
Shakti memasuki rumah bernuansa putih dengan ornamen klasik yang memberikan nilai estetika yang cukup tinggi.
"Ibu sedang ada di belakang, Mas Shakti." ucap Mbak Atun kemudian kembali melangkah ke belakang diikuti oleh Shakti.
Shakti menghentikan langkahnya saat melihat Hanum sedang membuat segelas teh hangat.
"Mas Shakti juga mau kopi hitamnya!" ucap Shakti saat berdiri di dekat Hanum. Setelah seharian jaga kedai, Hanum pun memutuskan pulang karena Dira yang sudah menggantikannya.
"Maksud, lohh!" Hanum menatap tajam lelaki yang saat ini tersenyum kepadanya. Dia tidak peduli jika saat ini Shakti menjadi kakak iparnya. Menurutnya, lelaki dengan tinggi maksimal itu musuh baginya selama Kak Ale-nya belum ketemu.
"Jika mau bikinin Mas Shakti kopi, nanti Mas promosiin kopimu di kantin kantor atau di resto hotel." Shakti sudah mengenal Hanum sebagai perintis usah ice cream dan kopi, gadis ketus itu memang sangat berbeda dengan Alexa.
"Benarkah?" Hanum mulai tertarik dengan penawaran itu.
"Tapi... ogah jika harus ada uang sewanya." Hanum menyurutkan senyumnya. Berjualan di sebuah kantin dari perusahaan besar atau di resto hotel berbintang pastikan punya nilai sewa tempat yang cukup fantastik.
"Gratis asal Mas yang merekomendasikan." jawab Shakti membuat mata bulat itu kembali berbinar.
"Baiklah, satu cangkir atau dua cangkir?" tawar Hanum begitu bersemangat membuat Shakti yang melihatnya tersenyum geli.
"Satu sudah cukup, aku ingin bertemu Mama Zoya dulu!" Shakti kembali melangkah mencari sosok yang dianggapnya lebih nyaman diajak bicara. Dia masih merasa papa mertuanya masih terlalu dingin bersikap terhadapnya.
"Ma... " panggil Shakti saat Zoya sedang menikmati suasana senja dengan membaca buku. Sejak kepergian Ale, Zoya sedikit mengurangi aktifitas di luar karena kesehatannya sering kali drop.
"Loh, kapan datang?" tanya Zoya dengan meletakkan bukunya.
"Baru saja, Ma." jawab Shakti yang kemudian duduk di kursi yang satu meja dengan Zoya.
"Sudah makan?" tanya Zoya.
"Nanti saja, Ma. Shakti hanya ingin bilang tentang penyebar fotoku dengan Alexa sudah ketemu."
"Kamu sudah membuat laporan?" suara Hans membuat Zoya dan Shakti menoleh ke asal suara. Hans datang bersama Hanum dengan dua cangkir kopi hitam sesuai pesanan ipar dan papanya.
"Mas Hans, kapan pulangnya?" tanya Zoya dengan mengambil punggung tangan suaminya untuk salim.
"Baru saja, Zoy." jawab Hans kemudian duduk bersama menantu dan istrinya.
"Aku sudah buat laporan, Pa." jelas Shakti.
"Siapa dia? Orang mana? Dan apa tujuannya?" Apa yang ditakutkan Shakti pun terjadi. Dia tidak tahu apa reaksi papa mertuanya saat tahu jika mantan kekasihnyalah yang menjadi dalang atas semuanya.
__ADS_1
"Mantan pacarku, Pa." lirih Shakti dengan ragu.
"Ck... benar apa yang aku kira. Kalian yang brengsek dan anaku yang kena imbas." Kalimat Hans begitu tajam membuat lelaki muda itu terbungkam. Dia juga tahu jika papa mertuanya masih begitu marah dengannya.
"Mas Hans, bukan saatnya menyalahkan siapapun."
"Oh ya, apa tidak ada jalan lain kecuali penjara." tanya Zoya yang tidak tega jika seorang gadis masuk penjara.
"Zoy... " Hans menyapa tajam istrinya. Sedangkan Shakti tidak berani bersuara, meski tatapan protes dia layangkan pada ibu mertuanya.
"Besok kita akan ke lapas." jawab Hans yang kemudian diiyakan Shakti.
"Apa Papa ada kabar tentang Alexa?" tanya Shakti memberanikan diri. Mungkin, saja Hans punya sesuatu yang akan memberikan petunjuk kemana dia akan mencari istrinya.
