
Hans dan Rama meninggalkan Shakti yang masih duduk di depan ruangan Alexa. Lelaki itu rasanya tidak ingin beranjak pergi, tapi dia takut jika masuk ke dalam membuat emosi istrinya kembali meluap-luap.
"Selamat siang, Pak? Kenapa tidak masuk ke dalam!" sapa Dokter Siska yang akan melakukan pemeriksaan pada Alexa.
"Nanti saja, Dok!" jawab Shakti, dia begitu buruk hingga ingin dekat dengan istrinya sendiri saja sulit.
"Selamat siang, Dokter Lexa. Bagaimana keadaanmu?" tanya Dokter Siska pada Alexa.
"Lebih baik, Dok!" jawab Alexa.
"Saya terlambat datang karena ada acara pagi ini. Oh ya, kenapa suamimu tidak menemanimu di dalam?" tanya Dokter Siska sambil memeriksa denyut nadi dan denyut jantung Alexa. Seketika Alexa baru menyadari jika Shakti masih berada di depan.
"Biarkan saja, Dok." Alexa tidak mungkin menceritakan masalah yang terjadi dengan keluarganya pada Dokter Siska.
"Kita ke ruang USG dulu ya! Kita lihat akan lihat kondisi bayinya di sana. Jika sudah tidak bermasalah kamu boleh pulang nanti." jelas Dokter Siska yang kemudian ditanggapi perawat dengan membantu Alexa berpindah ke kursi roda. Mereka pun berjalan keluar ruangan.
"Dok, mau kemana?" tanya Shakti yang kemudian melirik Alexa yang melayangkan tatapan tajam ke arahnya. Alexa seolah mengatakan untuk tidak sok perhatian pada lelaki yang menunjukkan kecemasannya.
"Kita akan melakukan USG untuk memastikan kondisi kandungan Dokter Lexa. Jika Bapak ingin melihat bayinya silahkan ikut kami!" jelas Dokter Siska yang sebenarnya ingin ditolak oleh Alexa. Karena , penawaran itu membuat Shakti memberikan suaminya kesempatan untuk melihat bayinya.
"Terima kasih, Dok!" ucap Shakti.
"Aku ingin suster Dian saja yang mendorong saya, Dok!" tambah Alexa membuat Dokter Siska tersenyum. Dia sangat faham jika pasangan yang bersamanya sedang perang Dingin.
Mereka berjalan menuju ruang Dokter Siska. Jantung lelaki itu bahkan sudah jedag jedug saat akan melihat calon bayinya. Meskipun dia harus berjalan di belakang karena tatapan tajam Alexa yang seolah ingin menerkamnya. Shakti sendiri tidak pernah menyangka Alexa bisa berubah seganas itu, sedikit pun wanita itu tidak menyisakan kelembutan seperti yang biasa dia lihat pada sosok istrinya.
"Alhamdulillah, bayinya semakin sehat." Dokter Siska masih menjelaskan dengan menatap layar monitor.
Sementara Shakti sendiri begitu terkesima hingga rasanya kesadaran terenggut oleh sosok mungil yang nampak di layar monitor.
"Ayah." Batinnya bergumam begitu lirih sambil matanya berkaca- kaca beralih pada Alexa yang juga terkesima pada layar monitor.
Sungguh rasanya dia ingin memeluk istrinya, membagikan rasa bahagia yang mengalir begitu saja dari hatinya. Tapi dia tahu Alexa masih membencinya.
Perawat membawa Alexa kembali masuk ke dalam kamar, sementara Shakti baru saja menebus vitamin yang akan dibawa Alexa pulang. Iya, hari ini Alexa akan pulang.
"Ay, bagaimana kita pulang sekarang?" tanya Shakti saat perawat meninggalkan ruangan istrinya.
"Aku akan pulang bersama Papa." ucap Alexa dengan nada dingin.
__ADS_1
"Tapi, Ay! Tidak seharusnya kamu seperti itu... "
"Apa seharusnya aku jadi wanita bodoh yang selalu kamu bohongi?" sela Alexa dengan emosi yang sudah meninggi.
