Rindu Alexa

Rindu Alexa
Tekad


__ADS_3

Clarisa mengerjapkan mata, sinar mentari yang menerobos diantara sela-sela jendela itu membuat kepalanya semakin terasa pening. Setelah menggeliat di bawah selimut tebal untuk meregangkan otot ototnya yang teras kaku. Clarisa mulai tersadar jika di bawah selimut, dia sudah tidak mengenakan sehelai benang pun.


"Astaga... semalam?" Dia kembali mengingat jika semalam dia balik dari club malam bersama dengan seorang pria yang terlihat samar wajahnya.


Clarisa memungut tasnya yang dengan malas saat ponselnya terus saja berdering. Panggilan dari nomer yang tidak dia kenal membuat gadis yang hanya melilitkan selimut di tubuhnya itu segera mengangkatnya.


"Hallo... " jawab Clarisa kala dia rasa penasaran.


"Hae, Cla. Sudah bangun? Aku Daniel yang mengantarmu semalam." suara Daniel membuat Clarisa terbungkam. Itu berarti semalam dia melakukannya dengan Daniel. Gadis itu menghela nafas menyesali.


"Kenapa diam? Iya, semalam kita melewati malam panas. Benar kata Nico, setengah sadar saja kamu sangat luar biasa, apa lagi saat kamu sadar, lain kali kita bisa mencobanya lagi, Cla."


"Shiiittt.... " umpat Clarisa memotong kalimat Daniel.


"Oh ya, lain kali jika ingin ke club kamu bisa mengajakku. Save nomer aku!" Clarisa langsung menutup panggilan dari Daniel. Dia merasa sial saja bertemu Daniel karena lelaki itu memang teman dekat Nico. Lelaki yang beberapa kali melewati malam bersamanya. Gadis itu pun berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


"Sial..." umpat Clarisa saat berada di dalam kalam mandi. Dia menatap tubuh polosnya di depan cermin. Bekas percintaannya dengan Daniel membekas di mana-mana.


Dan lebih parahnya, perselingkuhannya saat masih berstatus kekasih Shakti pun diketahui orang lain. Hubungannya dengan Nico pengusaha resort dan kuliner di bali bukanlah pacaran, tapi mereka hanya melalui beberapa kali malam panas setelah mereka menjalin kerja sama. Clarisa memang kecewa dengan sikap dingin Shakti.


Clarisa memang berharap bisa mengandung anaknya Shakti agar bisa menikah dengan lelaki itu tanpa meributkan tentang keberadaan calon mertunya. Tapi, penolakan Shakti justru membuatnya merasa kecewa, merasa tidak diinginkan hingga dia melakukan hubungan itu dengan Nico.


"Kenapa lo ninggalin gua sih, Sep?" pertanyaan itu terlontar lirih di depan cermin.


Gadis itu kemudian membersihkan diri di bawah guyuran Shower. Posisinya yang semakin rumit membuat pikirannya terasa panas. Bagaimana jika ada yang tahu jika dia sudah tidur dengan dua laki laki itu.


Sebenarnya dia menggunakan posisi Shakti yang berselingkuh hanya untuk menekan rasa bersalah. Tapi, jika sampai Shakti mengetahui dia pernah tidur dengan Nico dan Daniel yang tanpa dia sadari. Itu pasti akan membuat Shakti merasa lega untuk melepasnya. Kali ini, Clarisa merasa benar benar sial.

__ADS_1


Clarisa Pov


Aku sudah merasa jika ada yang berubah dari sikap Shakti. Tapi, saat itu, rasanya aku tidak percaya jika ada gadis yang lebih menarik perhatian Shakti melebihi aku.


Sebenarnya aku tahu jika ada seorang gadis yang dekat dengannya sudah cukup lama, tentu karena aku meminta seseorang untuk memata- matainya. Hingga aku memilih untuk men- take down egoku menerima Tante Gayatri hanya untuk bisa mempertahankan hubunganku. Iya bersama Shakti aku merasa punya segalanya. Aku merasa jadi wanita paling cantik saat Shakti memilihku, dia pun selalu mengabulkan apa yang selalu menjadi keinginanku. Liburan, status sosial, barang mewah dan masa depan yang menjanjikan.


Tapi ternyata usahaku tidak juga membuatnya kembali padaku. Dan itu membuatku sangat frustasi seketika itu, tapi aku berusaha menutupinya dengan cantik.


Aku mulai menghindari Shakti. Aku tidak siap hal buruk yang pikirkan terjadi. Iya, aku mengetahui jika hubungannya dengan gadis cupu itu semakin dekat dan caranya menghindar dari Shakti agar lelaki itu tidak punya kesempatan untuk memutuskan hubungan mereka.


Entah berapa lama Clarisa berada di bawah kucuran air Shower, dia merasa langkahnya memiliki kembali Shakti semakin sulit. Meski dia tahu jika gadis yang dianggap cupu itu memang menghindari mantan kekasihnya.


"Aaarghhh... segitukah kamu mencintainya, Shak?" pekik Clarisa diantara tangis dan kucuran air. Hatinya merasa sedih, baru pertama kalinya dia merasa Shakti begitu mencintai dan memperjuangkan seseorang.