"Belum. Entahlah, Papa harap, Ale baik baik saja." Hans kembali putus asa. Dia tidak mendapatkan lagi kemajuan akan pencarian putrinya.
"Alexa sudah keluar kota jadi itu akan membuat kesulitan sendiri untuk pencariannya. Tapi, Shakti yakin akan menemukannya." Shakti begitu yakin dengan perasaannya.
Shakti pun mengikuti kegiatan rutin salat berjamaah. Kemudian, mereka melangsungkan makan malam bersama. Ini pertama kalinya dia makan bersama keluarga Hans.
"Mas Shakti tidur di sini?" tanya Aleks, ini pertama kalinya Aleks mengajukan pertanyaan.
"Nggak, nanti malam Mas pulang. Kasihan Mama Gayatri."
Aleks dan Hanum sudah berjalan menaiki tangga menuju ke lantai dua. Hans masih terdiam. Sedikit pun dia tidak ingin bicara saat makan malam.
"Shakti ke kamar Alexa dulu, Pa, Ma." ucap Shakti yang hanya mendapatkan anggukan Hans. Hans sebenarnya lebih senang Alexa menikah dengan Dokter Agam. Selain satu profesi dengan Alexa, Agam terlihat lebih kalem dan lebih cocok dengan putrinya.
Di dalam sebuah kamar bernuansa girly yang di tata cukup rapi dan apik, Shakti duduk menatap sebuah foto yang menggantung di salah satu dinding kamar dengan motif floral. Foto Alexa kecil, dari masa ke masa membuat lelaki itu tersenyum. Sungguh menggemaskan pipi istrinya saat masih kecil.
"Aku merindukanmu, Ay." Foto terakhir yang ditatapnya memperlihatkan Alexa yang sedang tersenyum. Senyum manis yang sering dia temukan saat bersama.
###
Semua anak yang mengikuti kegiatan belajar menulis dan membaca sudah pulang semua. Terlihat pemilik rumah yaitu Bu Seno keluar menyapa Alexa yang kali ini menjadi guru mereka.
"Mbak Salma, telaten sekali mengajar anak anak." ucap Bu seno, wanita dengan gurat garis kecantikan yang tersisa di wajahnya itu mendekat ke arah Alexa.
"Dari pada saya bingung, mau ngapain, Bu." jawab Alexa sudah selesai merapikan tempat mereka belajar.
"Salma. Mbak Laras akan mencuci baju dulu! Tolong jaga Dewa ya, dia sedang tidur." ucap Laras dengan menggendong pakaian kotor untuk di bawanya ke sungai.
__ADS_1
"Kamu mau ikut?" tanya Bu Seno saat melihat reaksi Alexa yang terdiam sejenak seperti memikirkan sesuatu.
"Lebih baik di rumah menjaga Dewa. Kasihan, Dewa jika bangun." jawab Alexa.
"Kalau mau, ikut saja. Biar Dewa, Ibu yang jagain." ucap Bu Seno, beliau memang selalu membantu laras menjaga Dewa. Dia juga menyayangi Dewa seperti cucunya sendiri.
"Terima kasih, Bu." ucap Alexa kemudian salim dan berlari mengejar Laras yang sudah berjalan terlebih dahulu.
"Gadis yang santun, aku senang jika mereka ada di sini. Aku merasa punya dua putri yang cantik dan manis." gumam Bu Seno terus menatap bayangan Alexa hingga menghilang.
"Mbak Laras, tunggu!" teriak Alexa dengan nafas terengah. Dia memang menyukai sungai tempat Laras mencuci. Di Sana dia juga bisa bermain di bawah air terjun yang tidak bisa dia jumpai di kota.
"Bu Seno memintaku menyusul Mbak Laras. Kata beliau, Bu Seno sendiri yang akan menjaga Dewa." jelas Alexa saat mereka berjalan bersama melalui jalan terjal menuju sungai.
"Bu Seno memang sangat menyayangi Dewa. Bahkan, beliau juga memikirkan masa depan Dewa, tentang pendidikannya Dewa." jelas Laras sambil tersenyum mengingat kebaikan wanita itu.
"Aku bisa merasakan betapa Bu Seno sangat menyayangi dan menjaga kami. Entah apa jadinya aku dan Dewa jika tidak ada beliau." Laras terus saja bercerita tentang Bu Seno sepanjang jalan.
"Di mana papanya Dewa, Mbak." Alexa memberanikan diri bertanya tentang kehidupan Laras yang selama ini membuat banyak pertanyaan di otaknya.