"Aku tidak pernah membohongimu, Ay. Kamu salah faham. Aku dengan Clarisa tidak ada hubungan apapun lagi." Shakti kembali menjelaskan, tapi dia tidak mendapatkan respon apapun kecuali decihan dan senyum sinis dari istrinya.
"Pergilah! Jangan membual lagi di depanku." Suara Alexa penuh dengan penekanan sisi keras wanita itu mulai terlihat.
"Percayalah, Ay! "
"Percaya? Aku harus percaya kamu yang sudah membawa mantanmu itu ke dalam kamarnya saat di bali. Beberapa pertemuan yang selalu kamu rahasiakan dariku. Dan terakhir aku menemukanmu keluar dari apartemen mantan tercintamu itu dengan kondisi yang menjijikan. Apa aku masih harus percaya denganmu?" Rasa yang selama ini menyesak dalam dadanya pun terlampiaskan. Meskipun itu masih dengan air mata yang terus mengalir. Alexa merasa dadanya kembali nyeri saat terlintas bayangan bayangan menjijikkan yang antara suami dan mantan kekasihnya.
"Bukan, Ay! Bukan seperti itu... "
"Pergilah... Aku muak dengan semuanya!" Shakti tidak bisa berbuat lebih untuk saat ini. Kemarahan Alexa masih pada titik yang sama. Lelaki itu pun keluar ruangan, sebelum kondisi istrinya semakin buruk. Terdengar isak tangis Alexa yang membuatnya merasa sangat bersalah. Terlihat sekali Alexa sangat terluka dengan semuanya.
Lelaki itu kembali duduk di depan ruangan. Setidaknya dia bisa mengetahui kondisi istrinya meskipun itu dari luar ruangan.
Shakti Pov
Semuanya menjadi serumit ini. Rasa kasihan dan bersalahku pada Clarisa malah menjadi bumerang untuk hidupku. Aku yakin Alexa sudah membuka ponselku dan mengetahui semuanya dari situ. Dan aku pun yang tidak berniat membohonginya pun lupa untuk mengontrol semuanya.
Aku pikir aku hanya berhubungan baik dengan mantan saja. Tapi ternyata masih menginginkan lebih dariku. Sungguh aku tidak bisa mengkhianati wanita sebaik Alexa.
####
Hanum sudah tidak peduli lagi dengan Arkha. Dia memang berwatak keras tapi dia tidak akan memaksa apapun pada orang orang. Termasuk untuk bisa mencintainya.
Masih dengan menuruni tangga, setelah jam kuliah terakhir gadis itu berjalan dengan lunglai.
"Kapan kamu ke Kedai? Kemarin juga Mbak Litta nanyain kamu terus. Katanya bulan depan ada banyak pesanan untuk acara pesta." ucap Dira. Dia juga merasa bingung jika harus menangani kedai sendirian.
"Insyallah besok aku mulai aktif lagi. Aku butuh banyak uang ke depan." ucap Hanum. Dia mulai merencanakan kembali kuliah di luar negeri. Jika saja tidak bisa mendapatkan beasiswa setidaknya dia sudah punya financial yang cukup. Meskipun dia yakin jika nantinya Mama Zoya akan membantunya. Dia tau jika Mama Zoya tidak akan tega membiarkan dirinya dalam kesulitan.
"Ampun deh, anaknya Bapak Hans dan istri general manager masih bingung soal uang?" ledek Dira. Gadis itu tidak tahu apa yang dipikirkan Hanum.
"Sudahlah, sana pergi dulu!" ucap Hanum. Dia tahu jika setelah kuliah Dira akan ke kedai. Jika dulu dia pikir hanya club malam yang bisa memberi hiburan, tapi sekarang kedai bisa menghilangkan rasa kesepiannya dan mendapatkan uang.
Dira pun tersenyum dan meninggalkan Hanum Dia tahu pasti Hanum akan dijemput oleh Arkha jika kuliah mereka selesai menjelang magrib.
