Shakti pergi pagi- pagi sekali ya?" Mama Gayatri mulai duduk di kursi makan dan kemudian menegak segelas air putih.


"Iya, Ma. Katanya survey proyek baru." jawab Alexa yang terlihat sangat lesu.


"Tapi sejak tadi aku menghubunginya masih belum tersambung. Lexa, sedikit cemas, Ma." lanjut Alex yang ikut duduk di kursi yang ada di ruang makan.


"Dia pasti lagi sibuk. Anak itu terkadang memang sulit dihubungi jika sedang sibuk. Coba nanti siang kamu hubungi lagi." jawab Gayatri sambil menikmati minuman hangat keduanya pun saling mengobrol.


"Hari ini Mama ingin kamu menemani Mama bertemu direktur rumah sakit. Ada beberapa hal yang ingin Mama sampaikan." lanjut Gayatri saat melihat Alexa masih terlihat cemas.

__ADS_1


Dia sebenarnya memang ada janji pada direktur rumah sakit untuk membahas pengalihan saham yang dimilikinya kepada menantu kesayangannya. Selain beliau ingin fokus dengan calo cucunya, Mama Gayatri ingin Alexa yang berperan aktif di rumah sakit itu.


__ADS_2