
Seringkali apa yang menjadi kelemahan kita disitulah kita akan di uji.
###
Alexa mengelus perutnya setelah tersadar dari rasa kecewa yang menggelapkan dunianya. Ada satu sisi yang harus dia pikirkan, calon bayinya yang masih rapuh di dalam perut.
Sekuat tenaga dia terus berusaha menepis semua rasa kecewanya. Meskipun semua itu percuma. Air matanya saja tidak bisa berhenti mengalir menahan rasa sakit di hatinya.
"Apa yang harus aku lakukan ya Allah..." gumamnya dengan rasa sakit dan putus asa.
"Tok.. tok...tok" Mendengar ketokan pintu kamarnya dia segera mengusap air matanya.
"Masuk, Mbok!" sambutnya membuat pintu kamar terbuka. Tidak hanya Mbok Jum, tapi juga Mama Gayatry masuk dan berjalan mendekatinya.
"Lexa, katanya kamu sedang sakit?" Gayatri pun duduk di dekat menantunya. Wanita itu terlihat mencemaskan Alexa.
"Nggak, Ma." lirih Alexa tenggorokannya terasa kering.
"Aku hanya merasa lemas, Ma." lanjut Alexa ingin menghilangkan kecemasan dari wanita di depannya. Alexa menatap mertuanya yang terlihat tulus menyayanginya, kekecewaannya pada Shakti akan membuat sedih wanita yang masih menyisakan semburat kecantikan di wajahnya.
"Mbak Lexa, cepat di makan ya! Biar cepat sembuh. Sekarang Mbok Jum tinggal ke bawah dulu." Mbok Jum meletakkan Sup hangat dengan segelas air putih.
"Iya, sayang. Mama tidak ingin kamu sakit." timpal Mama Gayatry.
Setelah mendapat anggukan lemah Alexa Mama Gayatri keluar menyusul Mbok Jum. Alexa kembali menangis, dia tidak bisa merasakan apapun kecuali rasa sakit yang tercokol kuat di hatinya. Merasa dikhianati dibohongi membuat Alexa menjadi terpuruk.
Alexa terus berfikir apa yang harus dia lakukan. Sesekali, dia mengelus perutnya, hanya janin di dalam perutnya yang terus membuat dirinya kuat.
Tubuhnya sedikit beringsut dari tempat tidur kala matahari sudah mulai meninggi. Dia memutuskan Salat Dhuhur terlebih dahulu agar hatinya lebih tenang.
Sejenak dia tertegun, memikirkan apa yang harus dia lakukan selanjutnya? Haruskah, dia pergi ke kantor Shakti untuk menyelesaikan semuanya. Dia ingin sekali mendengar pengakuan dari mulut lelaki yang sudah mengikis rasa percayanya. Tapi tidak, hati kecilnya mengatakan dia akan pergi menemui Clarisa.
Setelah meletakkan kembali mukenanya, Alexa memoles sedikit make up untuk menghilangkan wajah sembabnya. Sehancur apapun perasaannya, tapi dia tidak ingin orang lain mengetahuinya.
"Ma, Alexa akan keluar sebentar, ya!" pamit Alexa saat menemui mama mertuanya untuk berpamitan.
"Sayang, kamu sudah sehat?" tanya Mama Gayatri penuh selidik.
"Sudah, Ma. Lexa pergi dulu, Ma?" Setelah berpamitan Alexa pun pergi dengan membawa mobilnya sendiri. Yaris putih, mobil yang sempat ingin diganti Shakti dengan Mercy tapi ditolaknya dengan alasan mobil kenangan dari Mama Zoya.
Dengan jantung yang terus berdebar dia terus saja menelusuri jalan beraspal menuju apartemen Clarisa. Untung saja, dia sempat mengingat apartemen Clarisa yang pernah dia tanyakan pada Shakti meskipun ragu mengingat nomer unitnya.
Di dalam lift menuju lantai 23 Alexa semakin gugup, dia tidak bisa membayangkan reaksi Clarisa saat melihat kehadirannya nanti.
"Ting... " lift terbuka dia berjalan menuju unit yang sebenarnya dia ragu, benarkah itu milik gadis itu?
Alexa mendesis gelisah, saat berada di depan pintu apartemen itu. Tangannya saling meremas, bahkan dia sempat membalikkan tubuhnya seolah akan kembali tapi dia tidak ingin mengulur semua kejelasan ini.
__ADS_1
Sejenak dia mengatupkan matanya, mengumpulkan kekuatan tangannya untuk memecet bel yang ada di depannya.