__ADS_1
"Eh, Hanum. Bang Arkha sudah menunggu di bawah." sapa Rani setelah kepergian Dira. Sejak bekerja gadis itu mengambil kuliah non regular yang terjadwal dari sore sampai malam.
"Hmmm, aku sudah tahu! " jawab Hanum dengan datar. Semakin ke sini Hanum semakin tidak suka dengan gadis itu. Dia merasa Rania, sengaja memamerkan kedekatannya dengan Arkha.
"Oh ya, Bang Arkha sudah cerita semuanya. Tentang pernikahan kalian yang terpaksa." ucap Rania membuat Hanum menatap tajam gadis di depannya.
"Aku harap kamu tidak salah mengartikan. Bang Arkha, sudah mencintai gadis lain sebelum menikah denganmu." lanjut Rani membuat wajah Hanum memanas karena emosi.
"Oh ya? Dan gadis itu akan menjadi pelakor karena iming iming kata cinta? Sungguh tragis..." ejek Hanum dengan emosi tertahan. Seketika Rania mengepalkan tangannya dia tidak terima di sebut pelakor.
"Oh ya, jodoh, maut, rejeki itu ditentukan oleh Allah bukan hanya perasaan cinta yang kapan saja bisa di jungkir balikkan Sang Pencipta! Jika dia mencintaimu kenapa tidak menolak menikah denganku? Terkadang lelaki itu mulutnya bullshit." Hanum tidak bisa mengontrol emosinya, dia meracau begitu saja untuk mematikan lawannya. Baginya entah siapa yang benar atau salah itu urusan belakang. Dia hanya tidak ingin terintimidasi dengan gadis yang terlihat gencar mendekati suaminya.
Setelah melihat Rania yang sedang menahan emosi, Hanum berlalu begitu saja memasuki lift untuk turun ke bawah.
"Hanum." panggil Arkha dengan suara yang terdengar menggema di seluruh ruangan karena kampus mulai sepi.
Hanum hanya menoleh, dia seolah tidak peduli dengan panggilan Arkha. Iya hatinya masih kesal dengan kalimat Rania dan Arkha.
"Num... " Arkha mencekal lengan Hanum.
"Kamu kenapa? Aku sudah menunggumu sejak tadi." ucap Arkha setelah berhasil menahan Hanum.
"Menungguku atau menemani asistenmu?" sarkas Hanum membuat Arkha menghela nafas.
"Bukankan aku bilang aku akan menjemputmu, jadi sekalian saja mengajak bareng Rania yang akan ada jam kuliah." jelas Arkha. Dia tidak menyadari jika sudah terjadi perdebatan kecil antara istrinya dan Rania.
"Sejak kapan Kak Arkha turun jabatan dari general manager menjadi supir pribadi?" Ketus Hanum membuat Arkha menyadari mood istrinya sedang sangat buruk.
"Aku akan mencari sopir lain saja." Hanum kembali berjalan menuju ke halaman depan untuk mencari taksi. Tapi baru beberapa langkah, lelaki itu langsung menghadang istrinya dan mengangkat tubuh Hanum untuk dipanggulnya seperti karung beras.
Arkha membawa paksa Hanum untuk masuk ke dalam mobilnya. Dia tidak peduli beberapa mata melihat kekonyolannya membawa Hanum.
"Lepaskan!" Hanum terus berteriak dan meronta. Tapi tidak dipedulikan oleh Arkha. Jika sudah seperti itu gadis keras kepala itu akan susah di bujuk.
"Diamlah, Hanum." Arkha membingkai wajah cantik Hanum dan menatap mata indah dengan tajam setelah mendudukkan Hanum di bangku mobilnya.
"Aku tidak ingin dipaksa!" ketua Hanum yang masih berusaha memberontak.
"Cup... " Tapi lelaki itu langsung mencium bibir ranum itu dengan mudahnya.
__ADS_1
"Apa apaan, sih!" Hanum mendorong tubuh Arkha yang masih berdiri di sebelahnya.
"Makanya diam! Jika tidak, aku akan memperkosamu di sini!" ancam Arkha, dia sudah mengenal istrinya. Hanum paling takut jika itu terjadi diantara mereka.