
"Num, ayo pamit ke Ibu dulu!" pinta Arkha setelah mereka berkemas.
"Males banget. Lagian Ibu itu nggak bisa menghargai orang." tolak Hanum yang masih kesal dengan sikap mertuanya yang berulang kali menyakiti perasaannya.
"Kak Arkha mohon, Hanum! Mengertilah situasi Kak Arkha." ucap Arkha dengan lembut, lelaki itu benar benar dibuat bingung dengan posisinya. Dia memang tidak membenarkan sikap Ibunya tapi dia juga tidak bermaksut membangun permusuhan dengan wanita yang sudah melahirkannya.
"Baiklah!" jawab Hanum dengan lemah. Hanum dan Arkha kemudian keluar dari kamar dan menghampiri ibunya yang sedang duduk di kursi santai.
"Bu, Arkha balik dulu!" pamit Arkha saat berada di depan ibunya yang tak sudi melihatnya.
"Hanum juga pamit dulu!" lanjut Hanum tapi wanita sepuh itu malah memalingkan wajahnya.
"Maafkan Arkha, secepatnya Arkha akan menjenguk Ibu!" Arkha memeluk ibunya yang masih tak bergeming kemudian menarik lengan Hanum untuk keluar dari rumah.
Kemarahan ibunya membuatnya pergi dengan perasaan yang mengganjal di hati lelaki itu. Tapi, tidak mungkin dia membiarkan Hanum pergi sendiri karena Hanum adalah memang tanggung jawabnya.
Arkha terus melajukan mobilnya dengan pikiran yang sedang berkecamuk. Selama dalam perjalanan mereka terdiam, hingga akhirnya terdengar bunyi perut Hanum yang sedang menagih untuk mendapatkan makanan.
"Kamu mau makan apa?" tanya Arkha dengan melirik wajah cemberut di sebelahnya.
"Aku tidak ingin makan!" jawab Hanum membuat Arkha terdiam dan mencari rumah makan terdekat. Bagaimana bisa tidak ingin makan? Sementara cacing di perutnya saja sudah berteriak kelaparan.
"Kamu mau sate ayam?" tanya Arkha sambil memelankan mobilnya saat melihat penjual sate ayam mangkal.
"Mau... " jawab singkat Hanum, Arkha pun menghentikan mobilnya tidak jauh dari penjual sate ayam. Mereka keluar dari mobil dan memilih duduk lesehan di dekat gerobak.
"Dua porsi, Cak!"
"Tiga, Cak." Hanum langsung menyela Arkha sedangkan penjual sate meyakinkan mereka mana yang benar.
"Tiga, Cak.... " tegas Hanum dengan melirik sengit Arkha.
"Emang habis?" tanya Arkha.
"Terserah aku, yang penting, aku akan benar bener morotin Kak Arkha seperti kata Ibu mertua." Arkha hanya mengusap kepala Hanum sambil tersenyum. Dia hanya merasa istrinya memang bocah.
Sambil menunggu pesanannya, Hanum pun mengeluarkan ponselnya dan melihat story teman temannya. Sebenarnya banyak pesan masuk, tapi gadis itu tidak mengindahkannya
"Num, lusa Rania akan bekerja sebagai asisten Kak Arkha." ujar Arkha membuat Hanum menoleh ke arahnya.
__ADS_1
"Terus, apa hubungannya denganku?" tanya Hanum sambil melihat Arkha dengan tatapan tajam.
"Bukankah, tanpa persetujuanku pun, Kak Arkha sudah memutuskan itu?" lanjut Hanum dengan menekan rasa tidak senang dalam hatinya. Kenapa harus sebagai Asisten? Apa tidak ada posisi lain? Mungkinkah sepenting itukah rania hingga lelaki di depannya ingin selalu memberikan yang terbaik.
"Bukan seperti itu, Hanum. Aku hanya ingin kamu tahu saja." lanjut Arkha, tapi Hanum hanya terdiam hingga penjual sate datang.
Tanpa bicara lagi Hanum memakan satenya dengan grasak grusuk. Sebenarnya, dia sedang marah, sedih hingga dia pengen sekali menangis. Ternyata menikah itu hal yang menyakitkan, lelaki yang tidak mencintainya, mertua yang tidak mengharapkannya seperti membuat penderitaannya semakin lengkap.
"Uhuk - uhuk... " Hanum tersedak membuat wajahnya memerah dan telinganya terasa sakit. Dia pun mengeluarkan air matanya, tapi bukan sakit karena tersedak makanan tapi hatinya yang rasanya sudah tidak menampung emosinya.
"Pelan-pelan makannya." Arkha langsung memberikan air putih dan mengusap punggung istrinya. Hal itu malah membuat Hanum semakin tidak bisa mengontrol tangisnya.
"Ssstttt... jangan menangis kayak gini, malu jadi tontonan orang." ujar Arkha dengan mengusap air mata Hanum. Dia menatap wajah cantik dengan raut yang penuh teka teki. Apa tersedak hingga membuatnya menangis atau moodnya yang buruk karena omongan ibunya.
###
"Kamu harus lebih hati- hati, hamil muda memang adalah kondisi yang rentan. Semoga beberapa hari nanti sudah lebih baik." ucap Dokter Siska, dokter obgyn yang menangani alexa.
