Rindu Alexa

Rindu Alexa
Pernikahan Shakti


__ADS_3

"Gila lo, bohong lagi bohong lagi. Kali ini, jika keluarga Alexa menuntut atas pemalsuan dokumen bagaimana?" Serga Arka yang mulai cemas dengan cara Shakti menyelesaikan masalah.


"Aku tidak peduli. Aku yang membuat buruk nama Alexa. Jadi aku yang akan menanggungnya meski papanya akan menuntut dan memasukkanku dalam penjara." ujar Shakti kemudian masuk dan duduk di sofa. Begitulah Shakti, lelaki yang tidak akan pernah menyerah meski dia harus melalui hal beresiko sekaligus untuk apa yang sudah di putuskan.


"Bagaimana dengan targetmu, Bang?" ucap Shakti ketika sudah berhadapan dengan Rama. Kondisi Gayatri yang kurang sehat membuat Shakti menyerahkan semua urusan penyebar foto itu kepada Rama.


"Dia berhasil lolos, dia bergerak lebih cepat dari yang aku duga. Rencananya aku akan membujuk Bang Dika untuk andil dalam pencarian lelaki itu." jawab Rama. Saat dia datang ke rumah kontrakkan Malik, ahli IT yang punya banyak nama dan wajah.


"Apa dia mafia?" lanjut Shakti sedikit kecewa. Dia tidak sabar dalang semua kericuhan ini.


"Bisa jadi.Tepatnya, mafia tanpa komplotan." sahut Rama.


"Aku percaya padamu, Ram." ujar Shakti yang sudah merasa pusing dengan semua masalah yang kini menimpa banyak orang. Belum lagi berurusan dengan keluar Hans Satrya Jagad, belum juga berurusan dengan media, kesehatan Mama Gayatri dan perusahaan. Semua datang bersamaan seperti membantainya habis habisan.


"Bailah, aku-balik dulu!" ucap Rama berpamitan.


"Thank's, Ram." sambut Shakti sebelum Rama pergi meninggalkannya.


"Jika sudah terpojok kamu selalu mengambil langkah gila, Shak." protes Arka, dia mencemaskan salah yang sudah ditempuh sahabatnya. Bagaimana bisa dia bermain dengan sebuah pernikahan dan hukum.


"Jika untuk menikahi Alexa aku harus dipenjara akan aku jalani." Sahut Shakti, kemudian dia berjalan menuju kursi kebesarannya untuk memeriksa semua laporan yang sudah di kumpulkan.


###


Alexa menatap sekitar dengan penuh tanya, dia bingung harus berbuat apa selama Laras tidak di rumah. Dia duduk dengan menatap tunggu di dapur, dia tersenyum geli saat menyadari banyak hal yang tidak bisa dia lakukan. Beberapa kali dia melihat Laras memasak dengan tunggu, tapi menggunakan peralatan itu saja dia tidak bisa.


"Tante Salma, kita menyusul Ibu ke sawah yuk!?" ajak Dewa dengan menghampiri Alexa yang sedang duduk di bangku yang ada di dapur.


"Dewa tahu jalannya?" tanya Alexa.


"Tahu, Ibu sering mengajak Dewa ke sana." jawab Dewa dengan menarik Alexa. Alexa pun berjalan mengikutinya. Mereka berjalan kaki menelusuri jalan berbatu yang diantara selanya ditumbuhi rumput liar yang subur.


Alexa menggandeng Dewa. Gadis itu begitu kagum dengan Dewa. Usia tiga tahun bocah itu terlihat luar biasa mandiri, dia seolah mengerti posisi orang dewasa.

__ADS_1


"Dewa, besok kalau besar ingin jadi apa?" tanya Alexa saat mereka berjalan bersama. Bisa terlihat suasana kampung yang tenang dan masih senggang penduduk. Tapi, orang orang yang ditemui terlihat segitu sopan satu sama lain.


"Dewa ingin jadi dokter!" ucap Dewa membuat Alexa tersenyum. Dia kembali teringat dirinya yang dulu. Entah kenapa Dokter salah satu profesi favorit yang sering di sebut anak anak saat kecil termasuk dirinya.


"Kenapa Tante Salma tersenyum?" tanya Dewa yang sejak tadi memperhatikan Alexa.


"Tante dulu juga ingin jadi Dokter sama seperti Dewa." jawab Alexa. Mereka menikmati hangatnya sinar mentari dengan oksigen segar yang terasa di paru paru.


"Kenapa kalian sampai di sini?" teriak Laras saat menemukan Alexa dan Dewa berjalan mendekat. Wanita itu langsung berjalan tergopoh-gopoh melintasi pematang sawah dan naik ke jalan.


"Dewa ingin menyusul Mbak Laras." sahut Alexa sambil menunggu Laras sampai di depan. Mereka kembali berjalan bertiga.


"Dewa, yuk kita ajak tante Salma ke air terjun!" ajak Laras, wanita itu ingin mengenalkan kampung ini pada Alexa.


