
Sesekali Agam menoleh ke sampingnya. Kini dia sudah membawa Laras, wanita menjadi cinta pertama dan kini sudah dipersunting menjadi istrinya.
"Aku sebenarnya takut Bu Dita tidak bisa menerima Dewa, Gam." ucap Laras masih dengan memangku Dewa yang sudah tertidur pulas saat dalam perjalanan. Biar bagaimana pun restu dari orang tua sangatlah penting. Jika bukan karena sudah ada Dewa, mungkin Laras akan berfikir dua kali menikah tanpa restu orang tua.
"Itu biar aku yang atur, Ras. Sekarang yang penting kalian bersamaku. Aku akan menjaga kalian seumur hidupku." janji Agam dari dalam hatinya yang terdalam. Dia tidak akan membiarkan istri dan anaknya telantar lagi.
"Sementara ini, kita tinggal di apartemen tidak apa, kan?" Agam menoleh kepada wanita di sebelahnya.
"Kami tinggal di mana pun bisa. Seperti yang kamu sendiri tahu, Gam." jawab Laras sambil tersenyum. Senyum yang selalu bisa membuat teduh hati lelaki yang beberapa kali menoleh ke arahnya.
Mereka telah melewati jalan terjal dan berkelok, Kini mobil Pajero Sport milik Agam melaju di atas aspal yang cukup halus. Beberapa jam, mereka harus merasakan tidak nyaman dalam perjalanan dan kini mobil itu melaju dengan tenangnya.
Sore yang dengan langit yang berubah menjadi jingga, membuat Agam membelokkan mobilnya pada sebuah Hotel berbintang di kota tersebut.
"Kita istirahat dulu, ya! Besok pagi kita akan melanjutkan perjalanan." ucap Agam yang hanya di jawab anggukan oleh Laras. Dia tidak ingin putranya merasa kelelahan.
Lelaki itu keluar dari mobil terlebih dahulu dan kemudian mengambil Dewa dari pangkuan Laras untuk digendongnya. Mereka kemudian melakukan check in untuk satu malam. Dia tidak ingin Dewa merasa kelelahan dengan perjalanan ini.
"Gam, bolehkah aku bertanya sesuatu?" tanya Larasa saat Agam meletakkan tubuh Dewa di atas bed.
"Ada apa?" Agam mendekat ke arah Laras. Dia kemudian menyalipkan anak rambut Laras ke belakang telinga. Lelaki berwajah kalem itu menatap manik mata indah itu begitu dalam.
"Ehmm... apa kamu dengan Salma pernah dekat?" pertanyaan itu sebenarnya sudah ingin ditanyakan oleh Laras sejak kemarin. Tapi wanita selalu merasa enggan karena dia tidak ingin merusak suasana.
Sejenak Agam terdiam, dia sedang mengatur jawaban yang sebenarnya, tanpa ingin menyakiti perasaan istrinya.
"Sejak kepergianmu, aku sulit membuka hati untuk wanita lain, bahkan aku kadang merasa tidak adil kamu meninggalkanku tanpa pamit." Mendengar kalimat Agam ada rasa bersalah di hati Laras. Dia memang menghilang begitu saja setelah banyak hal yang mereka lalui.
__ADS_1
"Suatu ketika aku bertemu Lexa di rumah sakit. Dia sedang praktek di rumah sakit yang sama denganku. Aku mencoba membuka hatiku dan mendekatinya. Iya, aku dan Shakti sempat bersaing. Dia memang begitu getol memperjuangkan Alexa hingga pada akhirnya Shakti mengingatkanku pada sebuah masa lalu." Agam menghela nafas. Karena Shakti dia kembali mengulik cerita masa lalunya.
"Saat itu, aku mulai mencari tahu tentang dirimu dari orang kepercayaan Shakti, hingga akhirnya aku mendesak Mama untuk memberikan alamat orang tuamu."
"Tapi, percayalah aku masih punya cinta yang sama untukmu, Ras." ujar Agam mencoba meyakinkan Laras.
"Iya, aku percaya, Gam. Terima kasih sudah menjadi lelaki yang bertanggung jawab." Mendengar kalimat Laras hatinya merasa ngilu. Lelaki itu memeluk istrinya. Dia hanya merasa bersalah, jika dia bertanggung jawab kedua orang yanga dia cintai tidak akan menderita selama bertahun tahun.
###
Shakti baru saja tiba di villa, setelah beberapa menit dia berada dalam perjalan dari pabrik. Planning hari ini berjalan dengan lancar meski seharian dia disibukkan untuk itu.
