
Shakti menyudahi makan malamnya yang di temani Alexa. Setelah menikah, dia memang memilih sebisanya untuk makan ditemani istrinya. Dan wanita yang memilih makan martabak saja itu bangkit dan membereskan meja makan.
"Nggak usah cuci piring, Ay. Itu tugas Mbok Jum dan kawan kawan." ucap Shakti sambil melingkarkan tangannya memeluk memeluk istrinya dari belakang. Lelaki itu menundukkan tubuhnya dan mencium pipi cabi Alexa.
"Mas, jangan seperti ini, takut tiba-tiba ada yang masuk dapur." sambung Alexa sambil menggerakkan bahunya agar Shakti menghentikan aksinya.
"Biarkan saja, toh kita sudah menikah." balas Shakti dengan santainya.
"Ayo kita jalan-jalan keluar!" mendengar kalimat Shakti membuat Alexa menoleh.
"Sudah malam begini?" tanya Alexa hampir tak percaya, bagi wanita itu pukul sembilan itu sudah cukup malam untuk jalan.
Cup
"Iya, sayang!" Shakti mendaratkan ciumannya di bibir mungil istrinya yang berjarak hanya beberapa senti dengannya saat menoleh.
Dengan menampilkan senyum tipisnya Alexa menyelesaikan cucian piringnya. Dia sangat senang saat suaminya mengajaknya keluar.
"Ay, nggak usah ganti baju! Pakai jaket saja." tambah Shakti saat dia mengambil kunci motornya.
" Pakai piyama ini, Mas?" tanya Alexa ragu.
"Iya, Sayang. Kamu pakai apa saja tetap cantik, apalagi tidak mengenakan apapun, tambah sangat cantik." goda Shakti membuat Alexa mencubit perut keras suaminya yang kini malah terkekeh.
Pukul sembilan lebih, mereka keluar rumah dengan mengenakan motor. Shakti sebenarnya merasa lelah, tapi karena dia melihat istrinya terlihat sedih dan jenuh, dia memilih mengajak keluar Alexa.
Shakti menarik lengan Alexa untuk mempererat pelukannya di belakang tubuh kekarnya. Alexa yang awalnya terpana dengan suasana malam pun menyandarkan kepalanya, membuat Shakti tersenyum saat melirik istrinya dari spion.
Shakti menghentikan motornya pada sebuah tempat, di mana banyak anak muda sedang menghabiskan waktu dan bercengkerama bersama.
"Mas Shakti sering ke sini?" tanya Alexa saat mereka berjalan menuju sebuah gerobak wedang angsle. Di sana ada musisi jalanan yang sedang menunjukkan kepiawaiannya untuk menghibur anak anak muda yang nongkrong.
"Nggak pernah, cuma aku rasa tempat ini lebih cocok dari pada club malam." lelaki yang masih mengenakan kemeja kerja itu tidak melepas sedetikpun rangkulannya dari bahu Alexa hingga mereka duduk pada sebuah tikar yang di gelar di sana.
"Dua mangkuk Angsle, Bang." ucap Shakti.
"Club malam? Mas Shakti sering ke Club malam?" Alexa bertanya penuh curiga saat dia mendudukkan tubuhnya di samping lelaki itu.
"Iya, jika sedang suntuk atau di ajak teman yang lagi merayakan hal spesial." jawab Shakti tanpa menutup- nutupi sedikit pun pada istrinya.
__ADS_1
Alexa terdiam, dia sedikit menggeser duduknya. Hingga penjual angsle datang membawakan pesanan mereka.
"Aku hanya nggak mau bohong dan nggak mau menutupi kehidupan masa laluku." melihat reaksi Shakti, Alexa merasa tidak enak sendiri.
"Bukan begitu, Mas." ujar Alexa.
"Kenapa kamu menggeser dudukmu dan menjauh dariku?" lanjut Shakti.
"Aku hanya tidak enak ada penjual Angsle yang sudah berjalan ke arah kita." lanjut Alexa sambil tersenyum ke arah Shakti.
"Aku juga pernah melihatmu saat di Club malam." Shakti mencoba mengingatkan kala Alexa mencari adiknya di Club malam.
"Kapan?" Alexa mengernyitkan dahi. Dia merasa tidak pernah pergi ke tempat itu untuk mencari hiburan.
"Saat kamu mencari Hanum, saat itu kamu terjatuh di dekat mejaku." ucap Shakti, membuat Alexa menepuk dahi pelan.
"Kemarilah, kita sudah halal, Ay." Shakti menarik pinggang ramping istrinya agar kembali mendekat.
"Iya, dulu Hanum pernah coba coba mendatangi club malam, untung saja Hellen temanku memberitahuku. Ya Allah, itu anak benar benar membuatku khawatir." jelas Alexa sambil tersenyum.
Shakti melirik wanita yang kini duduk berdekatan dengannya. Entah kenapa Tuhan menjadikan Alexa sebagai jodohnya, hidupnya yang berbanding berbalik dengan kehidupan istrinya. Tapi, dia sangat bersyukur Tuhan memberikan jodoh wanita solehah seperti Alexa.
Mereka menghabiskan waktu untuk menikmati malam dengan suasana kota yang ramai. Iya, baru kali ini dia bisa merasakan dengan sesungguhnya kehidupan di luar saat malam telah tiba.
