Rindu Alexa

Rindu Alexa
Curiga


__ADS_3

Istri?


Dinda terhenyak kaget, dia seperti tidak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan Shakti.


Dinda kembali turun ke bawah dengan pikiran berkecamuk. Dia tidak percaya sepenuhnya, bagaimana bisa hanya pergi seminggu pulang langsung membawa istri? Dia juga tahu jika kepergian Shakti bukanlah ke tempat yang ramai, lelaki itu sempat bercerita jika akan mendaki gunung.


Masih dengan menyimpan sejuta rasa penasaran, gadis itu kembali ke dapur untuk membereskan dapur.


Terdengar suara sepasang kekasih yaitu sudah memasuki ruang makan. Dinda pun menoleh dan yang benar saja, wanita bermata sipit itu terus saja membuatnya cemburu. Dia melihat Shakti terlalu memanjakan wanita yang baru di bawanya dari gunung.


Dengan tergesa-gesa Dinda menghampiri meja makan, saat Shakti dan Alexa mulai duduk di sana.


"Biar aku saja!" Dinda langsung menarik piring Shakti. Alexa yang melihatnya terhenyak kaget. Dia tidak mengerti maksud gadis yang kini memberikan nasi di piring suaminya.


"Tolong punya istriku sekalian, Din!" pinta Shakti dengan tatapan penuh terima kasih saat melihat rasa respect gadis itu.


"Aku bisa sendiri!" jawab Alexa.


"Ay, tak apalah Dinda melayani kita sementara. Kamu juga capek kan, Ay." ucap lelaki yang saat ini mengenggam jari jari kecil istrinya. Dinda menatap kesal perlakuan Shakti pada wanita bermata sipit itu.


"Tidak terlalu cantik, hanya kulitnya saja yang putih dan matanya mirip orang korea." gumam Dinda dengan menatap kesal ke arah Alexa.


Alexa terdiam, dia juga melayangkan tatapan tajam pada gadis itu. Iya, dia merasa sikap Dinda sebagai pengurus villa sangat berlebihan.


"Apa sikap Dinda tidak berlebihan, Mas?" Dengan hati hati Alexa mulai memprotes sikap gadis itu.


"Biasa kan, Ay. Dia juga yang mengurus semua yang ada di Villa." jawab Shakti dengan enteng. Lelaki itu belum menyadari wajah kesal istrinya.


"Termasuk mengurus kamu, Mas?" lanjut Alexa sedikit bergumam, tapi masih di dengar oleh Shakti lelaki itu tersenyum, dia melihat sikap sikap istrinya yang sudah berlebihan.


Setelah menyelesaikan makan sore mereka, Alexa langsung pergi ke kamar, membuat Shakti pun membuntut ke mana istrinya pergi.


"Ay, kenapa?" Setelah menutup pintu kamar, Shakti langsung menyergap tubuh kecil itu dari belakang dan menghujaninya dengan ciuman.


"Geli, Mas." protes Alexa dengan berusaha memberontak, menjauhkan kepalanya dari ciuman lelaki yang masih memeluknya dari belakang.


"Drt... drt... drt... " ponsel Shakti berbunyi, lelaki itu menghentikan aksinya dan berjalan menghampiri benda pipih yang tergeletak di tempat tidur.

__ADS_1


"Hallo ...adiknya Mas yang cantik." sapa Shakti mendahului sapaan pada Hanum. Gadis itu hanya berdecih saat mendengar godaan kakak iparnya.


"Kak alenya mana? Kenapa nggak menghubungi aku?" protes Hanum langsung to the point.


Shakti hanya menggeleng, entah mendapat sifat dari mana, hingga Hanum jadi sejutek itu. Lelaki itu pun menarik istrinya hingga terjatuh di pangkuannya.


"Hallo sayang. " sapa Alexa dengan melambaikan tangan ke arah Hanum. Hanum hanya mengerucutkan bibirnya menanggapi sapaan kakaknya.


"Kalian mesra- mesraan tanpa memikirkan orang. Nggak tau ya kak, jika adikmu ini kangen?" ketus Hanum dengan emosi.


"Hahahah.... " Shakti tergelak, dia malah sengaja untuk meletakkan kepalanya di bahu istrinya.


"Lebay itu suamimu, Kak!" ketus Hanum membuat Shakti melotot. Adik iparnya itu orang pertama yang berani mengatainya seperti itu.


"Kamu kalau galak terus jadi perawan tua lo, Num!" balas Shakti.


"Lihatlah, Kak! Suamimu mendoakanku jadi perawan tua." ujar Hanum dengan memutar bola matanya.


"Kalian itu ribut terus bingung aku!"


"Sayang, apa kabarmu? Kak Ale sudah merindukanmu." Alexa mencoba melerai keduanya.


"Papa juga sering melamun sejak Kak Ale pergi. Semua siklus kehidupan di rumah berhenti pokoknya." lanjut Hanum. Mungkin saat ini dia akan berteriak histeris jika bisa memeluk kakaknya.


