Rindu Alexa

Rindu Alexa
Pertemuan


__ADS_3

"Gam..." panggil Laras dengan berusaha menarik pelan tubuh yang kini memeluk kakinya. Laras juga sudah mengusap air matanya, wajahnya terlihat kembali tegar seperti biasanya. Meskipun, hatinya sudah luluh lantak sejak empat tahun yang lalu.


"Ras, apa kabarmu?" tanya Agam dengan tatapan begitu dalam seolah ingin mengulik semua rasa yang sudah tersimpan rapat. Ada rindu, ada rasa kecewa dan rasa penyesalan. Bahkan, debaran hatinya masih sama saat dia menatap mata wanita cantik yang selalu dia damba.


"Baik, Gam. Kamu, ada apa hingga sampai di sini?" tanya Laras berusaha sebiasa mungkin, hanya dia yang tau jika hatinya begitu bergejolak menatap wajah yang selalu dia damba. Tidak ada yang banyak berubah dari sosok di depannya hanya saja tubuhnya terlihat sedikit kurus.


"Ada apa?" tanya Agam dengan berdecih pelan. Agam tidak pernah menyangka pertanyaan itu terlontar dari orang yang sudah menggenggam rindu hingga bertahun-tahun.


Laras hanya menatap lelaki yang memalingkan wajahnya penuh kecewa. Wanita itu dengan sekuat tenaga ingin menyampaikan semua rasa yang tidak pernah berubah dari dulu hingga sekarang.


"Bagaimana kabar anak kita, Ras?" tanya Agam, dia tidak melihat anak kecil yang berkeliaran di dekat wanita yang menyisakan rasa yang sulit untuk dia tafsirkan.


Mendengar kalimat itu, Laras memundurkan langkahnya. Bagaimana Agam tahu jika dia punya seorang putra? Laras menatap Agam dengan rasa ketakutan. Kali ini, Laras tidak bisa lagi menyembunyikan kegelisahannya, dia tidak ingin lelaki di depannya mengambil satu satunya kekuatan yang bisa membuat dirinya bertahan hidup hingga saat ini.


"Ras, aku tahu jika kamu mengandung anakku. Di mana dia?" tanya Agam dengan tatapan menuntut.


"Jangan, Gam!"


"Jangan, ambil dia." kali ini laras tidak bisa mengendalikan perasaannya. Wanita itu terus saja memundurkan langkahnya.


"Hanya dia yang aku punya! Aku mohon, Gam." Dengan melipat kedua tangannya di depan dada, Laras terus saja menangis. Ketakutan semakin tidak bisa dikendalikan olehnya.


Agam menatap heran Laras, wanita itu menangis sejadi jadinya, tubuhnya juga terlihat gemetaran, "Ras... tenang, Ras!" Agam memegang dan menggoyangkan bahu wanita yang sudah menangis tergugu di depannya.


"Aku mohon, biarkanlah kami hidup berdua. Jangan bawa Dewa, Gam!" Laras terus menangis, dia tidak bisa membayangkan jika harus berpisah dengan putranya.

__ADS_1


Agam masih berusaha menenangkan Laras yang sudah tidak bisa mengendalikan perasaannya, hingga mereka tidak menyadari sebuah motor masuk ke dalam halaman rumah.


"Mas, ini mobil Dokter Agam." ucap Alexa masih duduk di atas motor.


Dengan menurunkan Dewa dari motor, Shakti menggeretakkan rahangnya. Dia tidak menyangka jika Dokter itu akan menyusul istrinya sampai di sini.


Shakti dan Alexa masih memperhatikan Pajero Sport milik Agam. Sementara Dewa yang sudah melihat seseorang bersama ibunya pun langsung berlari mendekati Laras.


Tapi langkah bocah itu langsung berhenti, saat melihat ibunya menangis. Ini pertama kalinya bocah itu melihat ibunya menangis dengan histeris.


"Ibuuuu... " Dewa memeluk ibunya membuat Agam terhenyak kaget.


Ibu. Agam yakin anak laki laki itu dengan jelas memanggil Laras dengan kata ibu. Itu artinya anak yang kini hanya berjarak beberapa senti dari dia berdiri itu adalah putranya.


"Pergi!" Dewa mendorong tubuh Agam. Tapi, Agam masih tidak bergeming. Dengan mata berair, dia masih menatap tidak percaya jika dia punya putra sebesar ini. Matanya, hidungnya, dan semua detail di wajah bocah itu begitu mirip dengannya.