"Terima kasih, Mas." ucap Alexa sambil membuka jilbabnya. Malam ini dia merasa bahagia sudah di ajak jalan jalan.
"Jangan katakan itu pada suamimu! Tapi, berikan hadiah untukku malam ini." Belum sampai melangkah, Shakti sudah mendekapnya.
"Kenapa tidak mandi dulu" Kalimat Alexa sudah tidak dihiraukan oleh Shakti yang sudah menginginkan istrinya.
Mereka melewatkan malam panas itu dengan ******* dan lenguhan yang membuat tulang dan sekujur tubuh Alexa hampir copot.
"Kamu sepertinya menikmati gaya baru ini, Ay." goda Shakti saat mereka menyelesaikan urusan ranjang panas mereka.
"Tapi, sakit dan perih semua." lirih Alexa membuat Shakti terkekeh.
"Aku tidak menyangka kamu semesum ini, Mas." lanjut Alexa kalimatnya memang terdengar lemah karena dirinya kehabisan tenaga melayani suaminya.
"Hanya denganmu, Ay, aku bergairah. Apalagi saat melihat ini." Shakti memainkan ujung jarinya di leher putih itu dan hampir turun ke dadanya.
__ADS_1
"Mas... jangan di teruskan. Aku bisa pingsan." Alexa menyingkirkan tangan suaminya.
"Tidurlah! Aku akan mandi, dulu." Shakti langsung mencium kening istrinya dan beranjak menuju kamar mandi.
####
" Mas, kemarin Hanum pulang diantar Arkha teman Shakti." ucap Zoya dengan menghampiri suaminya yang melihat membaca buku di sofa.
"Aku sudah tahu, Zoy." Hans meletakkan bukunya dan melepaskan kacamata baca. Dia merengkuh bahu kecil wanita yang menyandarkan kepala di dadanya.
"Aku melihatnya saat mobil mereka berhenti di depan rumah." jawab Hans, lelaki itu memang sempat memperhatikan Hanum dan Arkha bahkan perdebatan dua orang itu Hans juga tahu.
"Kenapa Mas Hans hanya diam saja. Bagaimanapun, aku khawatir Hanum dekat lelaki yang kita belum tahu latar belakangnya." ucap Zoya, meskipun Hanum sering membantahnya tapi Zoya sangat mengkhawatirkan anaknya di lingkungan pergaulannya.
"Sabar, Zoy. Hanum berbeda dengan Alexa. Hanum itu punya karakter sulit, tidak mudah menyampaikan apa yang kita pikirkan, bahkan kita perlu alasan yang kuat agar bisa diterima dengan pemikirannya. Tapi, aku percaya Hanum anaknya bertanggung jawab." ucap Hans yang bisa dimengerti oleh Zoya. Hanum memang berbeda dengan Alexa dan Alexa yang cenderung datar.
"Ternyata mempunyai anak yang sudah dewasa membuat kita lebih banyak pikiran ya, Mas." ucap Zoya.
"Tapi aku bersyukur. Kamu selalu memperhatikan anak anak kita. Terima kasih, Zoy. Selalu membantu tanggung jawabku." Hans mencium puncak kepala istrinya.
###
Setelah Shalat subuh berjamaah, Alexa berjalan menuju ke dapur untuk membuat minuman hangat untuk Shakti dengan Mama Gayatri.
"Lexa kenapa jalanmu, kamu sakit?" tanya Gayatri saat melihat Alexa yang berjalan dengan sedikit tertatih menuju pantry.
"Iya, Ma. Semalam, kakinya kram, jadi ototnya masih kaku dan nyeri." seloroh Shakti langsung menyabotasi jawaban Alexa.
Mama Gayatri mulai menyalakan TV di ruang tengah, sementara Shakti berjalan menuju tempat Gym. Shakti memang mempunyai ruang Gym yang setiap waktu dia gunakan untuk melatih otot ototnya.
"Shak, nanti biar Alexa ke butiknya Tantri. Katanya biar kenalan langsung dengan produknya." ucap Gayatri saat melihat Shakti melintas di dekatnya.
"Ay, nanti kamu ke butik sendiri, ya. Minta diantar sopir, jangan nyetir sendiri. Nanti pulangnya aku jemput!" seru Shakti sambil berjalan mendekati istrinya.
"Iya, Mas." jawab Alexa sambil mengaduk minuman hangatnya.
"Apa masih sakit?" bisik Shakti membuat wajah Alexa merona.
"Kita ke dokter atau bagaimana?" dia kembali berbisik bahkan sempat mencium pipi berlesung pipit itu.
__ADS_1
"Sudah sana, aku juga dokter!" lirih Alexa sambil mendorong pelan dada suaminya. Shakti pun tertawa setelah menggoda istrinya. Dia pun melenggang untuk olahraga sejenak sambil menunggu sarapan.
"Sejak ada Mbak Lexa rumah ini mulai ramai, Mbak." ucap Mbok Jum yang sebenarnya sudah memperhatikan tuannya dari jauh. Alexa hanya tersipu malu saat wanita paruh baya itu menyapanya, dia yakin Mbok Jum sudah memperhatikan kelakuan suaminya.