"Ceklek..." tangannya terhenti di udara saat akan memencet bel ketika seseorang membuka pintu apartemen dengan kasar.
"Ay... " panggil Shakti terkejut saat melihat sosok mungil itu tengah berada di depannya a lelaki itu tertegun sejenak dengan jantung yang ingin meledak. Hampir tidak percaya jika Alexa sudah berdiri di depannya.
Alexa memundurkan langkahnya, dia menatap nanar sosok yang berdiri dengan tampilan kacau. Dadanya terasa sesak, tubuhnya bergetar kuat dan air matanya mengalir deras ketika melihat noda lipstik di kemeja suaminya, pandangannya juga bisa menangkap tanda merah yang tercetak jelas di leher Shakti.
"Keterlaluan... " gumamnya hampir tak terdengar.
"Ay, dengarkan penjelasanku!" Shakti berusaha menggapai lengan Alexa tapi langsung ditepisnya.
"Pergi...! Menjauhlah...!" teriak Alexa dengan histeris. Dia merasa jijik melihat kondisi lelaki di depannya. Alexa terus berjalan menjauh meski lelaki itu terus mengikutinya.
"Pergi!" teriak Alexa membuat Shakti hanya mematung saat lift yang memisahkannya dengan Alexa tertutup.
"Argghhh... " pekiknya dengan frustasi. Lelaki itu hanya bisa menyugar rambutnya dengan frustasi menunggu lift kembali terbuka untuk mengejar Alexa. Dia memang tidak bisa memaksa keadaan karena ini pertama kalinya dia melihat Alexa berteriak histeris.
Di dalam lift Alexa menutup sebagian wajahnya dengan ujung jilbabnya karena dia tidak bisa menahan tangisnya. Bahkan, isakannya membuat tubuhnya bergetar.
"Akh... " Alexa mengeram kesakitan, saat merasakan perut bawahnya terasa kram.
Seketika dia menghentikan langkahnya, ketika hantaman rasa takut akan keadaan janinnya membuatnya semakin frustasi.
"Lexa... " Dimas begitu panik saat melihat Alexa dan berdesis. Lelaki yang akan pulang ke apartemennya itu pun berhenti saat melihat bayangan Alexa di lobi.
"Dim, tolong bantu aku ke klinik!" pinta Alexa membuat Dimas bertambah panik.
"Tunggu di sini saja!" Aku akan mengambil mobil.
Tidak butuh waktu lama, Alexa masuk ke dalam mobil Dimas. Bahkan Shakti sempat melihat bayangan istrinya masuk ke dalam mobil asing.
"Sial.. " umpat Shakti saat dengan tangan yang mengepal memukul udara. Dia terus berlari menuju mobilnya dan berusaha mengejar Alexa yang dia yakini akan pulang ke rumah.
###
Sejak kejadian kemarin, Hanum selalu merasa malu saat bertemu Arkha. Entahlah, dia merasa canggung saja apalagi saat ciuman kedua dia sempat membalasnya.
Hanum memutuskan keluar kamar saat mendengar bunyi keributan di dapur. Dia juga tidak melihat Arkha di dalama kamar. Entah kemana lelaki pergi setelah dia selesai Salat Magrib.
"Ibu, ada yang bisa Hanum bantu?" tanya Hanum mendekati ibu mertuanya yang sedang memasak di dapur.
"Kamu bisa apa? Kenapa baru keluar kamar? Seperti tidak tahu diri saja saat di rumah orang." ketua Arini saat Hanum berada di dekatnya.
"Maaf, Buk. Hanum tadi sempat ketiduran setelah Salat Ashar. Sekalian mandi dan Salat Magrib juga." jelas Hanum dengan emosi yang sudah membuncah. Jika bukan karena mertuanya sudah dia bejek bejek saja itu mulut.
"Ini potong kubisnya." titah arini.
__ADS_1
"Kemudian cuci panci kotornya! Kamu kira langsung bisa manja manja gitu setelah menikah dengan putraku yang sudah mapan?" semprot Arini yang tidak dijawab oleh Hanum, gadis itu mulai menulikan telinganya.
"Ibu ini kenapa si, sama Mbak Hanum? Bukan seperti itu caranya, Bu. Biar bagaimana manapun Bang Arkha sudah memilih Mbak Hanum." Kania lama- lama gemas melihat ibunya yang menjadi menyebalkan. Sedangkan Hanum masih diam dengan memotong sayuran.
