
Maaf... dari kemarin kita berada pada bab dengan konten dewasa harap bijak memilih bacaan (+21)
Untuk Readers sekalian, Saya baru mengerti jika sebagian Author yang lain kadang membubuhkan kalimat 'harap bijak berkomentar'. Saya hanya mengingatkan, kita penulis punya gaya penulisan masing masing. Punya pemikiran yang terbatas. Mungkin saya pribadi memang tidak terlalu pintar dalam alur atau karakter penokohan yang baik. Jadi saya harap readers maklum. Di sini saya menulis untuk mencari hiburan, kadang membaca komentar anda semua cukup menghibur saya pribadi, karena saya merasa berinteraksi dengan readers, dalam artian saya seperti punya banyak teman. Terima kasih yang masih bisa menerima karya receh saya.
####
Shakti masih memeluk Alexa hingga perempuan itu tertidur pulas. Lelaki itu segera berdiri untuk menuntaskan hasratnya yang tidak kunjung mereda. Kali ini, miliknya terasa berbeda karena sulit untuk tidur kembali.
Sejenak ditatapnya wajah cantik yang saat ini terlihat damai dengan mata terpejam. Entah, sejak kapan, dia jatuh cinta pada gadis anggun dan lembut yang sekarang menjadi istrinya. Alexa, di mata Shakti sikapnya tidak jauh beda dengan gadis yang baru menginjak remaja padahal, umurnya hampir melewati masa itu.
Tidak ingin menunggu lama lagi karena udara di pedalaman ini cukup dingin, Shakti pun bergegas masuk ke dalam kamar mandi untuk mandi air dingin.
"Ini namanya senjata makan tuan!" ucapnya untuk diri sendiri sebelum menutup kembali pintu kamar mandi. Maksud hati menggoda Alexa, tapi dia sendiri yang harus terkena imbasnya.
“Bbbbbrrrr.... " lelaki itu terlihat sangat kedinginan. Dia segera berganti dan kembali menelusup masuk ke dalam satu selimut dengan Alexa.
Seperti alarm pribadi, insting telah membangunkan Alexa untuk Salat Subuh. Alexa menggeliatkan tubuhnya, kali ini tubuhnya merasa nyaman dengan rasa hangat yang tidak biasa hingga rasanya dia enggan membuka mata.
Sepersekian menit, tubuhnya kembali tergerak, tapi tetap terasa berat hingga akhirnya dia membuka mata.
"Ups... " langsung saja dia membekap mulutnya, saat membuka mata dan menyadari jika lengan Shakti masih melingkar memeluknya. Berbeda dengan semalam di mana posisinya memunggungi suaminya, kini dirinya malah sudah terbangun dengan membalas pelukan Shakti
Berlahan dia berusaha menyingkirkan tangan besar yang masih memeluknya, tapi berat dan susah.
Alexa kembali menoleh ke arah suaminya, tapi?masih terdengar nafas halus layaknya orang yang masih terlelap. Shakti yang tidak bergerak membuatnya memperhatikan setiap detail wajah ganteng yang hanya berjarak beberapa senti dari wajahnya. Ganteng. Dalam hatinya, Alexa memang memuji kegantengan lelaki yang sudah menjadi bagian dari kehidupannya.
Hidung mancung, bentuk bibirnya proposional, tidak terlalu tipis atau tebal, dan senyumnya yang bertambah manis dengan menampilkan gigi gingsulnya sebelah kiri.
Dia memang pernah jatuh cinta pada laki-laki ini. Tapi, ketika banyak kebohongan yang dilakukannya hingga dia merasa takut jika suatu saat dia akan kembali dibohongi lagi. Apalagi dengan karakter Shakti yang dominan, Alexa merasa kecil saat berada di dekat lelaki itu.
"Apa aku ganteng, Ay?" Kalimat Shakti membuat Alexa tergagap. Dia menjadi salah tingkah saat wajah tampan itu membuka matanya.
"Hingga kamu tidak lagi bisa berkedip menatapku?" lanjut Shakti dengan mengeratkan pelukannya.
__ADS_1
"It- itu udah keras!" ucap Alexa saat merasakan perutnya bersentuhan dengan sebatang benda keras milik lelaki di depannya.
"Kamu sudah terbiasa dengan milikku, Ay?" ucap Shakti dengan tersenyum menatap wajah yang kini bersemu merah.
"Aku sudah dewasa untuk mengetahui milik laki laki. Sistem kerjanya dan apapun yang mempengaruhinya." jawab Alexa dengan detak jantung yang masih berpacu.
"Aku bukan anak kecil yang tidak tahu apa apa tentang reproduksi laki laki." lanjut Alexa, dengan wajah tegang yang bisa ditangkap oleh Shakti.
"Benarkah?" Sakti langsung bangkit dan mengungkung tubuh Alexa yang tersentak kaget dengan reaksi tiba-tiba suaminya yang berada di atasnya.
"Katanya sudah mengerti? Kenapa diam saja? Ayo lakukan cara memuaskan suami!" Shakti menatap Alexa yang mematung. KeduaNlnya hanya saling menatap. Dan Shakti, tahu Alexa sedang gugup, rona merah di wajahnya, tubuhnya yang kaku dengan sesekali menghela nafas panjang membuat lelaki itu tersenyum.
