Rindu Alexa

Rindu Alexa
Salah Tingkah


__ADS_3

Setelah Salat Subuh, Alexa datang ke kamar papa dan mamanya. Masih dengan kebiasaan yang sama, mereka melakukan Salat Subuh berjamaah. Bahkan, saat ini salat berjamaah membuat musala keluarga mereka terlihat penuh.


"Ale masih kangen Mama" ucap Alexa sambil memeluk Zoya yang sedang duduk di atas tempat duduk. Putri sulungnya memang selalu bersikap manja padanya.


"Mama juga kangen sama Kak Ale. Terima kasih sudah mengurus semuanya dengan baik." ucap Zoya dengan mencium pipi cabi putrinya. Alexa hanya tersenyum menjawab kalimat lembut mamanya. Hans yang sedari tadi membaca buku di sofa terus saja melirik polah dua perempuan cantik miliknya.


"Al, sudah saatnya kamu peluk suami bukan peluk Mama terus." seloroh Hans dengan nada datar. Pandangannya masih tertuju pada halaman buku yang sejak tadi dia baca.


"Emang Ale boleh pacaran?" tantang Alexa pada papanya. Hans selalu mengatakan padanya untuk tidak cinta cintaan dulu.


"Boleh, asal seratus persen cintanya cowok itu lebih besar dari cintamu." jawab Hans dengan meletakkan buku dan kacamatanya.


"Ihhh... Papa egois." jawab Alexa.


"Untung saja, Mama ini bidadari surga. Jika tidak, pasti sudah kabur." Alexa kemudian memeluk kembali mamanya dan menghadiahkan sebuah ciuman sayang untuk perempuan cantik yang selalu menyayanginya itu.


"Ohhh...tentu saja jika Mama Zoya bidadari surga, karena papa kan, satriyanya jagad." kelakar Hans, dia kemudian berjalan mendekat ke arah anak dan istrinya.


"Oh ya, Hanum balik tidur, Kak?" tanya Zoya yang tidak melihat lagi putrinya yang bawelnya luar biasa itu. Hanum paling sering mencuri tidur setelah Salat Subuh berjama'ah.


"Sepertinya tadi cekikikan di kamar bersama Kirey." jawab Alexa yang sempat mendengar kedua remaja itu mengobrol.


"Gantian Papa yang peluk Mama, Al. Papa juga kangen dengan bidadari surganya Papa." ujar Hans dengan mengerlingkan sebelah matanya ke arah Zoya.


"Astaghfirullah... " ujar Kedua wanitanya hampir bersamaan, seolah terkejut saat melihat kegenitan pria berumur itu.


"Papa mirip sugar Daddy" celetuk Alexa dengan menggidikkan bahu, ngeri. Sedangkan Zoya hanya berdecih gemas.


"Mana ada sugar daddy genit sama istrinya? Kalau sama istri, itu romantis namanya. Lagian semalam Mama Zoya tidur sama dua bocah cerewet di kamar tamu." bantah Hans dengan menggeser posisi Alexa. Dua cerewet yang dimaksud adalah Hanum dan Kirey. Hanum sengaja meminta Zoya menemani mereka tidur agar bisa bercerita tentang sejarah Islam.


"Ayolah, Al. Apa papa harus memeluk sugar baby saja?"


"Mas Hans!" panggil Zoya dengan menatap tajam. Zoya langsung menyela kalimat Hans. Tapi Alexa hanya menutup mulutnya yang ingin tertawa jika sudah seperti itu.


"Ma- Pa. Ale berangkat dulu. Nanti Ale pulang agak malam, ya!" Alexa langsung memilih mundur meninggalkan kamar papa dan mamanya.


"Al, jangan pergi dulu! Ini belum finish." teriak Hans saat putrinya sudah sampai di depan pintu dan menghilang.


"Mas Hans, kalau tidak bisa bicara baik lebih baik diam! Semakin berumur itu jangan suka bicara sembarangan. Kita baru saja menunaikan rukun islam yang kelima, itu artinya kita sudah melengkapi ibadah kita. Seharusnya kita bisa lebih hati-hati dalam hal apapun. Termasuk perkataan." tutur Zoya dengan lembut. Zoya memang tidak ada bosannya mengingatkan suaminya yang memang senang menggodanya.


"Ah... sayang! Aku merindukanmu!" ucap Hans kemudian memeluk istrinya. Dia tahu bagaimana cara mengalihkan omelan sang bidadari.


