
Setelah dari kamar Alexa, Zoya langsung mencari Hans di kamarnya untuk bersiap. Sejak anak anak mereka dewasa Hans malah semakin menggantungkan Zoya. Hanya untuk menungguinya berbenah sebelum berangkat ke kantor.
"Zoy, bagaimana Ale?" tanya Hans saat Zoya berjalan mendekat.
"Apanya yang bagaimana, Mas?" Zoya masih belum mengerti maksud pertanyaan suaminya. Sambil menyerahkan jam tangan pada Hans, Zoya menatap Hans penuh tanya.
"Iya, apa dia sudah melupakan, Shakti? Apa dia akan memilih Dokter Agam?" tanya Hans seperti tidak sabar ingin mendengar jawaban dari istrinya.
"Ya Allah, berikan Kak Ale waktu untuk meyakinkan perasaannya. Dia butuh ruang untuk dirinya sendiri, Mas." jawab Zoya dengan mendongakkan wajah menatap netra lelaki ganteng dengan rambut yang mulai beruban.
"Seandainya kamu tahu perasaan seorang Papa, Zoy." lirih Hans, biar bagaimanapun dia sangat mencemaskan Alexa.
Meskipun kebanyakan pria bukan suami yang yang baik tapi mereka akan berusaha menjadi Papa yang terbaik buat putrinya.
"Aku mengerti, tapi Mas Hans juga harus mengerti perasaannya Kak Ale. Perasaan itu bukan sesuatu yang dirumuskan lo, Mas." Zoya memeluk tubuh tinggi di depannya. Dia akan selalu berusaha menenangkan suaminya dengan caranya sendiri.
"Tidak salah kamu kuliah Psikologi, kamu pinter banget memahami situasi seseorang. Ayo kita sarapan!" ajak Hans dengan merangkul istrinya ke luar kamar.
Dari kejauhan Aleks terlihat berjalan mondar mandir seperti orang kebingungan, membuat Hans dan Zoya kemudian bertukar pandang.
"Ada apa, Kak? Sepertinya sedang memikirkan sesuatu." tanya Zoya saat berhenti di dekat putranya, sedangkan Hans berlalu menuju meja makan.
"Nggak, Ma. Menunggu Hanum turun." jawab Aleks.
"Ya Allah... Kak, kenapa tidak di datangi ke kamarnya saja." saran Zoya yang merasa aneh saja satu rumah masih bingung untuk bertemu. Padahal bagi Aleks bukan masalah Hanum yang dia bingungkan.
"Nggak, Ma. Nggak jadi, Nggak penting!"
"Eh, apapun tentang Hanum pasti itu sesuatu yang penting." Keturunan Hans sejati itu pun menyela kalimat kakaknya. Zoya pun meninggalkan Aleks saat melihat Hanum yang sudah berjalan menghampiri Aleks.
"Ada apa? Aku tidak punya banyak waktu,Kak." tanya Hanum dengan ketus. Dia bersikap seperti itu karena membalas sikap Aleks yang biasanya sangat dingin dan cuek padanya.
"Hmm... Kirey sudah sembuh?" tanya Aleks dengan ragu.
"Cie, Ada yang kangen, ni." Bukanya menjawab, Hanum malah meledek kakaknya. Dan itu membuat Aleks mendengus kesal.
"Ditanyain Dito, katanya mau pinjam buku." Kalimat Aleks terdengar kesal.
"Iya percaya. Tapi Kirey sekarang ada di Jerman, di tempat grandmanya."
"Apa? Berapa lama?" tanya Aleks seolah kaget mendengarnya.
"Ihhh.... mana aku tahu. Mungkin selamanya... " jawab Hanum sambil melenggang dengan cuek menyusul papanya yang sudah duduk di meja makan. Gadis itu mulai sedikit curiga, tidak pernah Aleks terlihat secemas itu jika tentang Kirey atau gadis manapun. Prioritasnya adalah kuliah dan membangun usaha sendiri.