"Jangan sakiti, Ibuk." bentak Dewa dengan kembali mendorong tubuh tinggi yang masih menatapnya begitu dalam. Ada rasa yang caruk maruk dalam hati lelaki yang saat ini berlutut dengan menekuk kakinya di depan Dewa. Ada perasaan yang tidak biasa, kala menatap bocah di depannya. Rasa sayang yang pertama kali dia rasakan.


Shakti menahan lengan istrinya saat menyadari Alexa akan menghampiri mereka yang sedang berhujan air mata. Lelaki yang kini merangkul istrinya belum faham apa yang sedang terjadi. Sedangkan, Alexa juga hanya menatap bingung suaminya yang terus memperhatikan adegan itu. Mereka mulai memahami apa yang sebenarnya terjadi.


"Putraku!" Agam memeluk bocah itu dengan begitu erat. Dewa yang awalnya menatap Agam dengan tatapan marah itu pun terdiam dalam pelukan lelaki yang masih asing baginya.


"Ini Papa, Nak!" bisik Agam di telinga Dewa hingga membuat bocah itu berlahan membalas pelukan sosok yang sudah dia rindukan.


"Dewa...!" Laras menarik tubuh Dewa. Tangannya kini membawa tubuh Dewa untuk menjauh, membuat Agam mendongak menatap Laras yang menangis dan terlihat cemas.

__ADS_1


"Aku mohon jangan ambil putraku, Gam!" lirih Laras dengan tatapan memohon. Agam pun berdiri, dia tidak tahu apa maksud perkataan Laras. Dia masih menatap lekat wanita yang masih sesunggukan karena tangisnya.


"Putra kita, Ras. Aku akan mengambilnya tapi tidak dengan memisahkanmu dengan putra kita."


"Kita akan bersama, kita bertiga tidak akan berpisah lagi." Kalimat Agam membuat Laras terhenyak kaget. Ada sebuah harapan yang sempat dia kubur untuk itu. Wanita itu menatap lelaki di depannya penuh dengan selidik.


"Bu Dita?" tanya Laras. Dia tau jika Bu Dita tidak akan pernah setuju dengan hubungan mereka. Bahkan, mungkin beliau tidak bisa menerima kehadiran Dewa, yang dari awal memang diminta untuk menggugurkannya.


"Ini tentang hidup kita, Ras. Biarkan aku menebus kesalahanku pada kalian. Terlebih lagi Dewa." ucap Agam. Lelaki itu mengangkat tubuh Dewa dalam gendongannya dan membawa Laras untuk duduk pada sebuah kursi panjang.


"Kita akan menikah, Ras. Kita akan memulainya bersama." Kalimat Agam seperti membasahi rongga hatinya yang sudah lama mengering. Iya, wanita itu menemukan kembali semua harapan yang sudah lama menghilang.


"Buk, ini Bapak Dewa?" suara Dewa membuat Laras tersadar.


"Iya sayang, ini Bapak Dewa." jawab Laras dengan tersenyum meski matanya masih terlihat sembab. Kejadian hari ini memang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya.


"Bapak... " Dewa yang ada sudah ada di pangkuan Agam pun memeluk erat lelaki itu. Ada sebuah rindu yang ingin dia sampaikan pada sosok yang sudah inginkan kehadirannya.


Sejenak, Dewa melepaskan pelukannya menatap lekat wajah tampan yang mirip dengannya. Bocah itu seolah ingin menghafal detail wajah lelaki yang disebutnya Bapak. Melihat, putranya tersenyum padanya Agam pun mencium puncak kepala putranya menyalurkan rasa sayang yang begitu dalam.


Di balik dinding kayu, Bu Seno mengusap air matanya. Ada rasa lega saat Dewa, cucu kesayangannya itu bisa bertemu bapaknya meskipun suatu saat mereka harus berpisah. Tapi wanita itu akan tenang melepas dua orang yang selama ini menemaninya itu dengan rasa lega. Bu Seno bisa melihat betapa Agam menginginkan Laras dan Dewa, apalagi lelaki itu adalah seorang Dokter. Setidaknya bisa memberikan kehidupan yang jauh lebih bagus untuk mereka.


"Ada yang patah hati ini, yang ditunggu lamarannya malah udah punya anak!" goda Shakti membuat Alexa mencubit kecil perut suaminya hingga mengaduh, " sakit, Ay." keluh Shakti berpura pura kesakitan.


"Kalau kamu menikah dengannya sama juga menikah dengan duda hahaha!" Kali ini Alexa tidak hanya mencubit suaminya sekali, wanita yang sudah dibuat gemas dengan mulut usil suaminya pun menghujani Shakti dengan cubitan hingga membuat Shakti memekik geli sambil berlonjak tak karuan.

__ADS_1


__ADS_2