
Shakti keluar dari mobil, berharap tidak ada yang mengenali dirinya. "Bisa bertemu dengan Pak Hans Satria Jagad?" tanya Shakti dengan membawa sesuatu yang akan dia tunjukkan pada Hans.
"Baru saja Bapak keluar lagi, Mas. Ibu Zoya sedang dirawat di rumah sakit!" jawab Pak Andi. Shakti bisa mengira jika itu pasti karena berita tentang Alexa dan dirinya.
"Alexa, baik baik saja?" tanya Shakti yang memang mencemaskan gadis itu.
"Mbak Ale masih di rumah." Pak Andi hanya bisa menjawab itu. Tentu saja, dia tidak akan cerita, jika sudah terjadi keributan di dalam rumah keluarga Hans tadi siang.
"Ibu Zoya di rawat di mana? Bapak Hans pergi ke arah mana?" Shakti mencecar security dan membuka kaca mata dan topinya. Dia tidak peduli jika suasana sudah menjadi petang. Dia tidak ingin menunda lagi untuk menjelaskan semuanya pada Hans.
"Mitra Keluarga. Mobil Bapak ke arah sana." tunjuk Pak Andi saat mengetahui yang saat ini bertanya adalah kekasih Alexa. Orang mengira, mereka memang berpacaran.
Shakti langsung berlari masuk ke dalam mobil. Dia juga melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Di sebuah jalanan yang terlihat lenggang. Dia melihat mobil Hans melaju dengan tenang. Lelaki itu membunyikan klakson hingga beberapa kali sebagai isyarat saat posisinya tepat berada di belakang mobil Mercy hitam itu.
Hans yang menyadarinya, memperlambat, bahkan menghentikan mobilnya. Dia memberi kesempatan Jaguar metalic itu untuk berhenti di depannya. Terlihat seorang lelaki bertubuh tinggi yang melihatnya saja membuat Hans kembali murka itu sedang berlari ke arahnya. Hans pun membuka pintu mobil dan berdiri untuk menyambut langkah Shakti.
"Bajingan..." pekik Hans dengan menarik kerah lelaki yang berdiri di depannya.
"Bughh.... " Hans memukul wajah Shakti hingga lelaki ganteng itu hingga terjerembab di kap depan.
"Berani sekali kamu menunjukkan wajahmu! " Hans langsung menarik tubuh Shakti dan kembali memukulnya.
"Aku hanya ingin memberikan bukti, jika Alexa tidak bersalah. Semua ini sepenuhnya salahku, Om." ucap Shakti dengan mengusap darah di sudut bibirnya. Dia kemudian mengambil laptop dan sebuah harddisk dari bangku belakang mobilnya.
Hans masih mengetatkan rahangnya, menahan emosi saat lelaki itu meletakkan laptop di atas mobilnya. Tatapannya tidak lepas dari lelaki yang saat ini menghidupkan laptopnya.
Sebuah rekaman CCTV yang ada di gedung wisuda kedokteran pun sedang menceritakan semuanya secara detail.
"Bangsat... Bajingan!" Seketika Hans kembali menghajar Shakti ketika melihat putrinya diperlakukan tidak sopan. Dia melayangkan pukulannya ke tubuh lelaki yang sesekali memekik kesakitan.
__ADS_1
Shakti tersungkur lemah di atas kap mobil, kedua sudut matanya meneteskan cairan bening. Bukan karena menangisi dirinya yang merasakan sakit dan sudah babak belur, tapi dia teringat Alexa yang menghadapi kemarahan papanya dan cibiran banyak orang karena dirinya.
Hans pun memberi jeda, dia berdiri dengan nafas terengah menahan emosi setelah menghajar lelaki yang tidak memberikan sedikit perlawanan. Shakti sengaja tidak melawan karena rasa bersalahnya, dia tahu apa yang dirasakannya tidak seberapa dengan tekanan psikis Alexa.
"Laporkan saja ke polisi jika kamu tidak terima." pekik Hans dengan menuding lelaki yang masih telentang lemah di atas mobilnya.
Dengan berkacak pinggang, Hans membalikkan tubuhnya. Hatinya terasa ngilu, mengingatkan kembali bagaimana dia memaki putrinya, menamparnya hingga terjerembab ke lantai. Hatinya begitu sakit karena dirinya sendiri.
"Ale, maafkan Papa!" gumam Hans dengan helaan nafas berat. Sudut hatinya terasa sakit karena rasa bersalah membuat kedua matanya berkaca kaca.
Lelaki yang penuh dengan kharismatik itu melempar laptop milik Shakti dan membuka pintu mobilnya untuk kembali pulang. Entah, bagaimana caranya meminta maaf, tapi dia harus bertemu putrinya untuk mengakui kesalahannya. Hatinya menyisakan sebuah penyesalan. Tidak sepantasnya gadis yang penurut itu mendapatkan perlakukan darinya dengan sangat tidak pantas.
