Rindu Alexa

Rindu Alexa
Kadatangan Papa


__ADS_3

Dengan langkah kecewa lelaki itu kembali memasuki rumahnya dengan tangan kosong. Die marasa mendapatkan jalan buntu untuk menemukan istrinya dan calon anaknya.


"Shak, mana Alexa?" sejak tadi Gayatri memang sudah menunggu Shakti. Wanita itu sejak kepulangan Shakti tadi siang menyisikan rasa curiga. Ditambah lagi, saat ini Shakti pulang sendiri tanpa Alexa.


"Alexa menginap di rumah Mama Zoya, Ma." jawab Shakti, dia tidak ingin membuat mamanya khawatir dengan menghilangnya Alexa.


"Kenapa kamu nggak nginap di sana juga?" lanjut Gayatri penuh dengan selidik.


"Shakti masih banyak kerjaan, Ma." sambut Shakti. Dengan sisa tenaganya dia meninggalkan Gayatri yang masih menatap kepergiannya dengan rasa penasaran, karena gelagat Shakti tidak seperti biasanya.


Shakti membuka pintu kamarnya. Sepi, biasanya setiap pulang seulas senyum manis menyambutnya bersamaan dengan pelukan wanita cantik yang selalu menyejukkan hatinya.


"Ay, kamu dimana?" gumamnya putus asa dengan menyeret langkah kakinya menuju ke tempat tidur untuk merebahkan tubuhnya yang kelelahan. Sehari ini seperti badai yang menghempaskan tubuhnya ke sana ke mari dengan begitu dahsyat.


Tak sengaja tangannya menyentuh benda yang tadi siang membuatnya menangis. Tes pack dua garis, yang menjadikan Shakti merasakan sesak di dadanya. Bagaimana keadaannya calon bayi dan istrinya? Mengingat tadi siang sudah jelas kondisi Alexa yang sangat buruk.


###


Pagi- pagi sekali Hans terlihat sudah bersiap untuk menemui Shakti. Semalam Zoya bercerita jika Shakti datang ke rumah untuk mencari Alexa. Hal itu tentu saja membuat Hans mencemaskan keadaan putrinya. Mercy hitam itu melaju keluar dari halaman rumah.


Saat mobilnya menjauh beberapa meter dari komplek rumahnya, ponsel lelaki yang saat ini memikirkan keadaan putrinya pun berdering. Nomer asing membuat Hans segara memasang earphone dan menjawab panggilan itu.


"Hallo... " suara bariton itu menjawab.


"Assalamu'alaikum, Pa." suara khas milik Alexa membuat Hans sedikit lega.


"Waalaikum salam, Al. Kamu di mana? Papa Ingin bicara." cecar Hans karena sudah mengkhawatirkan putrinya.


"Di Klinik bersalin Setulus Bunda." jawab Alexa.


"Pa, jangan beritahu siapa pun dulu, ya!" lanjut Alexa.


"Iya, Al. Tunggu Papa. Papa menuju ke sana." Hans membelokkan mobilnya saat melewati pertigaan. Tujuannya saat ini memang putrinya. Dia sudah mencemaskan Alexa dari semalam hingga membuatnya sulit untuk memejamkan mata.

__ADS_1


Dengan tergesa-gesa Hans memasuki ruangan Alexa. Dia begitu tidak sabar ingin melihat putrinya.


"Ceklek... " Pintu terbuka terlihat putrinya tengah berbaring lemah di atas bed membuat pelupuk matanya memanas.


"Papa..." panggil Alexa saat melihat sosok yang dia tunggu berjalan ke arahnya.


"Al, bagaimana keadaanmu?" Hans membantu Alexa yang kini berusaha bangkit.


Sejenak dia menatap mata putrinya yang kini sudah berkaca-kaca. Dia tahu ada hal yang sudah membuat putrinya terlihat sangat bersedih.


"Kamu kuat, Sayang. Kamu putri Papa! Jangan menangis!" Hans memeluk Alexa dan mengusap punggung mungil putrinya. Dia memang tidak akan bertanya lebih banyak, tapi dia tahu jika putrinya sedang dalam fase yang buruk.


Tidak butuh waktu lama, punggung kecil itu terasa bergetar diiringi isak tangis yang kini pecah. Alexa memeluk papanya dengan begitu erat seolah dia kini mendapatkan sesuatu yang menjadi tumpuannya.


"Sudah jangan menangis! Apapun itu Papa ada di belakangmu." lirih Hans berusaha melerai tangis putrinya.


"Maafkan Ale, selalu merepotkan Papa." Kalimat itu yang terucap kalau Alexa mengurai pelukannya itu. Dia menatap penuh iba ke arah mata tajam yang selalu memberikannya perlindungan.


