
Kejadian saat Alexa hampir saja terserempet mobil membuat Shakti mengambil tindakan. Lelaki yang merasakan firasat buruk itu seseorang untuk memeriksa kembali kejadian dari CCTV yang berada di sana. Hal itu membuat Shakti tidak cukup untuk bisa berkonsentrasi.
"Mas Bimo, apa Pak Ringgo sudah memberikan laporan tentang resort yang akan di bangun?" tanya Shakti setelah menerima laporan dari asistennya.
"Oh...sudah, Pak. Tapi, untuk bisa buka meeting selanjutnya kita menunggu rancangan bangunannya jadi."
" Oh, begitu. Mas, tolong ingatkan pada semua tim devisi, untuk meeting besok akan dimulai jam delapan pagi." jelas Shakti.
"Siap, Pak."
"Oh ya, setelah meeting di sini. Kita akan ke kantor Pak Arka. Akan ada tamu dari Thailand dan Jepang yang akan meninjau pabrik untuk kerja sama selanjutnya."
"Dan lusa kosongkan jadwal ku, Mas Bimo." perintah Shakti.
"Baik, Pak. Kalau begitu saya permisi." setelah semua perintah yang dia terima, Bimo pun melangkah keluar ruangan. Tapi saat sampai di pintu, seseorang membuka pintu ruangan Shakti.
"Selamat Malam." sapa laki laki bertubuh tinggi dan berambut cepak itu dengan melihat Shakti.
"Eh... malam, Bang." jawab Shakti kemudian berdiri dan menghampiri lelaki yang kini juga berjalan mendekat ke arahnya.
Shakti membawa tamunya untuk duduk di sofa. Lelaki yang masih dibuat pemasaran dengan kejadian kemarin itu pun menyewa seorang detektif untuk menyelidikinya.
"Bagaimana, Bang? Apa ada yang harus di waspadai?" tanya Shakti dengan tidak sabar.
"Tentu, tapi jangan terlalu khawatir, sangat mudah mengawasi gadis berkerudung itu karena aktifitasnya yang di situ-situ saja." ujar Rama, selama dia memantau Alexa, Alexa tidak pernah keluyuran sembarangan.
"Di dalam amplop itu ada rekaman CCTV dari beberapa tempat. Anda bisa melihatnya sendiri!" lanjut Rama.
Dia kemudian beranjak pergi, lelaki yang cenderung memberi kesan misterius itu pun melangkah keluar ruangan. Sedangkan Shakti hanya kembali terdiam, pertanyaan demi pertanyaan berkelebatan di otaknya. Siapa dan apa tujuannya? Yang dia yakini adalah dalang semua itu bukan orang sembarangan karena pekerjaannya tergolong cukup rapi.
Shakti memilih segera pergi ke apartemen. malam ini dia akan memilih bermalam di apartemen untuk kembali meneliti laporan yang diberikan Rama.
Lelaki itu keluar dari mobilnya yang terparkir di baseman. Kaki jenjangnya melangkah panjang dengan tubuh tegap penuh keyakinan. Sosok dengan karakter kuat itu pun melipat lengan kemejanya saat berada di loby.
"Alexa?" gumamnya saat melihat Alexa yang berjalan menuju lift dan terlihat memencet tombol di sana.
Tanpa berfikir lagi, lelaki itu pun berlari dengan tergesa-gesa, hingga kakinya menahan pintu lift yang akan tertutup.
Melihat lelaki yang selama ini dia hindari itu masuk ke dalam lift, Alexa pun terhenyak kaget.
"Kenapa sekaget itu?" seloroh Shakti saat melihat wajah kaget gadis yang dia kejar. Alexa hanya terdiam, dia tidak menanggapi lagi lelaki yang kini mendekat dan berdiri di sebelahnya.
__ADS_1
"Kenapa menghindariku, Ay?" ucap Shakti dengan melirik gadis yang mengapit tote bag dengan kedua lengan kecilnya.
"Aku tidak menghindarimu, Mas." jawab Alexa singkat, dia tidak berani menatap wajah lelaki yang sedari tadi menoleh ke arahnya. Dengan tenang, Shakti tersenyum sinis.
"Tapi, memberi batasan dan jarak hubungan kita." sahut Shakti dengan tidak pernah mengalihkan pandangannya dari sosok cantik itu.
"Kita memang harus menjaga jarak. Kamu milik perempuan lain. Dan aku juga tidak ingin dibohongi untuk kedua kalinya."
"Arrrgghhh... " pekik Alexa dengan lirih saat lift bergoyang dan lampu di dalamnya yang juga padam.
"Entah berapa kali aku harus mengatakannya, atau jika perlu aku bersumpah jika aku dengan Clarissa sudah putus." jelas Shakti diantara suasana gelap.
Tidak ada jawaban dari Alexa. Hingga keheningan sejenak menjeda pembicaraan diantara mereka. Alexa benar benar tak bereaksi, sementara Shakti terdengar menghela nafas dalam menahan rasa kecewa.
Lampu lift kembali menyala, tapi lift masih belum bergerak.
"Ay... " ucap Shakti terkaget saat melihat Alexa sudah berjongkok dengan keringat yang mengucur di wajah pucatnya.
"Ay, kamu kenapa?" tanya Shakti yang terlihat bingung kemudian ikut berjongkok. Dia meneliti wajah ketakutan Alexa.
"Kamu kenapa?" ulang Shakti. Alexa pun mengerjapkan mata dan menghela nafas. Dia mencoba mencari kesadarannya. Sejak kecil Alexa memang sudah takut gelap.