"Kalau di bilangin didengar, biar tidak mengulang ulang seperti tape recorder." lanjut Zoya dengan berusaha menjauhkan kepalanya. Tapi sayang, pelukan dan ciuman lelaki yang beberapa rambutnya sudah beruban itu terus mengejar, hingga berlabuh di hidung mungil istrinya.

__ADS_1


"Aku mencintaimu, bidadariku!" rayu Hans dengan tersenyum keki. Zoya juga sudah hafal cara Hans menghindari keributan. Hidup bersama bertahun tahun membuat keduanya sudah saling memahami satu sama lain.


###


Setelah mengikuti konsulennya memeriksa kondisi pasien. Alexa menjatuhkan tubuhnya di kursi yang berada diantar teman koas lainnya. Lelah. Dia kemudian melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Sudah pukul dua. Hari ini Alexa bermaksud menjenguk Nyonya Gayatri.


"Lexa, bagaimana dengan pasienmu?" tanya Nindy yang ingin tahu kelanjutan cerita Nyonya Gayatri.


"Sebentar lagi aku akan mengunjunginya." jawab Alexa dengan mengganti sepatu sneakers dengan sepatu pantofel. Iya, saat bertugas Alexa merasa lebih nyaman menggunakan sepatu sneakers.


"Mendingan nanti kamu ambil specialis jompo dari pada specialis anak, Lexa." sahut Irul, teman cowok yang paling suka membanyol. Hanya satu diantara temannya yang tidak pernah terlibat dalam gurauan mereka. Dari pertama kali melihat Alexa gadis itu sudah merasa tidak senang. Dia merasa Alexa selalu menarik perhatian temannya dengan sok baik dan ramahnya itu. Lisa. Gadis berkulit putih dengan rambut sepunggung itu selalu berwajah masam saat bertemu Alexa.


"Aku pulang dulu, ya." pamit Alexa kemudian berjalan meninggalkan mereka. Gadis yang selalu menyungging senyum pada setiap orang yang berpapasan dengannya, itu pun melangkah menuju parkiran.


"Lexa, kebetulan kita bertemu di sini." sapa Dokter Agam yang terlihat baru datang.


"Assalamu'alaikum, Dok." Sapa Alexa dengan tersenyum saat mendapati lelaki ganteng itu sudah ada di depannya.


"Waalaikum salam... aku bawa gudek untukmu." ucap Dokter Agam.


"Aku tahu kamu sering menunda makan siang." lanjut Agam dengan mengulurkan sebuah paper bag yang berisi kotak persegi yang terbuat dari anyaman bambu.


"Ya Allah, Dok, jadi merepotkan. Tapi, terima kasih ya, Dok." ujar Alexa dengan menerima paper bag dari Dokter Agam. Dia memang sudah sangat lapar.


"Oh tidak apa, Lexa. Jangan sering telat makan!" pesan Dokter Agam yang di jawab anggukan oleh gadis yang saat ini mengulas senyum untuk Dokter Agam.


"Assalamu'alaikum." pamit Alexa.


"Waalaikum salam." jawab dokter agam lirih dengan menatap gadis bertubuh kecil itu yang berjalan semakin menjauh.


Banyak mata tertuju pada mereka. Bahkan, bukan rahasia lagi jika dokter ganteng yang jadi idola itu memperhatikan lebih Alexa yang terkenal dengan keramahannya.


###


Untuk sampai di rumah Nyonya Gayatri, Alexa hanya butuh waktu lima belas menit. Mobil Yaris putih itu pun membelok di halaman luas setelah pintu gerbang terbuka secara otomatis.


Gadis yang berpenampilan sederhana dengan pembawaan yang cukup elegan itu turun dari mobilnya membawa paper bag berisi gudeg.


Siang menjelang sore yang masih menyisakan terik. Tapi, hembusan angin terasa menyejukkan karena halaman rumah mewah itu selain luas juga di kelilingi banyak pohon pohon yang membuat oksigen pun terasa segar.


Belum sampai Alexa mengetuk pintu, Nyonya Gayatri sudah muncul saat pintu terbuka. Wanita paruh baya itu sedari tadi sudah menunggu gadis cantik yang membuatnya nyaman.


"Assalamu'alaikum, Tante." ucap Alexa dengan menyuguhkan senyumnya kemudian mengambil tangan wanita itu untuk salim.

