
Arkha hanya mengikuti langkah Hanum menuju apartemen. Bukan tidak tahu penyebabnya, tapi dia masih menunggu situasi yang tepat untuk membujuk istrinya. Sedari tadi Hanum hanya terdiam sepanjang perjalanan pulang dan itu membuatnya mengerti jika gadis mungil yang berjalan meninggalkan langkahnya sedang tidak baik- baik saja.
"Sayang... " panggil Arkha bersamaan dengan langkahnya mengikuti Hanum masuk ke dalam kamar.
Tidak ada jawaban apapun bahkan Hanum tidak menoleh pada lelaki yang kini berdiri di dekatnya. Hanum hanya membuka pasmina dan menaruhnya di sandaran sofa. Hatinya masih dirundung rasa marah karena sikap Arkha yang menurutnya berlebihan terhadap Rania.
"Come on... Please! Jangan seperti anak kecil, Num." ucap Arkha saat berdiri di dekat Hanum.
Seketika Hanum langsung menoleh, Hatinya bertambah geram saat Arkha seolah menyalahkan sikapnya yang sudah menunjukkan rasa kecewa. Sejenak dia terdiam menatap suaminya dengan perasaan entah.
"Oke, aku seperti anak kecil. Oke, aku selalu menyusahkan hidup Kak Arkha. Aku tidak mengerti posisimu..." kalimatnya yang menggebu itu terjeda saat dirinya meraup udara sebanyak mungkin mencari sela di ruang dadanya yang terasa sesak. Emosinya seolah sudah berada di ubun ubun.
"Sayang, bukan... "
"Oke-oke, aku bahkan mudah sekali marah. Terus apalagi yang harus dipertahankan dari istri sepertiku?" sela Hanum. Kalimatnya melemah tapi terdengar begitu dalam.
"Num... " Arkha memegang kedua bahu kecil itu, menatap Hanum yang kini mengalihkan pandangan darinya. Mata bulat yang sudah berembun itu tidak luput dari tatapannya. Arkha tidak menyangka jika semua sudah melukai Hanum.
"Maafkan aku." lirih Arkha masih menatap manik mata coklat dengan penuh penyesalan. Dia seolah kehilangan banyak kata untuk meminta maaf karena kembali melukai perasaan gadis di depannya itu.
"Mungkin benar, aku yang terlalu berlebihan. Itu karena aku tidak ingin terluka lebih jauh lagi. Aku juga tidak ingin memaksa seseorang bertahan denganku karena kasihan." Hanum yang berhasil menahan air matanya berusaha menjauh, tapi ditahan oleh Arkha.
"Tidak ada yang terpaksa. Aku mencintaimu, Num." Arkha memeluk tubuh mungil itu begitu erat hingga berhasil membuat gadis yang jantungnya berdegup tidak karuan itu membeku.
"Aku terkadang memang merasa kasihan, tapi juga aku sayang kamu." bisik Arkha yang sontak saja membuat Hanum mendongak menatap tajam mata sayu yang terlihat tenang itu. Wajah rasa bersalah Arkha begitu terlihat jelas.
"Kasihan? Benarkan, Kak Arkha, merasa kasihan padaku?" sambil tersenyum kecut tangan kecil itu berusaha mendorong tubuh besar itu menjauh.
__ADS_1
"Sayang, dengarkan aku dulu!" Arkha menahan tubuh Hanum yang akan menciptakan jarak.
Hening. Hanum merasa tidak tahu lagi bagaimana menanggapi Arkha. Dia hanya terdiam menatap wajah yang hanya berjarak beberapa senti darinya.
"Aku kasihan padamu, aku tidak tega saat kamu terluka, aku juga marah saat kamu menolakku, bahkan aku tidak bisa saat kamu menjauh. Semua rasa ada untukmu, Sayang. Aku tidak tahu harus menyebutnya apa. Saat ini yang aku tahu, aku mencintaimu, Num." Mendengar kalimat Arkha yang panjang lebar dan terdengar begitu manis membuat rasa cemburu Hanum mulai tersisih. Bahkan rona wajahnya yang kini bersemu merah.
"Meskipun seperti anak kecil, cerewet, pemarah dan menyusahkan tapi aku menyukai semua yang ada padamu." Melihat wajah imut itu berlahan mulai cemberut justru itu yang membuat Arkha tersenyum samar. Ya, inilah Hanum. Gadis uniknya yang seolah punya kepribadian ganda. Terkadang dia begitu polos dan manja, begitupun juga bisa berubah menjadi begitu dewasa dan bijak.
"I love you, Sayang." Sekejap saja diantara lengahnya Hanum dengan rasa yang bercampur aduk, Arkha berhasil mencuri satu ciuman di bibir ranum istrinya.
"Kak Arkha...!" Hanum mencubit perut keras Arkha hingga membuat lelaki itu terkekeh.