"Aku bisa sendiri, Mas." Alexa berusaha berdiri meski kakinya masih terasa bergetar. Shakti hanya menatap gadis yang terlihat berdiri dengan tertatih.
Saat tangannya mencari ponsel di saku. Lift kembali bergerak membuatnya mengurungkan niat untuk menelpon.
Alexa keluar terlebih dulu saat lift terbuka. Tapi, ketika melihat gadis itu melangkah keluar dengan lemah, Shakti pun mengikutinya keluar. Meski unit apartemennya di lantai yang berbeda tapi lelaki itu hanya ingin meyakinkan Alexa masuk apartemen papanya.
"Ay... " panggil Shakti menghentikan Alexa yang akan membuka pintu apartemen. Lelaki tinggi dengan postur tubuh cukup proposional itu berlari mendekat.
"Ay... "
"Mas aku mohon, jangan lagi membuat sulit keadaan. Keputusanku tidak akan berubah. Aku ingin membuka lembaran baru." pinta Alexa, sorot matanya terlihat lemah dan penuh permohonan.
"Apa karena lelaki lain?" tanya Shakti.
"Iya, biarkan aku menjalani hidup dengan tenang bersama orang lain." jawab Alexa. Hanya itu cara Alexa menghindar dari lelaki itu. Dia akan merasa sulit melupakan Shakti dan kenangan yang pernah ada hanya karena lelaki itu selalu menghantui langkahnya.
Shakti hanya terdiam mematung, diantara percaya dan tidak percaya. Saat Alexa menutup kembali pintu apartemen papanya, Shakti baru menyadari jika Alexa sudah masuk ke dalam.
Dibalik pintu, gadis itu terdiam. Rasanya memang tak sesakit saat pertama dia mengetahui jika dirinya berada diantara hubungan orang lain. Tapi tetap saja dia menitikan air mata yang sudah sejak tadi mengembun.
__ADS_1
"Semua akan berlalu, kamu miliknya, Mas. Kamu dan kenangan kita akan berlalu dengan berjalannya waktu." Alexa bermonolog dengan hatinya sendiri. Setelah mengusap titik air dari kedua sudut matanya Alexa melangkah masuk ke menuju sofa yang ada di ruang tengah.
###
"Sial... aku sudah tidak bisa menggenggam Shakti." Clarisa kemudian menegak sekali lagi minuman yang baru saja dia pesan dari bar tender.
"Cla, jangan banyak minum! Aku takut nggak bisa membawamu pulang." ucap Septi, teman Clarisa yang diajaknya pergi ke club malam.
Suara di dalam club begitu riuh dengan musik DJ yang begitu bersemangat. Tapi sayang, sejak tadi gadis itu meracau dan marah-marah tidak jelas karena rasa kecewa yang dia rasa. Hatinya tidak bisa menerima jika tidak mendapatkan lelaki yang sudah dia damba itu.
"Kamu butuh liburan, Cla. Sudah lama kamu tidak pergi keluar negeri." Septi mencoba mencari cara agar sahabatnya bisa melupakan Shakti tanpa harus mabuk mabukan. Sejak putus dengan Shakti gadis itu sudah tidak seperti dulu. Kebiasaannya hanya bermalas malasan dan mengurung diri di apartemen.
Clarisa sudah beberapa kali menegak minumannya tanpa dia sadari. Tubuhnya mulai sudah tidak seimbang, gadis itu merasa kepalanya mulai berputar dengan pandangan mata yang kabur. Dan lebih parahnya, dia meracau tidak jelas membuat Septi mulai memikirkan cara untuk membawanya pulang.
"Hae, Daniel!" panggil Septi ke arah lelaki yang sudah dia kenal. Daniel, dia teman kuliah mereka di salah satu universitas negeri di pulau Jawa ini.
"Hallo, Sep. Eh, Cla...?" teriak Daniel. Suara Daniel bersaing dengan musik yang berdentum keras. Clarisa hanya berdehem dengan meletakkan kepalanya di meja bar.
"Dan... please, bantu gua dong!" pinta Septi dengan memohon.
"Apaan?" tanya Daniel dengan rasa penasaran.
"Anterin Cla pulang ke apartemen! Gua bawa mobil sendiri." pinta Septi yang mendapat anggukan lelaki di depannya. Dari dulu, Daniel memang sudah menyukai Clarisa. Tapi, dia yakin akan susah jika bersaing dengan Shakti hingga membuat dia mengurungkan niatnya untuk memiliki gadis yang di idolakan banyak lelaki itu.
"Baiklah... kasih alamat apartemennya." Septi memberi alamat dan nomer apartemen Clarisa.
Mereka pun meninggalkan Club malam bersama tapi dengan jalan pulang yang berbeda. Daniel kini bersama Clarisa. Gadis cantik yang cukup menarik bagi kaum Adam.
Bersambung...
Hae kak, ayo semangat untuk menabung hadiah dan Vote untuk Rindu Alexa. Author sudah menyiapkan doorprizenya dan kenang kenangan dari Rindu Alexa. Bukan barang mewah tapi bisa digunakan saat shopping ya....
Kita akan menyiapkan 3 totebag untuk 3 orang yang beruntung. Author akan menghitung dari jumlah banyaknya top fans ya gaes... perhitungan akan dilakukan akhir februari dan diumukan yang beruntung tgl 1 maret ya gaes.
Bagnya biasa tapi anggap saja Di** ya kak hehehehe
untuk naruh barang aman juga hehehe
__ADS_1