Rindu Alexa

Rindu Alexa
Membuat Alexa Tersenyum


__ADS_3

"Hallo, cantiknya Papa!" Hans mencubit hidung mancung putrinya saat Hanum sibuk dengan laptop dan sebuah buku yang menjadi referensi tugasnya.


"Papa... " protes Hanum tanpa menoleh papanya yang memilih duduk di depannya.


Dari semalam Hanum sudah sibuk dengan tugas kuliahnya dan dilanjutkan setelah Salat Subuh.


"Pa, nanti kalau Hanum nebeng sampai kos teman Hanum ya?" ucap Hanum.


"Kenapa nggak minta dianterin pacar kamu saja?" pancing Hans. Dengan melirik Hanum yang masih fokus dengan tugasnya.


"Nggak usah ngeledek, Pa. Mentang mentang Hanum nggak punya pacar." sungut Hanum dengan malas. Tapi, ada rasa lega di hati Hans saat putrinya mengatakan tidak punya pacar.


"Ohhh, Papa kira kamu sudah punya pacar. Hahaha...." tawa Hans bukti dia sedang merasa lega. Dia hanya berharap Hanum bisa memilih lelaki yang tepat karena Hans sadar putrinya sudah beranjak dewasa.


"Bukannya Papa melarang kamu pacaran, Num. Tapi Papa harapan kamu bisa memilih lelaki yang tepat dan kamu dewasa kamu harus bisa bertanggung jawab atas dirimu sendiri." lanjut Hans, dia mulai membimbing putrinya.


"Siap, Pa. Tapi Hanum masih ingin fokus kuliah." lanjut Hanum.


Pagi itu Hans mulai berbicara pada putrinya dengan cara dewasa. Hingga akhirnya Zoya memanggil mereka untuk sarapan.


###


Hampir seharian Hanum berada di kos teman satu kelompoknya yang bernama Riri. Awalnya Dira juga ikut karena ada suatu kepentingan gadis itu pamit terlebih dahulu. Sedangkan, Riri dan Hanum sepakat untuk menyelesaikan tugasnya hari ini juga.


"Aku ngampus dulu, Ri. Biasa ikut kelas semester atas biar cepet lulus." ucap Hanum sambil mengemasi semua barang barangnya dan bersiap untuk pergi.


Masih diantar Riri, Hanum keluar dari kemarin gadis itu. Anak kos lainnya yang kebetulan baru tiba dan akan pergi kuliah membuat suasana kos begitu ramai. Belum lagi, di ruang depan khusus tamu, ada beberapa tamu dari anak kos yang sedang ngobrol di sana.


"Yakin kamu mau nyari angkot? Beneran nggak pesan taxi?" tanya Riri untuk kembali meyakinkan keputusan Hanum. Gadis itu memang menaruh rasa kagum pada Hanum yang sederhana. Semua anak di kampus tahu, jika Hanum putri dari pengacara ternama yang punya banyak property dan usaha lainnya tapi dia tidak menggunakan mobil sendiri untuk ke kampus. Tapi, Riri juga tidak kaget karena Aleks kembaran Hanum , terkadang juga menjemput Hanum dengan menggunakan motor saja.


Sebuah tawa renyah dan suara bariton di ruangan yang kini dilewati Hanum membuat gadis yang kini sedang terburu buru itu pun menoleh.


Arkha dan Rania sedang berada di ruang tamu yang ada di bagian paling depan kos putri.


Gadis itu sempat terkejut saat melihat Arkha sedang berada di kos Rania masih dengan kemeja kerja.


"Hanum... " panggil Arkha saat melihat Hanum yang sedang melintas. Tapi, Hanum tidak peduli, dia bahkan meminta Riri untuk masuk ke dalam setelah dia keluar dari gerbang.


Sementara itu Arkha segera erpamitan pada Rania. Arkha memang sudah selesai membantu Rania untuk membuat situs web.


"Terima kasih, Bang. Sudah menyempatkan membantu Rania." ujar gadis itu yang di jawab anggukan Arkha. Padahal lelaki itu melirik Hanum yang sudah berjalan menjauh dari kos.


Hanum memang sengaja menjauh dari kos itu untuk menghentikan angkutan umum. Tapi saat mendengar bunyi klakson mengiringi langkahnya membuat Hanum mempercepat jalannya. Firasatnya itu mobil Arkha. Dia memang sengaja tidak menoleh.


"Hanum... " panggil Arkha dengan menarik lengan gadis itu.

__ADS_1


"Apa- apaan sih!" Ketus Hanum dengan melepaskan tangannya.


"Ayo Kak Arkha antar ke kampus."


"Aku tidak ke kampus." bohong Hanum yang berusaha untuk meninggalkan tempat itu, tapi Arkha buru- buru menghadangnya.


"Kemana kamu mau pergi, ayo Kak Arkha antar." bujuk Arkha.


"Emang sekarang beralih profesi jadi sopir umum? " sindir Hanum, gadis itu begitu judes dengan lelaki di depannya.


"Cuma nganter kamu saja, tidak yang lain." jawab Arkha masih menampilkan senyumnya.


"Minggir, jangan ganggu aku!" Hanum akan melewati Arkha tapi lelaki itu masih berusaha menahannya.


"Apa kamu tidak bisa bicara lembut?" ucap Arkha masih dengan menggenggam lengan gadis yang masih merasa kesal itu.


