Rindu Alexa

Rindu Alexa
Terjebak Situasi


__ADS_3

Arka masih merasa heran, meskipun kali ini dia melihat Hanum bergerak dengan luwes di dapur.


"Kenapa melihatku seperti itu? Aku bukan Alien!" Hanum kembali bicara judes. Tanpa mengalihkan pandangannya, dia terus saja mengiris sayuran, memang tidak terampil tapi potongannya terlihat rapi.


"Kamu biasa memasak?" tanya Arka masih berdiri di dekat Hanum. Dia memang tidak berkedip melihat Hanum bukan karena terpesona tapi hanya sebatas heran saja.


"Suka pedas?" tanya Hanum masih fokus memasukan sayuran dan bumbunya setelah kaldunya dagingnya jadi.


"Ng- nggaakkk." Arkha tergagap, dia begitu fokus dengan apa yang dilakukan Hanum.


"Kak Arkha duduk saja, ini sudah hampir matang." pinta Hanum mulai salah tingkah saat lelaki dewasa itu terus menatapnya tanpa berkedip.


"Baiklah." Dengan enggan Arkha menjauh, sesuai permintaan Hanum dia harus berpindah. ke meja makan.


Arka masih menatap Hanum, seperti magnet bagi penglihatannya. Gadis itu selalu terlihat lincah saat apapun, tidak hanya sedang mengamuk.


"Ayo Kak Arkha sarapan dulu, supnya sudah matang." ucap Hanum dengan meletakkan semangkuk sup merah yang baru dibuatnya.


Arka malah menatapnya, saat Hanum menata piring di depannya. Dia seperti bukan gadis bar bar yang sempat muncul depan apartemennya.


Arkha hanya terdiam, dia tidak lagi bisa berkomentar ketika dia memuji hasil masakan Hanum. Iya bocah yang dia sepelekan itu ternyata pandai juga memasak.


"Bagaimana kabar Mas Shakti? Aku sudah kangen dengan Kak Ale." Hanum membuka pembicaraan, Arkha hanya meliriknya masih dengan menikmati supnya.


"Mama juga sering sakit karena merindukan Kak Ale. Bahkan, seringkali Mama mengigau saat tidur." Mendengar cerita Hanum Arkha menghentikan makannya. Dia bisa melihat kesedihan di wajah gadis bar bar itu.


"Nanti kalau Mas Shakti sudah kembali kita cari lagi Kak Ale!" ucap Arkha dengan mengusap kepala Hanum. Usapan sayang layaknya Kakak kepada adiknya.


"Semua gara gara dia, coba saja dia tidak jahat sama Kak Ale. Nggak bakal seperti ini ceritanya." ucap Hanum dengan wajah kesal, merutukki ulah kakak iparnya.


"Ting... tong... ting... tong... " suara bel berbunyi membuat Arkha beranjak dari duduknya.


"Selamat pagi, Bang. Bagaimana keadaan Bang Arkha?" tanya Rania saat Arkha membuka pintu. Rania tahu Arkha sakit saat mereka bertukar pesan whatsapp.


"Ya, aku masih istirahat. Silahkan, masuk!"

__ADS_1


Arkha pun membawa Rania langsung ke meja makan. Kedua perempuan itu pun terlihat kikuk saat beradu pandang. Kedua gadis itu tidak menyangka bertemu di tempat yang sama. Hanum juga tahu Rania seorang aktifis yang cukup kritis di kampusnya. Dan Rania juga mengenal Hanum karena wajahnya yang dikenal cantik dan karakternya yang unik. Hanum memang cantik tapi sifat bar-barnya itu membuat mahasiswa lain sulit untuk mendekatinya.


"Kenalkan, ini Rania." ucap Arkha berusaha memperkenalkan Rania.


"Sudah tahu!" jawaban ketus itu membuat Rania tahu jika gadis di depannya tidak menyukai kehadirannya.


"Bang aku buatkan soto. Abang kan suka soto, Kan?" Rania membuka sebuah kotak berisi soto lamongan.


"Wah aromanya sepertinya segar, Ran." puji Arkha.


Kalimat Arkha membuat hati Hanum mencelos. Dia merasa tidak dihargai kala dia memuji masakan yang baru dibawa gadis yang terlihat lebih feminim itu.


"Biasanya Abang yang mentraktirku makan soto. Sekarang ganti aku yang masakin Abang." sambutan Rani membuat Hanum membenarkan posisi tasnya.


"Aku pulang dulu, Kak." kalimat Hanum membuat Arkha menatap gadis yang sudah berdiri itu dengan penuh tanya.


"Permisi." Belum sempat memberikan reaksi Hanum sudah berjalan meninggalkan meja makan.


"Num, pulangnya nanti saja biar Kak Arkha yang anterin." ucap Arkha dengan mengejar Hanum yang sudah berada di depan pintu.