Lelaki dengan wajah lelah itu keluar dari mobil dengan membawa jajanan yang disukai istrinya. Dengan begitu bersemangat dia melangkah mencari keberadaan Alexa.
"Mas Shakti, ini paketnya baru datang." Suara Dinda membuat Shakti menghentikan langkahnya. Dia menunggu Dinda yang berjalan ke arahnya dengan menenteng beberapa paket.
"Seharian, di kamar terus! Sepertinya malas ngapa-ngapain, keluar hanya untuk makan saja." ucap Dinda dengan sedikit kesal. Dia merasa Alexa seperti tuan putri yang minta dilayani.
"Biarkan saja, yang penting dia tidak sampai telat makan." ucap Shakti, dia memang tidak mempermasalahkan apapun. Lelaki itu pun kembali melangkah mencari seseorang yang sudah dia rindukan meski baru sehari dia tinggalkan.
Berlahan dia membuka pintu kamar, dia takut deritnya akan mengganggu, jika istrinya sedang tidur.
"Mas, sudah pulang?" Alexa beranjak dari tempat duduknya untuk menyambut Shakti ketika melihat suaminya muncul dari balik pintu.
"Aku kira kamu sedang tidur, ternyata sudah wangi." Shakti mencium kening istrinya, rambut lurus panjang tergerai dengan indah membuat wajah bulat dengan pipi cabi itu terlihat sangat cantik.
"Kamu sedang apa? Aku membawa kerak telur untukmu." Shakti merangkul istrinya, dan membawanya duduk di tempat semula Alexa berada.
__ADS_1
"Wah...terima kasih. Makanan penuh kenangan ya, Mas." ujar Alexa saat melihat Shakti membuka bungkus kerak telur. Di tengah jalan Shakti menemukan penjual kerak telur, dia teringat Alexa yang sangat menyukai jajanan itu.
"Kamu sedang apa?"
"Belajar lagi, baca baca ilmu kedokteran. Takut hilang ilmunya." Alexa kemudian mematikan laptop milik suaminya yang seharian dipakai untuk browsing tentang ilmu kedokteran.
"Bagaimana karirku nanti ya, Mas?" Ada yang membuat bingung Alexa ketika dia kembali ke kota. Menghilang memang membuatnya harus memulai semuanya dari awal lagi.
"Mama pasti bisa membantumu." balas Shakti yang ingin meyakinkan istrinya, jika Alexa bisa melakukan apapun di rumah sakit itu.
"Ay, kamu ingin pesta pernikahan yang seperti apa?" tanya Shakti menyuapkan kerak telur ke mulut istrinya.
"Aku tidak ingin resepsi. Aku malu... kita menikahnya saja aneh, apalagi foto ciuman yang sempat beredar, aku malu bertemu banyak orang." ucap Alexa.
"Tapi pernikahan kita secara agama sah lo, Ay! Tinggal membereskan dokumennya agar lebih sempurna lagi." ucap Shakti.
"Kita bulan madu ke mana?" lanjut Shakti.
"Setiap hari kita juga sudah bulan madu." jawab Alexa membuat Shakti terkekeh. Entahlah, saat ini dia hanya ingin bertemu Mama, Papa dan adik adiknya. Dia sudah sangat merindukan semuanya. Shakti terus saja menyuapkan kerak telur ke mulut istrinya hingga Alexa merasa kentang sendiri.
"Aku akan mandi dulu! Tolong bukakan kancing kemejaku! " titah Shakti langsung membuat Alexa melotot ke arahnya.
"Iya beneran, Ay. Ini tanganku terkena minyak." sambil tersenyum penuh kemenangan Shakti menunjukkan jari jarinya yang memang terkena minyak.
Sejak awal Dinda sengaja menguping pembicaraan dua orang tersebut dari balik pintu yang sedikit terbuka.
Dinda mulai menyadari jika pernikahan mereka tidak semestinya orang pada umumnya. Gadis itu sedikit memiringkan senyumnya, dia mengerti jika pernikahan mereka belum tercatat secara resmi di kantor Urusan Agama. Itu artinya, pernikahan mereka belum sah secara negara.
__ADS_1
Dengan rasa bahagia, gadis itu kembali rumah sebelah. Dia merasa ada kesempatan untuk mendapatkan Shakti. Baginya, pernikahan Agama tidaklah kuat, hanya ditalak atau ditinggalkan begitu saja tidak semuanya sudah berakhir.