"Apa itu urusanmu? Kita tidak punya urusan apapun jadi berhentilah untuk menggangguku." Kalimat itu meluncur begitu saja. Arkha menghela nafas berat, dia mencoba bersabar menanggapi bocah di depannya.


"Kamu semakin hari terlihat semakin menyebalkan jika marah marah terus." ucap Arkha membalas kalimat Hanum.


"Kalau begitu jangan menggangguku. Kamu terlalu tua mengganggu anak muda sepertiku." Hanum masih saja ketus, membuat Arkha tidak tahu lagi cara melumerkan sikap gadis itu.


Arkha melepaskan genggamannya, dia hanya menatap gadis yang berjalan menjauh dan akhirnya masuk ke dalam angkutan umum.


Benarkah aku sudah mengganggunya? Tapi, untuk apa? Aku hanya merasa harus baik dengannya karena dia adik ipar dari sahabat baikku, hingga aku juga perlu menganggapnya adik.


###


Alexa keluar dari butik langganan Mama Gayatri setelah mendapatkan baju dan sepatu yang pas untuknya.


Kali ini perutnya sudah terasa sangat lapar, hingga membuatnya masuk ke dalam food court yang ada di lantai yang sama dengan butik yang baru saja dia kunjungi.


Sambil menunggu pesanannya, Alexa mencoba untuk mengirim pesan pada Shakti tentang dimana keberadaannya.


"Lihatlah itu kan, istri dari owner Arhasya group?" bisik seseorang di meja yang ada di belakang Alexa.


"Iya sepertinya sama seperti yang ada di foto." jawab suara yang lain.


"Aneh, nggak sih. Orang sekaya Shakti, harus menikah diam diam, tidak ada pesta, bahkan terkesan di sembunyikan."


"Iya si, terkesan di sembunyikan."


"Jangan- jangan, hamil duluan."


"Eh tapi lihatlah, tampilannya kayak anak pesantren, masak hamil duluan."

__ADS_1


"Siapa tahu, tidak ada yang menjamin kan? Tapi, bicara tampilan benar benar tidak pantas jika harus berdampingan dengan Shakti yang keren itu."


"Iya, kalau sama mantannya yang dulu couple goals banget ya. Serasi banget, cocok banget pokoknya."


Suara suara di bangku belakang membuat Alexa mendesah, rasanya di bandingkan dengan mantan suaminya membuat hatinya terasa sakit.


Alexa beranjak dari duduknya, dia memilih membayar tagihan dari pesanan yang belum dia makan sebelum pergi meninggalkan Food court tersebut.


Pikirannya tidak bisa beralih dari pembicaraan pada wanita yang tidak menyukai hubungannya dengan Shakti.


Saat berjalan keluar, Alexa tidak menyadari jika seseorang sedari tadi sudah memanggilnya, bahkan kini mengejarnya.


"Hae... . " Shakti menarik lengan istrinya, membuat Alexa terhenyak kaget. Secepatnya Alexa mengusap wajah lembab yang sedari tadi tertunduk. Alexa berjalan dengan menyembunyikan matanya yang terus berair.


"Kamu kenapa? Katanya mau makan?" cecar Shakti sambil terus menatap mata sembab istrinya. Dia tahu Alexa habis menangis.


"Aku sudah tidak lapar, Mas. Kita makan di rumah saja." pinta Alexa yang benar benar membuat Shakti semakin tidak mengerti.


"Kamu kenapa, Ay? Ada apa hingga membuatmu menangis?" tanya Shakti dengan merangkul bahu istrinya dan berjalan menuju lift. Shakti memilih menggunakan lift untuk menuruni lantai di lantai dasar mall.


"Aku tidak apa apa, Mas. Aku hanya ingin cepat pulang." jawab Alexa membuat Shakti mengiyakan keinginan istrinya. Meski, hatinya masih mengganjal akan sesuatu yang terjadi pada istrinya.


Sore menjelang petang, mereka masih terdiam di dalam mobil yang menyusuri jalan yang cukup ramai.


Dengarkanlah


Di sepanjang malam aku selalu berdoa


Cintaku dan cintamu selalu terjaga


Dan aku pasti setia


Shakti mengikuti sebuah lagu ( Cinta sampai Mati) yang sedang mengalun dari audio mobilnya. Alexa menoleh ke arah suaminya, dia tidak lagi bisa menahan senyumnya kalau melihat suaminya bernyanyi sambil tersenyum dan melirik ke arahnya. Seolah- olah sedang menyanyikan lagu itu untuknya.


"Emang, Mas Shakti pernah berdoa di sepanjang malam?" tanya Alexa menutupi dirinya yang kini salah tingkah.


"Kan doanya dalam hati." jawab Shakti membuat Alexa kembali tersenyum.


"Paling pintar kalau di suruh nge- gombal." lirih Alexa kemudian menundukkan wajahnya yang kini sedang tersipu.


"Aku senang jika kamu tersipu seperti itu, Ay."


"Emmuaaaach... " Shakti memonyongkan bibirnya membuat Alexa memalingkan wajah agar Shakti tidak bisa melihat senyumnya.


Jaguar metalik itu pun membelok pada ke arah rumah yang punya pagar otomatis. Mereka sudah memasuki halaman luas dan melewati beberapa pohon yang tertanam sepanjang jalan menuju rumah mewah dan clasic itu.

__ADS_1


Arkha



__ADS_2