Mereka berjalan menelusuri jalan yang sedikit menanjak. Jujur, Alexa begitu mengagumi ketenangan dan keindahan kampung ini. Melihat Aliran sungai yang airnya begitu bening membuat Alexa ingin sekali bermain air.


"Dewa hati hati!" ucap Laras saat bocah itu begitu riang berjalan lebih dahulu.


"Salma, kamu kerasan disini?" tanya Laras membuat Alexa menyurutkan senyumannya.


"Aku tidak berani pulang, Mbak!" jujur Alexa. Dia mulai terbuka dengan Laras tentang perasaanya.


"Kenapa?" Laras menghentikan langkahnya menatap Alexa penuh selidik.


"Aku malu, malu pada keluargaku malu dengan teman teman dan malu dengan dunia yang mungkin saat ini menghujatku habis habisan." Alexa kembali berjalan. Dia terus bercerita dengan rasa yang menyesak di dadanya.


"Apa yang terjadi?" Laras semakin penasaran.


"Fotoku berciuman dengan seseorang laki laki beredar di internet, Mbak. Foto itu di ambil seolah kamu sedang menikmati adegan itu. Padahal, sebenarnya itu terjadi karena sebuah pertengkaran hebat." jelas Alexa.


"Itu ciuman pertamaku dia merampasnya dengan jahat." lanjut Alexa dengan menitikkan sudut air dari kedua sudut matanya.


"Apa kamu mencintainya?" pertanyaan Laras membuat Alexa menoleh. Dia tidak mengerti perasaan apa yang dia miliki saat ini untuk Shakti. Sebuah cinta yang melebur dengan sebuah kebencian.

__ADS_1


"Dewa, berhenti di situ! Tunggu ibu dan Tante Salma." teriak Laras mengomando saat bocah itu sudah berdiri di hilir sungai.


Air terjun yang cukup indah dan masih sangat alami. Ini pertama kalinya Alexa melihat pemandangan yang masih alami.


"Percayalah, Sal. Orang orang yang sudah sangat mengenalmu tidak akan percaya begitu dengan foto yang beredar." jelas Laras kemudian mengambil putranya dalam gendongannya.


"Ibu, Dewa sudah besar! Jangan di gendong lagi!" protes Dewa dengan memberontakkan tubuhnya untuk turun.


Mereka bermain air bersama dibawah air terjun. Baru besar besar yang menghiasi sungai membuat tempat duduk mereka. Sesekali Alexa berdigik karena air yang terasa dingin alami menyentuh kulitnya.


###


Shakti, kembali ke rumah lebih awal. Sore, sebelum magrib, lelaki itu sudah menghentikan mobilnya di depan rumah mewah dengan halaman yang memberi kesan natural.


Mini Cooper. Dia melihat mobil clarisa terpampang ke halaman rumah. Lelaki itu sebenarnya sudah enggan jika bertemu gadis itu. Tapi, dia ingin segera mengistirahatkan dirinya yang sudah teras lelah.


Saat membuka handle pintu utama dan berjalan ke dalam, dia melihat Clarissa tengah duduk bersama mamanya.


"Shakti..." panggil Gayatri saat melihat putranya.


"Iya, Ma." Shakti mendekati namanya. Dia juga sempat melirik ke arah Clarissa yang menatapnya tajam. Entah mengapa dia enggan menyapa saat melihat tatapan Clarisa yang penuh selidik itu.


"Shak, apa benar kamu jadi menikah dengan Alexa? Kenapa tidak memberi tahu Mama? Kamu menganggap Mama apa, Shak? " tanya Gayatri terlihat penuh kecewa.


"Iya, Ma. Maafkan Shakti. Shakti tidak bisa menunda lagi menikahi Alexa." jawab Shakti.


"Kamu keterlaluan, Shak. Acara sesakral itu tidak memberi tahu mamamu." sela Clarisa yang terlihat sangat kecewa berita yang beredar baru saja. Setelah membaca berita yang ada, Clarisa langsung menemui Gayatri. Dia tahu jika Gayatri tidak akan berbohong padanya.


"Sebaiknya Mama istirahat saja! Shakti juga lelah terlalu banyak kerjaan yang harus beres dalam minggu ini."


"Tapi, dimana dokter muda itu? Kata Tante Gayatri dia tidak tinggal di sini." kalimat Clarisa membuat Shakti menghentikan langkahnya yang akan menaiki tangga. Lelaki itu kemudian menoleh ke arah dua wanita yang tengah duduk bersama.


"Alexa sedang ada seminar di Jepang, dia sekaligus liburan dan nanti aku akan menyusulnya untuk berbulan madu jika pekerjaanku sudah beres."

__ADS_1


"Puas! Dia istriku kamu tidak berhak mengurusi kemana dia pergi." ucap Shakti dengan tegas. Tatapannya begitu dingin saat cecaran pertanyaan di layangkan padanya. Saat ini terlalu banyak masalah yang membuatnya mudah tersulut emosi.


Bersambung


__ADS_2