
Shakti dan Alexa hanya duduk di sofa ruang utama setelah perdebatan keduanya. Mereka terdiam dengan pikiran masing-masing.
Lelaki itu menatap lekat wanita yang memainkan jari jarinya di atas pangkuan itu dengan tatapan merasa bersalah.
Ternyata tidak mudah menyatukan dua pemikiran yang berbeda, karakter yang berbeda dan latar belakang yang juga berbeda.
Lelaki itu teringat apa kata papa mertuanya, jika Alexa adalah gadis yang lembut tapi juga alot. Shakti juga menyadari selama ini jika istrinya memang gadis pingit yang sebenarnya sangat di manjakan oleh kedua orang tuanya.
Shakti kembali menatap wanita yang kini masih mengalihkan pandangannya. Sesaat kemudian dia bangkit dari duduknya dan berjalan ke dapur.
Lamat- lamat wanita itu mendengar suara dentingan sendok yang beradu dengan gelas. Dari aromanya, dia yakin jika suaminya sedang membuat kopi untuk dirinya sendiri.
Alexa bergegas menyusul Shakti ke dapur. Tapi, lelaki itu sudah membawa segelas susu dan secangkir kopi menuju meja makan yang terletak tidak jauh dari pantri.
"Mas, kenapa tidak bilang. Seharusnya aku yang membuatkan kopi untukmu." ucap Alexa saat dia berdiri di dekat suaminya. Dia menatap lelaki yang kini tersenyum padanya dengan rasa bersalah.
"Tidak apa, Ay. Aku juga sudah membuatkan susu untukmu." sambut Shakti dengan mencubit pipi chabi istrinya. Mereka kini duduk, menikmati minuman masing masing.
"Kamu lapar?" Shakti kembali bertanya pada istrinya.
"Sedikit." jawab Alexa yang memang sudah merasa lapar.
"Aku pesan makanan dulu, ya!"
"Aku hanya ingin martabak saja. Aku tidak ingin makan nasi." lanjut Alexa.
"Baiklah!" Shakti kemudian memilih memesan makanan.
"Ay, maafkan aku. Aku hanya merasa lelaki itu menaruh perasaan padamu." Shakti kembali menjelaskan alasan sikap kasarnya itu. Dia tidak juga tidak ingin menjadi lelaki yang kasar.
"Aku hanya malu jika pasanganku memperlakukanku kasar, Mas. Percayalah, aku tidak ada hubungan apapun dengan Dimas. Bahkan kita baru saja kembali berkomunikasi." Alexa juga mengungkapkan apa yang sudah dia rasakan. Dia memang tidak ingin menyimpan apa pun yang mengganjal di hatinya.
"Kita baikan?" goda Shakti dengan mengusap pipi halus istrinya dengan ibu jarinya. Sedangkan Alexa hanya mengangguk. Dengan tersipu, dia mengiyakan apa yang di katakan Shakti.
Setelah menerima makanan yang dia pesan, Shakti memutuskan untuk menyegarkan kembali tubuhnya. Lelaki itu memilih masuk ke dalam kamar yang di ikuti Alexa.
__ADS_1
Kamar yang sangat mewah, semuanya berasal dari furnitur yang cukup mewah. Alexa mengedarkan pandangannya, dia mengagumi kamar yang tertata cukup rapi itu.
"Jika ingin tidur, tidur saja dulu, Ay. Kita akan menginap di sini untuk semalam." lanjut Shakti dengan dengan membuka kaosnya dan menyisakan boxer.
Alexa menelan salivanya. Tubuh kekar, yang terbentuk dengan beberapa kotak di perut dan lengan yang bergelombang membuat Alexa sulit untuk mengalihkan pandangannya.
"Kenapa, Ay?" goda Shakti sambil tersenyum miring. Dia tahu jika istrinya tidak berkedip menatapnya.
"Mau mandi bersama?" tawar Shakti dengan tatapan menggoda. Lelaki itu berjalan mendekat ke arah istrinya.
"Nggak, Ah. Aku di sini saja." elak Alexa dengan dengan memundurkan langkahnya. Hingga betisnya membentur tempat tidur. Dia tahu Shakti sedang menggodanya dan parahnya lagi dia tidak mengingkari jika dia mengagumi tubuh lelaki yang kini mengikis jarak diantara mereka.
"Kita bisa bermain di bath up." tawar Shakti sekali lagi. Kali ini Alexa tidak menjawab, dia hanya menggeleng karena wajah keduanya sangat dekat sekali.