"Tidak usah. Aku bisa pulang sendiri." jawab gadis itu tanpa menoleh ke arah lelaki yang berusaha membujuknya.


"Aku bilang tidak usah." ketus Hanum kemudian pergi meninggalkan apartemen Arkha dengan tergesa-gesa.


Gadis itu berjalan dengan rasa yang mengganjal. Entah kenapa dia merasa kesal. saat kakak angkatannya berada di apartemen Arkha.


Hanum kembali menoleh ke arah pintu apartemen yang sudah tertutup kembali itu sebelum memasuki lift. Tangannya menekan sebelah dadanya yang kini merasa nyeri.


"Sudahlah Hanum... peduli amat!" gumam Hanum dengan memencet tombol enter. Gadis itu berusaha menormalkan perasaanmu.


###


Curah hujan di daerah hutan memang lebih tinggi. Shakti menghentikan motornya ketika dia mendapati sebuah gubuk kecil dikala gerimis mulai berjatuhan.


"Kita istirahat dulu, Ay!" ucap Shakti membuat alexa pun turun dari motor. Lelaki itu menggandeng lengan kecil istrinya untuk berteduh dan meletakkan rangsel hitam itu di dekatnya.

__ADS_1


"Kepalaku pusing mengenakan helm." keluh Alexa


Shakti membuka helm yang ada di kepala istrinya. Wajah Alexa terlihat sedikit pucat, tapi lelaki itu sedikit maklum. Istrinya memang tidak terbiasa menggunakan helm.


"Kamu duduk dulu, Ay!" pinta Shakti.


Alexa pun menuruti apa kata suaminya.


"Kamu mau makan, Ay? Tadi Mbak Laras membawakan bekal."


"Aku minum teh hangat saja!" Shakti mengeluarkan termos kecil berisi teh hangat, Laras memang begitu perhatian dia membawakan apa yang sekiranya nanti dibutuhkan dalam perjalanan.


Alexa terhenyak kaget sebelum sempat meminum tehnya. Dia melihat Shakti berjongkok untuk membenarkan tali sepatunya. Ada rasa sungkan saat suaminya berjongkok di bawahnya.


"Kamu minum saja!" sambung Shakti sambil mendongak, kemudian melanjutkan kembali membenarkan tali sepatu istrinya. Dia tahu ini sangat melelahkan bagi wanita yang tidak menyukai travelling.


Gerimis berganti hujan lebat, bahkan kilatan cahaya petir pun seolah saling bersahutan, membuat Alexa terlihat khawatir. Entah kapan redanya jika harus menunggunya.


Melihat Alexa terlihat cemas membuat Shakti berdiri mendekat. Lelaki itu merangkul bahu kecil itu.


"Kapan kita sampainya, Mas. Jika hujannya lama." ujar Alexa dengan mendongakkan kepala menatap wajah lelaki yang kini mendekapnya dengan satu lengan kokohnya.


"Kita nikmati saja!" jawab Shakti, Alexa hanya takut saat mendengar suara petir dan gelap. Shakti memeluk tubuh kecil Alexa hingga membuat istrinya kembali tenang.


Entah sekian lama, Shakti melihat perputaran waktu di pergelangan tangannya. Saat hujan hampir mereda dia memutuskan untuk melanjutkan perjalanan.


Alexa memeluk tubuh di depannya untuk berpegangan dan menghilangkan hawa dingin. Dia merasakan atmosfer yang begitu dingin hingga menembus ke dalam jaket.


Saat di jalan yang sedikit lurus dan halus, Shakti menggenggam jari jari dingin yang bertaut di depan perutnya.


"Sebentar lagi kita sampai, Ay!" Lelaki itu begitu bersemangat saat mulai melajukan motornya di jalan beraspal.


Suasana sudah berganti membuat Alexa pun sedikit tersenyum di antara rasa lelah yang memulai menghampiri semua otot ototnya.


Hanya butuh setengah jam, Shakti kemudian membelokkan motornya menuju Villanya. Bangunan yang cukup megah dengan nilai arsitektur yang begitu unik membuat Alexa terkesima menatapnya.

__ADS_1


Saat turun dari motor, keduanya terlihat begitu dekat, membuat sepasang mata menatapnya penuh selidik. Bahkan, Shakti sempat mencium kedua pipi istrinya yang terasa dingin.


Dari balkon villa, saat gadis itu menata beberapa pot yang baru diisi dengan bunga bunga baru, Dinda menatap adegan itu dengan tidak senang. Lelaki yang dia kagumi hanya pergi seminggu tapi kembali dengan membawa seorang perempuan cantik, bahkan Dinda bisa melihat betapa lelaki yang dia damba itu terlihat memuja wanita yang kini dibawa masuk ke dalam.


__ADS_2