Rindu Alexa

Rindu Alexa
Penyelidikan


__ADS_3

"Alexa bilang pergi kemana?" tanya Shakti saat menemui security.


"Katanya mau jenguk Ibu di rumah sakit. Tapi, menggunakan taxi, tidak pakai mobil sendiri." mendengar penjelasan security, Shakti langsung lari ke arah mobilnya. Kali ini dia akan ke rumah sakit. Dia tidak yakin Alexa ke sana, tapi dia harus memastikan terlebih dahulu karena dia mempunyai firasat yang sangat buruk.


Shakti langsung bergegas menuju rumah sakit. Pikirannya hanya tentang hal buruk. Mobilnya melaju dengan kecepatan tinggi. Rasanya dia sudah tidak sabar lagi untuk sampai di rumah sakit.


Lelaki dengan tampilan yang tidak semestinya itu berlari tunggang langgang menuju ruangan yang sudah diinformasikan pihak administrasi rumah sakit.


Terlihat Hanum duduk sendirian di depan ruangan VIP No. 07, gadis itu terlihat sedang termenung sendiri karena Aleks sedang menenangkan Zoya yang ingin segera pulang bertemu Alexa.


"Eh, bagaimana keadaan Tante Zoya?" tanya Shakti membuyarkan lamunan Hanum.


"Ngapain ke sini?" sinis Hanum dengan menatap tajam lelaki yang berdiri di depannya.


"Kak Alexa di sini?" tanya Shakti tanpa basa basi tentu saja itu membuat Hanum terkaget.


"Kak Ale di rumah." ucap Hanum dengan ragu dan seketika itu membuat Shakti yang mendengarnya pun meluruhkan bahunya dengan lemah. Apa yang sudah dikhawatirkan memang terjadi. Alexa menghilang. Lelaki. itu meraup wajahnya dengan kasar, terlihat sekali dia sangat bingung.


"Ada apa lagi? Sejak tadi Papa belum juga balik." ujar Hanum yang mulai mencium gelagat tidak enak saat melihat reaksi lelaki yang sudah babak belur di depannya.


"Alexa menghilang! Pamit ke satpam ingin bertemu Tante Zoya." jelas Shakti lirih.


"Brengsek!" Aleks menarik tubuh Shakti hingga berbalik menghadapnya dan menghantam perut lelaki itu dengan kepalan tangannya hingga membuat Shakti kembali meringis.


"Kak Aleks!" Hanum langsung menyergap tubuh kakaknya dan menahan Aleks agar berhenti.


"Nanti Mama curiga." Kalimat Hanum mengendorkan kepalan tangan Aleks, tapi tatapan cowok itu masih begitu buas tertuju pada Shakti.

__ADS_1


"Kak Shakti sebaiknya pulang! Lihatnya wajahmu!" ucap Hanum dengan tubuh mendekap Aleks.


Shakti terdiam sejenak, mungkin apa yang dikatakan gadis di depannya itu benar. Terlalu memaksakan diri jika mencari Alexa untuk saat ini. Banyak yang harus dia lakukan untuk menyelesaikan masalah ini. Mencari Alexa dan mengembalikan nama baiknya kembali.


"Baiklah, aku pulang. Jika ada kabar dari Alexa tolong hubungi aku." pinta Shakti yang kemudian berjalan meninggalkan tempat itu.


Shakti berjalan dengan lemas, pikirannya sudah tidak bisa lagi difungsikan dengan maksimal. Keberadaan Alexa dan sifat naifnya membuat Shakti sangat khawatir. Dengan langkah berat dia menghampiri mobilnya yang terparkir di halaman rumah sakit. Tujuannya bukan lagi rumah, tapi apartemen. Selain di sana sudah ada Ringgo, Arka dan Rama yang akan membahas pencarian Alexa, Shakti juga tidak ingin mamanya melihat keadaannya yang sudah babak belur.


###


"Astaga, Shak? Lo, habis tinju dengan siapa?" Kedatangan Shakti di apartemennya itu menarik perhatian ke empat lelaki yang ada di sana.


Rama mengajak temannya Dika yang notabene seorang hacker yang handal untuk melacak keberadaan Alexa dari beberapa CCTV.


