
Pertemuan Alexa dengan Laras dan Nindy benar benar membuat Alexa melupakan sejenak masalahnya. Bahkan, celotehan Dewa tentang gambaran calon adiknya membuat Alexa sesekali menggodanya.
Dari jauh Shakti mengawasi mereka. Sejak tak ada balasan atau reaksi dari Alexa lelaki itu memutuskan untuk menyusul ke mall setelah menelpon Bi Romlah yang ternyata Alexa belum juga pulang. Lelaki itu mencemaskan istrinya.
Tiba- tiba Agam datang menghampiri ketiga wanita itu dan membuat mereka beranjak pergi. Shakti yakin jika Agam pasti akan mengantarkan mereka.
"Sepertinya di belakang ada mobil Shakti, jika tidak salah." ujar Agam mengingat warna mobil Shakti, kalimat Agam membuat Alexa menoleh ke belakang. Alexa baru menyadari jika Shakti memang sedang membuntut di belaka mereka.
Mobil Pajero itu pun berhenti di sebuah rumah dengan model kuno meskipun catnya masih terlihat baru.
"Terima kasih, Dok. Jika ada waktu silahkan mampir bersama si ganteng Dewa." ucap Alexa dengan melirik bocah yang sudah mulai mengantuk di pangkuan Laras.
"Insyallah, Lexa." jawab Agam mengakhiri percakapan mereka. Dia kembali melajukan mobilnya menjauh dari Alexa.
Sementara, mobil Shakti kini memasuki halaman, membuat Alexa hanya melirik mobil berwarna metalik itu. Wanita itu pun berjalan masuk ke dalam disusul langkah panjang lelaki yang sedari tadi membuntutinya.
"Ay, tunggu!" panggil Shakti saat Alexa membuka pintu rumah.
"Ay, please dengerin aku." Shakti mencekal lengan Alexa hingga langkah istrinya terhenti.
"Ada apalagi?" tanya Alexa dengan menatap tajam Shakti. Dia enggan berinteraksi dengan lelaki di depannya itu.
"Sampai kapan kita akan seperti ini terus? Aku mohon, percayalah padaku!" pinta Shakti dengan tatapan memelas.
"Aku sudah bilang kan? Aku ingin kita berpisah. Bagaimana aku harus percaya denganmu, Mas? Coba katakan padaku? Kamu, Mas... " kalimat Alexa terjeda, sesak, dia kembali merasa sesak saat mengingat semuanya.
" Kamu diam diam berhubungan dengannya, bahkan kalian bertemu di Bali tanpa sepengetahuan aku. Aku juga tidak tahu jika kamu memang sengaja menyembunyikannya dariku. Dan setelah itu kalian sering bertemu di belakangku. Bagaimana aku tidak meragukanmu? Dia mantanmu, Mas. Mungkin mantan terindahmu." ucap wanita yang kini masih berdiri di depan pintu utama dengan emosi menggebu. Matanya sudah memanas dan kalimatnya terdengar gusar karena menahan tangis.
__ADS_1
"Iya, Aku hanya takut kamu akan marah, Ay?" jelas Shakti.
"Kenapa aku marah? Kamu selingkuh! Kamu tahu? Ada yang lebih sakit saat aku tahu kamu keluar dari apartemennya dalam kondisi yang... " Alexa rasanya tidak sanggup melanjutkan kalimatnya. Lintasan bayangan menjijikkan itu kembali terlihat jelas dalam matanya.
"Itu tidak seperti bayanganmu? Aku tidak melakukan hal jauh, Ay. Dia memaksaku?" Shakti masih mencoba membela diri meski sepertinya mustahil. Hati Alexa sudah telanjur membeku.
"Maksud kamu , kamu diperkosa oleh wanita itu, Mas? Terus saja bohongi aku, terus saja kamu anggap aku bodoh." Tangis Alexa meledak, membuat Shakti tidak bisa berkata lagi. Dia tidak akan melanjutkan perdebatan itu karena takut akan kondisi kandungan istrinya. Sambil menangis Alexa berjalan meninggalkan Shakti di depan pintu. Dia memilih untuk masuk ke dalam kamar.
"Aku akan buktikan jika aku tidak selingkuh, Ay. Aku tidak pernah punya hubungan lagi dengannya." teriak Shakti, dia sendiri bingung bagaimana dia akan membuktikannya sementara, saat kejadian Clarisa sengaja mematikan sistem CCTV dalam ruangannya.
###
Di sebuah kafe Daniel duduk bersama dengan Dimas. Dia sengaja ingin mengorek keterangan tentang Alexa hingga Dimas sendiri merasa curiga.
