Rindu Alexa

Rindu Alexa
Pencarian


__ADS_3

Shakti benar benar dibuat kalang kabut dengan keberadaan istrinya. Dia sangat takut Alexa pergi ke tempat yang jauh seperti dulu, jika kemarin dia menemukan Alexa itu adalah sebuah kebetulan. Tapi saat ini? Dia tidak punya harapan untuk apa pun.


"Drt... drt... drt... " Shakti mengangkat panggilan dari Bimo.


"Ada apa Mas Bimo?" tanya Shakti tidak bersemangat.


"Ini ada Pak Ringgo dan konsultan dari proyek resort." jelas Mas Bimo.


"Baiklah, sepuluh menit lagi aku akan sampai di kantor." Shakti memutar mobilnya menuju kantor. Dia akan mencari kembali Alexa setelah urusannya dengan Ringgo selesai.


Dengan langkah seribu dan wajah yang masih menegang, Shakti melewati beberapa karyawan yang diam diam memperhatikannya.


"Selamat siang, Pak Shakti. Pak Ringgo sudah menunggu di dalam ruangan anda." ucap Mas Bimo menyambut kedatangan Shakti. Lelaki itu tidak kalah heran dengan penampilan bosnya yang tidak biasa. Bahkan, saat ini Bimo menahan senyum tipisnya.


"Selamat siang, Pak." mendengar sambutan dari tamunya Shakti pun berjalan mendekati ketiga orang yang sudah duduk di sofa.


Ringgo yang melihat Shakti dari jarak dekat itu pun mengerutkan dahi, kemudian lirikannya tertuju pada dua orang yang datang bersamanya. Mereka masih menyembunyikan senyum, apalagi saat Shakti langsung bicara pada topik pembahasan mereka.


Meeting singkat pun akhirnya berakhir. Shakti memang tidak ingin berbasa basi lagi karena dia akan mencari kembali Alexa. Dua konsultan itu pun akhirnya keluar dari ruangan orang nomer satu di kantor itu. Tapi, Ringgo bukannya pergi tapi malah menarik Shakti untuk


masuk ke dalam toilet.


"Ada apa sih? Aku masih ada urusan." protes Shakti.


"Lo udah ngaca belum? Lo mau pamer jika habis bercinta?" sergah Ringgo yang merasa temannya itu sangat kelewatan. Ringgo pun menyeret Shakti ke depan kaca toilet yang ada di ruangannya.


"Ya ampun, apa yang Alexa pikirkan?" erangnya dengan mengepalkan kedua tangan setelah melihat noda lipstik yang terlihat jelas dan kismark yang begitu ketara di leher putihnya.


"Maksudnya, Lo...?" cecar Ringgo tak habis pikir dengan hubungan keduanya.


"Berarti Alexa melihat keadaanku seperti ini. Sial...! Pyarrr.... " Shakti meninju kaca di depannya membuat Ringgo menatapnya tajam. Ringgo sangat penasaran dengan apa yang sudah terjadi hingga membuat sahabatnya sekaligus bosnya terlihat emosi.

__ADS_1


"Ada apa, Shak?" tanya Ringgo kemudian berjalan keluar, meminta Bimo untuk membawakan kotak obat.


"Ntahlah... " Shakti semakin putus asa, dia mulai menerka jika Alexa sudah mengira yang tidak semestinya.


"Ada apa sebenarnya? Jika tidak bersama istrimu, lalu kamu bercinta dengan siapa?" tanya Ringgo masih mengobati tangan Shakti dan membalutnya dengan perban.


"Siang itu, aku datang ke apartemen Clarisa. Dia bilang, dia sedang sakit sementara temannya Septi sedang keluar kota. Jadi aku pergi ke sana untuk menemuinya." ujar Shakti.


"Lalu..." Ringgo masih mendengarkan cerita Shakti dengan seksama hingga dia


"Aku tidak punya waktu lagi. Alexa menghilang, dia sedang hamil." saat mengatakan itu rasa cemas yang hebat kembali menderanya.


Ringgo yang sejak tadi ingin menertawakannya pun terdiam setelah mendengar Alexa hamil.


"Aku akan menemanimu mencari Alexa!" tuturnya kemudian keduanya bangkit dan pergi dengan langkah tergesa.


"Tapi, kamu nggak bercinta sama Clarisa, Kan?" Ringgo ingin mendengar jawaban Shakti dengan jelas saat mereka berada di dalam lift. Meskipun dia tahu jika Shakti bukan tipe lelaki yang sembarangan melakukan ****.


"Demi Allah, aku nggak sampai melakukan itu! Jika ingin melakukannya sudah dari dulu, saat aku pacaran dengannya."


"Itu ketika aku duduk di sebelahnya tiba tiba, dia langsung memelukku kemudian duduk di pangkuanku, menciumiku dan ini bagian dari ulahnya! Sebelum aku mendorongnya hingga terjatuh." lanjut Shakti dengan kesal saat mengingat kejadian di apartemen. Dia berusaha tidak berbuat kasar tapi, dia takut akan berkelanjutan jika tidak melakukannya. Dia lelaki normal yang bisa saja terangsang dengan perlakuan seperti itu.