###
__ADS_1
Alexa berjalan bersama Nindy. Baru saja mereka membahas tentang acara wisuda dan sumpah dokter yang akan dilakukannya sabtu depan.
"Habis acara kita foto rame rame ya! Jangan pulang dulu, Lexa!" Pinta Nindy yang sudah merencakan foto untuk kenang kenangan.
"Iya-ya. Jangan khawatir!" Alexa meyakinkan Nindy. Senyum merekah pun terlihat di wajah cantik dengan pipi gembul yang jadi khasnya sejak kecil.
"Hae... Kalian sudah mau balik?" suara Agam membuat keduanya menoleh dan menghentikan langkahnya saat berada di halaman parkir.
"Iya, Dok." jawab Alexa dengan kembali melempar senyum manisnya pada lelaki yang tersenyum bahagia.
"Weekend ada acara, Lexa?"
"Sepertinya tidak, Dok. Kenapa?"
"Aku boleh datang ke rumah?" lanjut Agam terlihat lebih sumringah saat merasa mendapat lampu hijau dari Alexa. Bahkan, tatapannya kini menuntut untuk segera mendapat jawaban 'iya'.
"Silahkan, Dok." jawab Alexa.
"Loh, ceritanya ngapelin, Dok?" goda Nindy yang mulai mencium gelagat gencar pedekate Dokter Agam dengan Alexa.
"Boleh disebut itu asal yang bersangkutan tidak keberatan." sahut Agam dengan melirik Alexa. Sementara Alexa hanya tersenyum tipis menanggapi.
Mereka mengakhiri pembicaraan di parkiran saat Dokter Agam memilih masuk ke dalam. Sedangkan Nindy sudah dijemput adiknya.
Gadis yang menyalakan audio mobil itu pun menikmati beberapa musik dengan tatapan fokus pada jalan yang ada di depannya.
Suasana sore yang cerah, tapi hembusan angin yang menerbangkan debu dan daun kering membuat suasana terkesan lebih sendu.
Kerak telur.
Alexa teringat makanan kerak telur dengan suasana yang sama. Dia pun bergegas memutar arah mobilnya pada jalan yang terlihat semakin lenggang. Jalan menuju pinggiran kota.
Dia yakin jika dia tidak akan bertemu ditempat itu dengan lelaki yang selama ini dia hindari. Meskipun, tempat itu mengukir kisah diantara mereka.
"Aku yakin dia tidak akan lagi mengingat tempat itu." pikir Alexa. Dia merasa hanya dia yang membawa rasa yang begitu dalam pada hubungan diantara keduanya.
Dengan santai, Alexa melajukan mobilnya hingga kini memasuki kawasan yang dia tujuan. Dia mulai memperhatikan gang yang ada sebuah tanah lapang. Seketika pula dia memarkirkan mobilnya kala melihat penjual kerak telur berdiri dengan sepedanya di bawah pohon yang ada di dekat tanah lapang itu.
Senyum gadis itu terlihat begitu manis menghias wajah cantiknya. Dia berjalan menghampiri penjual kerak terus tersebut. Dia seperti tidak tahan ingin segera menikmati jajanan masa kecilnya itu dengan suasana sore yang cukup indah.
"Masih, Pak?" tanya Alexa saat sudah berdiri di dekat penjual itu.
"Aku sudah memborongnya." Suara bariton itu membuat Alexa dan penjual itu menoleh. Dengan kedua tangannya masuk ke dalam saku celana, Shakti berjalan mendekati mereka.
"Loh, tidak bisa begitu, Mas. Aku lebih duluan datang ke sini." protes Alexa tidak terima. Sekesal apapun dia, gadis itu tidak selalu memberikan Shakti panggilan yang sopan. Tutur katanya pun masih terdekat lembut.
__ADS_1
"Aku akan memborong semuanya, lima juta. Bagaimana, Pak?" Shakti tidak mempedulikan protes Alexa, tatapannya kini hanya tertuju pada penjual itu.
"Saya datang ke sini dulu, Pak." timpal Alexa.