Dengan tubuh lemahnya, wajah babak belur dan perut yang masih terasa nyeri, Shakti bangkit dari mobil Hans. Saat mobil itu di hidupkan, dia mulai berdiri dan menyingkir di pinggir mobil yang kembali melaju ke arah rumahnya.
Alexa. Hanya gadis itu yang ada di otak Shakti untuk saat ini, dia pun mulai mengejar kembali mobil Hans yang semakin menjauh dari tempat itu.
Hans menghentikan mobilnya di pinggir jalan. Dia pun langsung berlari keluar untuk segera bertemu dengan putrinya. Perlakuan buruknya pada Alexa menyisakan rasa bersalah yang begitu dalam.
"Alexa... " panggil Hans saat membuka pintu utama. Rumah masih terlihat tenang. Dia langsung berlari menaiki anak tangga menuju kamar putrinya. Dadanya berdetak lebih kencang saat membayangkan dirinya menatap wajah tanpa dosa itu.
Beberapa kali dia mengetuk pintu kamar Alexa. Bahkan, beberapa kali dia memanggil putrinya tapi tidak ada jawaban hingga Hans memutuskan membuka pintu kamar bernuansa pink dengan sebagian dinding wallpaper bermotif floral.
Sementara, Shakti terus saja membuntut di belakang Hans. Dia tidak peduli jika harus dihajarnya kembali. Dia hanya ingin memastikan Alexa baik-baik saja.
"Ale... " panggil Hans saat masuk ke dalam kamar. Saat tidak melihat siapa pun Hans berjalan mendekati kamar mandi.
"Om... " panggil Shakti yang menemukan amplop bertulis 'Dear Papa' di atas bantal. Hans bergegas menyambarnya. Saat melihat amplop itu, Dia berharap pikiran buruknya tidak akan terjadi.
Dear Papa
Assalamu'alaikum Pa
__ADS_1
Dengan segala rasa hormat Ale, Ale hanya ingin meminta maaf atas semua yang sudah terjadi. Maafkan Ale yang sudah membuat malu keluarga. Maafkan Ale yang sudah mengecewakan keluarga terutama Papa.
Pa...
Hal yang paling Ale sesali, Ale belum bisa menjadi kebanggaan Papa. Tapi, percayalah Pa, jika Ale sangat menyayangi Papa dan Mama. Ale sudah berusaha untuk menjadi putri kebanggaan Papa, meskipun justru Ale-lah yang mempermalukan Papa dan keluarga.
Pa...
Sekali lagi Ale minta maaf, Pa. Karena Ale pengecut, sungguh itu diluar didikan Papa jika Ale tidak bisa bertanggung jawab dan menghadapi semuanya. Terima kasih untuk semua cinta dan kasih sayang dari Mama dan Papa. Tapi, percayalah Ale juga sangat menyayangi Papa dan Mama.
Papa tetap cinta pertama Ale. Apapun situasinya, apapun keadaannya, Papa tetap cinta pertama Ale. Siapa pun itu, tidak akan bisa menggantikan Papa dalam hidup Ale.
Tolong sa**mpaikan ke Mama, jika Ale sudah dewasa bisa jaga diri sendiri. Ale hanya minta doa Papa dan Mama untuk menjalani kehidupan Ale.
I love you, Pa, Ma.
Alexa
( Putrimu yang akan selalu mencintai dan merindukanmu)
"Ale... " Hans tidak lagi bisa menahan tangisnya saat menutup lembar kertas itu. Ini seperti tidak nyata, jika putrinya pergi dari kehidupannya. Lintasan masa kecil Alexa kembali membayang, Ale yang tertawa ceria, Ale yang merengek meminta susu, bahkan dia yang susah berhenti makan saat itu.
"Papa-Papa, jangan lupa martabak, ya!" pesan yang selalu di ucapkan putrinya saat dia akan pulang kerja.
Hans tidak pernah menyangka ini semua akan terjadi, dia tidak pernah berfikir jika putrinya akan meninggalkannya. Dengan mata berair, Hans mengedarkan pandangan, Hans meneliti setiap kamar yang di tinggalkan putrinya. Masih rapi dan utuh. Dimana putrinya akan tinggal? Pertanyaan itu yang kini membayang dalam pikirannya.
Setelah membaca surat dari Alexa untuk papanya, Shakti langsung keluar dan berusaha mencari tahu kemana Alexa pergi. Dengan wajah panik dia menuruni tangga dan keluar menghampiri security.
"Alexa bilang pergi kemana?" tanya Shakti saat menemui security.
"Katanya mau jenguk Ibu di rumah sakit. Tapi, menggunakan taxi, tidak pakai mobil sendiri." mendengar penjelasan security, Shakti langsung lari ke arah mobilnya. Kali ini dia akan ke rumah sakit. Dia tidak yakin Alexa ke sana, tapi dia harus memastikan terlebih dahulu karena dia mempunyai firasat yang sangat buruk.
__ADS_1