"Num, telponnya jangan lama-lama. Nanti nggak bisa bikin keponakan buat kamu!" sahut Shakti.


"Astagfirullah, benar benar musibah kakakku mendapat laki laki sepertimu. Tut... tut... tut... " Hanum langsung menutup teleponnya.


"Ya ampun, Ay...itu bocah seenaknya sendiri!" keluhan Shakti saat menghadapi adik iparnya.


"Mama itu kadang kayak lelah menasehati Hanum. Tapi Mama memang ibu yang hebat, karena tidak ada bosannya untuk menasehati anak anaknya." jelas Alexa.


"Hanum itu sebenarnya baik, dia hanya tidak mau diidentikkan dengan Mama atau aku. Dia tidak ingin dibanding bandingkan juga." Shakti terus saja menatap istrinya, hingga membuat Alexa salah tingkah. Padahal, lelaki itu membayangkan jika wanita yang naif dan penurut itu menjadi ibu dari anak anaknya.


"Mas, ada apa?" tanya Alexa sedikit gugup.


"Aku mencintaimu!" Shakti beranjak dengan mencuri ciuman di pipi istrinya. Lelaki itu kemudian berjalan menghampiri laptop dan beberapa berkas laporan yang ditinggalkan Arka sebelum pulang.

__ADS_1


###


Arkha menghentikan mobilnya di depan kos putri. Terlihat Rani berlari kecil menghampiri mobil Range Rover warna hitam yang sudah menunggunya.


"Maaf... menunggu, Bang." ucap Rania kemudian masuk ke dalam mobil. Arkha melakukan mobilnya menuju kampus Rania. Arkha memang mengambil curi beberapa hari dari pekerjaannya setelah mendapatkan kabar jika, temannya itu sudah kembali bersama Alexa.


"Kapan kamu ujian semesteran?" tanya Arkha memecahkan keheningan diantara mereka. Sesekali lelaki itu melirik gadis yang selalu bersikap manis dan cukup menyenangkan itu.


"Bulan depan, Bang. Tapi, libur aku tidak pulang, karena ada banyak kegiatan." jawab Rania dengan seulas senyum yang terlihat sangat menyejukkan.


Saat melihat Rania yang cukup manis, tiba-tiba lelaki itu teringat pada gadis bar- bar yang akhir akhir ini menolak panggilannya.


Sejak kedatangannya ke apartemen Arkha tahu Hanum sedang ngambek karena dia belum memberikan banyak informasi pada tentang Ale dan Shakti.


Mobil melaju dengan sangat halus, menembus jalanan yang cukup ramai menuju kampus Rania dan itu berarti kampus Hanum juga. Keduanya kembali terdiam, entah kenapa Arkha malah berfikir untuk menemui gadis bar- bar itu.


"Abang nganterin Rania sampai depan fakultas?" tanya Rania, hatinya sedikit berbunga bunga. Iya, dia merasa bangga jika Arkha mengantarnya sampai ke depan fakultas.


"Iya, Abang juga ingin kepentingan sebentar." jawab Arkha kemudian menghentikan mobilnya di parkir khusus mahasiswa.


"Bang, Rania tidak bisa menemani Bang Arkha karena ada kelas saat ini." ucap Rania saat akan keluar dari mobil.


"Santai saja. Abang hanya ingin menemui teman Abang." jawab Arkah.


Mereka berpisah pada lorong yang berbeda. Dia memang hanya mencoba peruntungan untuk bisa bertemu Hanum.


Semua mata tertuju padanya, lelaki tampan dengan tampilan parlente dan berkulit eksotis itu pun mengundang banyak mata untuk menatapnya tapi tidak dengan gadis yang sedang didik di bawah pohon akasia.


Arka terus saja berjalan mengitari fakultas hukum, hingga kebetulan dia mendapati cewek dengan jilbab berwarna hijau mint itu tengah duduk sendiri membawa sebuah buku dengan sangat serius.


"Apa- apaan ini? Jangan kurang ajar, ya!" bentak Hanum terhenyak kaget saat jari jari besar menutup kedua matanya.


"Ya Allah bocah... galaknya benar benar merata!" ujar Arkha dengan melepaskan jarinya dari mata Hanum.


Lelaki itu berjalan mengitari kursi bermaksud untuk duduk, tapi Hanum malah buru- buru memasukkan bukunya dan akan pergi meninggalkan lelaki itu.


"Mau kemana sayangnya Kak Arkha." Arkha menarik tangan Hanum hingga bocah itu hpir menubruknya tapi untuk saja rem kakinya berfungsi dengan istimewa.

__ADS_1


"Aku mau pulang. Jangan pegang-pegang! Bukan muhrim." bentak Hanum yang hanya dibalas senyuman oleh Arkha. Lelaki itu memang hanya menganggap Hanum seperti adiknya.


__ADS_2