"Hahahha kamu diperkosa ceritanya. Hahaha. " Ringgo langsung tergelak. Untung lift terbuka hingga dia seketika membungkam tawanya.


"Biar aku yang nyetir. Kamu ganti kemeja di mobil!" Ringgo meminta kunci mobil dari Shakti.


Mereka akan mencari Alexa ke rumah sakit terlebih dahulu sebelum datang ke rumah Mama Zoya.


Setelah mobil berhenti di parkiran, Shakti pun langsung berlari ke arah ruangan Alexa. Dia berharap menemukan istrinya di sana. Tapi belum sampai ke lorong menuju ruangan istrinya, Shakti melihat Nindy teman dekat Alexa yang berjalan sendiri.


"Nin, lihat Alexa?" tanya Shakti dengan nafas memburu. Di sana Ringgo juga menghampiri kedua orang yang sedang bercakap cakap.

__ADS_1


"Alexa hari ini cuti katanya dia tidak enak badan." Bohong Nindy, padahal nanti sore dia akan menemui sahabatnya itu di klinik bersalin milik salah satu seniornya. Tapi, Alexa juga berpesan untuk merahasiakan keberadaanya pada siapapun.


"Astaga Ay, kamu di mana?" gumam Shakti dengan suara mengeram, dia juga mengusap wajahnya dengan kasar menahan rasa kecewa, bingung dan khawatir.


"Shak, sebaiknya kita mencari ke rumah mertuamu!" saran Ringgo. Dan masalah ini akan semakin pelik apalagi jika Papa mertuanya tahu semuanya.


"Baiklah!" jawab Shakti, mau tidak mau dia harus menghadapinya, dia hanya ingin segera menemukan Alexa dan calon bayinya. Kali ini dadanya sesak, sudah lama dia menginginkan penerus. Alexa dan calon bayinya adalah dua nyawa yang dia cintai, kini membuatnya cemas.


###


"Kenapa perselingkuhan itu terjadi padaku? Sungguh masih adakah lelaki yang bisa dipercaya di dunia ini?" sambil bersandar Alexa melihat keluar jendela, tatapannya menerawang meratapi hatinya yang terluka karena itu. Sungguh, dia tidak bisa menerima semuanya. Berpisah tapi bagaimana dengan bayi di dalam rahimnya. Tapi bertahan, luka itu tidak bisa terlupakan. Dan dia tidak bisa membayangkan lelaki yang dia cintai dan dia percaya bercinta dengan wanita lain. Matanya kembali mengembun, keputusan berat itu sudah menunggu pilihannya.


"Selamat sore, Lexa." sapa dokter Siska diikuti Nindy berada di belakangnya.


Alexa segera mengusap air matanya, tapi terlambat dia sembunyikan dari dua wanita yang sudah masuk di ruangannya.


"Bagaimana, kamu sudah mengubungi suami atau keluargamu?" tanya Dokter Siska, menurutnya Alexa membutuhkan seseorang yang bisa membantu memenuhi keperluannya selama dia bed rest.


"Belum, Dok." lirih Alexa.


"Biar nanti malam, saya yang menemani Lexa, Dok." sela Nindy saat melihat wajah bingung Alexa.


"Baiklah, buang pikiran yang mengganggu. Kamu butuh istirahat untuk janinmu. Jangan lupa minum vitamin dan penguat kandungannya!" saran Dokter Siska. Beliau pun keluar dari ruangan Alexa.


"Kamu, makan dulu ya! Aku bawa sup iga dan buah." ucap Nindy, dia tahu akhir akhir ini Alexa menyukai sesuatu yang berkuah.


"Nin, Terima kasih sudah merepotkanmu. Nanti malam aku bisa sendiri, kamu juga butuh istirahat." Alexa tidak ingin terlalu merepotkan sahabatnya.


"Please, Lexa. Jangan seperti itu! Aku yang sudah terlalu banyak merepotkanmu selama ini Biarkan aku sedikit membantumu." jawab Nindy. Iya, selama ini dia tinggal di kos punya Mama Zoya tanpa di pungut biaya, bahkan saat tidak punya uang Alexa selalu mentraktirnya. Sungguh, dia tidak tahu bagaimana mengucapkan terimakasih kasih pada temannya yang kini sedang terpuruk di atas bed.


"Kamu makan dulu! Kamu harus sehat dengan calon keponakanku." ucap Nindy memberikan sup iga yang sudah di taruh di mangkuk untuk Alexa.

__ADS_1


"Oh ya, tadi suamimu mencari keberadaanmu. Dia terlihat sangat bingung." jelas Nindy sambil menunggui Alexa makan.


"Biarkan saja. Aku butuh sendiri, Nin. aku ingin sehat dulu dan memikirkan apa yang harus aku lakukan." jawab Alexa. Saat ini dia hanya ingin fokus pada kehamilannya, meski sulit menyingkirkan masalah yang tengah dia hadapi.


__ADS_2