"Saya mengerti, Dok." jawab Alexa dia begitu menyesal tidak bisa mengendalikan perasaannya.
"Baiklah, kamu istirahat dan jangan stress! Aku tinggal dulu!" Dokter Siska pun keluar dari ruangan alexa di ikuti seorang perawat yang telah selesai memasang infus.
Sejenak alexa mengatupkan kelopak matanya, berusaha menetralkan perasaannya untuk saat meskipun itu sangat sulit. Tapi, dia juga tidak ingin terjadi hal buruk pada janinnya.
"Untung ada kamu, Dim. Terima kasih banyak untuk pertolonganmu." ucap Alexa dengan tulus.
"Tidak masalah, Lexa." jawab Dimas.
"Dim, jika kamu ada kepentingan, kamu bisa meninggalkanku. Aku akan menghubungi suami dan keluargaku." Mungkin tidak sopan jika Alexa bicara seperti itu, tapi dia sungguh tidak ingin merepotkan Dimas lagi. Kondisi Alexa mengharuskan bed restart beberapa hari dan dia pun memilih di klinik saja.
"Baiklah, jika butuh sesuatu kamu bisa menghubungi aku."
Dimas pun meninggalkan Alexa yang kini memilih sendiri. Alexa belum berniat menghubungi siapapun termasuk keluarganya. Dia memilih untuk menenangkan perasaannya terlebih dahulu meskipun itu sangat sulit. Rasanya bayangan akan kissmark dileher dan noda lipstik di baju suaminya membuat emosinya selalu meledak ledak.
"Astagfirullah Hal- adzim." lirih Alexa sambil mengelus perutnya.
Berlahan dia merebahkan tubuhnya dan berusaha memejamkan matanya. Bibirnya terus mengucapkan kalimat istigfar berharap bisa menenangkan pikirannya.
Di sebuah mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi Shakti terus saja berusaha menghubungi istrinya. Tapi sayang nomernya tidak aktif. Lelaki itu berharap Alexa sudah berada di rumah dan dia akan menjelaskan semuanya.
__ADS_1
Langsung saja di membelokkan mobilnya masuk ke dalam halaman. Dengan langkah setengah berlari, Shakti langsung masih ke rumah.
"Ay... Alexa! " panggil Shakti dengan berlari menaiki tangga. Suaranya tidak berhenti memanggil istrinya.
"Ay... " Bahkan lelaki itu seolah menubruk pintu kamarnya begitu saja. Tapi tidak ada siapapun. Bahkan, dia juga mencari Alexa ke kamar mandi.
"Ay... kamu di mana?" Dengan berkacak pinggang dia mengeram kesal, hatinya kini begitu jera. Takut istrinya benar benar pergi.
"Kenapa jadi seperti ini?" Shakti terduduk lemah di pinggir tempat tidur wajahnya menengadah hingga kemudian mengedarkan pandangan untuk menemukan istrinya di salah satu sudut kamarnya. Tapi itu sangat mustahil.
Tangannya yang bergerak menyentuh sebuah kotak yang terbungkus begitu apik.
Dear Hubby
Selamat ulang tahun yang ke -31 semoga panjang umur, sehat selalu dan mempunyai umur yang berkah di sepanjang hidupmu.
Aku tidak bisa memberikan sesuatu yang mahal atau mewah. Karena Allah sudah memberikanmu segalanya. Tapi, aku ingin mengucapkan sekali lagi, selamat untukmu untuk kita. Sebentar lagi Mas akan menjadi seorang Papa.
Istrimu
Shakti tidak bisa menahan air matanya, perasaannya kini bercampur aduk. Rasa bahagia, rasa tidak percaya, rasa bingung dan rasa takut. Dimana sekarang istri dan calon anaknya? Apa mereka baik baik saja setelah kejadian tadi?
Tubuhnya bergetar hebat, dia begitu gugup dengan rasa cemas yang begitu hebat menyelimuti perasaannya. Dia harus bertemu Alexa sekarang, itu yang saat ini membuatnya bangkit dan berjalan dengan tergesa ke luar kamar.
"Ma, Alexa sudah pulang?" tanya Shakti saat menemukan mamanya di bawah.
"Sepertinya Lexa belum pulang." jawab Gayatry dengan ragu. Dia lebih fokus pada wajah cemas dan tampilan amburadul putranya.
"Ya sudah!" Gayatri pun terlambat menyadari kepergian putranya yang sangat tergesa.
"Kamu di mana, Ay." gumamnya saat melakukan mobilnya keluar halaman rumah. Kini dia sedang mempertimbangkan ke mana dia harus mencari Alexa.
Ke rumah Mama Zoya? Sebaiknya aku akan menelponnya terlebih dahulu sebelum ketemu Papa Hans yang pastinya akan ramai atau membunuhku .
Shakti bermonolog dalam hatinya. Dia memasang earphones dan mulai menghubungi Mama Zoya.
"Assalamu'alaikum. " sambut wanita di seberang dengan begitu lembut.
"Ma, Alexa datang ke rumah Mama?" Shakti langsung mencecar mamanya dengan pertanyaan.
__ADS_1
"Belum datang, Shak."
"Baik, Ma. Assalamu'alaikum." Shakti langsung menutup panggilannya dan mulai mempertimbangkan kemana harus mencari istrinya.