"Kamu jangan macam macam, Dan. Alexa wanita yang sangat baik bahkan kebaikannya membuatku sangat segan dan menghormatinya." ucap Dimas memperingatkan.
"Aku serius! Awalnya, aku memang hanya berniat menghancurkan musuhku Shakti, yaitu suaminya. Tapi lama aku memperhatikannya, dia adalah tipe wanita yang aku inginkan. Sekarang hubungannya dengan Shakti nyaris berakhir. Aku semakin ingin secepatnya ingin memilikinya." jelas Daniel, sedari tadi dia dan sepupunya terlibat perdebatan kecil dengan ditemani secangkir kopi.
Seorang wanita seksi kini berjalan mendekati keduanya. Dengan rasa gundah gulana, Clarisa mendatangai Daniel.
"Daniel... aku ingin bicara penting." ucap Clarissa dengan kesal. Sudah lama dia mencoba menghubungi Daniel tapi lelaki itu malah sering menghindar.
"Aku permisi dulu, Dan. Kapan-kapan kita sambung lagi." Dimas pun beranjak, dia tahu ada urusan serius antara Clarisa dan Daniel.
"Dan, kamu tidak bisa menghindari aku terus. Aku hamil, Dan. Kamu harus bertanggung jawab." cecar Clarisa dengan rasa tidak sabar.
Sementara Daniel hanya tersenyum tipis dengan menanggapi Clarisa hingga wanita itu semakin muak.
__ADS_1
"Benarkah itu anakku? Aku sendiri ragu kamu hanya melakukanya padaku. Siapa tahu kamu memang sudah melakukannya dengan Shakti atau lelaki lain."
"Daniel.... " geram Clarisa, dia merasa Daniel sudah keterlaluan.
"Aku hanya tidur denganmu tidak ada lelaki lain, apalagi Shakti. Dia tidak pernah sedikitpun menyentuhku." desak Clarisa, dia masih bingung dengan apa yang melandanya.
"Buktikan saja dia anakku maka aku akan bertanggung jawab." Daniel seolah menyepelekan keadaan Clarisa. Dia, enggan jika harus menikahi Clarissa. Baginya Clarisa hanya alat untuk menghancurkan Shakti dan tempat untuk menyalurkan hasratnya selama ini. Daniel juga tahu jika Clarisa juga bersenang senang dengannya.
"Kurang ajar kamu, Dan. Tidak seharusnya kamu bicara seperti itu!" pekik Clarisa merasa kesal dan pergi meninggalkan lelaki itu dengan rasa gelisah. Apa yang harus dia lakukan untuk menyelamatkan masa depannya? Pertanyaan itu selalu membubung tinggi dalam benaknya.
###
"Papa... " teriak Hanum langsung memeluk papanya saat Hans membuka pintu rumahnya. Arkha yang di belakang Hanum pun hanya menggeleng sambil tersenyum. Istri bar barnya ternyata anak manja dalam keluarganya.
Hanum sengaja mengajak Arkha datang ke rumah Mama Zoya setelah pulang kuliah.
"Kalian sudah makan? Ayo makan dulu!" ajak Zoya setelah mendekati anak dan menantunya.
"Iya, Ma. Hanum lapar sekali." jawab Hanum, kemudian mereka mengikuti Zoya ke ruang makan.
"Mama, Hanum kangen Mama." Hanum memeluk mamanya yang sedang menyiapkan piring dan makanan, Sedangkan Zoya menghentikan gerakannya dan mengelus kepala putrinya.
"Kamu ini sudah ada suami masih gelendotan sama Mama." ujar Zoya kemudian menatap Arkha.
" Iya kapan kamu ngasih cucu untuk Papa?" Hans menimpali membuat wajah Hanum memerah. Kemudian dia melihat Arkha yang masih terdiam.
"Sudah ayo makan dulu!" titah Zoya membuat semuanya terus duduk di meja makan meskipun yang sedang makan hanya Hanum dan Arkha..
__ADS_1
" Pa katanya Kak Ale hamil ya? Tapi, dia ada masalah dengan Mas Shakti hingga harus membuat Kak Ale memilih tinggal di rumah Oma? tanya Hanum membuat Hans menelan salivanya dengan kasar.
Lelaki yang masih ganteng dan berumur itu pun menatap ke arah Zoya yang sudah menatapnya tajam. Dia tidak tahu lagi apa yang dilakukan Zoya karena menyembunyikan masalah sebesar ini darinya.