"Lima juta!" lanjut Shakti penuh penekanan, dia juga melirik sinis Alexa. Pedagang itu nampak ragu.
"Jika mau menjual padanya saya batalkan tawaran saya." desak Shakti saat melihat tatapan mengiba lelaki tua itu pada Alexa.
"Maaf, Neng. Kita belum melakukan ijab Qobul jual beli. Jadi, saya akan menjual dagangan ini pada Mas ganteng ini saja." jelas penjual itu ngalor ngidul karena merasa tidak enak dengan Alexa yang datang lebih dulu.
"Tidak apa, Pak." Meski dengan rasa kecewa Alexa mengerti, dia belum melakukan jual beli pada penjual itu. Jadi, bapak tua itu berhak menjual dagangannya pada siapa pun.
Alexa kembali berjalan menuju mobilnya dengan wajah muram, dia tidak akan memohon ataupun merengek pada pembeli yang arogan itu.
"Buatkan aku dua porsi. Sisanya bagikan pada anak yang sekolah di masjid sana." ujar Shakti dengan menunjuk masjid yang tidak jauh dari tanah lapang itu.
Sambil menunggu pesanannya jadi, Shakti bermaksud mengambil uang yang ada di mobil. Dia pun berjalan di belakang Alexa menuju mobil mereka terparkir tidak terlalu jauh.
Sambil terus berjalan mengekor, Shakti memperhatikan gadis mungil yang tidak akan dia biarkan menjadi milik orang lain itu.
"Ay...!" pekik Shakti dengan terhenyak kaget saat melihat sebuah mobil melaju dengan kecepatan yang penuh ke arah Alexa.
Dengan sigap, dan rasa khawatir yang begitu hebat, Shakti berlari dan menarik tubuh mungil itu untuk menghindari mobil yang hampir saja menyerempetnya.
Detak jantung keduanya memburu. Shakti yang hampir saja kehilangan detak jantungnya itu masih memeluk tubuh mungil itu. Bahkan, wajah Alexa yang menempel pada dada bidang milik Shakti itu pun merasakan detak jantung yang memburu.
Keduanya masih mematung untuk sejenak, entah karena melepas kepanikan sebelumnya atau juga melepas rasa rindu selama ini.
"Lepaskan!" Alexa berusaha mendorong tubuh tinggi itu dengan sisa sisa tenaganya. Rasa kaget membuat tubuh Alexa menjadi lemas. Begitupun dengan Shakti.
"Tadi, kamu yang memelukku, Ay!" elak Shakti yang begitu enggan melepaskan tubuh mungil gadis yang dia rindukan meski dia tahu tangan Alexa mendorongnya.
"Lepas!" Alexa memang tidak punya jawaban lain selain kata itu. Saat Shakti menariknya dengan kuat spontan dia memeluk tubuh atletis lelaki itu. Berlahan Shakti mengurai pelukannya saat melihat wajah marah Alexa.
"Kamu hutang nyawa padaku, Ay. Dan sudah seharusnya kamu membayar semuanya dengan cara menikah denganku." ucap Shakti dengan tersenyum licik.
Alexa tidak ingin bicara lagi , dia pun berlari menuju mobilnya tentu dengan lebih hati hati setelah kejadian yang mengerikan itu.
"Ay, kerak telurmu sudah jadi." panggil Shakti saat Alexa membuka pintu mobil. Alexa hanya melihatnya sejenak, dia sudah tidak ingin menjawabnya lagi dan kemudian bergegas masuk ke dalam mobil.
Alexa terdiam sejenak, dia mengatur semua perasaannya sebelum menghidupkan mobilnya.
Sementara Shakti terus menatap mobil Yaris yang terus menjauh. Bukan lagi tentang sikap Alexa yang membuatnya bingung. Tapi, mobil yang melaju begitu kencang hingga akan menyerempet gadis kesayangannya itu. Dia merasa kejadian tadi seperti sebuah rekayasa.
Bersambung....
__ADS_1