"Semua tidak sebatas teori saja, Ay."
"Untuk bisa mengerti hal itu, kita hanya butuh praktek dan pengalaman." ucap Shakti dengan mendaratkan ciumannya di kening Alexa kemudian bangun dan turun dari tempat tidur menuju kamar mandi.
"Mas Shakti." panggil Alexa menghentikan langkah Shakti. Lelaki itu tersenyum kala panggilan yang dulu dia sering dengar dari bibir Alexa kembali lagi menggema.
"Apa Mas Shakti sering melakukannya dengan Clarisa? Apa hubungan kalian sudah sampai sejauh itu?" tanya Alexa saat berhasil berdiri di depan Shakti. Dia teringat cerita Clarisa jika keduanya sering menghabiskan malam bersama di apartemennya.
"Katakan, Mas! Clarisa seksi..."
Cup...
Shakti membungkam mulut Alexa dengan ciuman, dia tidak ingin membahas apapun tentang masa lalunya.
"Ini yang paling seksi!" ucap Shakti dengan meremas sebelah dada Alexa hingga membuat Alexa memekik kecil. Dan wajah kaget dengan mata yang membelalak membuat Shakti tersenyum cemeh.
"Kata Clarisa, kalian sering melewatkan malam bersama di apartemen?" lanjut Alexa. Kali ini, dia tidak ada ekspresi apapun. Biar bagaimanapun dia merasa jijik saat mendengar cerita itu.
Shakti yang sudah hampir membuka pintu kamar mandi pun kembali menghampiri Alexa yang kini masih berdiri di dinding kamar yang tidak jauh dari kamar mandi. Shakti bisa melihat tatapan marah istrinya.
"Kamu percaya dengan dia? Dia yang sudah menyebarkan foto aku menciummu dan membuat artikel yang sudah menyudutkanmu?"
__ADS_1
"Entah kamu percaya denganku atau tidak. Tapi aku tegaskan, aku belum pernah melakukannya dengan perempuan manapun." jelas Shakti, kali ini sorot matanya menghujam ke dalam ceruk mata Alexa, membuat Alexa merasa bersalah menanyakan semua ini.
Ada rasa yang menghangat di hati Alexa kala dia mendengar penjelasan Shakti. Meskipun lelaki yang saat ini membuka pintu kamar mandi itu sering berbohong padanya tapi kali ini dia percaya dengan tatapan mata Shakti yang mengungkapkan kejujuran.
Mungkin, hal itu yang menjadi alasan terbesar Alexa tidak ingin disentuh oleh Shakti meskipun lelaki itu selalu mencuri start.
###
Agam masuk dalam rumah mencari mamanya setelah menemui Rama. Iya, Rama yang mengetahui banyak hal tentang Laras karena permintaan Shakti untuk menyelidiki latar belakang Agam saat masih mendekati Alexa.
"Ma, Agam bisa bicara?" tanya Agam pada wanita yang kini menghentikan aktifitasnya di taman.
"Ada apa, Gam?" tanya wanita paruh baya itu. Beliau langsung memilih duduk di depan putranya.
"Kemana perginya Laras, Ma?" tanya Agam dengan tatapan yang menyimpan kemarahan. Agam hanya merasa bersalah, kala dia sudah mengambil keperawanan gadis polos seperti Laras.
"Mama tidak tahu." jawab Dita dengan menutupi rasa gugupnya.Dia cemas jika Agam tahu jika Laras sempat hamil.
"Katakan, Ma!" Dita berjingkat kala suara Agam berteriak menggema di udara. Baru kali ini Agam marah padanya.
"Mama memintanya pulang ke kota asalnya. Setelah itu mama tidak tahu kabarnya lagi." mendengar jawaban Mamanya Agam mendesah berat. Dia hanya meyayangkan mamanya melakukan itu, hanya saja dia tidak bicara bicara jika dirinya sudah menodai seorang gadis yang polos.
Agam tertunduk lemas, mengingat semua impian Laras membuat mata laki-laki itu berkaca kaca. Dia merasa sudah menghancurkan masa depan gadis itu.
"Gam, ada banyak perempuan yang lebih pantas dan sepadan dengan kamu." lirih Dita berusaha membujuk Agam.
"Dimana alamat orang tua Laras, Ma?" desak Agam. Dia merasa harus meminta maaf dengan Laras apapun yang terjadi meskipun saat ini gadis itu sudah menikah dengan laki laki lain.
"Mama tidak tahu, Gam. Itu hampir empat tahun yang lalu." Dita berusaha menghindar.
"Ma... " Bentak Agam dengan tatapan mata yang terlihat begitu marah. Dia tidak percaya jika mamanya tidak pernah menyimpan alamat asisten rumah tangganya.
"Di buku Agenda di rak tv!" Dengan terpaksa Dita memberitahu Agam. Dia tidak pernah melihat putranya semarah itu.
__ADS_1
Tanpa berkata apapun Agam langsung masuk ke dalam rumah mencari buku agenda yang di maksud mamanya. Sementara, Dita hanya menatap punggung putranya yang kini menghilang dengan harapan Agam tidak bisa menemukan Laras lagi.
Bersambung