###


"Dari awal aku sudah bilang, gadis yang naif itu cenderung lebih kaku." lanjut Ringgo saat mereka bertiga menikmati waktu santai mereka di kafe dengan secangkir kopi. Lelaki plyboy itu memang paling jitu memahami karkatee perempuan.


"Kalau perlu berjuang berjuang kalau tidak ya lupakan." Arka sedikit kesal dengan Shakti. Baru kali ini kebucinannya membuat logika lelaki itu berhenti berjalan.


"Gila lo, Ark... main tancap saja. Si Alexanya saja tidak mau mukanya. Bagaiaman, mau nekat langsung ngelamar? Mau ditaruh di mana mukanya jika ditolak lagi." elak Ringgo dengan menudingkan jari telunjuknya ke wajah Shakti. Shakti menatap tajam wajah menjijikkan sahabatnya itu.


"Sory - Sorry, maksudnya aku nggak setuju jika senekat itu. Percayalah, masih banyak gadis yang lebih cantik dari Alexa." jelas Ringgo saat melihat kekesalan Shakti dari balik tatapan tajamnya itu.


Sore itu, setelah membahas beberapa pekerjaannya, mereka mengupas kisah percintaan Shakti yang membuat kedua sahabatnya gemas. Lelaki yang sudah seharusnya menikah itu malah membuat kisah percintaannya seperti layaknya remaja yang lagi jatuh cinta.


"Ayo, kita balik. Sudah beberapa hari aku tidak bertemu, Mama." Shakti mulai beranjak. Meskipun jarang bertemu dengan mamanya, tapi dia selalu memantau rumahnya dari CCTV yang terhubung dari ponselnya. Dia juga sering melihat Alexa yang datang untuk mengunjungi Gayatri, bahkan gadis itu mulai terbiasa dengan seluk beluk rumahnya.

__ADS_1


"Ayo, aku juga akan balik ke rumah. Kata Nita ibuku sedang tidak enak badan." ucap Arka yang juga ikut berdiri. Arka bukan berasal dari keluarga berada, dia tulang punggung untuk kedua adik dan ibunya. Tapi, lelaki itu sangat ulet dan bertanggung jawab, bahkan kejujurannya yang membuat Shakti menjatuhkan pilihan untuk memimpin cabang usahanya.


"Aku besok ambil cuti." lanjut Arka.


"Terserah kamu yang mengatur. Aku tahunya laporan perkembangan perusahaan." Jawab Shakti.


Mereka meninggalkan foodcourt yang ada di sebuah mall. Shakti memang sangat menarik, keberadaannya pun mengundang banyak mata kaum hawa hanya untuk menikmati kegantengannya.


Sialnya, saat dia akan keluar melewati pintu utama, Shakti bertemu kembali dengan Alexa dan Dokter Agam, bukan hanya berdua tapi memang bersama dengan beberapa orang lainnya.


Shakti menatap sepasang orang yang berjalan di belakang gerombongan mereka. Tatapannya kini bertemu dengan mata keduanya, yaitu Dokter Agam dan Alexa. Tapi mereka hanya melempar tatapan dingin.


Alexa dan teman kelompok koasnya itu merayakan jika besok mereka akan melakukan sumpah Dokter. Tidak hanya Dokter Agam dokter umum yang mereka undang tapi juga ada Dokter Hana dan Dokter Aristi juga.


"Shak, lo nggak apa kan?" tanya Arka saat melajukan mobilnya menuju rumah Shakti. Wajah Shakti terlihat berbeda setelah bertemu Alexa dan Dokter Agam.


"Nggak, aku masih baik baik saja." padahal hatinya sedang terbakar cemburu dan pikirannya sedang mempertimbangkan sesuatu.


"Tapi... "


"Lusa aku akan melamar Alexa." ujar Shakti dengan tenang tapi penuh dengan penekanan. Dia terlihat sedang mempertimbangkan sesuatu yang berat.


"Jangan gila lo, Shak. Alexa-nya saja sudah nggak mau. Kamu ingin mempermalukan diri sendiri?" Wajah Arka tak kalah bingung. Biar bagaimanapun, dia tidak akan membiarkan Shakti merasa malu dan lebih hancur karena penolakan.


"Aku sudah memikirkannya dengan matang." Kalimat Shakti yang datar membuat Arka merinding. Terkadang Shakti memang melakukan sesuatu di luar prediksinya. Wajah ganteng itu terlihat menegang saat melihat keluar jendela, sorot mata tajam yang menggambarkan jika pemiliknya sedang berfikir keras. Bagi lelaki itu hidup juga butuh sebuah pertaruhan.


"Shak, Cinta atau Pernikahan bukan sesuatu yang di dapatkan dengan strategi, lo." Arka kembali mengingat jika kedua hal itu bukanlah hal yang sama dengan menjalankan bisnis. Arka merasa bersalah, candaannya untuk meminang Alexa sebenarnya hanya sebuah candaan, tanpa pikiran matang.

__ADS_1


"Aku tau, tapi keduanya juga butuh perjuangan." Lelaki itu sudah bertekad.


Terkadang kita harus melakukan sebuah pertaruhan dengan rencana matang sebagai opsi kedua setelah spekulasi kita pada titik yang belum mendekati aman(Author strategi).


__ADS_2