"Aku akan mandi terlebih dahulu." pamit Shakti


Tidak lama lelaki yang terlihat lebih fresh itu pun keluar dari kamar dan berjalan menuju meja makan, di sana keempat laki-laki itu sudah duduk bersama. Mereka juga baru saja menyelesaikan semua tugas masing masing.


"Kalian juga belum makan?" tanya Shakti yang segera mengambil duduk diantara teman temannya. Arka memesan lima porsi makanan untuk makan malam.


"Emang kamu saja yang stress, kita juga! Untung Bang Dika mendapatkan sedikit Clue." jawab Rama yang secara tidak langsung memperkenalkan Dika. Mahardika Setya Praja adalah senior Rama, selain ahli strategi, kemampuannya menjadi hacker tidak pernah diragukan lagi.


Setelah menyelesaikan makan malam bersama, mereka berkumpul membicarakan hasil kerja mereka sebelum Shakti datang.


"Aku sudah menemukan siapa penyebar berita tersebut. Tapi, setahuku dia orang bayaran." ucap Dika dengan menyesap sebatang rokok.


"Identitasnya bisa terlacak, Bang?" tanya Shakti.

__ADS_1


"Sudah ada semua. Tinggal dirimu memilih bertindak sendiri atau langsung laporan pihak yang berwajib? Aku sudah mengumpulkan semua bukti buktinya." untuk selanjutnya Dika sudah tidak bisa lagi campur tangan. Dia menyerahkan semuanya pada Shakti.


"Aku ingin bertindak sendiri. Menurut Bang Dika, bagaimana?" tanya Shakti meminta pertimbangan Dika.


"Bisa, tapi yang punya wewenang untuk urusan itu adalah Rama." jawab Dika. Rama memang Intel resmi di salah satu dinas kepolisian.


"Siap." ucap Rama.


"Tapi, Shak. Aku takut gosip ini akan membuat nilai saham di perusahaan kita turun." timpal Ringgo yang memang mengkhawatirkan urusan perusahaan.


"Tidak akan ada masalah. Jika itu berpengaruh, aku sudah mendapatkan cara menyelesaikan semuanya." jawab Shakti dengan tenang. Tapi kedua sahabatnya belum tahu apa yang akan dilakukan lelaki itu selanjutnya.


"Oh ya, jika suatu saat terjadi sesuatu padaku. Aku percayakan perusahaan itu pada kalian di bawah pengawasan lawyerku." lanjut Shakti. Dia merasa putus asa.


"Shiiit.... jangan bicara macam-macam, Shak! Lo mati, aku senang saja dapat warisan. Tapi, tidak ada yang akan menyelamatkan bidadarimu." Umpat Ringgo, sedangkan Arka hanya melempar Shakti dengan bungkus rokok membuat Rama dan Dika hanya menggeleng heran.


"Oh ya... setelah menelusuri banyak CCTV. Aku hanya bisa menemukan gadis itu berada di perbatasan kota. Tepatnya di perempatan jalan menuju luar kota." jelas Dika.


"Tolong Bang, lacak lagi, apapun caranya. Aku sangat mengkhawatirkan Alexa." Mendengar penjelasan Dika, Shakti menjadi cemas. Dimana Alexa akan pergi, dimana dia akan tidur dan amankah dia saat ini. Semua menjadi momok pikiran lelaki yang saat ini malah tertegun. Dia tahu Alexa hanya seorang gadis pingit yang tidak tahu banyak tentang dunia luar.


"Oke, tapi aku balik dulu. Alisa dan Aruna pasti sudah menunggu. Hari ini ulang tahun istriku Alisa." ucap Dika kemudian berdiri dan berpamitan pulang.


"Kira kira siapa yang sengaja mempermalukanku dan Alexa." Shakti memijat kepalanya yang terasa pusing. Dalam CCTV gedung hanya ada Agam yang mempunyai peluang jadi tertuduh. Tapi, Shakti merasa dokter itu tidak akan melakukan hal itu. Meskipun Shakti mengetahui beberapa fakta tentang Agam tapi dia yakin Agam tidak bisa melakukan hal seburuk itu pada Alexa.


"Apa mungkin, Clarisa? " gumam Shakti masih menerka. Tapi, lelaki itu merasa mantan kekasihnya sudah bisa menerima semuanya. Dan rasanya juga tidak mungkin Clarisa bisa melakukannya.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2