"Apa yang terjadi, hingga kamu berada di klinik bersalin?" Selidik Hans.


"Benarkah?" Hans kembali meyakinkan jika yang dia dengar tidaklah salah. Dia sangat bahagia dengan kabar yang di berikan Alexa.


"Jaga diri baik baik, Al." Rasa bahagia yang kian membuncah membuat Hans melupakan sejenak kecurigaan yang pertama kali hingga dipikirannya.


"Kamu sudah sarapan? Kamu ingin makan apa?" cecar Hans. Lelaki itu tidak berhenti bicara karena kabar gembira tentang calon cucunya.


Alexa tersenyum melihat rasa bahagia yang tidak bisa disembunyikan papanya dari wajah ganteng yang paripurna itu. Sudah semalam dia memikirkan untuk menghubungi papanya. Dia tidak bermaksud melibatkan papanya untuk urusan keluarga, tapi dia juga butuh seseorang yang menjaga ketika dia harus bed rest.


"Pa, Alexa ingin berpisah dengan Mas Shakti." kalimat Alexa membuat Hans menyurutkan senyum. Dia kembali menatap wajah pucat putrinya.


"Kita akan bicarakan nanti setelah kamu benar benar sehat dan kuat." jawab Hans. Dia tahu ada masalah besar antara Shakti dan putrinya, tapi dia ingin Alexa sementara fokus pada janin yang sedang dia kandung.


"Papa ingin secepatnya membawamu pulang." lanjut Hans.

__ADS_1


"Tapi, bolehkah Ale tinggal di apartemen Papa?" tanya Alexa yang tentu saja diiyakan oleh Hans. Apapun itu asalkan putrinya merasa nyaman pasti dia lakukan.


###


Hanum menyiapkan sarapan. Pertama kali merasakan menjadi ibu rumah tangga. Ah, rasanya dia merasa terlalu tua jika mengingat sudah menyandang status itu.


"Hae Num, masak apa?" Arkha menghampiri Hanum di dapur dengan keadaan sudah rapi. Dia sudah bersiap untuk pergi ke kantor.


" Terima kasih, sudah menyiapkan keperluan Kak Arkha." ucap Arkha setelah mendekati Hanum dan melabuhkan ciuman kecilnya ke kepala istrinya.


"Kak, Hanum masih bau bawang." Hanum merasa tidak PD karena tubuhnya sudah berkeringat saat dia memasak.


Arkha hanya tersenyum menatap kesibukan Hanum. Dia juga mengagumi ternyata bocah itu bisa juga mengerti semua tugasnya. Bahkan, mungkin tidak semua wanita melakukannya di awal pernikahan.


"Kak, tunggu di meja makan. Ini sudah hampir selesai." Hanum merasa risih saat lelaki di dekatnya menatap dirinya sambil tersenyum. tipis.


"Kenapa sih? Aku suka lihat kamu sibuk seperti itu. Kamu terlihat seksi." Seketika wajah Hanum merona mendengar pujian dari Arkha. Bagi Hanum mungkin terdengar seperti rayuan, tapi laki laki itu berkata jujur. Dia melihat Hanum seperti seorang wanita dewasa yang sudah layak mengatur rumah tangga.


"Aku sudah selesai, Kak." ucap Hanum dengan membawa mangkuk berisi sup. Arkha langsung mengambil alih mangkuk dari tangan Hanum. Dan membawanya ke meja makan.


"Aku tidak terlalu pintar memasak." ucap Hanum saat mereka duduk bersama di meja makan.


"Ini sudah lebih dari cukup untuk membuatku kenyang. Oh ya, nanti kuliah jam berapa?" tanya Arkha.


"Sore, tapi aku harus ke kedai sebelumnya." jawab Hanum dengan mengisi piring milik Arkha dengan beberapa makanan.


"Dari mana kamu belajar menyiapkan sarapan?" selidik Arkha yang merasa gadis yang masih bocah menjadi perfect melakukan tugasnya.


"Mama biasa melakukannya setiap pagi. Kenapa, Kak Arkha tidak suka?"


"Bukan, justru aku merasa sangat senang. Terima kasih, kamu melakukannya cukup sempurna." ucap Arkha dengan tatapan penuh kekaguman.


" Num, nanti pulang kuliah aku jemputnya? " tanya Arkha.

__ADS_1


"Boleh, tapi yakin?" pancing Hanum.


"Iya, nanti biar sekalian aku antar Rania ngampus. Hari ini pertama dia kerja bersamaku." Seketika mood Hanum langsung memburuk tapi dia hanya diam saja. Ini bukan hal pertama yang menyesakkan hatinya hingga membuatnya seolah sudah biasa menghadapi semuanya.


__ADS_2