"Orang tuaku dulu tinggal di dekat pasar yang ada di kecamatan. Tapi sejak Nenek meninggal, kemudian Bapak meninggalkan, Ibu memutuskan pergi ke kota mencari untuk pekerjaan yang layak." Wajah putih Laras mulai terlihat merah. Ada semburat kesedihan yang terpancar dari wajahnya.
"Kebetulan, ada tetangga kami yang sudah lama berkerja dengan orang kaya di kota dan berniat pensiun. Maka, dia meminta Ibu untuk menggantikannya." Laras terus bercerita dengan tatapan menerawang ke depan. Sebuah kilatan masa lalu yang membahagiakan dan menyakitkan kembali terlintas.
"Keluarga kaya itu memang baik. Mereka memperbolehkan Ibu membawaku ke rumah itu. Aku tinggal di rumah belakang bersama Ibu. Bu Dita Nyonya rumah itu begitu perhatian padaku. Bahkan, beliau memperbolehkan putranya bermain dengan diriku tanpa ada perbedaan status." Laras tersenyum getir. Kedua mata Laras yang sudah berkaca-kaca membuat Alexa menghentikan langkahnya.
"Maafkan aku, Mbak. Tidak apa jika Mbak Laras tidak melanjutkannya." Alexa tidak tega saat melihat wajah yang biasa terlihat tegar, kini tidak bisa menyembunyikan lagi kesedihannya. Bisa terlihat rasa bahagia, rasa sedih dan penyesalan yang melebur menjadi sebuah rasa yang tidak bernama lagi.
"Aku dan Putra rumah itu berteman baik, kami tumbuh bersama dalam sebuah persahabatan yang lambat laut membuat kami saling jatuh cinta. Saat itu aku menolak perasaanku, karena aku punya cita cita untuk menjadikan kehidupan Ibu jauh lebih baik.Tapi cinta memang tidak bisa dielakkan lagi. Masa dimana kami tumbuh dewasa dengan kenakalan kenakalan yang membuatku melupakan jika status kamu berbeda. Kenakalan yang membuat kita melupakan etika dan agama." Laras tidak bisa menahan air matanya. Dibawah terik mereka terus berjalan dengan cerita masa lalu yang pernah dia simpan rapat untuk dirinya sendiri.
"Suatu saat aku datang ke rumah itu untuk menjenguk Ibu. Iya, sejak aku kuliah dan bekerja aku memilih tinggal di kos. Dan Bu Dita yang mengetahui keberadaanku dan hubunganku dengan putranya pun memintaku untuk meninggalkan putranya dengan alasan status sosial kita yang berbeda dan tidak akan pernah sama."
"Aku mengatakan pada beliau jika aku hamil cucunya. Iya putranya sering mampir ke kosku saat pulang ke rumah." lanjut Laras.
"Dan Hal yang menyakitkan adalah ketika beliau malah memintaku pergi dan menggugurkan kandunganku. Dia memintaku pergi sejauh mungkin dari putranya jika tidak menggugurkannya." Laras tidak bisa melanjutkan ceritanya. Wanita itu menangis tergugu mengingat masa tersulit itu. Masa dia harus putus kuliah setelah banyak perjuangan untuk mendapatkan beasiswa masuk perguruan tinggi dia lalui. Masa dimana dia tidak punya pilihan dan harus pergi dengan menanggung aib.
"Dewa pasti bangga punya Ibu yang kuat dan tegar seperti Mbak Laras." Alexa memeluk wanita itu. Dia bisa merasakan kehidupan yang cukup sulit yang pernah dilalui wanita itu.
"Laki laki itu dimana? Apa dia tidak tahu jika Mbak Laras hamil?" selidik Alexa dengan menatap mata yang penuh berair itu.
"Saat kejadian itu, dia masih di luar kota dan sejak saat itu kami tidak pernah lagi bertemu." Alexa kembali memeluk Laras. Dia mungkin tidak akan bisa, jika berada di posisi Laras.
__ADS_1
"Ayo, nanti keburu sore, malah nggak bisa menjemur baju." Laras langsung mengusap air matanya, dia kemudian manarik lengan Alexa agar tidak bertanya lagi. Kesedihan yang tersimpan beberapa tahun silam kini seolah menyapanya kembali. Tapi, ada rasa sedikit rasa lega saat bisa menceritakan semuanya pada seseorang.
Bersambung....