"Itu bodohnya abangmu! Tidak pandai memilih istri." kalimat Arini berhasil membuat Hanum menghentikan geraknya.
"Drt... drt... drt." suara ponsel milik Hanum terdengar. Hanum yang semula akan menjawab kalimat mertuanya pun akhirnya pergi mengambil ponselnya yang tergeletak di meja makan.
"Assalamu'alaikum, Ma!" ucap Hanum saat membuka panggilannya.
"Waalaikum salam, sayang. Apa kabarmu? Gimana di sana, kamu krasan?" ucap Zoya saat melihat putrinya. Yang di khawatirkan Zoya, Hanum tidak bisa beradaptasi dengan orang baru karena sifatnya yang keras kepala.
"Krasan, Ma." jawab singkat Hanum, gadis itu membawa ponselnya untuk keluar rumah.
Saat akan keluar Hanum menabrak tubuh Arkha di depan pintu. Lelaki itu baru saja datang dengan membawa bakso bakar kesukaan Hanum.
"Kapan kalian balik?" lanjut Zoya saat melihat sekelebat bayangan anak menantunya.
"Besok mungkin, Ma." jawab Hanum kemudian mendudukkan beratnya di kursi yang ada di teras rumah.
"Sayang, baik baik sama mertua ya. Apalagi tinggal Mama Mertua jadi anggap beliau seperti Mama." pesan Zoya, sungguh Zoya masih merasa khawatir dengan sifat putrinya.
"Iya, Ma. Mama sehatkan? Papa apa kabar?" tanya Hanum yang sudah kangen dengan mereka.
"Alhamdulillah sehat. Mama tutup dulu ya, sepertinya Papa baru pulang." Zoya langsung menutup panggilannya.
Hanum pun kembali masuk ke dalam. Ternyata mertuanya sudah selesai memasak dan sedang menyiapkan makanan di meja makan.
"Apa pekerjaanmu cuma telpon dan main ponsel saja?" sinis Arini saat mendapati menantunya yang sudah berdiri di dekat meja.
"Iya, Bu. Namanya juga anak jaman sekarang yang memanfaatkan teknologi." jawab Hanum dengan nada datar.
"Kamu itu ternyata suka menjawab orang tua? Kamu tidak diajari sopan santun sama orang tuamu. Dasar gadis matre!" amuk Arini dengan emosi meluap-luap. Arkha yang mendengar suara mengamuk ibunya pun keluar dari kamar.
"Ibu, jangan seperti itu! Hanum tidak seperti yang Ibu katakan." Arkha datang dengan merangkul istrinya. Dia merasa ibunya sudah keterlaluan memperlakukan istrinya.
"Kamu berani sama Ibu? Kamu saja yang bodoh. Coba kamu sama Rania. Gadis itu bisa diandalkan bahkan dia sangat sopan sama ibu. Tidak seperti istrimu yang hanya mengandalkan kecantikannya saja." kalimat Ibu mertuanya kali ini membuat hati Hanum merasa sakit. Dia pun berbalik dan berjalan cepat menuju kamarnya. Dibandingkan dengan Kak Alenya saja dia tidak Terima apalagi dibandingkan dengan gadis yang dicintai suaminya rasanya sungguh sangat sakit.
"Ibu cobalah mengerti aku sudah menikah dengan Hanum. Tolong hargai istriku." ucap Arkha kemudian menyusul istrinya ke kamar.
Terlihat Hanum menangis dengan mengeluarkan kopernya. Dia tahu ibunya sangat keterlaluan hingga Hanum menangis.
"Hanum... maafkan Ibu! Jangan seperti ini!" Arkha menahan tubuh Hanum yang sedang memasukkan pakaiannya ke dalam koper.
"Aku akan pulang. Sebelum aku hilang akal dan tidak menghormatinya lagi." ucap Hanum.
"Sayang, bersabarlah. Ibu seperti itu karena belum mengenalmu. Dia masih kecewa karena kita menikah tanpa memberitahu beliau." jelas Arkha dia pun memeluk istrinya yang kemudian didorong oleh Hanum untuk menjauh.
__ADS_1
"Jika Kak Arkha masih ingin tinggal silahkan. Aku masih punya uang untuk bisa sampai ke kotaku." gertak Hanum, untuk seumuran Hanum gadis itu cukup punya banyak tabungan dengan jerih payahnya sendiri.
"Kita akan pergi sekarang." Arkha pun memutuskan untuk membantu istrinya berkemas. Tapi, dia akan menginap saja di hotel dan besok baru pulang ke kota.