__ADS_1


"Waalaikum salam, Sayang. Ayo masuk! Tante sudah menunggumu." Gayatri langsung menarik lengan Alexa.


"Tante sudah makan? Alexa bawa gudeg." Gayatri menghentikan langkahnya menuju ruang tengah. Dia kemudian menarik Alexa menuju meja makan.


"Tante lagi ingin makan acar segar. Bagaimana jika kita buat acara dulu?" tawar Gayatri. Alexa yang sebenarnya sudah sangat lapar terpaksa menahannya sebentar lagi. Dia tidak tega menolak keinginan wanita yang kini terlihat berbinar saat berjalan menuju dapur.


"Biar Alexa potong mentimunnya, Tante." ucap Alexa dengan mengambil timun dan pisau. Mereka berdua membuat acar sambil bercerita. Gayatri lebih banyak bertanya tentang pendidikan dan keluarga Alexa. Semakin mengenal Alexa beliau semakin kagum dengan kepribadian gadis yang sangat santun itu.


Keseruan di dapur membuat mereka tidak menyadari jika sepasang mata sudah memperhatikan sejak tadi. Shakti yang sudah duduk di kursi meja makan pun begitu betah melihat interaksi keduanya. Mereka seperti sudah lama kenal, bahkan beberapa kali dia mendengar tawa mamanya yang terdengar sangat bahagia.


"Loh, sejak kapan kamu pulang, Shak?" tanya Gayatri mendapati putranya yang sudah menatap dirinya dan Alexa dari meja makan.


"Baru, saja." jawab Shakti singkat, tatapannya tidak lepas dari gadis berkerudung ungu yang mengekor di belakang mamanya membawa semangkuk acar.


"Mau makan juga, Mas?" tanya Alexa saat melihat Shakti meneliti satu persatu menu di meja.


"Boleh, kebetulan aku belum makan siang." jawab Shakti dengan terus saja melirik Alexa. Gadis itu memang seperti magnet untuk matanya. Tatapannya sangat sulit untuk dialihkan dari sosok cantik berhidung mungil itu.


Alexa meletakkan piring dan sendok di depan lelaki yang saat ini membuatnya salah tingkah. Beberapa kali dia memergoki mata tajam lelaki gagah itu menatapnya dengan lekat.


"Lexa, bisa ambilkan nasinya?" ucap Shakti saat melihat posisi nasi itu lebih dekat dengan Alexa berdiri.


Alexa langsung mengambilkan nasi di piring lelaki yang masih saja meliriknya penuh kagum. Entah kenapa saat di dekat gadis naif itu dirinya begitu nyaman? Mungkinkah karena sifat keibuan gadis itu yang membuat orang di dekatnya nyaman? Shakti terus saja berkelana dengan pikirannya sendiri.


"Segini, mas?"


"Eh- apa?" Shakti tergagap karena pertanyaan Alexa. Dia benar benar terhipnotis dengan pesona gadis keibuan itu.


"Kamu kenapa, Shak?" timpal Gayatri membuat lelaki berwajah tegas itu semakin kelimpungan.


"Nggak kok, Shakti hanya bingung pilih menu." elak Shakti begitu cepat menanggapi kalimat mamanya.


"Tolong, gudek sama acar aja." ujung-ujungnya Alexa juga yang meladeni makan siangnya lagi.


"Nggak usah sambal goreng." lanjut Shakti yang tidak suka makanan pedas.


"Oh...God, kenapa aku malah membayangkan jika gadis ini adalah istriku." gumam Shakti diantara momen yang membuatnya terlalu mendramatisirnya.


Momen yang bagi Shakti cukup manis karena selama ini dia tidak pernah ada momen kebersamaan seperti ini sejak kepergiaan papa dan abangnya. Dia baru menyadari jika ternyata cukup lama dia mencari kehidupan dan cita citanya sendiri tanpa peduli arti kebersamaan.


Dengan malu malu Alexa kembali ke kursinya. Entah kenapa hatinya berdebar saat memergoki lelaki itu menatapnya. Tapi gadis itu berusaha menepis perasaan liarnya yang mulai bersemi di hati.


"Sayang, nanti pulangnya habis magrib, ya!" pinta Gayatri. Suaranya memecahkan keheningan di meja makan. Tentu saja dia tahu jika ada yang aneh dengan sikap dua anak muda di depannya itu.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2