Cup
Shakti mencium bibir mungil itu dengan lembut, berlahan ciuman itu berganti dengan lumayan. Alexa yang tidak menyangka akan terjadi seperti ini, dia pun meremas lengan berotot itu.
"Mas... " lirihnya dengan nafas terengah. Kala Shakti melepaskan ciumannya.
Di bawah kucuran air shower keduanya saling mendamba. Baginya Alexa adalah wanita yang paling seksi yang pernah dia lihat, sungguh wanita itu mampu membuat hasratnya meledak ledak hanya dengan memandang dan mengelus setiap inci kulit halusnya.
"Aku mencintaimu, Ay." bisiknya dengan mendaratkan ciumannya di ceruk putih Alexa dan menggigit kecil.
Lelaki itu sudah tidak bergeming, dia terus saja memberi sentuhan memuja pada tubuh mungil yang selalu membuatnya seperti candu.
Penyatuan yang dilakukan di bawah Shower membuat sensasi baru bagi keduanya. Hingga akhirnya lenguhan terakhir itu terdengar meninggi diikuti tubuh Alexa yang melemah dan ditahan oleh Shakti.
Shakti segera membantu istrinya membersihkan diri. Lelaki itu kini kembali menggendong Alexa keluar kamar mandi hanya dengan mengenakan kimono handuk.
"Pakai saja kemejaku, Ay!" ucap Shakti, setelah itu dia kembali masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.
Alexa tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Baru saja mereka bertengkar dan sekarang dia dan Shakti sudah bergumul. Alexa terus saja mencoba mencari kemeja untuk dia kenakan, kemudian dia mulai menyiapkan baju untuk Shakti.
"Ay... " sapa Shakti kemudian mendekat ke arah istrinya yang masih membuka pintu lemari. Hatinya berdebar, dia baru mengingat jika belum membuang fotonya bersama Clarisa.
__ADS_1
" Iya, Mas." jawab Alexa sambil menoleh.
"Aku akan mencarinya sendiri!" lanjut Shakti kemudian menarik Alexa yang masih menampilkan wajah bingung.
Lelaki itu langsung mengambil kaosnya dan mengenakannya.
"Ay, bisa minta tolong siapkan makan siangnya." pinta Shakti membuat Alexa langsung beranjak menuju meja makan untuk menyiapkan piring dan sendok.
"Syukurlah!" ucap Shakti sambil meremas beberapa fotonya bersama Clarisa dan membuangnya ke sampah. Entah, apa yang akan dilakukan istrinya jika melihat foto dirinya dan Clarisa yang terlihat intim.
###
Setelah menyelesaikan pekerjaannya, Hans mencari putri kesayangannya. Lelaki itu berjalan ke belakang dimana Hanum sedang berenang dan Zoya sedang membaca sebuah buku.
"Sayang, jangan kelamaan di air. Nanti kamu masuk angin!" teriak Zoya yang menyadari jika Hanum sudah dari tadi berenang.
Gadis itu pun akhirnya naik ke atas dan kemudian mengeringkan tubuhnya dengan handuk. Hanum berjalan menghampiri Zoya dan Hans setelah mengenakan kimono handuk.
"Hanum, Papa ingin mengenalkanmu dengan putra teman Papa." ucap Hans yang terdengar mengejutkan untuk dua perempuan yang kini berada di dekatnya.
"Apa? Papa nggak sedang mabok, Kan?" celetuk Hanum yang masih tidak percaya dengan keputusan Papa nya.
"Papa serius Hanum." lanjut Hans.
"Nggak, Pa. Nggak mau! Ini bukan jaman Siti Nurbaya!" tolak Hanum dengan ketua. Dia tidak pernah membayangkan keputusan papanya.
"Mas Hans ini apa apaan?" sela Zoya dengan meletakkan bukunya, tapi kali ini Hans tidak peduli.
"Kalau begitu jangan kuliah di luar negeri! Kamu boleh kuliah hanya di Indonesia." ucap Hans dengan tegas.
"Baru kali ini Hanum tahu yang ada orang seperti Papa yang melarang anaknya untuk maju" ketus Hanum.
"Tapi, Hanum akan tetap pada keputusan Hanum." tegas Hanum kemudian meninggalkan kedua orang tuanya dan masuk ke dalam rumah.
Hanum sungguh terkejut dengan keputusan papanya, dia tidak mengerti jalan pikiran papanya.
__ADS_1
"Papa jahat!" gumamnya dengan nada kesal. Dia tidak bisa membayangkan menikah di usia dua puluh tahun. Tidak, dia tidak akan pernah melakukan itu.