"Apa Kak Arkha tahu aku tidak ingin mencintai seseorang terlebih dulu. Dan aku tidak ingin hidupku menjadi rumit karena sebuah pengkhianatan atau perselingkuhan. Jadi, bagiku setiap lelaki dan perempuan yang bukan mahrom harus mengerti batasannya!" Jelas Hanum. Arkha pun hanya menanggapi dengan senyuman yang sulit diartikan. Dia telah mengerti semuanya, hanya saja Hanum tidak menyadari jika dia sudah memiliki rasa yang aneh saat mereka bertemu pertama kali. Mungkin lelaki itu yang jatuh cinta terlebih dahulu pada gadis bar bar yang sedang mengamuk di kantor Shakti kala itu.
"Kenapa senyum- senyum?" tanya Hanum dengan menatap curiga Arkha.
"Aku sedang merayu istriku. Apa itu salah?" Arkha menelangkup wajah cantik itu dengan kedua tangannya. Tatapannya kini mulai terlihat sayu.
Sementara, Hanum hanya bisa salah tingkah, sibuk dengan rasa gugup yang tiba tiba menyerang. Ah, Hanum yang tidak begitu peka dengan tatapan lelaki yang sedang mendambanya kini hanya sibuk menenangkan degupan jantung yang tidak beraturan.
"Kak Arkha... " lirihnya berusaha mengalihkan pandangan dari tatapan penuh hasrat dari seorang laki laki yang sudah lama menahan keinginannya setiap mereka berdekatan.
"Aku sudah tidak bisa menundanya lagi, Num." Suara serak Arkha terdengar menuntut.
Hanum hanya bisa pasrah. Meskipun, itu begitu natural tapi ini pengalaman pertama untuknya. Hal penuh cinta, hasrat, dan gelora membuat desiran hebat dalam dirinya.
Setitik air mata dari wajah cantik yang menahan rasa sakit membuat lelaki yang sudah hampir hilang kendali karena gairah itu pun melembutkan gerakannya. Dia baru tersadar ini pengalaman pertama istrinya. Ah Hanum, gadis mungil itu telah membuatnya menghabiskan malam ini dengan begitu gilanya.
__ADS_1
###
Alexa menoleh saat pintu kamar dibuka. Di sana terlihat Shakti berjalan menghampirinya yang tengah duduk di sudut kamar yang sudah lama dia tinggalkan.
Lelaki bertubuh atletis itu mendekat dengan membawakan susu hamil untuk istrinya.
"Mas aku bisa membuatnya sendiri nanti." sambut Alexa kemudian berdiri dan menghampiri Shakti.
"Kebetulan aku dari bawah, biar kamu nggak usah turun lagi." jawab Shakti saat menyerahkan gelas itu pada Alexa.
"Terima kasih, Mas." jawab Alexa sambil tersenyum manis. Di awal kehamilan istrinya sudah dia lewatkan begitu saja bahkan dia pun tidak mengetahui jika istrinya sudah hamil. Hal itu membuat Shakti ingin memperbaiki semuanya.
Alexa kembali duduk untuk meminum susunya. Sementara, Shakti membuka kemejanya dan bersiap untuk mandi.
"Ay, besok aku keluar kota. Kamu nitip apa?" tanya Shakti yang hanya dijawab dengan tatapan sendu Alexa.
"Maksudnya, kamu lagi pingin apa?" lanjut Shakti berjalan mendekat ke arah Alexa setelah meletakkan kemeja kotornya sembarangan.
"Apa, Mas Shakti, tidak pulang?" pertanyaan Alexa membuat Shakti tersenyum kemudian merengkuh Alexa dalam pelukannya. Dia tahu jika istrinya merasa keberatan.
"Aku pulang, tapi mungkin tengah malam baru sampai rumah." jawab Shakti, lelaki itu menunda waktu mandinya saat masih melihat wajah gamang istrinya.
Shakti menunda waktu mandinya hanya untuk meyakinkan Alexa, "Apa kamu ikut saja? Tapi perjalan jauh aku juga cemas kamu akan kelelahan. " Shakti pun masih mencoba memberi tawaran. Dia hanya ingin Alexa merasa lega, sudah cukup dia membuat wanita cantik itu menderita.
"Baiklah aku di rumah saja. Mas cepat pulang ya! Aku akan tidur nyaman saat mas mengusap punggungku." kalimat itu terlontar saat Alexa melihat tatapan sendu suaminya. Dia tidak ingin terlalu membebani Shakti dengan keinginannya yang egois.
"Akan Mas usahakan, Ay. Mas akan mandi dulu." Shakti pun beranjak masuk ke kamar mandi. Lelaki itu merasa lega, saat melihat senyum manis terukir di bibir mungil Alexa. Iya, dia akan berusaha membuat wanita pujaannya itu merasa nyaman dan bahagia untuk menebus semua kesulitan yang pernah dilaluinya.
__ADS_1